Sabtu, 09 Desember 2017

Playboy Bodrek

Selalu saja ada kata tidak sepakat diantara kita dalam menilai suatu hal, apapun itu, bagi sebagian orang aneh. Namun, untuk sebagian yang lain, justru kondisi begitu, kondisi yang ideal. Memang seharusnya begitu.  Tak aneh.
Misalnya keanehan tentang soal cinta. Bagaimana Hendra yang sudah berumah tangga mendekati seperempat abad itu, selalu saja disibukkan dengan cinta, cinta pada orang yang sama, cinta yang menyita hari-harinya untuk berbuat yang terbaik untuk orang yang dicintai. Cinta itu, pada istrinya,  Ratih.
Meski, tentunya ada cinta-cinta yang lain. Namun, semua itu, tak sebesar cinta pada Ratih. Cinta pada pekerjaan, pada karya-karya seni yang dia geluti serta cinta para fans pada beberapa even pameran yang Hendra gelar.
Ada rasa selalu kurang sempurna dalam mempersembahkan cinta pada Ratih, ada asa untuk berbuat lebih dan lebih pada setiap hari, pada setiap waktu. Pencarian inovasi inilah yang kadang membuat letih jiwa Hendra. Meski, harus diakui juga, dari inovasi-inovasi itu, ketika dituangkan dalam kanvas, tak jarang melahirkan karya-karya monumental lukisannya. Kok bisa? Mungkin jawabnya, karena ada rasa cinta pada Ratih yang terwakili dalam proses pembuatan lukisan-lukisan itu. Mabuk dalam nuansa cinta pada Ratih, menghasilkan sesuatu yang kadang Hendra pun tak menyangka begitu sempurna. Seakan lukisan itu, refresentasi dari cinta pada Ratih yang berwujud lukisan. Entahlah…!!
******
“Pokoknya Abang gak boleh pergi dulu” kata Ratih, isterinya pagi itu.
“Kenapa sayang?” jawab Hendra berlagak pilon, seakan tak tahu perubahan pada warna wajahnya.
“Abang harus jelaskan semuanya..?!”
“Iya…Abang akan jelaskan. Tapi, tentang apa?”
“Tentang perselingkuhan Abang…”
“Lho… kok nuduhnya sadis begitu? Indikasinya apa Abang selingkuh” tany Hendra lagi.
“Coba  baca status Abang ini?”
Obsesi itu...
begitu mengganggu. 
andai saja bisa kukatakan,
untukmu...
apa sih yang gak?

“Pasti Abang maksudkan untuk wanita lain..” kata Ratih lagi, suaranya mulai serak, agaknya sebentar lagi, Ratih akan menangis.
“Ratih duduk deh, Abang akan jelaskan” kata Hendra lagi, mendekati Ratih, membimbing tangannya, lalu mendudukkannya di sebelahnya.
Abang ini, begitu terobsesi untuk menjadi pelukis, begitu mengganggunya obsesi itu, padahal semua upaya, telah habis-habisan Abang usahakan untuk menggapainya. Namun, obsesi itu belum juga menemukan titik akhirnya. Memang sih, abang sudah melakukan berbagai pameran di berbagai daerah, bahkan luar negri. Tapi itu belum memuaskan Abang. Padahal, semua waktu sudah Abang tuntaskan untuk meraihnya. Apa sih yang gak? Untuk mencapai wujudnya obsesi itu?
Hendra melihat, Ratih isterinya mulai mengerti  dan sorot matanya, tak setajam tadi, mulai melunak. Sebagai suami yang bijak, Hendra berdiri, menggapai tangan Ratih, mengajak berdiri juga. Lalu, dengan sepenuh rasa sayang, Hendra memeluk Ratih.
******
Jalan menuju tempat pameran ini begitu padat, macet dan krodit. Hendra mulai kuatir, jika begini terus, salah-salah Hendra akan terlambat tiba di tempat pameran. Padahal usaha untuk tepat waktu tiba di tempat pameran sudah Hendra lakukan semampu yang bisa dia perbuat. Termasuk membohongi Ratih.
Pameran yang akan di buka oleh RI 2, bagi Hendra begitu krusial, disinilah ujian terakhirnya, apakah Hendra benar-benar akan diakui  sebagai pelukis nasional atau hanya sebagai pecundang. Apakah akan disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Amry, Popo Iskandar, Affandi atau hanya setelah pameran akan dilupakan begitu saja.
Apa jadinya, jika Hendra terlambat hadir…. Habis semua usaha perjuangan yang dia lakukan selama ini.
*****
Malam itu sebelum tidur, Hendra ingin semua orang tahu, bagaimana rasa cinta yang dia miliki pada Ratih. Lalu, pada statusnya diFB Hendra menulis..
Obsesi itu...
begitu mengganggu. 
andai saja bisa kukatakan,
untukmu...
apa sih yang gak?

Lalu, terjadilah insiden kecil tadi, sebelum Hendra pergi untuk Pameran yang sudah Hendra tunggu bgitu lama. Insiden cemburunya yang dicintai pada sang pemuja, yang mencintai sang pencemburu dengan segenap cinta yang dia miliki.
Hendra membayangkan, jika saja dia berkata jujur tadi pagi pada Ratih, bahwa statusnya di FB itu, untuk merayu Ratih.  Sang isteri yang dia rayu dan puja terus sepanjang hidup berumah tangga dengannya, meski sudah memasuki usia pernikahan mereka yang ke 25.
Obsesi untuk selalu merayu terus Ratih yang begitu menyiksa, untuknya -Ratih- apa sih yang gak? Hendra akan lakukan semuanya.
Namun, jika Hendra mengatakannya dengan jujur pagi tadi. Itu artinya, Ratih akan segera memeluknya, lalu menuntunnya ke bilik peraduan mereka. Permintaan yang Hendra selalu gagal untuk menolaknya.  Dengan begitu, kepergian ke tempat pameran akan tertunda untuk beberapa saat. Akibatnya….Hendra akan terlambat tiba di tempat pameran. Dan itu artinya, mimpinya selama ini hanya akan tinggal mimpi.
Untuk seorang play boy, tak selalu berbohong itu jelek, paling tidak, apa yang dilakukan play boy bodrek Hendra pagi tadi. Jika dengan bohong itu, pameran lukisannya akan sukses, kenapa tidak? Tokh, sukses yang akan Hendra raih, akan dia persembahkan pada sang pujaan yang tak letih dia rayu dan puja. Ratih.





1 komentar:

  1. Menarik dan segar dinikmati.
    Kereen.. Smg obsesi playboy Bodrek segera terealisasi.
    Makasih Ceritanya Pak IZ

    BalasHapus