Senin, 08 Mei 2017

Benarkah Islam Agama Jalan Lurus

 Jalan Menikung (dok.Pribadi)
Benarkah Islam sebagai ajaran jalan lurus? Sehingga, dapat membawa penganutnya tiba pada Allah, sebagai tujuan akhir dari serangkaian ibadah yang dilakukan oleh manusia pada sang Pencipta manusia.
Fakta membuktikan, peribadatan yang dilakukan umat Islam, dengan sholat lima waktu, dengan total rakaat sebanyak 17 rakaat, secara terang benderang, memperlihatkan secara kasat mata, bagaimana umat Islam memohon pada Allah, agar ditunjukan pada jalan lurus. ihdinaash shiraathaal mustaqiim. Ayat ke enam dari tujuh ayat dalam surat Al-Fatihah.
Demikian krusialnya surat Al-fathihah, yang ayat keenamnya memohon agar umat Islam ditunjukkan jalan lurus. Sehingga, tanpa membaca surat Al-fathihah, maka ibadah sholat dianggap tidak sah. Dengan alasan, ada ayat yang luput dibaca. Ada permohonan agar ditunjukkan jalan lurus yang luput dimohonkan.

Begitulah, argumen dari saudara saya yang kebetulan berbeda keyakinan dengan saya. Untuk meluruskan atau membantah argumentasi yang dikemukakan saudara saya itulah, maka saya buat tulisan ini.
Dalam Islam, untuk mengkaji hal-hal yang berkenaan dengan peribadatan yang bersifat ibadah mahdhah atau peribadatan yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya, maka urutan pola pikir yang dibangun tidak boleh acak, melainkan harus runut. Runutan berpikir dimulai dengan ayat, lalu diikuti oleh hadist dan terakhir dengan analisa nalar.
Artinya, nash al-Qur’an yang tersurat tidak dapat dibantah keabsyahannya dan bersifat mutlak. Jika timbul rasa ingin tahu atau penasaran akan ayat, maka silahkan cari keterangan ayat tersebut pada ayat yang lain. Jika tidak ditemukan, maka cari pada hadist. Untuk hal yang bersifat ibadah mahdhah, maka hadist yang digunakan haruslah hadist dengan nash jamaah dan shahih. Selanjutnya, pada tingkatan terakhir, gunakan nalar berpikir.  Apapun hasil dari kerja pikir yang dilakukan, kesimpulannya harus mendukung ayat dan hadist diatas.
Bagaimana jika hasil pemikiran tidak mendukung ayat dan hadist. Kesimpulannya hanya dua, yang pertama, sang pemikir tidak mampu memperoleh pencapaian hasil pikir yang diharapkan atau yang kedua, sarana pendukung, apakah itu tekhnologi atau dasar keilmuan yang dimiliki sang pemikir tidak cukup untuk mendukung kerja pikir yang dilakukannya. 
Tentunya, saya tidak ingin mempergunakan cara pendekatan diatas. Dengan dua alasan, alasan pertama, saudara saya yang jadi obyek tulisan ini, memiliki keyakinan lain dan alasan kedua, agar pendekatan ini lebih mudah diterima oleh awam.
Alasan pertama, pertimbangannya dengan ilustrasi sebagai berikut; untuk menjelaskan sesuatu, maka sesuatu itu, harus dapat diterima oleh pihak yang dijelaskan. Seperti halnya, bagaimana ketika saudara saya itu, menjelaskan nikmatnya Babi, sementara saya mustahil untuk membuktikan nikmatnya Babi. Tetapi ketika dia menjelaskan nikmatnya rasa kopi di Starbuck, maka penjelasan itu, dengan mudah kami buktikan dengan duduk di starbuck sambil menikmati kopi yang dijelaskan dengan selingan diskusi tentang banyak hal.  Selesai dengan kongkow di starbuck. Maka, apakah kopi sesuai dengan yang dijelaskan atau tidak, saya akan segera memperoleh jawabannya.
Ok, kembali ke pokok persoalan.
Maka, penjelasan yang ideal untuk mengcounter pendapat saudara saya itu, saya lakukan dengan menggunakan pendekatan budaya dan sastra serta analogi-analogi jika diperlukan.
Kita ketahui, manusia tempatnya salah dan lalai. Sekaligus manusia fitrahnya menghamba. Manusia selalu akan menghamba, jika dia menemukan Allah, maka dia akan menghamba pada Allah. Tetapi, jika dia tidak menemukan Allah, dia akan menghamba pada selain Allah. Bisa saja menghamba pada pekerjaan, pada karier, pada seni bahkan pada nafsu.
Penghambaan manusia pada sesuatu, tidak selalu dinamakan dengan penghambaan, ada yang menyebutnya dengan tugas, yang lain menyebutnya dengan dedikasi, yang lain menyebutnya dengan cinta dan masih banyak sebutan lain. Penyebutan tersebut, tidak seluruhnya salah, selama masih dalam taraf wajar. Tetapi, jika tarafnya sudah berlebihan, maka apapun itu namanya, akan masuk pada taraf penghambaan.
Mencari nafkah kewajiban, ketika menghabiskan waktu berlebihan, hingga melupakan anak isteri, maka dia sudah menghamba pada kerjaan. Demikian juga dengan dedikasi, bahkan cinta sekalipun. Cinta yang berlebihan, hingga melupakan kewajiban pada yang lain, maka dia sudah menghamba pada cinta.
Kini, kembali pada penghambaan yang benar. Penghambaan pada Allah.
Ketika manusia melakukan penghambaan pada Allah secara berlebihan, katakan saja, dia melakukan sholat sepanjang malam. Maka, manusia melakukan dua hal sekaligus, melakukan yang benar dan pada saat yang sama melakukan kesalahan. Yang benar ketika dia sholat sepanjang malam, yang salah, dia melupakan kewajiban pada isterinya, tidak memberi hak pada matanya untuk tidur dan menyiksa fisiknya dengan menafikan tubuh untuk istirahat.
Itulah makna, manusia tempatnya salah dan lalai. Ketika dia melakukan satu hal hingga tuntas, maka disaat yang sama dia melalaikan hal yang lain. Allah sebagai pencipta manusia, sangat mengetahui kelemahan manusia itu.
Maka, dengan cinta yang dimiliki Allah untuk manusia ciptaanNya, Allah memberikan password pada manusia. (Harap diingat, semua bacaan dalam sholat, adalah kata-kata yang seluruh redaksinya berasal dari Allah. Tak satupun ucapan sholat, terdapat ikut campur tangan manusia, walau Rasul sekalipun).
Ketika password itu digunakan, maka akan terbuka makna, ya Allah ampunilah aku akan semua kelemahanku, terimalah segala amalku meski tidak sempurna menurut standard yang Engkau tentukan.
Ketika password itu digunakan, maka Allah akan menjawab, ya hambaKu, semua yang kau minta itu, Aku akan penuhi.
Pasword itu adalah ihdinaash shiraathaal mustaqiim, tunjukilah aku pada jalan lurus.
Dengan ihdinaash shiraathaal mustaqiim, manusia akan selalu merasa tidak sempurna, sekuat apapun dia berusaha agar mencapai kesempurnaan. Bahkan, setinggi apapun capaian prestasi ibadahnya hari ini, tidak ada jaminan, jika besok hari dia akan mampu mengulangi pencapaiannya hari ini. Untuk itu, dia selalu meminta capaian-capaian itu, semakin hari semakin baik, paling tidak hari ini, sama dengan hari kemarin. Password dalam meminta dan mempertahankan capaian itu  ihdinaash shiraathaal mustaqiim.
Mengartikan ihdinaash shiraathaal mustaqiim merupakan upaya manusia meminta jalan lurus karena dia tidak yakin memiliki jalan lurus, hanya benar, jika kalimat yang dia ucapkan itu, berasal dari kalimat yang dia buat sendiri. Tetapi, dalam sholat, seluruh kata yang diucapkan, adalah kalimat yang berasal seluruhnya dari Allah. Sehingga, asumsi meminta sesuai arti yang tertulis menjadi salah dan tidak tepat sasaran.

Merasa belum berada pada jalan yang lurus dan meminta untuk diposisikan pada jalan lurus adalah sesuatu yang baik. Apalagi permintaan itu diucapkan pada Allah sebagai Dzat yang Maha Segalanya dan dilakukan sebanyak 17 kali setiap hari. Semakin baik pula, jika kalimat yang diucapkan itu, berasal dari Dzat yang menjamin segala pinta akan dipenuhi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar