Jumat, 23 Juni 2017

Menan yang Menemani Mandeh


Sumber gambar. Satujam.com

 Menan perlahan menapak anak tangga turun menuju daratan, tak bergegas dia, tak ada yang perlu dikejar, perlahan saja. Menan membiarkan penumpang lain turun dulu, penumpang yang bergegas agar segera tiba di rumah. Sedangkan Menan, apa yang dia kejar? Tak ada.
Satu-satu anak tangga turun dia tapaki, dia nikmati sepenuhnya, sesekali matanya dia arahkan ke sekeliling Dermaga Muara. Setiap detail dari Muara ini, Menan hapal betul. Tempat yang dulu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Menan. Di sanalah, pada tiap detail Dermaga ini, Menan habiskan masa anak-anaknya.  
Itu salah satu sebab, mengapa Menan masih menggunakan Kapal laut untuk pulang. Ada keterikatan emosi pada Menan tentang Dermaga ini, tentang laut, tentang kapal dan jarak ke rumah dan Mandeh.
Meski, semuanya sudah berubah. Namun, masih tersisa harapan pada Menan untuk menelusuri jejak itu, mengais sisa dari masa lalunya, sekecil apapun sisa yang yang masih dapat dia raih.
*****

“Pergilah nak, suatu waktu kelak kau akan kembali jua” kata Mandeh, sambil mengelus kepala Menan.
“iya Mandeh” jawab Menan, haru sangat hati Menan meninggalkan Mandeh sendiri.
“Merantaulah. Anak bujang di negeri kita, memang harus merantau” lanjut Mandeh.
“Iya Mandeh” jawab Menan lagi, pendek.
“Mandeh akan menunggu Nak. Dermaga Muara akan senang kalo kau kembali”
Tak ada kata lagi yang diucapkan Mandeh, tak ada peluk Menan pada Mandeh, tak ada peluk Mandeh pada Menan, yang ada hanya elusan tangan Mandeh pada kepala Menan. Pada anak semata wayangnya, yang diusia sangat muda, karena budaya yang kaku, mengharuskan sang putra untuk merantau.
Diluar perkiraan Menan, itulah terakhir kali dia melihat Mandeh, merasakan elusan tangan sang Mandeh pada kepala Menan. Karena, ketika dia pulang, Mandeh telah terbujur kaku diatas sejadahnya menantikan kepulangan sang anak tersayang. Menan.
*****
Masih berdiri di dermaga, Menan menghirup udara dermaga Muara. Udara yang selalu terasa lain, ketika memasuki paru-paru Menan. Udara yang memasuki paru-parunya ketika awal-awal kehidupan Menan, udara yang dia hirup ketika dia dibawa Mandeh untuk melihat kapal yang sandar.
Ada beberapa tukang Bendi yang menawarkan pada Menan, kemana akan diantar. Perlahan Menan menggelengkan kepalanya. Bukannya tak mau berbagi uang recehan pada tukang Bendi. Tapi, kemana dia akan dihantarkan?. Menan sendiri tak tahu.
Menan terus melangkah, terus melangkah, jalan yang dia tapaki ini, jalan yang sangat dia kenali tiap sentinya, karena dijalan inilah dulu Mandeh membimbingnya menuju dermaga Muara, menuju surau Buya Rusdy. Surau yang dipenuhi dengan cinta pada Allah sekaligus cinta pada sesama manusia, dengan kebijakan Buya Rusdy pula, Menan kadang diijinkan untuk pulang, tidur di rumah mandeh. Dengan cinta Mandeh pula, Mandeh membuat kunci rahasia di pintu depan, sehingga, jam berapapun Menan pulang, Menan dapat masuk ke rumah, dapat makanan “anyang” kesukaan Menan. Karena Mandeh selalu membuatkannya untuk Menan.
Di pertigaan itu, Menan berhenti sejenak. Masih lengang seperti dulu. Hanya saja, kini lampu penerangan sudah ada. Suasanya jadi lebih hidup.
Menan berdiri lama, mau kemana? Berbelok ke kanan ke surau Buya Rusdy. lurus, kerumah Mandeh. Tapi, apakah rumah itu masih ada? Bukankah ketika dia meninggalkan kampung ini tiga tahun lalu sepeninggal Mandeh, tanah itu sudah diwakafkan. Lalu untuk apa mereka mempertahankan rumah reyot itu? Kalaupun masih ada, Mandeh sudah tak ada. Tak di rumah reyot itu lagi.
Menan melanjutkan perjalanan, tidak berbelok kanan, tapi lurus. Jalan yang menuju rumah Mandeh. Meski, Menan yakin sepenuh yakin, jika gubuk reyot Mandeh sudah tak ada lagi.
Lewat penurunan, Menan tiba pada tentang rumah Mandeh, benar rumah itu tak ada lagi, suara orang mengaji dari surau buya Rudsy juga tak terdengar, padahal baru jam sepuluh malam. Lama Menan menatap tanah kosong yang tak tersisa lagi rumah Mandeh. Tak tahu apa yang dia perbuat. Kemana langkah ini akan dilanjutkan.
Sementara dilangit bintang bersinar sempurna, tak ada awan sedikitpun, bulan diatas, tinggal bagaikan sabit, maklum ini tanggal 27 Ramadhan, tiga hari lebaranpun tiba.
Menan masih meneruskan langkahnya.  Tiga ratus meter di depannya, jika dia terus melangkah, maka Menan akan tiba di pemakaman umum. Disana Mandeh beristirahat.
Menan ingin menjumpai Mandeh, tepatnya pusara Mandeh. Perempuan yang telah menyabung nyawanya untuk kehadiran Menan di muka bumi ini. Perempuan yang menghabiskan siang dan malamnya untuk membesarkan Menan, tersebab ayahnya hilang ditelan laut ketika mencari ikan di tengah lautan. Perempuan yang gagal dia balas budinya, ketika dia bawakan materi sepulangnya merantau. Mandeh telah terbujur kaku di sajadah sendiri, sunyi, dalam penantiannya menunggu kepulangan Menan. Satu-satunya yang sempat Mandeh pakai, hanya kain yang dibawa pulang untuk dijadikan kafan Mandeh.
Ke makam Mandeh itu, langkah kaki Menan selanjutnya. Kini, Menan tak membawa materi, tapi membawa do’a dan tekad.
Do’a yang dia akan panjatkan pada Allah di makam Mandeh, agar Mandeh diberikan Allah kelapangan di Alam sana, diberikan tempat yang terbaik disisiNya, serta tekad dalam dirinya untuk menjalani hari-hari berikutnya sebaik mungkin, baik untuk diri pribadinya, maupun untuk lingkungan masyarakat sekitarnya. Sehingga, ketika dia kembali kelak padaNya, dapat berjumpa kembali dengan Mandeh disisiNya.
*****
“Semua hasil penjualan saham pak Menan selesai” Ujar Notaris Saragih.
“Selanjutnya, apa lagi langkah berikutnya?” tanya Menan.
“Tak ada, Bapak tinggal tanda tangan disini, 5 hari kemudian, semuanya sudah beralih ke rekening Bapak”. Lanjut Saragih.
“Bagaimana dengan rumah dan kendaraan lainnya?”
“Sama pak,  lima hari lagi semuanya sudah aman di rekening Bapak”
Begitulah Boss besar yang bernama Menan itu, hanya dengan taksi menuju Pelabuhan Tanjung Priok dan dengan kapal laut tiba di dermaga Muara. Semuanya dia lego, tekadnya sudah bulat, membangun kampung Muara. Kampung dimana Mandeh beristirahat dengan tenang.
Perjuangan sesungguhnya bagi Menan, dimulai disini, dikampung Mandeh, sambil Menan menemani Mandeh, meski bentuk nyatanya kini, hanya berupa pusara.
Tapi, bagi Menan, Mandeh tetap hidup, tetap kekal dihati sang anak semata wayang Mandeh. Dihati Menan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar