Jumat, 01 Desember 2017

Management Jamaah Sholat Jum’at

Ilustrasi posisi Jamaah (dok.Pribadi)

Siang tadi, saya melaksanakan sholat Jum’at di Mesjid besar di lokasi tempat tinggal saya. Jamaah yang mengikuti sholat Jum’at begitu membludak. Ketika khatib naik mimbar, saya melihat, banyak Jamaah yang duduk diluar Mesjid, ada yang berdiri si beranda Mesjid, ada yang ngobrol sesama mereka. Sebuah kondisi yang sungguh sangat memprihatinkan.
Saya berpikir, begitu banyak dosa yang dipikul oleh pengurus Mesjid –Marbot-. Ingat, sekali dosa yang dipikul oleh pengurus Mesjid. Mengapa? Karena, tak ada amal sholat Jum’at bagi mereka yang ngobrol sesama Jamaah ketika khatib naik mimbar.
Mengapa Jamaah yang ngobrol sesama mereka, kok pengurus Mesjid yang berdosa? Ingat, kesalahan bukan hanya pada pelaku, melainkan juga, karena kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya kejahatan itu. Dalam kasus ini, pengurus Mesjid tidak menyediakan ruangan yang cukup hingga Jamaah tumpah keluar Mesjid.

Saya yang datang ketika khatib sudah naik mimbar, berusaha untuk masuk ke dalam ruangan Mesjid. Ternyata, di ruang dalam Mesjid, banyak sisi-sisi shaf yang masih kosong. Kesimpulan sementara saya, bukan ruangan Mesjid yang tidak cukup tersedia. Melainkan, ada kesalahan management dalam pengaturan Jamaah.
Untuk mengurangi dosa pengurus Mesjid dan efisiensi Jamaah. Maka tulisan ini saya buat.
Management shaf.
Prinsipnya, Jamaah yang datang untuk sholat di Mesjid, duduk secara teratur pada shaf-shaf yang tersedia. Duduk secara rapih dengan berpedoman, seluruh shaf harus terisi penuh. Sehingga ketika sholat dilakukan, lebih mudah untuk mengisi sisi-sisi ruang shaf yang masih kosong.
Cara mengisi shaf, dimulai dari shaf yang terdepan, kemudian setelah penuh, baru diisi dengan shaf berikutnya, demikian seterusnya, hingga seluruh shaf penuh dari mulai depan hingga belakang.
Cara mengisi shaf tentunya, berdasarkan waktu kedatangan Jamaah, mereka yang datang duluan, akan mengisi shaf terdepan, mereka yang datang berikutnya mengisi shaf berikutnya, hingga shaf terakhir di belakang tanpa mengenal status sosial dari Jamaah.
Namun, kenyataan yang terjadi, Jamaah datang dengan mengisi shaf sesuka mereka, Jamaah dengan sesukanya memilih shaf yang mereka sukai. Belum terisi penuh shaf terdepan, Jamaah sudah mengisi shaf berikutnya, demikian seterusnya. Sehingga banyak bagian shaf yang kosong. Akibatnya, Mesjid sekilas terlihat penuh terisi. Padahal sesungguhnya, tidak demikian. Semua hanya karena kapasitas tampung yang dimiliki Mesjid, belum terisi secara maksimal.
Mengahadapi kenyataan demikian, lalu apa yang harus dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya memiliki pemikiran sebagai berikut;
Satu, Hendaknya pengurus Mesjid membuat jalur pemisah antara shaf sebelah kiri mighrab dengan sebelah kanan mighrab. Jalur pemisah yang dibuat oleh pengurus Mesjid ini, berupa jalur jalan yang dapat digunakan oleh Jamaah selebar 40 – 50 cm. Jika perlu pemisah ini diberi warna yang berbeda dengan warna shaf yang berada di kiri-kanan jalur pemisah. (lihat gambar diatas)
Dua,  Jamaah yang datang pertama dipersilahkan untuk mengisi shaf A terlebih dahulu. Ketika shaf pertama (shaf A) penuh, maka Jamaah dipersilahkan untuk mengisi shaf B hingga penuh juga. Setelah shaf A penuh dan shaf B penuh, maka jalur pemisah antara shaf A dan shaf B diisi oleh Jamaah berikutnya. Sehingga shaf paling depan (shaf A dan shaf B serta jalur pemisah diantara keduanya) penuh. Maka selesailah pengisian shaf terdepan.
Tiga, Jamaah yang datang berikutnya, seperti yang terjadi pada cara pengisian shaf pertama, diarahkan untuk mengisi shaf C hingga penuh. Setelah shaf C penuh, maka Jamaah diarahkan untuk mengisi shaf D hingga penuh. Setelah penuh, maka Jamaah berikutnya mengisi jalur kosong antara shaf C dan shaf D. Maka selesailah pengisian shaf kedua.
Empat, Demikian seterusnya dilakukan dengan metode yang sama, sehingga shaf terakhir (saf I dan shaf J)terisi penuh oleh Jamaah.
Tentunya, pada awal-awal pelaksanaan metode ini, dibutuhkan peran akif dari pengurus Mesjid untuk mengarahkan para Jamaah sesuai dengan ide inovasi di atas. Jika perlu, ada satu orang dari pengurus Mesjid yang bertugas khusus untuk mengarahkan Jamaah, untuk mengisi shaf-shaf sesuai dengan urutan shaf yang harus diisi terlebi dahulu.

Apakah inovasi yang saya tawarkan ini sudah sempurna? Saya tidak merasa demikian, masih terbuka perbaikan-perbaikan yang lebih sempurna dari yang saya tawarkan diatas. Untuk itu, saya tunggu inovasi lain yang lebih sempurna dari ide yang saya tawarkan ini. Silahkan..!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar