Kamis, 31 Agustus 2017

Gelombang Cinta Itu

Riak Gelombang Itu (dok.Pribadi)

Gelombang manusia yang melakukan tawaf itu, bagaikan gelombang laut yang kecil saja, hanya bagaikan riak gelombang, tak lebih. Namun, keteraturan yang terlihat, kekhusu’an mereka serta arah yang sama yang ditempuh, membuat rasa pada kalbu Idham begitu menyentuh.
Bismillahi, walhamdulillahi wa laillaha ila, hu wa Allahu akbar
Bacaan yang dibaca sebagian mereka yang tawaf, mengingatkan Idham pada pujian-pujian kerabatnya di Indonesia.
Hari ini, diantara mereka yang hanyut dalam gelombang tawaf, turut serta Idham di dalamnya. Peristiwa yang sebenarnya, untuk pribadi Idham bukan murni diniatkan untuk Ibadah mendekatkan dirinya pada sang Khaliq. Melainkan, terbersit didalamnya untuk sesuatu yang lain. Untuk Sarah.
Idham tahu dengan pasti, di saat tawaf ini, dia akan bertemu dengan Sarah. Sebabnya jelas,  Idham yang terbang dengan kloter 21 dan sarah dengan Kloter 22, hampir dapat dipastikan, kegiatan ibadah yang mereka lakukan, akan selalu berbarengan. Tak terkecuali saat tawaf seperti ini.
Semua persiapan untuk bertemu sarah sudah matang dipersiapkan oleh Idham. Cincin berlian imut yang selalu berada dalam tas pingganggnya, akan dia persembahkan pada Sarah, juga bagaimana Idham akan berlutut kelak, ketika dia bertemu Sarah, Idham sambil berlutut akan berkata :”Sudikah Sarah menjadi istriku?”
*****  
“Ham..sudah siap semua?” tanya Hamid, tepatnya memperingatkan Idham.
“Oke, siap… ayo berangkat” jawab Idham singkat.
Jam dua malam itu, mereka meninggalkan kemah, menuju Masjidil Haram. Mengejar sholat subuh berjamaah di Mesjidil Haram, sekaligus tawaf. Untuk Allah hanya ada satu kata. Tuntaskan semuanya hanya untukNya.
Tak ada Taksi, tak ada Bus. Sudah dua hari ini, semua kendaraan dilarang beroperasi. Lautan manusia memenuhi semua sisi ruas jalan. Termasuk Idham dan Hamid didalamnya. Dengan berjalan kaki, dua anak muda itu, bersama menuju Mesjidil Haram.
“Tahu kau Ham, Allah itu pencemburu” kata Hamid disela-sela manusia yang menyemut menuju Masjidil Haram pagi itu.
“Maksudmu..?” Tanya Idham.
“Dia hanya mau, hambaNya datang untuk diriNya sendiri. Tidak untuk yang lain”
“Segitunya Mid?”
“Iya… Bahkan untuk yang terbersit dalam hatipun, Dia tak mau diduakan” Jawab Hamid lagi.
Makjleeeb. Terguncang hebat Idham. Guncangan yang menembus langsung ke pusat jantungnya. Lalu, bagaimana dengan niatnya ingin  bertemu Sarah, bagaimana dengan nasib cincian berlian yang berada di tas pinggangnya ini? Bagaimana dengan rencana dirinya yang ingin berlutut dihadapan Sarah, sekaligus meminangnya, bersedia untuk menjadi isterinya?
*****
Lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah dalam ibadah yang disebut Tawaf itu, makin menyemut saja. Masing-masing mereka larut dalam talbiyah yang mereka baca, larut dalam hati yang tertuju hanya padaNya.
Di putaran ke lima, Idham sempat melihat Sarah. Idham menggeser kakinya, masuk ke dalam lautan manusia lain, sarah segera hilang dari pandangannya. Idham sudah bulat memutuskan, Cintanya saat ini, tak ingin dia bagi. Idham hanya ingin mempersembahkan semuanya hanya pada Allah. Tidak ada kecuali untuk yang lain.
Di akhir putaran ke tujuh, cincin berlian yang selalu setia di tas pingganggnya, dia serahkan pada wanita tua yang sedang khusuq berdo’a bermunajat padaNya. wanita pertama yang dijumpai Idham ketika usai melaksanakan Tawaf..
Biarlah cinta yang dia jalani saat ini, hanya tertuju padaNya, pada Allah, bukan untuk yang lain. Bukan untuk Sarah.

Tokh, masih tersisa banyak waktu, banyak kesempatan untuk menuntaskan Cintanya dengan Sarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar