Rabu, 25 Oktober 2017

Penyakit MC yang Melelahkan Semuanya.

Cantik dan terbebas dari MC
Pernahkah terbayang oleh sobat semua, bagaimana Televisi dapat menjadi obyek yang dicemburui oleh seorang Isteri pada sang suami? Pasti diantara sobat, menyangka saya hanya mengada-ada. Mustahil diterima akal. Saya sendiri, jika tak mengalaminya sendiri, tentu tak akan percaya.
Begini kejadiannya.
Sore itu, saya mengunjungi seorang sahabat zaman lajang dulu. Dia yang dikenal handsome, tapi memperoleh jodoh no urut terakhir, dan (maaf) Isterinya jauh dari gambaran saya. Sangat biasa, kalo tak dapat dikatakan jelek. Namun, sobat saya itu, sangat sayang pada pasangannya. Terlihat dari bagaimana cara sobat saya memandang dan memperlakukan isterinya.
Tengah kami ngobrol, muncul iklan susu yang sangat terkenal pada waktu itu, dengan wanita cantik matang manggis, meliuk-liuk dengan kalimat “pas ****nya”. Saya mengomentari iklan susu itu, lalu sobat saya menimpali lagi.
Lalu, terjadilah musibah itu. Praaaang!!! Bunyi piring dipecahkan dan teriakan.. terruuuus!!! Kejadiannya, dari arah ruang tengah, dan suara itu, suara isteri sahabat saya. Penyebabnya, jelas. Sang isteri cemburu pada sang suami, karena membahas wanita yang tayang sebagai bintang iklan susu di Televisi.
Apa gejala ini? Apa penyebabnya? Bagaimana solusinya? Untuk itulah tulisan ini, saya maksudkan.

Penyakit itu bernama MC.
Belakangan saya tahu, penyakit yang dialami isteri sobat saya itu, bernama MC. Miderheidt complex. Atau penyakit minder akut.
Penyakit yang menyita energy bukan hanya pada penderitanya, juga pada orang sekelilingnya, terutama mereka yang menjadi obyek dari cemburunya sang penderita.
Diantara, penyebabnya dan cara mengatasinya, antara lain.

Satu, Pengaruh lingkungan.
Pada lingkungan yang salah ini, sang penderita sering dilecehkan, diremehkan, tidak dipercaya. Akibatnya penderita kehilangan idenditas diri, secara tak sadar, semua pasokan informasi yang diterima, akan masuk pada alam bawah sadarnya. Maka, ketika sang penderita, mengeluarkan pendapat atau penilaian tentang orang lain, maka yang keluar, adalah memori yang telah mengendap lama di bawah sadarnya itu. Dia akan melecehkan, meremehkan dan memiliki kecenderungan kuat untuk tidak percaya orang lain.
Solusi dari masalah ini, tentunya, tinggalkan lingkungan atau suasana tak sehat itu, menuju lokasi atau lingkungan yang sehat.

Dua, Merasa Tidak Cantik dan Tak Sempurna.
Perasaan tidak cantik dan tidak sempurna, diakibatkan banyak sebab, mungkin saja, dari orang tua yang suka membandingkan fisik anak dengan saudaranya yang lain, atau dari teman yang acap mengucapkan hal-hal yang menyangkut fisicaly dengan kata-kata yang melecehkan, seperti kurus kerempeng, hitam, mata sipit, rambut tipis, bibir dower dlsbnya.
Dan perlahan-lahan semua informasi yang diterima, menjadi keyakinan di bawah sadar dan diyakini sebagai sebuah kebenaran (up bringing).  Maka, ketika menginjak usia dewasa, ketika sang wanita dipuja kekasihnya dengan kata-kata cantik, akan timbul reaksi yang mencengangkan, berupa penolakan keras atas pujaan sang kekasih, konyolnya pernyataan itu, dianggap kebohongan dari sang kekasih (gombal) dan memiliki kecenderungan melecehkan dan mengolok-olok.
Solusi dari masalah ini, marilah kita mulai menilai sesama kita dengan bijak. Prisinsipnya semua manusia pintar, semua manusia memiliki kelebihan, semua wanita cantik. Dengan keyakinan, bahwa pintar, kelebihan dan cantik itu, untuk setiap manusia memiliki kekhasannya masing-masing.

Tiga, Orang Tua yang Penuh Larangan.
Orang tua, ingin anaknya sempurna, sehingga mendidik anak dengan sangat ketat. Segala tidak boleh, segala dilarang. Yang diizinkan hanya belajar segala aktifitas yang berhubungan dengan belajar. Kondisinya semakin rumit, ketika orang tua hanya mampu melarang dan memarahi sang anak, tanpa pandai memuji ketika sang anak melakukan hal yang baik atau prestasi dari yang diharapkan orang tua.
Akibatnya, anak cenderung penakut, kurang berani mengambil inisiatif. Hilang kreatifitas. Padahal, dalam kondisi kekinian, kreatifitas sangat dibutuhkan. Betapa banyak kerja-kerja kreatif sangat memiliki arti besar dan pengaruh luas, daripada kerja yang dilakukan oleh para alumnus perguruan tinggi,  dengan predikat cum laude sekalipun.
Solusi dari kondisi ini, hargai anak kita dengan segala kelebihannya (bukan kekurangannya), karena prinsipnya semua anak pintar dan cerdas. Tugas kitalah sebagai orang tua, menemukan dalam hal apa dan bidang apa, kelebihan yang dimiliki anak kita.

Empat, Trauma karna Kegagalan yang Pernah dialami.
Banyak diantara mereka yang memiliki penyakit MC karena kegagalan yang dialami. Padahal, dengan kegagalan, banyak hal positif yang dapat diambil hikmahnya. Mengapa gagal? Bagaimana merubah strategi sehingga tidak gagal lagi, melainkan sukses. Kegagalan memang menyakitkan. Karena menyakitkan, maka jangan lupakan. Mengapa jangan dilupakan? Karena dengan ingat point dimana kita gagal. Maka, point itu tak akan diulangi lagi. Dengan berbekal pahit, buatlah tekad untuk tidak pernah mengalami rasa sakit yang sama.
Solusi dari masalah ini, rubah mainsite kita, kegagalan hanya kesuksesan yang tertunda. Ada sesuatu yang perlu diperbaiki, sehingga kita tiba pada sukses yang dituju.

Lima, Trauma Karena Kejadian Buruk Masa Lalu.
Atas kejadian-kejadian masa lalu, apakah orang tua, sahabat, teman seprofesi atau teman bisinis dimana, karena ulah mereka semua kita menjadi manusia gagal. Maka, bangkitlah. Maafkan mereka semua. Rubah dendam menjadi maaf. Dengan kerja mereka semua itu, yakinkan pada diri kita, kita telah bertransformasi menjadi manusia kuat, oleh karenanya, sangat logis, manusia yang kuat memaafkan manusia lemah.

Akhirnya. Mari kita bertekad menjadi sehat. Sehat dari penyakit MC. Kita bukanlah mereka yang terbelenggu dengan masa lalunya. Melainkan, kita yang menatap masa depan dengan sekali-kali  menoleh pada masa lalu, agar tak melakukan kesalahan yang sama. … Wallahu A’laam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar