Sabtu, 24 Juni 2017

Romansa Pendamping


Dari Jauh Terlihat Desa Dampingan (dok.Pribadi)

 Adzan Magrib selesai dikumandangkan, buka terakhir selesai sudah tertunaikan, di langit di atas sana gelap belum sepenuhnya sempurna. Tak ada lagi taraweh malam  ini, yang ada sehabis magrib tadi, gema takbir berkumandang memenuhi angkasa raya.
Tanda berakhir sudah bulan puasa dan esok, adalah hari kemenangan bagi yang umat Islam, setelah berpuasa selama sebulan penuh. Diujung gang tempat Surya dan Eneng terdengar suara letusan kembang api menyertai kegembiraan berakhirnya ramadhan. Suasana yang sangat meriah.
Tapi, tidak demikian halnya bagi Surya. Ia termenung seorang diri di teras rumah kontrakan  yang sangat sederhana. Kesendirian yang begitu mencekam Surya. Setelah Eneng pergi, ada yang mengaduk-aduk hatinya, membuat gundah Surya. Masih tergiang perkataan Eneng sebelum pergi.

Jumat, 23 Juni 2017

Menan yang Menemani Mandeh


Sumber gambar. Satujam.com

 Menan perlahan menapak anak tangga turun menuju daratan, tak bergegas dia, tak ada yang perlu dikejar, perlahan saja. Menan membiarkan penumpang lain turun dulu, penumpang yang bergegas agar segera tiba di rumah. Sedangkan Menan, apa yang dia kejar? Tak ada.
Satu-satu anak tangga turun dia tapaki, dia nikmati sepenuhnya, sesekali matanya dia arahkan ke sekeliling Dermaga Muara. Setiap detail dari Muara ini, Menan hapal betul. Tempat yang dulu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Menan. Di sanalah, pada tiap detail Dermaga ini, Menan habiskan masa anak-anaknya.  
Itu salah satu sebab, mengapa Menan masih menggunakan Kapal laut untuk pulang. Ada keterikatan emosi pada Menan tentang Dermaga ini, tentang laut, tentang kapal dan jarak ke rumah dan Mandeh.
Meski, semuanya sudah berubah. Namun, masih tersisa harapan pada Menan untuk menelusuri jejak itu, mengais sisa dari masa lalunya, sekecil apapun sisa yang yang masih dapat dia raih.
*****

Sabtu, 17 Juni 2017

Saung, Kearifan Lokal yang Tergusur Peradaban




Saung ditengah sawah (dok.Pribadi)

Mengapa, pada luas lahan sawah yang sama di Krawang dan di Banten, panen padi yang dihasilkannya berbeda. Padi yang dihasilkan, pada lahan persawahan di Krawang lebih banyak dibandingkan dengan Banten.
Salah satu pendapat, mengatakan. Bahwa salah satu penyebabnya karena saung.
Kenapa dengan saung?.
Karena saung di areal persawahan daerah Banten, jumlahnya lebih banyak, dibandingkan jumlah saung di daerah Krawang. Artinya, semakin banyak saung, akan semakin banyak petani sawah yang beristirahat di saung.  Akibatnya, jumlah jam kerja yang digunakan untuk aktivitas bertani di sawah akan semakin sedikit. Dengan  sendirinya, panen yang dihasilkan akan berkurang. Demikian salah satu kesimpulan yang diperoleh.
Kesimpulan yang sangat logis. Namun, benarkah demikian? Sesederhana itukah? Tulisan ini, mencoba melihat sisi lain dari sebuah saung.  

Kamis, 15 Juni 2017

Kau


Kau….. (dok.Pribadi)


Kau...
yang datang pada saat terakhir
menyalip pada yang lain
menafikan  yang dulu ada
meninggalkan semuanya yang tersedia
membawa sesuatu yang baru
membuat usang semua yang terdahulu
mentransformasi yang telah ada
merubah segalanya
pada senja berkabut awan,
kau singkirkan sengkala
membuat saat sun set  jadi sempurna
ke peraduan yang indah
diakhir kita berdua
ada sisa senyum yang tak terucap
untuk  saat-saat
kau pernah ada

Senin, 12 Juni 2017

Wasiat Mandeh Khadijah

Sumber gambar Oltret.com
Jika ada cinta yang pertama diterima seorang manusia, maka cinta itu, adalah cinta sang bunda pada anaknya. Itu sebabnya, seorang anak selalu saja mendamba sang bunda. Baik di dunia atau ketika sang bunda telah tiada.
Demikian besar kadar cinta bunda pada sang anak, sehingga Allah pemilik Alam semesta ini, malu untuk menunda permintaan seorang bunda, jika permintaan itu, menyangkut kepentingan sang anak.
Jangan tanya pada seorang anak, masakan apa yang paling nikmat di dunia ini? Karena, jawabannya tentu masakan sang bunda. Jangan tanya pada seorang anak, wanita mana yang paling dia sayangi di dunia ini? Karena, jawabannya tentu sang bunda.
Soal-soal yang lain, hanyalah berada pada urutan kedua atau bahkan urutan keenam belas.
Malasahnya, bagaimana jika bunda telah tiada? Maka, wajar saja, jika urutan kedua, akan naik menjadi urutan pertama, begitu seterusnya untuk urutan-urutan yang lain.
*****

Senin, 05 Juni 2017

Mencinta Baso sebesar Gunung Inerie

Gunung Inerie (dok.Pribadi)

Sore belum sempurna tiba, baru pukul empat sore.
Duduk di tepi pantai Raja, Ende, Flores.  Sore itu, Baso memandang pada kedalaman teluk Sawu, jika saja Baso mampu memandang hingga dasar teluk Sawu, berarti kemampuan pandangnya mencapai 3.497 meter dibawah permukaan laut. Luar biasa!
Baso terperanjat, bukan karena ada ular yang lewat, atau tukang palak yang suka memalak. Sekali lagi bukan. Flores adalah pulau yang super aman. Tinggalkan saja motormu di halaman terbuka rumahmu, ketika kau jaga di pagi hari, motormu masih ada di sana, bahkan bergeser satu sentipun tidak.
Baso terperanjat, membayangkan Soekarno, ya.. Bung Karno. Ditempat dia duduk kini, Soekarno juga pernah duduk. Berbeda dengan Baso, Soekarno mampu melihat dasar teluk Sawu dengan kedalaman 3.497 meter itu, bahkan tembus lebih dalam dalam lagi.

Sabtu, 03 Juni 2017

Program KemenDesa Over Dosis (Analisa Kasus Tumbangnya Ketua Satgas UPP)

Para Pendamping Kecamatan Cibeber, Lebak. Banten (dok.Pribadi)
Tahun 2017 sesuai dengan Target capaian yang digulirkan oleh Mentri PDTT Eko Putro Sandjojo. Semua Desa di Indonesia sudah memiliki Embung Desa. –pernyataan beliau di Mataram, Lombok, NTB, rabu 23 November 2016-.  Target yang lain, semua Desa di Indonesia sudah memiliki BUMDES.
Target yang perlu diacungi jempol. Target yang dengan Percaya Diri digulirkan untuk dilaksanakan oleh seluruh DPMD pada daerahnya masing-masing. Tercapaikah? Wallahu A’laam. Karena pencapaian hasil kerja memerlukan banyak factor  pendukung agar dapat diperoleh pencapaian sesuai Target.
Lalu dimana salahnya, ketika pencapaian target tidak sesuai dengan apa yang telah ditargetkan oleh kementrian PDTT. Salah satu sebabnya, menurut hemat saya, terletak pada sisi perencanaannya.
Jadi dalam masalah ini, mentri Eko Putro Sandjojo, sesungguhnya tidak salah-salah amat. Malah, beliau nyaris jadi korban akibat dari sebuah perencanaan yang belum matang, lalu secara prematur digulirkan sebagai target sasaran yang akan dilaksanakan dan dicapai. Akibatnya, program yang sepintas terlihat baik itu, tidak kapable  untuk dilaksanakan. Apalagi, untuk pencapaian sesuai schedule yang direncanakan.  

Jumat, 02 Juni 2017

Sesat Pikir Inspektorat & BPK Tentang Penyalah gunaan Dana Desa.


Tertangkapnya enam oknum BPK dan seorang oknum kementrian PDTT (Jurnal.Com. sabtu,27/05/2017) mengejutkan banyak pihak. Apalagi oknum PDTT yang ditangkap, pejabat setingkat Dirjen, ketua  UPP (Unit Pemberantasan Pungutan Liar) Kemendes PDTT yang baru dibentuk oleh Mentri Eko Putro Sandjojo.
Peristiwa OTT oleh KPK mengindikasikan bagaimana semrawutnya kondisi Managerial pemerintahan di kementrian PDTT yang digawangi oleh Mentri Eko Putro Sandjojo.
Kondisi demikian, makin terasa jika dihubungkan dengan beban desa dalam pengelolaan roda pemerintahan desa. Kesalahan dalam pengelolaan, akan berakibat patal. Terutama dalam pengelolaan dana desa. Dana desa yang salah kelola, akan menjadi sasaran tembak  BPK dan Inspektorat.
Bukankah wajar, jika penggunaan dana desa harus diawasi, dan penyalah-gunaan dalam pelaksanaan dana, harus memperoleh sanksi. Dan pihak yang paling berkompeten dalam mengaudit dana desa, Inspektorat dan BPK.