Rabu, 20 Desember 2017

Quo Vadis Pariwisata Lebak

Badai sagara

Pasca selesainya pembangunan jalan Negara, lintas selatan pulau Jawa, banyak hal yang awalnya diluar prediksi, kini jadi kenyataan. Salah satunya, sektor wisata Banten, khususnya Lebak.

Daerah yang memiliki sejarah panjang, sejak zaman Saijah dan Adinda itu, kini, sektor pariwisatanya mulai menggeliat. Apakah hal itu, disebabkan karena akses jalan Negara Lintas Selatan Pulau Jawa melewati daerah Lebak, atau karena Bupati Lebak Hj Iti Jayabaya, memiliki kepedulian akan sektor wisata ini, atau karena kadis Pariwisata, Badai sagara yang lebih intens terjun ke berbagai kecamatan di Lebak, khususnya Lebak Selatan. Bisa juga karena ketiga faktor diatas.
Beberapa event kepedulian Dinas pariwisata Lebak makin sering saja terjadi, dapat disebutkan, seperti; adanya event kebersihan bibir pantai Sawarna, terbentuknya Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang terdiri dari anak-anak muda yang peduli Pariwisata Lebak, yang umumnya mereka, nota bene dari daerah Lebak sendiri, khususnya dari para alumnus Unma Malingping, pekan budaya sawarna Timur yang dihadiri Bupati Lebak, Hj Iti Jayabaya, pesta laut Nelayan Bayah dan banyak lagi event yang terjadi selama tahun 2017.;

Cukupkah semua itu. Jujur belum cukup. Eventnya sudah benar, namun, dalam mengelola gaung yang ingin dicapai, masih banyak sisi yang dapat diperbaiki dan dilakukan inovasi-inovasi baru. Untuk menelaah inovasi apa saja yang dapat dilakukan, untuk itulah tulisan ini dibuat.
Secara garis besarnya, ada tiga hal prinsip dalam industry wisata, yakni; kemampuan menjual obyek, dalam hal ini, promosi. Kemampuan memuaskan selera wisatawan, seperti destinasi yang indah, kenyamanan kuliner dan tempat menginap memadai dan yang terakhir faktor keamanan. Maka, fokus kita, dalam tulisan ini, membahas masalah promosi.
Semua event yang dilakukan oleh Bupati dan jajarannya, dinas pariwisata dan jajarannya, jika diberitakan dengan cara konvensional seperti yang terjadi selama ini. Maka, event itu, sungguh hal yang memboroskan biaya. Bagaimana caranya agar tidak boros biaya, maka usaha yang dapat dilakukan, memperbesar efek domino dari event yang telah dilakukan, sehingga tujuan promosi dari event itu, dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Nah, bagaimana memperoleh efek domino itulah, pertanyaan itulah yang perlu kita cari jawaban dan cari solusinya.
Banyak hal yang dapat dilakukan sebenarnya, seperti memberdayakan Pokdarwis. Mereka nota bene berasal dari daerah wisata Lebak itu sendiri, mereka muda dalam usia dan penuh semangat idealisme yang tinggi, mereka juga umumnya, lulusan perguruan tinggi yang nota bene berada di daerah destinasi wisata itu sendiri. Artinya, semua persyaratan untuk memberdayakan mereka sudah cukup. Kini tinggal bagaimana memberdayakannya.
Diharapkan mereka sebagai agen promosi, dalam mengenalkan wisata di Lebak. Caranya, Pokdarwis memperkenalkan semua hal tentang Lebak, seperti event-event mainstream yang saya sebutkan diatas, tentang bagaimana perhatian pemerintah dalam menggeliatkan pariwisata Lebak, apa yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata Lebak dan hal-hal yang merupakan turunan dari itu semua.
Lalu, ada semacam kewajiban pada setiap anggota Pokdarwis untuk menulis setiap destinasi di media social, tinjauannya boleh tentang budaya daerah destinasi yang akan dikunjungi wisatawan, tentang obyek wisata destinasi itu sendiri, apa saja kelebihannya, bagaimana cara mencapai daerah tujuan destinasi, bagaimana tentang penginapan yang tersedia, kuliner khas apa saja yang dapat dinikmati, bagaimana para masyarakat lokal memiliki kepribadian dan sesuatu yang khas pada mereka, dan banyak lagi hal-hal yang dapat ditulis tentang itu.
Jika memang putra daerah yang menulis, maka akan "terasa" destinasi yang lebih pas. Sebabnya, penulis dapat menggambarkan daerah yang ditulisnya dengan lebih detail dan lebih membumi. Dan semua Pokdarwis telah memenuhi syarat-syarat itu.
Dibuat semacam target kerja, setiap anggota Pokdarwis menulis semua obyek dengan bahasa khas mereka masing-masing. Jangan ada copy paste dalam penulisan, karena yang diharapkan originitas dari bahasa dan paparan yang jujur tentang obyek yang mereka tulis. Jika jumlah destinasi katakan 15 dan anggota relawan muda ini berjumlah 10, maka jumlah tulisan yang diperoleh 150 tulisan, dengan tinjauan yang tidak sama pada obyek destinasi yang sama.
Itu baru untuk tulisan yang mainstreamnya dalam tinjauan sebuah destinasi. Diluar itu, dibudayakan setiap mereka mengupload obyek wisata, apakah dalam rangka selfi atau memotret view keindahan destinasi, selalu lakukan keterangan yang jelas tentang destinasi yang di upload, seperti apa nama destinasinya, dimana letak destinasinya, pada waktu kapan gambar diambil, jam berapa dan apa saja atau bagaimana untuk dapat menuju ke lokasi destinasi yang dimaksud.
Bukankah menulis itu sulit, tidak semua orang berbakat untuk menulis? Demikian, banyak dijumpai alasan-alasan yang seakan benar, untuk memaklumi mereka, agar tidak menuliskan tentang obyek destinasi.
Jawab dari alasan diatas, bukankah mereka, umumnya alumni dari jurusan komunikasi, untuk yang bukan dari jurusan komunikasi, mereka umumnya S1. Lalu, dimana sulitnya? Bukankah bisa dilakukan pelatihan-pelatihan menulis, antar sesame anggota Pokdarwis. Bahkan, jika dianggap perlu, dapat memanggil narasumber yang expert tentang penulisan.
Cukupkah? Belum. Para relawan Pokdarwis ini, juga diberi tugas untuk membagi ilmunya pada masyarakat psekitar wilayah tujuan wisata itu. Tujuannya, agar seluruh masyarakat sekitar daerah wpisata dapat juga memperkenalkan daerah mereka, lalu, menyuarakan kritik atas kekurangapn yang belum dicapai dan harapan-harapan mereka untuk segera dipenuhi. Dari beragam tulisan yang dibuat warga lokal ini. Obyek destinasi akan semakin dikenal, akan banyak sisi-sisi kelebihan obyek destinasi yang akan muncul ke permukaan, karena ada hal-hal itu luput dari perhatian Pokdarwis.
Untuk Pemerintah, dalam hal ini, Dinas Pariwisata, akan banyak masukan yang luput oleh apparatur kumpulkan ketika melihat destinasi yang akan dikembangkan. Dengan begitu, Dinas Pariwisata, dapat membuat rencana kerja yang membumi, yang dapat segera diaplikasikan pada pengembangan wisata di Lebak, karena pengembangan itu sejalan dengan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat setempat.
Masihkah kita mau menafikan peran Pokdarwis dalam menuliskan destinasi di wilayah mereka, menafikan tulisan warga pada obyek destinasi di daerah mereka? Masyalahnya, mungkin, soal tulis-menulis ini, belum menjadi perhatian kita selama ini. Berbagai asumsi dibangun untuk mementahkannya, seperti mampukah, menulis itu sulit, dll. Padahal, menulis itu, bukan soal apa pendidikannya, berapa IPnya, soal tekhnik menulis, dan lain sebagainya.
Menulis, hanyalah soal keberanian. Mengungkapkan apa yang terjadi, bagaimana fenomenanya hingga terjadi, lalu bagaimana solusinya atau apa yang kita harapkan dari fenomena itu. Lakukan menulis seperti kita bicara, menulislah dengan jujur, sehingga esensi pesan itu, dapat ditangkap oleh para pembaca. dan itu, dapat dilakukan oleh setiap warga, utamanya mereka yang peduli dengan wisata Lebak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar