Sabtu, 17 Juni 2017

Saung, Kearifan Lokal yang Tergusur Peradaban




Saung ditengah sawah (dok.Pribadi)

Mengapa, pada luas lahan sawah yang sama di Krawang dan di Banten, panen padi yang dihasilkannya berbeda. Padi yang dihasilkan, pada lahan persawahan di Krawang lebih banyak dibandingkan dengan Banten.
Salah satu pendapat, mengatakan. Bahwa salah satu penyebabnya karena saung.
Kenapa dengan saung?.
Karena saung di areal persawahan daerah Banten, jumlahnya lebih banyak, dibandingkan jumlah saung di daerah Krawang. Artinya, semakin banyak saung, akan semakin banyak petani sawah yang beristirahat di saung.  Akibatnya, jumlah jam kerja yang digunakan untuk aktivitas bertani di sawah akan semakin sedikit. Dengan  sendirinya, panen yang dihasilkan akan berkurang. Demikian salah satu kesimpulan yang diperoleh.
Kesimpulan yang sangat logis. Namun, benarkah demikian? Sesederhana itukah? Tulisan ini, mencoba melihat sisi lain dari sebuah saung.  

Saung berasal dari bahasa Sunda. Bentuknya sebuah bangunan kecil atau gubuk kecil. Berfungsi sebagai tempat istirahat sejenak, baik setelah lelah bekerja, dari terik matahari atau untuk melaksanakan sholat, jika waktu sholat tiba. Di daerah lain, saung juga dikenal masyarakat. Meski, disebut dengan nama berbeda, seperti Dangau untuk Sumatera Barat.
Saung, pada masa lalu, merupakan pusat peradaban masayarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian. Apakah itu, dari aktifitas mengolah lahan persawahan atau berladang. Sesaat setelah meninggalkan rumah di pagi hari. Maka, area “bersosialisasi” berpindah ke lahan pertanian, pusat pertemuannya sosialisasi dilakukan, di tempat yang kita sebut saung.
Pada saung, mereka berkumpul melepaskan lelah, makan bersama, ngobrol, ngopi dan menebar segala informasi. Di saung denyut nadi kehidupan masyarakat tradisional hidup. Sebelum tiba waktu sore, untuk pulang ke rumah.
Jadi, saung bukan sekedar tempat istirahat an sich. Di saung, peradaban masyarakat menggeliat.
Di selatan Banten dikenal istilah ajeungan sumping. Terjemahan dalam bahasa Indonesia, ulama pendatang. Konon, istilah ajeungan sumping, berkaitan erat dengan saung. Para ulama dalam upaya melakukan dakwah penyebarab agama Islam, dengan perbekalan seadanya, melakukan safari perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka melepaskan lelah & penat di Saung. Di saung pula mereka memperkenalkan diri, bersosialisasi dan larut dalam kegiatan masyarakat dimana merka datangi. Kemudian, memperkenalkan agama yang mereka bawa dengan bahasa sederhana dan praktek sederhana pula.
Memperkenalkan apa itu Tuhan, melakukan sholat sehingga menimbulkan pertanyaan besar bagi pemiliki saung tentang gerakan yang terlihat asing itu, lalu menjelaskan apa itu sholat dsbnya.

Saung ditengah sawah (dok.Pribadi)
Dari kegiatan ajeungan sumping ini, Islam mengakar di Banten. Beberapa perguruan Islam awalnya didirikan oleh ajeungan sumping. Bahkan, salah satu perguruan yang cukup tua dan memiliki nama di Banten, sang ajeungan sumping itu, masih bisa ditemui.
Pertanyaannya sekarang kemana peranan saung? Demikian tragis nasib saung, sehingga tuduhann yang sungguh menyakitkan diterima saung, sebagai penyebab tidak maksimalnya hasil pertanian. Saung diartikan sebagai lambang kemalasan yang mengakibatkan menurunnya hasil panen.
Kondisi memperihatinkan yang dialami saung, akibat salah kita semua. Kita gagal dalam memahami peran saung, sekaligus gagal mengenai kearifan lokal yang dikandung saung.
Akulturasi kegagalan kita mengenai saung, mengakibatkan saung kehilangan perannya. Akibatnya saung tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat umumnya, termasuk oleh mereka yang berkepentingan dalam dunia pertanian.
Jika saja, para penyuluh pertanian mampu mengembalikan fungsi saung sebagaimana fungsi awalnya, maka beberapa keuntungan dapat diperoleh sekaligus. Seperti, tidak dibutuhkannya sewa gedung untuk penyuluhan, adanya aroma kebersamaan antara petani dan penyuluh pertanian, pembuktian secara empiris pada penyuluh pertanian itu sendiri, bahwa mereka bukan hanya mengetahui “tani” sebatas teori an sich, melainkan mampu memberikan contoh praktek di lapangan, melepaskan batasan baju yang dikenakan antara penyuluh pertanian dengan sang petani, dengan menghilangkan sekat itu, tujuan yang dicapai bukan pada ada yang dapat anda lakukan setelah anda tahu, melainkan apa yang dapat kita lakukan setelah kita semua tahu.
Mengembalikan fungsi saung pada posisi semula, akan mengembalikan paradigma bahwa saung bukan penyebab pada turunnya volume hasil panen, melainkan justru sebaliknya.
Pada akhirnya, saung memang hanya sebuah bangunan kecil di tengah sawah. Namun, apa peran yang dimainkannya, justru kitalah yang memiliki andil besar dalam mengisi dan menentukan peran saung yang dimaksud. Dan kesalahan terbesar kita, kita tidak memiliki pengetahuan paripurna tentang peranan saung pada zamannya dan tidak memiliki politikal will yang kuat untuk mengembalkikan peran saung pada posisi selayaknya….. wallahu a’alaam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar