Kamis, 25 Mei 2017

Singa Laut yang Terlambat Pulang

Ujung Muara Berlabuhnya Nelayan (dok.Pribadi)
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam tujuh… pada hitungan ketujuh, datang menghampiri ombak terbesar.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam tujuh, kembali ombak terbesar yang datang menghampiri.
Reflex Kasman mengambil buah kelapa yang terletak disebelahnya. Buah kelapa tua nan dia persiapkan untuk percobaan sore ini. Dengan sekuat tenaga dia melemparkan buah kelapa tua itu.  Sesuai dengan perkiraan Kasman, buah kelapa itu, mendarat dengan mulus di puncak Ombak, lalu dengan sekali tarikan kuat, buah kelapa yang mendarat dengan mulus itu, tertarik ke tengah samudra. Kemudian hilang dan tak kembali lagi.
Sore ini, adalah sore keempat, Kasman duduk diatas tebing tertinggi di Pulau “entah” demikian nama yang diberikan teman Bugisnya Ambo Gatta. Disebabkan karena, mereka tidak mengetahui nama pulau ini, maka Ambo Gatta memberikan nama Pulau entah.
Tujuannya jelas, Kasman ingin memastikan ombak mana yang dapat membawa mereka keluar dari pulau entah ini. Dari pengamatan Kasman, maka pada hitungan ketujuh,  ombak terbesar itu datang. Masalahnya, sebesar apa tenaga yang dihasilkan sang ombak ketujuh itu, untuk menyeret benda yang ada dipermukaan laut untuk dibawa ke tengah lautan. Untuk  itu, Kasman memilih buah kelapa sebagai benda uji untuk percobaannya.

Prinsipnya, Kasman tak ingin gagal, sebagaimana yang dia alami dua minggu lalu. Jika hari ke empat sukses. Bagaimana dengan hari kelima? Hari keenam dan hari ketujuh?.
Maka, percobaan ini, harus dilanjutkan  hingga tuntas. Hingga hari ke lima, ke enam dan ke tujuh. Biarlah menunda tiga hari dalam percobaan, daripada gagal ketika pelaksanaan. Gagal berarti nyawa taruhannya. Hanya keajaibanlah yang membuatnya masih hidup hingga kini, pada kegagalan dua minggu yang lalu itu. Kegagalan yang tak boleh diulangi lagi.
******
“Man, bangun” terdengar suara sayup-sayup ditelinga Kasman. Perlahan-lahan mata Kasman terbuka, terlihat olehnya Ambo Gatta berdiri tepat didepannya.
“Dimana kita Ambo” tanya Kasman, mencoba duduk. Sekujur tubuhnya, terasa sakit dan ngilu. Ada beberapa gores luka yang masih menganga di kaki dan lengan Kasman.
“Saya tak tahu” jawab Ambo Gatta.
“Kau terluka Ambo?” tanya Kasman pada Ambo.
“Lupakan itu. Mari kita bangun, masih tersisa jala  dan layar perahu. Kita selamatkan yang bisa kita selamatkan” ajak Ambo Gatta.
“yups..” Kasman berdiri, badannya oleng untuk beberapa saat. Lalu,mengikuti langkah Ambo Gatta.
Mereka berdua, menyelamatkan sisa-sisa barang yang masih tersisa di perahu. Sangat ajaib, ditengah hantaman gelombang dan arus yang begitu keras. Perahu mereka tidak tenggelam. Perahu mereka hanya terseret arus deras dan dibawa ketempat yang bahkan kedua nelayan ulung itu, tidak mengetahui letaknya.
Jaring masih teronggok di dasar perahu, meski sudah sobek di sana-sini, begitu juga dengan layar perahu. Tanpa banyak bicara kedua nelayan itu membereskannya, masih tersisa satu derigen besar ukuran 20 liter solar di dasar perahu. Dengan sisa tenaga dan tubuh luluh lantak, mereka berdua menyelamatkan seluruh sisa barang ke daratan.
Ambo Gatta dan Kasman, malam itu menghidupkan ranting-ranting kayu yang mereka kumpulkan di depan kemah mereka. Harapannya, akan  ada nelayan yang sedang melaut melihat bubungan api yang mereka nyalakan. Lalu, merapat dan membawa mereka pulang. Namun, malam itu, mereka gagal. Tak satupun nelayan melihat api unggun yang mereka nyalakan. Begitu juga malam-malam berikutnya, selalu saja Kasman dan Ambo Gatta menyalakan api unggun, dan hasilnya selalu sama. Nihil.
Untuk makan, Ambo Gatta dan Kasman, tak ragu. Ikan laut seakan menghampiri mereka, ada ranting kayu untuk digunakan membakar ikan. Bahkan dua hari setelah mereka tersesat di pulau Entah, mereka berhasil menemukan pohon nyiur di sudut lain dari pulau entah. Tak ada masalah dengan makanan, ada ikan, ada buah kelapa dan ada sumber air.
Tapi bagaimana dengan keluarga yang mereka tinggalkan? Bukankah keluarga mereka gelisah. Ambo Gatta dan Kasman, seakan hilang ditelan laut. Memang, mereka memiliki phonsel. Bahkan, isi pulsanya masih cukup untuk pembicaraan sekitar dua jam. Tapi, di pulau entah ini, sinyal kosong sama sekali. Bagaimana mereka mengirim berita pada keluarga? Atau sebaliknya, menerima kabar dari keluarga? Kondisi ini semakin runyam memasuki hari ketiga, batere habis, dimana akan mencharge Phonsel? Tak ada listrik disini, tidak ada sinyal. Bahkan jika saja, Ambo Gatta tak merokok, tak ada api.
Kondisi  yang sangat tragis.  Dilihat dari kehidupan Ambo Gatta dan Kasman. Meski mereka dari pulau terpencil di Sulawesi sana. Tapi, soal listrik, sinyal dan api, sudah merupakan bagian tak terpisahkan dari gaya hidup mereka.
*****
Hari ini, pas 16 hari kasman dan Ambo Gatta terdampar di pulau Entah. Jaring ikan yang terselamatkan dulu, sudah berganti fungsi menjadi pembungkus dari seratusan buah kelapa tua yang akan mereka gunakan sebagai pengganti perahu. Fungsi kelapa sebagai pengapung mereka berdua, sekaligus sebagai cadangan makanan. Persiapan untuk keluar dari pulau entah sudah matang. Pisau yangmereka miliki sudah diasah tajam.
Dalam perjalanan melintas laut yang entah sampai kapan tiba di kampong, rencananya ikan yang mereka peroleh diperjalanan, akan dibersihkan dengan pisau tajam itu. Jika saja hujan tak pernah turun, air kelapa dapat digunakan sebagai penghilang dahaga, kelapanya dapat menjadi sumber tenaga dari mereka.
Dua nelayan kawakan itu, sangat matang mempersiapkan segalanya.
Dengan sekali ayunan kuat, mereka berdua melemparkan bungkusan kelapa itu ke puncak ombak yang datang, lalu dalam hitungan detik berikutnya, Kasman dan Ambo Gatta terjun berbarengan menyusul bungkusan kelapa yang baru mereka lempar dan belum cukup dua menit berikutnya, Kasman dan Ambo Gatta telah berada diatas perahu atau pelampung yang terdiri seratusan kelapa tua. Sukses!!!.
Pelampung naik turun diatas gelombang ombak, menuju laut lepas. Selamat tinggal pulau entah. Kasman dan Ambo Gatta tersenyum dengan penuh arti, entah kapan tiba sampai rumah, tapi perjalanan menuju kesana sudah dimulai.
Tiba-tiba…. Datang ombak besar, kasman dan Ambo Gatta, terbawa ke atas gelombang dengan kecepatan tinggi,  mereka berdua berpegangan kuat pada jaring pembungkus kelapa dengan sekuat tenaga. Target sementara, jangan sampai terpisahkan dengan “pelampung” yang mereka buat dengan susah payah itu. Biarlah ombak membawa pelampung kemana suka sang ombak, asal mereka berdua tetap berada diatasnya.
Blargggghhhhh…. Sebuah hempasan besar terjadi. Pelampung menghantar dinding batu pantai, pelampung hancur, kelapa berserakan ke semua arah, jarring yang dipegang erat Kasman dan Ambo Gatta terlepas. Mereka berdua tenggelam ke dalam laut asin yang sedang marah itu. Lalu semuanya gelap.
Keduanya tersadar kembali, matahari yang mencorong ganas itu, telah menyadarkan Kasman dan Ambo Gatta dari pingsan panjangnya, dari kejadian ganasnya hempasan ombak semalam. Kasman dan Ambo Gatta telah dikembalikan oleh sang Ombak ke pulau Entah kembali.
*****  
Kini Kasman berdiri dari tempat duduknya, di puncak terjal daratan berbatuan di ujung tubir pulau Entah. Dibawahnya, ombak ganas bergemuruh dahsyat, datang secara periodik. Namun, itu semua bukan ancaman lagi bagi Kasman. Dia telah dapat cara menaklukan ombak besar itu. Pada hitungan ketujuh, ombak yang datang itu, adalah ombak terbesar yang akan membawa semuanya ke tengah laut dan tak kembali lagi. Kejadian demikian akan selalu terjadi pada semua hari. Begitulah kesimpulan Kasman, kesimpulan yang dia dapat, setelah Kasman delapan hari melakukan percobaannya. Kini, tak ada keraguan sedikitpun pada Kasman akan keberhasilan mereka meninggalkan pulau Entah.
*****
Satu, dua, tiga… Dengan sekali ayunan kuat, Kasman dan Ambo Gatta melemparkan bungkusan kelapa itu ke puncak ombak yang datang, lalu dalam hitungan detik berikutnya, Kasman dan Ambo Gatta terjun berbarengan menyusul bungkusan kelapa yang baru mereka lempar dan belum cukup dua menit berikutnya, Kasman dan Ambo Gatta telah berada diatas perahu atau pelampung yang terdiri seratusan kelapa tua. Sukses!!!.
Di langit,  udara sangat cerah, bulan purnama terjadi sempurna, tak ada sedikitpun awan yang menghalangi. Kasman menoleh ke belakang dari pelampungnya, ombak yang menuju daratan pulau Entah, ada dibelakang mereka. Itu artinya, mereka sudah aman. Ombak tak akan membawa mereka kembali ke pulau Entah.
Kasman menarik napas lega, mengeluarkan bekal airnya dan meneguknya, sementara Ambo Gatta duduk ke atas pelampung, mengeluarkan rumput liar yang sudah dia keringkan, lalu menyalakannya sebagai pengganti tembakau. Agaknya, rasa syukur dari permulaan panjang menuju rumah diekpressikan Ambo Gatta dengan menghisap rokok dari rumput liar di pulau Entah.
“Man, ini baru permulaan” kata Ambo Gatta.
“iya.. mudah-mudahan semua lancar” jawab Kasman.
“ya... Selesai saya merokok, kita pasang pelepah kelapa itu di ujung pelampung ini”
“Siap Kapten” reflek jawab Kasman. Kasman ingin membesarkan hati Ambo Gatta dengan memanggilnya Kapten.  Pelepah kelapa dimaksudkan untuk kemudi, tujuannya agar pelampung ini dapat dikendalikan arah lajunya.
“Man, kau lihat Bintang pari itu?”
“iya saya lihat”
“Dengan melihat bintang Pari itu, saya sudah dapat tentukan arah pulang kita”
“saya percaya, Kapten bisa lakukan itu” Jawab Kasman lagi. Lalu berdua mereka memasanga pelepah kelapa pada buritan. Sejak itu, secara bergantian mereka menjaga pelepah kelapa itu, agar arah pelampung mereka, sesuai dengan petunjuk arah yang diberikan Ambo Gatta.
*****
Sudah 12 hari mereka terapung-apung dilaut, perjalanan itu tetap diarahkan sesuai dengan petunjuk Ambo Gatta. Pelampung itu sudah semakin kecil saja, tersebab kelapanya setiap hari berkurang untuk konsumsi Kasman dan Ambo Gatta. Jika saja begitu terus hingga minggu depan, maka mereka berdua akan tenggelam dengan sendirinya, bersamaan dengan habisnya pelampung karna dikonsumsi Kasman dan Ambo Gatta.
Di ufuk timur, bulan terlihat berbentuk sabit, usia bulan yang demikian tinggal 3 hari lagi. Tiba-tiba pelampung mereka berhenti. Kasman yang kulitnya sudah mengelupas dimakan sengatan Matahari, merasakan pedih yang sangat ketika terjun ke laut mencari tahu sebab kandasnya pelampung mereka. Ternyata, pelampung tersangkut batu karang. Tak ada pilihan lain, selain berdiam diri dengan manis, menunggu pasang tiba, agar mereka bebas dari sangkutan karang.  Usaha membebaskan dari karang, sangat berbahaya, salah-salah tindakan, akan menyebabkan jaring sobek. Padahal sayup-sayup pulau tujuan sudah terlihat.
Jam menurut perkiraan Kasman sekitar pukul empat atau lima pagi, dia merebahkan diri, sementara Ambo Gatta, terlihat mengeluarkan rumput kering yang hampir habis, lalu menyalakannya. Dua orang yang mengekspressikan rasa lelahnya dengan cara yang berbeda.
Pagipun tiba, semuanya terlihat jelas, pulau tujuan dimana keluarga mereka tinggal sudah terlihat, meski sayup-sayup.  Kasman dan Ambo Gatta, tak dapat berbuat apa-apa. Sebentar lagi, mereka akan dipanggang Matahari seperti hari-hari  sebelumnya. Namun, siang nanti, agaknya akan makin menyiksa, siksa panggangan Matahari, siksaan rindu yang sejengkal lagi terobati dan siksaan ketidak berdayaan karena di jerat karang laut.
Tiba-tiba…. Ada titik yang makin lama, makin dekat. Sebuah perahu yang kesiangan pulang dari melaut. Harapan itu, kembali datang membuncah menghampiri Kasman dan Ambo Gatta.
“Buka bajumu man, ayo kita sambung dengan baju saya” perintah Ambo Gatta
“Siap kapten” sigap Jawab Kasman.
Berdua mereka menyambungkan kedua baju mereka dan sisa layar yang sudah tak berbentuk, lalu dengan pelepah kelapa yang selama ini berfungsi sebagai kemudi, dia kibarkan kain itu. Harapannya, agar perahu nelayan yang kesiangan pulang itu, melihat mereka dan menolong mereka.
*****
Dengan dipapah para awak nelayan yang pulang kesiangan itu, Ambo Gatta dan Kasman menginjakkan kakinya di dermaga kampungnya.
Tak ada yang menyambut kepulangan mereka, tak ada ikan yang Kasman dan Ambo Gatta bawa pulang dari melaut. Selain rasa rindu dan cinta pada keluarga yang telah satu setengah bulan mereka tinggalkan. Langkah yang dijejakkan Kasman dan Ambo Gatta begitu lemah, jalan disekitarnya masih gelap seperti biasanya.

Dari Musholla terdengar suara Adzan Isya. Biasanya, setelah shalat Isya, diteruskan dengan Taraweh di malam pertama Ramadhan. Taraweh yang terlewatkan oleh Kasman dan Ambo Gatta. Namun, masih tersisa  asa pada mereka berdua, jika nanti, di ujung malam, mereka akan makan sahur pertama di Ramadhan ini, bersama dengan keluarga tercinta. 

2 komentar: