Sabtu, 24 Juni 2017

Romansa Pendamping


Dari Jauh Terlihat Desa Dampingan (dok.Pribadi)

 Adzan Magrib selesai dikumandangkan, buka terakhir selesai sudah tertunaikan, di langit di atas sana gelap belum sepenuhnya sempurna. Tak ada lagi taraweh malam  ini, yang ada sehabis magrib tadi, gema takbir berkumandang memenuhi angkasa raya.
Tanda berakhir sudah bulan puasa dan esok, adalah hari kemenangan bagi yang umat Islam, setelah berpuasa selama sebulan penuh. Diujung gang tempat Surya dan Eneng terdengar suara letusan kembang api menyertai kegembiraan berakhirnya ramadhan. Suasana yang sangat meriah.
Tapi, tidak demikian halnya bagi Surya. Ia termenung seorang diri di teras rumah kontrakan  yang sangat sederhana. Kesendirian yang begitu mencekam Surya. Setelah Eneng pergi, ada yang mengaduk-aduk hatinya, membuat gundah Surya. Masih tergiang perkataan Eneng sebelum pergi.

"Kang, aku harus gimana? Bertahan dengan kondisi seperti ini, nggak merubah apapun. Sehabis lebaran nanti, Eneng akan bekerja di Hongkong. Neng akan merubah kondisi ini, semampu yang dapat Neng lakukan. Akang setuju nggak setuju, Neng akan tetap berangkat ke Hongkong, Kang."
Terkejut Surya dengan keputusan berani yang diambil isterinya, tak disangkanya, tekad Neng sudah demikian bulat. Bahkan, untuk sebuah izin saja, Eneng sudah tak butuh lagi.
Bayangan hari-hari kelam menghantui Surya. Apa kelak yang akan terjadi pada Enang, Bisa saja isteri yang dicintainya itu, akan tergoda pria Bangladesh seperti yang banyak dia dengar. Atau pelecehan yang dilakukan para agen TKW. Atau, bisa juga pelecehan akan dilakukan majikannya di Hongkong nanti. Semua kemungkinan bisa saja terjadi.
Memang, kenyataan yang dihadapi Surya, sulit baginya untuk menerima kenyataan ini. Bagiamana tidak, kerja tahunan yang dijalaninya, tak memberikan apa-apa. Baik harapan apalagi materi.
Kontrak kerja yang diterimanya, sungguh aneh. Setiap tahun diperbaharui, konyolnya tidak selalu dua belas bulan. Pernah kontrak yang ditanda-tanganinya hanya sebulan. Padahal obyek kerjanya memiliki waktu dua belas bulan setiap tahunnya. Tentu ada yang salah dalam hal ini.
Surya berharap memiliki pekerjaan tetap, bukan kerja yang setiap tahun diperbaharui dengan jumlah hitungan bulan kurang dari setahun.
Tak ada THR, tak ada tunjangan kesehatan. Jika pun ada asuransi, maka asuransi itu, harus dibayarkan Surya sendiri.
Belakangan, beban hidup semakin berat manakala harga-harga sembako semakin meroket tinggi, BBM semakin tak terjangkau, dengan alasan  dicabut subsidi, lalu, biaya PLN mengikuti di belakangnya dengan lompatan harga hingga dua ratus persen. Padahal gaji yang diterima Surya hanya setara dengan UMR.
Kemana peran Negara? Kemana kebijakan yang pro rakyat, kebijakan yang pro pada mereka seperti Surya?
Untuk jadi pemimpin, semua orang pasti bisa, jika hanya dengan menaikkan pajak, menaikkan harga, mencabut subsidi, dengan alasan semua untuk biaya membangun negri. Tanpa memikirkan, kebijakan yang diambil mencekik rakyat.
Kemana gerangan, sumber daya alam yang melimpah? Apakah itu hasil tambang alam, sumber destinasi  alam yang dikagumi keindahannya. Sumber budaya adiluhung yang membuat kagum manca Negara? Bukankah itu memiliki asset besar yang cukup punya andil dalam pembiayaan membangun Negara.
Bukankah tujuan bernegara, bersatunya suku-suku, agama-agama agar masyarakat makmur untuk semua, tanpa pengecualian.
Surya bingung, mengapa dia dikecualikan? Tanpa THR, kontrak kerjanya hanya dalam hitungan bulan. Bahkan pernah hanya sebulan dalam setahun. Tanpa surat keterangan pengalaman kerja. Belum lagi gaji yang diterima sebesar UMR.
Bukankah Surya sarjana, bukankah Surya tenaga yang diharapkan sebagai volunteer, agen perubahan menuju Indonesia baru, dengan slogan mengepung atau membangun Indonesia dari desa.
Apa yang salah terhadap Surya dan teman-teman yang seprofessi dengannya? Jika system kerja Outsorsing menguntungkan pengusaha, surya masih mengerti, tersebab penguasa memang profeet oriented. Tetapi, Surya bukan bekerja pada pengusaha. Surya bekerja pada negri yang katanya ingin membangun Indonesia dari pinggiran.
*****
“Jadi, gimana Neng? Eneng tetap akan pergi?” tanya surya pada Eneng.
“Eneng terpaksa Kang?”
“Eneng nggak kasihan sama Akang?”
“Justeru, kalo Eneng nggak pergi, Eneng gak kasihan sama akang” jawab Eneng.
“Kok, bisa gitu?”
“Anak kita akan sekolah apa kang? Mau sekolah hanya sampai S1, lalu nasibnya seperti akang? Menafkahi isteri saja nggak mampu” jelas Eneng.
Terhempas Surya dengan kalimat terkahir Eneng. Sungguh kelelakiannya tersentak. Begitukah penilaian isterinya padanya? Jerih payah, kerja keras dan waktu yang dia habiskan, hanya disimpulkan tak mampu menafkahi isteri.
Terhempas Surya dengan kenyataan pada tempat kerjanya. Sungguh kelelakiannya tersentak. Begitukah penilaian institusi tempatnya bekerja? Jerih payah dan waktu yang dia habiskan, hanya dibalas dengan imbalan yang tak mampu untuk menafkahi isteri dan keluarganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar