Rabu, 31 Mei 2017

Balada Cinta Talita.

Yusuf dan Zulaikha (sumber: you tube)
Kling… suara di laptop itu, menyadarkan  Afifah Talita.  Segera dia melongok ke sudut kanan bawah laptopnya.  Ada chat yang masuk di Inbox fb nya, tertulis Nur Rahman. Murid SMAnya yang kini tinggal di kota tetangga, tempat tinggal Talita.
Jarak antara kota Talita dan Rahman, hanya 56 km.
Segera Talita berhenti sejenak. Tumben Rahman menyapanya. Meski sudah setahun lebih mereka berteman. Tapi, tidak saling sapa. Talita hanya melihat aktifitas Rahman dari status yang dia buat, dari gambar-gambar yang di upload pada fbnya, selain itu, tak ada lagi.
“Assalamu’alaikum..” tulis Rahman pada kalimat pertamanya.
“Waalaikum salaam”
“Ibu Talita sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Rahman bagaimana? Sehatkah?”
“Alhamdulillah.. sehat, Bu”
“Ibu Talita, Rahman pamit dulu ya. Mau taraweh nih”
“ooo… iya deh. Selamat.”
“Ibu gak taraweh juga?”
“Ibu lagi gak taraweh”
Tanda biru diatas kotak Chat Rahman padam. Mungkin dia langsung matikan dan Talita meneruskan menulis. Tanggung, tulisan Talita, sudah setengah lebih, kalo saja Talita teruskan, sebentar lagi sudah mencapai 1.400 kata, tinggal mencari kata penutup yang pas. Lalu dia save dan tidur. Selesai sahur nanti, tinggal diupload di Kompasiana.


*****
Sore baru menunjukkan pukul empat sore, ada gerimis yang turun. Untuk keluar, rasa segan menyelimuti Talita. Untuk menghabiskan sore, kembali Talita membuka laptop. Mungkin saja, menjelang Maghrib, satu tulisan dapat dia selesaikan.
Baru beberapa kalimat yang coba ditulis Talita. Kembali suara Kling.. Talita melihat di pojok kanan bawahnya, chat masuk. Nur Rahman, kembali menghubunginya.
“Ibu Talita sehat ya?”
“Alhamdulillah… Man.”
“Oh ya… kemarin hanya sebentar nyapa Ibu. Keburu waktu taraweh datang”
“gpp… Man”
“Sore ini, ada acara kemana bu?”
“Gak kemana-mana Man, disini gerimis”
“Alhamdulillah…”
“Kok, Alhamdulillah..?”
“itu artinya, Rahman  bisa chat lama sama bu Talita… hehehe”
“hehehe… kamu bisa aja Man.”
“hehehe kapan lagi kalo bukan sekarang?”
“Man, mau gak kamu Ibu undang?”
“Mau-mau… kemana? ke rumah Ibu?”
“Bukan, tapi ke lapak Ibu, kamu baca  tulisan ibu, lalu kasi komennya disini aja” lalu Talita mengirimkan URL tulisannya pada Rahman.
Tak ada jawaban dari Rahman, agaknya Rahman langsung membaca tulisan Talita. Hingga suara Adzan Maahgrib terdengar, pertanda saat berbuka tiba. Talita melihat kotak Rahman padam. Mungkin dia langsung berbuka.
*****
“Bagaimana komennya Man?” sekarang Talita yang memulai nyapa Rahman.
“Waduh Bu, Rahman jadi terharu, terbawa ke masa lalu. Waktu dimana segalanya polos dan berharap suatu waktu bisa ketemu, seperti cerpen Ibu”
“Bertemu dengan siapa? Dengan pacar Rahman ya?”
“Iya Bu, meski belum dalam arti sesungguhnya..”
“Maksudnya?”
“Baru ketemu dalam dunia maya, baru bertemu dalam chattingan”
“Okh… syukur deh. Kalo Ibu boleh tahu siapa? Temen sekelas Rahman kan, mungkin aja Ibu masih kenal siapa dia?”
“Ibu pasti kenal dia”
“Siapa?”
“Ibu Talita..”
“Akh… gila kamu Man. Ibu sudah tua”
“Kata siapa tua, beda usia kita cuma enam tahun Bu. Ibulah guru yang menurut Rahman paling cerdas di SMA dulu, diam-diam Rahman mengaguminya. Kekaguman yang tak pernah bisa hilang, tak pernah bisa habis”
“Ibu tersanjung Man. Tapi,…”
“Rasa Sympaty itu, akhirnya berubah jadi empaty dan terakhir bertransformasi jadi cinta. Meski terdengar konyol. Tapi, rasa yang Rahman pendam rapi ini, begitu menyiksa Bu, saatnyalah kini, kulawan rasa malu dan takutku, demi memperjuangkan dan, memproklamirkan cinta ini pada Ibu..”
Terperangah Talita membaca kalimat yang ditulis Rahman. Ini benar-benar konyol.  Bagaimana mungkin? Bener Talita sudah memasuki usia yang tak muda lagi. Tapi, bukan berarti dia menerima segala cinta yang ditawarkan semua pria padanya. Apalagi, ini dari murid SMAnya. Bukankah usia dua puluh Sembilan, belum usia yang tua-tua amat bagi seorang wanita.
“Baik bu, Ibu gak perlu jawab buru-buru. Rahman pamit dulu, sholat taraweh sudah memanggil. Assalamu’alaikum”.
“Waalaikum salaam”.
*****
Pagi itu, seorang wanita separuh baya berdiri di beranda rumah Talita. Siapakah wanita itu? Rasanya Talita tak mengenali wanita yang sedang berdiri di depan rumahnya itu.
“Assalamu’alaikum”
“Waalaikum salaam”
“Benarkah ini rumah Ibu Talita?”
“Benar Bu, saya sendiri.  Talita” jawab Talita.
“Kenalkan Bu, saya Afnan Zakia. Ibu dari Nur Rahman”
“Okh… mari masuk Bu, kita ngobrol di dalam saja” ajak Talita, membimbing wanita setengah baya itu ke ruang tamu. Ada apakah? Apakah ada hubungannya dengan chattingnya beberapa hari ini dengan Rahman.
“Begitulah ceritanya  nak Talita” Ibu Zakia mengakhiri ceritanya.
Diceritakan oleh Ibu Zakia, bagaimana Rahman, selesai SMA, lalu kuliah di IKIP dan selesai dalam waktu empat tahun. Kini tinggal menunggu pengangkatannya sebagai PNS di sekolah SMA di kota Ibu Zakia. Namun, malang yang tak dapat dihindari, kondisi Rahman sudah demikian akutnya, kanker yang dideritanya, hanya menunggu waktu. Diagnosis dokter hanya dalam hitungan bulan. Secara tak sengaja, Ibu Zakia, membaca chattingan Rahman dengan Talita.  Untuk itulah dia datang, agar Talita bersedia memenuhi keinginan Rahman. Meski itu, hanya sandiwara sesaat saja.
“Tapi, dalam chattingannya, Rahman selalu pamit mau taraweh, bu?”
“Akh.. Rahman, selalu saja, dia merahasiakan apa yang terjadi” jawab Ibu Zakia.
“Rahman memang siswa yang luar biasa Bu” Puji Talita.
“iya nak Talita. Bagaimana dengan permintaan Ibu, nak Talita?”
“Baik bu, saya akan usahakan” jawab Talita singkat.
Talita tak yakin dengan kesanggupannya. Tapi, menolong Rahman diujung usianya, mengapa tidak. Tokh, sandiwara itu hanya dalam hitungan bulan. Lagian, menolong ibunya Rahman, menghadirkan rasa yang lain bagi Talita. Rasa ketika Talita masih memiliki Ibu.
“Apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Bu” Tanya Talita.
“Akh, nak Talita lebih tahu tentang itu…hehehe”
*****
Ramadhan tahun ini, berarti dua tahun sudah berlalu, sejak Rahman Chatting  pertama dengan Talita. Dua tahun sudah dia jadian dengan Rahman. Jadian yang awalnya hanya bo’ong-bo’ongan. Dengan pertimbangan, usia Rahman hanya bersisa dalam hitungan bulan. Namun, siapa yang akan menyangka, jika kekuatan cinta Rahman membuat sakitnya berangsur-angsur sehat.
Dari chattingan sebelum Ramadhan, Rahman memberitahu Talita, kalo akan melamar Talita setelah hari raya Iedul fitri. Peristiwa yang sebenarnya membuat dilemma bagi Talita. Bagaimana dengan reaksi Ayahnya, jika tahu Rahman usianya enam tahun lebih muda dari Talita. Bagaimana menjelaskan hal ini, pada bu Lik, pada pak Lik, pada bu De.
Sementara ramadhan terus merangkak menua, pelan tapi pasti, mendekati syawal. Lalu, Rahman dan keluarga besarnya pun akan datang.  Sementara alasan yang pas untuk Ayah, bu lik, pak lik dan bu De belum juga Talita dapatkan.
Tapi, bukankah Inggit lebih tua dari Soekarno, Zulaikha lebih tua dari Yusuf dan Khadijah juga lebih tua dari Muhammad SAW.  Yang diperlukan Talita kini, hanya menjaga hati (agar rasa cinta itu segera tumbuh pada Rahman), menjaga rasa, agar rasa itu tetap kekal, jika sekalipun kelak, cinta gagal untuk hadir, paling tidak, kasihan dan sayang itu, tetap ada untuk Rahman.  
Selanjutnya, biarkan Allah yang memberikan solusi pada cinta Rahman dan cinta Talita yang belum sepenuhnya mekar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar