Selasa, 14 November 2017

Romansa Blazer Yuli


Perjalanan bulan madu itu, akhirnya tiba juga pada sisi pulau Flores bagian paling timur. Larantuka. Dari larantuka jika menggunakan kapal laut Umsini, maka hanya memerlukan waktu dua belas jam untuk tiba di Kupang, setelah sebelumnya singgah di Lewolebak.
Namun, Edo tak ingin ke Kupang. Larantukan sudah mewakili segalanya bagi Edo, kota Larantuka memiliki kenangan tersendiri baginya, kenangan yang akan segera dia tambah lagi dengan peristiwanya bersama dengan Yuli, yang akan dibawanya hingga kakek dan nenek kelak.

Siang itu, suasana langit diatas laut di muka pelabuhan Larantuka tenang seperti biasanya, tanpa angin yang berhembus kencang. Sementara diatas perahu, diatas permukaan laut tenang itu, ada Edo dan Yuli dalam perjalanan antara Larantuka dengan pulau Adonara.  
Rasanya, memang laut antara Larantuka dan Adonara selalu tenang.
Kondisi laut yang tenang, birunya laut antara Larantuka dan Adonara, serta jernihnya air laut hingga berpuluh meter ke dalam laut yang dapat dijangkau mata, menguatkan Edo, untuk membawa Yuli menempuh perjalanan laut ke Adonara.
Masih terbayang di pelupuk mata Edo, bagaimana di muka kapela Tuan Ma kemarin, Yuli bertanya pada dirinya, sambil tangan Yuli sebelah kanan, bergelayut di tangan kiri Edo.
“Pulau apakah itu Do, yang berada tepat di depan kita?”
“Itu namanya Pulau Adonara” jawab Edo singkat.
“Rasanya demikian dekatnya….” Gumam Yuli, nyaris tak terdengar. Namun, bagi Edo, itu adalah sebuah permintaan, jika Yuli ingin mengunjunginya.
“Besok kita akan mengunjungi sayang..” demikian bisik Edo di telinga Yuli.
“Akh… Edo..” hanya itu kalimat yang dikeluarkan Yuli, namun cengkeraman tangannya pada tangan Edo semakin kuat, kepala itu, merebah di pundak Edo.
“Kita akan sewa perahu dengan dua awak sekaligus, agar kompartable, agar kita bisa terlayani bagai Ratu dan Raja” bisik Edo ditelinga Yuli dengan mesranya.
Tak Ada jawaban, hanya cengkeraman tanga itu semakin kuat dirasa Edo.
Kini, diatas perahu besar ini, Yuli dan Edo sedang menyusuri selat antara Larantuka dan Adonara. Agaknya dilaut inilah dulu pemuda Resiona menemui Malaikat suci nan cantik, yang seketika muncul dari dalam laut, sehingga membuat sang pemuda Resiona kaget luar biasa, dan akhirnya pingsan. Ketika sadar, sang pemuda telah berada di pantai dan sang Malaikat cantik yang dijumpainya berubah menjadi patung. Patung itulah yang kini dikenal masyarakat Larantuka sebagai patung Tuan Ma. Dan kapela yang dikunjungi Edoa dan Yuli kemarin, Kapela Tuan Ma. Satu mata rantai yang tak terpisahkan, Pulau Adonara, Larantuka dan Kapela Tuan Ma serta patung sang Bunda suci.
Tiba-tiba, angin bertiup kencang, blazer Yuli yang sejak tadi hanya dijinjing Yuli, ikut  terbawa angin kencang, melayang-layang, hingga  akhirnya menyentuh perairan laut selat Adonara.  
Refleks, Edo melompat ke laut, mengejar Blazer Yuli…
Terjadi kepanikan diatas perahu, Blasius segera memutar haluan perahunya,  mengarahkannya  pada posisi Edo, Herman menyediakan tali kapal dan menghubungi penjaga pantai. Sementara Yuli dengan penuh kekhawatiran berdiri dipagar geladak, tak tahu harus berbuat apa. Semua terjadi begitu cepat, diluar rencana dan sama sekali tak terduga.
Terlihat Edo keluar ke permukaan laut, Blazzer Yuli telah dia selamatkan, terlilit rapi di leher Edo. Tak ada yang mengkhawatirkan kondisi ini sebenarnya. Edo memang jagonya di dalam air. Namun, Blasius tahu bahaya yang mengancam Edo. Arus laut Adonara-Larantuka tidak bisa dianggap sepele. Begitu arus laut tiba dan membawa Edo pergi. Maka, semuanya menjadi kacau, Edo akan terbawa dengan cepatnya kea rah yang tak dapat di duga dan itu artinya kematian bagi Edo sudah diambang pintu.  
*****
Siang belum sepenuhnya tiba, masih sekitar pukul sepuluh WITA, di Jalan Sudirman Larantuka, dimana RSUD Larantuka berada, Edo dan Yuli sedang duduk-duduk di selasar RSUD.
Kejadian  kemarin, di perairan laut selat antara Larantuka dan Adonara, tak membuat Edo cidera. Patroli Polisi yang kebetulan lewat, membuat  semuanya jadi repot. Edo harus dibawa ke RSUD untuk dilakukan visum, memastikan semuanya baik, tak kurang suatu apa.
Siang nanti Edo harus kembali melapor ke Kantor Polisi, untuk membuat keterangan tertulis. Tentang apa sesungguhnya yang terjadi kemarin.
“Do…”  Yuli, menggeser duduknya, menyajikan secangkir kopi Bajawa hangat pada sang suami.
“Ya, sayang” jawab Edo.
“Kenapa sih, harus nyebur ke laut?”
“hehehe… aku hanya ingin buktikan ke Yuli” jawab Edo.
“Buktiin tentang apa, Do?”
“Kalo hanya Blazer saja, aku bisa menjaganya, apalagi untuk sang pemilik Blazernya..”
“oohhhhh….” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Yuli. Yuli sangat tersanjung dengan kalimat Edo terakhir.
Selanjutnya, tak dibutuhkan banyak kata-kata. Sepasang pangantin remaja itu hanyut dalam dunianya. Karena, sesunggunya, tak seluruh rasa yang ingin diungkapkan, harus dinyatakan dalam bentuk kata-kata.

Sepasang pengantin baru itu, hanyut dalam pelukan bahagia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar