Jumat, 01 September 2017

Do’a Sebagai Obat.

Pada dunia maya, sering kita jumpai status yang mewakili keluarga. Apakah itu Ibu, Bapak, Paman, Tante atau keponakan yang sedang dirawat di RS. Diharapkan para pembaca untuk ikut mendo’akan agar mereka yang dirawat segera sehat. Atau pada pasien yang sedang akan menjalankan operasi, sukses pada pelaksanaan operasi dan segera sehat.
Apakah demikian krusial peranan do’a dalam penyembuhan penyakit? Sehingga dibutuhkan banyak orang untuk membantu penyembuhan mereka yang menderita sakit.
Larry Dossey seorang ahli bedah batalyon tentara Amerika ketika terjadi perang di Vietnam, memperhatikan bahwa tentara yang dibedahnya, memiliki dua kecenderungan. Untuk mereka yang dibedah setelah melakukan do’a, hasilnya akan lebih baik daripada mereka yang tidak dido’akan.
Lalu, untuk menganalisa fenomena ini, Larry Dossey memisahkan para pasiennya menjadi dua kelompok. Satu kelompok dido’akan dengan cara mengirimkan nama-nama pasien tersebut pada rumah ibadah untuk dido’akan. Antara pasien dan yang mendo’akan tidak saling kenal. Sementara kelompok yang lain, tidak dido’akan. Apa yang terjadi? Ternyata kelompok yang dido’akan lebih sukses dalam operasi dan lebih cepat sembuh, sementara yang tak dido’akan, hasilnya sebaliknya.
Pada kesempatan muncul di acara oprah Winfrey pada tahun 1993 Larry Dossey menyebutkan bahwa apa yang terjadi pada pasiennya menunjukan kekuatan do’a.
Larry Dossey menjelaskan semua teori kekuatan do’a pada pengobatan dalam bukunya yang fenomenal yang berjudul 'Reinventing Medicine'
Jika Larry Dossey doctor lulusan dari University of Texas di Austin yang atheis itu, percaya akan kekuatan do’a, mengapa kita tidak?
Dr. Dhiyak Al-Haj Husen, pakar kesehatan Rematik di Inggris, membuktikan hal yang sama tentang kekuatan do’a dalam penyembuhan sakit punggung para pasiennya. Penelitian yang dilakukan, membuktikan mereka yang diobati dengan tambahan do’a memiliki tingkat penyembuhan yang lebih baik, dibandingkan tanpa do’a.
Pertanyaannya sekarang, mengapa do’a berperan dalam kesembuhan? Karena dalam do’a ada dialog yang menyebabkan mereka yang berdo’a memiliki penyerahan total pada sang segala Maha. Ada permohonan yang tulus pada sang Pemilik Segala Ketulusan. Kombinasi antara penyerahan total dan harap yang total itulah, membentuk energy penyembuhan yang luar biasa, seperti halnya rantai tangga tali pada jaringan DNA. Dengan pertimbangan, bahwa kebanyakan penyakit disebabkan oleh pikiran manusia, maka logis, ketika kondisi pikiran itu yang disembuhkan dulu. Caranya dengan berdo’a. menyatukan dan mempertemukan simpul antara penyerahan total dan harap total pada sang pemberi Kesembuhan.
Sugesti yang ditimbulkan saja, sudah membantu pasien untuk secara phsykis merasa sehat. Karena, simpul gelombang dan energi yang terpancar memberikan efek luar biasa pada pasien, belum lagi hasil dari do’a yang dipanjatkan.
Henri Bergson, peneliti medis terkemuka menyimpulkan, pikiran tidak memerlukan medium untuk pergi kemanapun. Mekanismenya mirip seperti radio dan gelombang radio. Pada dasarnya, radio tidak menghasilkan gelombang namun hanya mendeteksi, mengirimkan, dan menyortir.

Bahkan, do’a bukan hanya bermanfaat pada penyembuhan penyakit. Namun, berperan pula pada pencegahan. Fenomenanya, dapat dilihat pada acara selamatan tujuh bulanan ibu hamil, selamatan ketika hendak melakukan perjalanan jauh dll. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar