Senin, 13 November 2017

Sabar yang Sering Disalah Artikan.


Pada saat Rasulullah menyuapi seorang Yahudi tua nan buta, ketika itu, sang Yahudi dengan sumpah serapahnya memaki Nabi Muhammad dengan kata-kata yang tak patut ditulis disini. Namun, Nabi dengan sabarnya setiap hari melakukan hal yang sama pada Yahudi tua itu. Ketika hal itu diketahui Abu Bakar, Abu Bakarpun melakukan hal yang sama pada sang Yahudi tua sepeninggal Rasulullah. Namun, Yahudi Tua itu menolak, karena sentuhan kelembutan yang diterimanya berbeda.
Setelah diberi tahu siapa yang menyuapi beliau selama ini, maka Yahudi tua itupun bersyahadat,  masuk Islam.
Dalam Kasus di atas, kita semua sepakat, jika yang dilakukan Nabi mencerminkan perilaku sabar.
Ketika Rohingya melakukan tindakan kekerasan pada umat Islam. Beberapa diantara kita  bereaksi adem ayem saja. Beberapa yang lain, bereaksi dengan menggalang dana  dan ada beberapa lagi bersedia ikut terjun langsung membantu saudara muslim mereka memerangi pemerintah Rohingya yang sudah diluar batas kemanusian.
Untuk Kasus Rohingya, umat Islam terbelah dalam dua pemikiran. Yang adem ayem beranggapan itu bukan urusan kita, beberapa diantara mereka ada yang bersikap skeptis bahkan antipati dengan beranggapan untuk mereka yang membantu dana dan berkeinginan ikut berperang sebagai mereka yang beraliran keras, ekstreem.
Padahal, sesungguhnya antara kedua kasus diatas, memiliki frame yang sama. Yakni sabar. Lalu, mengapa pada kasus pertama kita sepakat untuk mengatakan apa yang dilakukan nabi sebagai bentuk kesabaran. Sedang, pada kasus kedua, kita berselisih paham tentang makna sabar. Tentu, ada sesuatu yang keliru tentang pemahaman kita akan arti sebuah kesabaran. Untuk itulah tulisan ini dibuat.
Sabar berasal dari sebuah istilah dari bahasa Arab, dan sudah diadopsi dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an: (QS. Al-Kahfi/ 18  : 28).
Jadi, kata kuncinya menahan dan mencegah.
Sehingga, dari dua kondisi diatas, jelas urusannya sabar.
Ketika urusannya mengenai diri pribadi, masing-masing individu, maka sabar diartikan “menahan”. Diperintahkan pada manusia untuk menahan diri dari membalas, balik mencela, melakukan hal yang sama pada diri sendiri seperti yang dilakukan oleh mereka yang melakukan “sesuatu” pada kita.
Namun, ketika urusannya sudah menyangkut khalayak banyak, masyarakat Islam khususnya. Maka, sabar diartikan dengan “mencegah”. Mencegah agar Islam tidak dilecehkan, dijadikan korban, dihinakan atau membalas serta menuntut haknya ketika segala kezaliman itu sudah terjadi.
Maka, dalam kasus Rohingya, tindakan penggalangan dana dan keinginan untuk ikut membela saudara-saudara yang teraniaya, merupakan tindakan yang sabar. Mereka yang abai akan hal itu, bukan termasuk kelompok yang sabar. Melainkan, kelompok lemah dan tak memiliki harga diri.
Dengan demikian, maka sabar dapat diartikan sebagai tindakan yang aktif progresif dan bukan sebaliknya lemah dan fatalistik.
Itu sebabnya, sabar diposisikan sebagai perilaku yang diyakini mampu memberikan solusi kehidupan. Bukan sebaliknya, sebagai sikap lemah dan berefek negative, baik pada pribadi-pribadi yang menjalankannya atau masyarakat yang “sabar” itu sendiri.
Sabar, diartikan sebagai perilaku yang konsisten melakukan tindakan-tindakan yang mampu membebaskan dari segala masalah dan tantangan; seperti
Sabar dalam menunaikan Ibadah, seperti kita ketahui, dalam menjalankan Ibadah, melaksanakan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarang, tantangan dan rintangan  yang dihadapi tidak kecil. Oleh karenanya, dibutuhkan kesabaran yang prima.
Sabar  ketika tertimpa musibah. Betapa banyak diantara kita yang sangat arif dan bijak ketika menasehati sesama. Namun, semua pengetahuan dan ilmu yang dimiliki serta nasehat yang mereka miliki tak bernilai apa-apa ketika musibah melanda dirinya. Oleh karenanya, tak ada yang lebih ampuh obat dari semua masalah itu, kecuali sabar.
Sabar ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Banyak diantara kita  memiliki seribu kiat untuk menggapai sesuatu. Lalu, ketika semua kiat itu tak membuahkan hasil. Satu-satunya obat adalah sabar. Sabar dalam menerima kenyataan gagal, sabar dalam merancang kiat baru, agar kegagalan tak terulang kembali.
Sabar juga diartikan sebagai tindakan yang menjaga marwah, harga diri kemanusiaan itu sendiri.  seperti;
Sabar memperjuangkan harga diri ketika saudara-saudara muslim Rohingya, ketika dizalimi oleh pemerintahan mereka. Sabar dalam memperjuangkan harga diri ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilecehkan oleh orang nomer satu DKI ketika itu.
Dapat dibayangkan, jika tanpa kesabaran, apakah akan berhasil menggiring Ahok ke hotel Prodeo? Tanpa kesabaran akan mampu melahirkan peristiwa heroic  212, juga  peristiwa 411. Semuanya butuh kesabaran. Sabar dalam menggalang massa dan sabar dalam menyusun siasat.
Pada peristiwa lain, betapa Nabi menunjukkan kesabaran yang lain dalam menunaikan kesepakatan perjanjian yang beliau tanda tangani dengan Yahudi Madinah. Dalam perjanjian itu, disepakati bahwa diantara umat Islam dan Yahudi Madinah untuk saling melindungi satu sama lainnya, ketika terjadi serangan dari luar. Namun yang terjadi, pihak Yahudi berkhianat ketika ada serangan Qureys Mekah dalam perang yang dikenal sebagai Perang Khandaq. Akibatnya, lima puluh dua orang Yahudi dipancung sebagai hukuman yang patut mereka terima, sebagai konsekwensi dari pengkhianatan yang dilakukan Yahudi Madinah. Sebuah peristiwa hukuman yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi manapun.
Peristiwa sabar yang lain, ketika seorang teman dipecat dari pekerjaannya tanpa melalui prosedur yang benar. Tak ada tegoran, tak ada surat peringatan pertama dan surat peringatan kedua. Bahkan surat pemecatan itu sendiri hingga kini belum pernah diterima. Namun, semua haknya sudah tidak diberikan lagi. Pertanyaanya, mengapa korban ketidak adilan tidak melakukan reaksi perlawanan? Disitulah letak sabar itu. Karena, masalahnya hanya urusan pribadi, maka tak perlu dilakukan perlawanan. Untuk apa? Apakah tidak takut tidak makan? Tidak takut tidak memperoleh rezeki?
Ketakutan tidak memperoleh rezeki untuk dimakan, merupakan perbuatan syirik. Pelakunya disebut Musyrik. Karena, logikanya dengan terang-terangan sang pelaku menisbikan peran Allah sebagai zat pemberi rezeki pada makhlukNya.
Memberikan ruang keyakinan pada alam bawah sadar kita, bahwa tempat bekerja memberikan kehidupan bagi kita, merupakan perbuatan syirik. Karena, pada saat yang sama melemahkan dan memperkecil peran Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Allah tak sudi diberikan pesaing dalam kekuasaannya. Inilah, makna Allah maha Pencemburu. Nothing else but Allah.
So, makna sabar hanya dua, jika untuk diri pribadi menahan. Tahankan sekuatmu sambil mencari celah jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Namun, jika untuk kemaslahatan umat Islam, maka cegahlah. Jika tak mampu dengan tangan, maka lakukan dengan lisan dan tulisan, jika tak mampu juga, lakukan dengan do’a.

Wallahu A’laam.

3 komentar:

  1. santapan rohani yang sangat lezat, terima kasih ustdaz.

    BalasHapus
  2. Terima kasih untuk kehadiran Cik Gu Irwansyah...
    Sukses selalu untuk cik Gu Irwansyah

    BalasHapus