Senin, 04 Desember 2017

Pesantren At-Thoyyibah Indonesia (Kasus Berbisnis Dengan Allah)

Pondok Ath-Thoyyibah (dok.Pribadi)
Siang ini saya menerima kabar, jika ada masalah pada fisik Pesantren At-Thoyyibah Indonesia, Pinang Lombang. Rantau Prapat. Aula yang sedang dikerjakan, mengalami kendala penyelesaian karena kekurangan dana. Kondisi yang memprihatinkan.
Mengapa? Karena saya tahu, alumnus pesantren ini, sudah jadi orang-orang sukses. Pengetahuan yang saya yakini, sebagai sebuah kebenaran yang tak diragukan lagi –haqul yakin-. Sebabnya, beberapa diantara mereka, saya kenal, bahkan sejak mereka jadi santri dulu. Diantaranya ada yang jadi anggota dewan yang terhormat, jadi ketua satpol PP, jadi pengusaha sukses dan tak sedikit sudah S2 bahkan ada yang S3.
Lalu, apa hubungan antara alumni yang sukses dengan kondisi pondok pesantren yang memprihatinkan? Tempat mereka dulu menimba ilmu. Untuk itulah tulisan ini saya buat.
Untuk bicara pada alumnus yang nota bene, kini  memiliki ilmu pengetahuan luas, cara berpikir yang sudah maju, dan kemampuan analisa yang mumpuni. Saya tidak ingin mengkajinya dengan menafsirkan ayat dan hadist. Untuk kasus ini, para alumnus lebih mumpuni dari ilmu yang saya miliki.
Namun, saya ingin melakukan pendekatan dengan cara analogi. Memdekatkan kasus yang terjadi dengan kasus yang serupa. Sehingga, ketika mereka paham, maka tugas para alumnuslah yang mengkaitkan masalah ini dengan ayat yang bersangkut paut dengan itu dan hadist yang ada korelasinya dengan tinjauan yang saya akan bahas.


Soal iman.
Baiklah, pendekatan yang saya gunakan dalam masalah ini, adalah pendekatan bisnis. Sekali lagi, Bisnis. Mengapa? Karena, setelah alumnus lama meninggalkan pondok pesantren, maka ada kecenderungan pola pikir alumnus, dikotori dengan pemikiran materi. Soal untung rugi, soal saya dapat apa, ketika melakukan sesuatu. Dengan pertimbangan itu, maka pendekatan bisnis, agaknya paling pas untuk kasus ini.
Ketika, para alumnus menabung di Bank, apakah itu Bank konvensional atau Bank Syariah. Maka, ada dua pertimbangan yang ada pada pemikiran alumnus. Yakni, uang yang mereka tabungkan akan aman dan nilainya tidak berkurang. Prinsipnya, mereka percaya pada Bank tempat uang yang mereka titipkan. Jadi pointnya, ada tiga. 1.Uang aman, 2. nilai tidak berkurang dan 3.percaya pada Bank tempat uang dititipkan.
Selesaikah masalahnya? Ternyata belum. Tak ada nilai profit pada cara menabung seperti diatas. Meski ada penambahan angka nominal uang disana. Namun, penambahah angka itu, masih dibawah inflasi yang terjadi. Paling hebat, penambahan angka nominal uang, sama dengan nilai inflasi yang terjadi. Artinya, posisi masih satu-satu, skor sama, tak ada profit atau keuntungan dari cara menabung pada system yang menggunakan Bank produk manusia.
Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar uang yang kita tabungkan memiliki profit atau keuntungan? Keuntungan yang bukan hanya 10% atau 20% atau 30%. Melainkan, keuntungan yang berlipat kali. Sepuluh kali atau bahkan 700 kali.
Jawabannya, ada pada kata percaya. Yang dalam bahasa agama disebut Iman. Jika untuk Bank yang dikelola manusia saja kita percaya mempertaruhkan uang kita mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta. Lalu, mengapa kita tidak percaya pada Bank milik Allah?  Pada masalah percaya dan tidak percaya inilah letak bisnis yang saya maksud.
Makin besar kepercyaan –iman- kita pada Allah, maka, makin besar pula kelipatan untung dari uang yang kita titipkan pada Allah. Kisarannya mulai dari 10 kali lipat, hingga 700 kali lipat. Inilah bisnis yang sesungguhnya. Tak ada satupun Bank milik manusia yang menjanjikan keuntungan 10 - 700 kali lipat dari modal yang kita titipkan.
Pertanyaan selanjutnya, dimanakah letak Bank milik Allah itu? Jawabnya dari pertanyaan ini, ada pada janda-janda tua miskin, pada anak yatim, pada anak yatim  piatu, pada amal-amal fi sabilillah. Dalam kasus ini, Pesantren At-Thoyyibah Indonesia, masuk dalam kategori amal-amal fi sabillillah.
Bagaimana cara melakukannya? Banyak cara yang dapat dilakukan. Ada Ikappai yang punya kebanggaan akan almamaternya, mengapa tidak dibuat agenda untuk menabung pada Bank Allah di almamaternya dengan mengirimkan sejumlah nominal uang setiap bulannya. Ada juga pribadi-pribadi yang sukses, mengapa tidak di agendakan setiap bulannya untuk mengirim sekian persen dari pendapatannya untuk kemajuan almamaternya, jumlahnya bisa 5 % dari pendapatan atau berapapun itu.
Jika saja setiap alumnus mampu menyisihkan tiga ratus ribu setiap bulannya, maka akan terkumpul nominal uang dalam jumlah sangat besar. Bayangkan, tiga ratus ribu kali ribuan alumnus yang tersebar di seantero nusantara.
Prinsipnya satu, makin besar iman, makin besar tabungan, maka makin besar kelipatan pengembaliannya yang akan Allah kembalikan.
Kapan lagi berbisnis dengan profit yang begitu menggiurkan, kalau bukan sekarang? Kapan lagi mau mengangkat marwah almamater tempat dulu kita menimba ilmu, jika tidak sekarang?
.
.

Wallahu A’laam. 

3 komentar:

  1. Pemanfaatan Bambu seperti untuk Furniture, Kursi Aula, Lemari Santri, Meja/Kursi/Lemari buku dn lain perlengkapan ruang kelas dan masih banyak lagi yg lainnya.. Pernah ditawarkan ide ini ttg hal ini. Namun, satu dan lain hal blm dpt direalisasikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Yah... Ide satu hal, merubah perilaku hal yang lain lagi, tugas kita hanya menggugah, selanjutnya urusan Allah...

      Hapus