Selasa, 05 Desember 2017

Untuk Edo, Kapan Mak Tak Siap?

Hari belum sepenuhnya malam, baru menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sejak siang tadi Jakarta diguyur hujan, sudah dua hari ini Jakarta diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Proyek tempat Edo kerja sudah berubah menjadi kolam besar, semua permukaan tergenangi air. Tak ada aktifitas yang dapat dilakukan, kecuali menyedot air keluar area proyek. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mekanik. Dan itu artinya, tak ada pekerjaan yang dapat Edo kerjakan.
Jam dua, hampir seluruh karyawan pulang, termasuk Edo, kecuali mekanik dan satpam. Mekanik mengeluarkan air keluar areal proyek dan satpam mengamankan areal proyek.
Namun, pulang cepat bukan berarti Edo segera tiba di rumah. Macet disebabkan spot-spot banjir dibeberapa tempat, membuat segalanya berubah. Kemacetan mengular kemana-mana, hingga perjalanan pulang yang biasanya hanya butuh satu setengah jam, malam itu butuh waktu tujuh jam, hingga Edo tiba di rumah jam Sembilan lewat. Luluh lantak rasanya badan Edo, lelah secara fisik karena macet dan lelah pshykis akibat terjebak dalam antrean panjang hingga tiba rumah.
Selesai mandi dan makan malam, sambil rehat Edo, melihat acara TV yang isinya di dominasi laporan banjir yang terjadi siang tadi. Banjir kali ini, ternyata benar-benar besar dan melumpuhkan Jakarta. Pantas saja, perjalanan pulang tadi hingga tujuh jam.
******
“Sebel ikh…” kata Yuli, sembari memonyongkan mulutnya.
“Maksudnya gimana Yul?” balas Edo, tak tahu apa yang dimaksudkan Yuli.
“Kalo cuma mau dipandang doang, ngapain ke sini? Kan di WA juga bisa”
“Ooo.. githu”
“Kalo cuma mau ngobrol doang, ngapain ke sini? Kan Chatting juga bisa”
“Ooo.. githu”
“Kalo cuma mau ngobrol sambil pandang-pandangan di messenger juga bisa”
“Ooo.. githu”
“Sebel ikh…” kata Yuli, kali ini lebih keras suaranya.
“Kenapa lagi?” tanya Edo lagi, tak kalah bingungnya.
“Jawabnya, Cuma Ooo.. githu - Ooo.. githu doang”
“Terus mau Yuli, gimana dong?”
“Gimana kek, asal jangan ngobrol doang, mandangin doang?”
“Mau Yuli, Edo ngegerepe’in Yuli…” kata Edo lagi, sambil berdiri, lalu dengan reflek segera pindah duduk, mendekat pada Yuli. Persisnya, ke samping tempat duduk Yuli.
“Ikh…. Amit-amit” kata Yuli lagi, sambil berdiri, lalu menjauhi Edo, dan melempar bantal kursi yang selama obrolan itu, dipangku Yuli.
“Duuuhhhh….!!!” Edo kaget.
Yuli ngelempar bantal ke muka Edo, kok yang sakit kakinya.
Ternyata Emak, memukul kaki Edo dengan bantal guling.
“Subuh… Subuh, masih tidur aja, pake senyum-senyum…lagi” kata Emak.
“Iya Mak…” jawab Edo.
“Jadi anak muda itu, harus rajin. Habis sholat subuh, do’a yang banyak, terus mandi. Terus berangkat kerja”
“iya Mak”
****
Sore ini, Edo tiba di rumah lebih awal, jam tujuh malam sudah tiba di rumah. Proyek masih belum ada kegiatan, kecuali menguras air yang masih terdapat di sana-sini. Namun, kemacetan yang terjadi di jalan, tak separah kemarin. Hingga ketika jam tujuh telah tiba di rumah.
Selesai sholat Isya, Edo makan malam, tak disadarinya Mak ikut nimbrung duduk di sebelah Edo, sehingga anak dan Mak itupun ngobrol.
“Jadi githu ceritanya Mak, mimpi Edo semalam. Yuli kok gak mau Cuma diajak ngobrol doang, gak mau cuma dipandangi doang. Maunya apa ya Mak?”
“Hahahaha….”
“Kok Mak ketawa? Edo tanya Mak, malah Mak ketawain”
“Kamu lucu…. hahahaha” Mak masih tertawa.
“Kok lucu Mak?”
“Itu artinya, Yuli sudah bosen cuma ngobrol doang, cuma dipandangin  doang. Yuli pengen sesuatu yang lebih”
“Maksudnya Mak?”
“Yuli pengen Edo ngelamarnya” kata Mak, langsung pada persoalannya
“Haah….” Edo bengong mendengar kata-kata Mak.
“Kamu siap?” tanya Mak, kini dengan mimik serius.
“Kok Mak tanya sama Edo, Edo sejak kapan-kapan juga, sudah siap”.
“Terus… nunggu apa lagi?”
“Kapan Mak siap nemenin Edo ngelamar Yuli?”
“Untuk Edo…. Kapan Mak gak Siap?” tanya Mak pula.

Hahahahaha… dua anak manusia, anak dan Ibu, malam itu, tertawa berbarengan. Mereka gembira malam itu, Edo tak lama lagi akan segera memiliki Yuli dan Mak, setelah itu, dengan waktu yang tak lama juga akan segera menimang Cucu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar