Jumat, 10 Maret 2017

Tujuannya, Bukan Cara Mencapai Tujuan

Ini Moda perjalanan yang lain lagi (dok.Pribadi)

Ini Kisah nyata. Catatan tertinggal ketika saya bersilaturahmi pada Guru Sekolah Menengah Pertama. Pertemuan pertama kali setelah 35 tahun kami berpisah.  Pertemuan menginggalkan banyak cerita dan banyak inspirasi. Salah satunya yang akan saya tuliskan disini.
Saya, selepas sekolah dasar, menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan sekolah SLTP yang dimiliki yayasan missi khatolik. Nama sekolah tersebut, SMP Xaverius. Sudah tentu, guru-guru yang mengajar disekolah itupun, beragama khatolik.
Meskipun demikian, hubungan pribadi-pribadi antara murid dan guru cukup akrab. Tak  ada sekat keyakinan agama yang memisahkan antara kami. Termasuk saya dengan guru yang akan saya ceritakan pada tulisan ini. 
Sebut saja namanya pak Puji. Beliau seorang penganut khatolik yang fanatic.  Dari  ujaran-ujaran yang beliau ucapkan sehari-hari, mengambarkan kesalehan pribadi  beliau. Demikian juga perilakunya yang santun serta penuh kasih. Lengkap sudah penyatuan antara ajaran kitab yang tertulis dengan perilaku keseharian beliau. Ini pula agaknya, yang membuat saya menghargai beliau, meskipun mata pelajaran yang beliau berikan bukan mata pelajaran favorite saya. Mata pelajaran pavorite saya Ilmu Ukur & Aljabar, sedangkan beliau mengajar bahasa Indonesia.
Singkat cerita, pertemuan setelah perpisahan tiga puluh lima tahun itupun terjadi. Saya bersama adik saya, sore itu mengunjungi beliau. Seorang guru yang saya hormati. Ketika saya tiba dirumah beliau, sang guru sedang berada diberanda depan rumahnya, sekitar pukul empat sore. Mengetahui kedatangan saya, beliau peluk saya, layaknya orang tua memeluk anaknya. Anak yang hilang itu, telah kembali. Lalu setelah, acara basa-basi diteras itu, beliau mengajak saya masuk ke ruang tamu, tak lama kemudian, masuk pula ke ruang tamu isteri beliau, anak beliau dan menantu beliau.
Anak dan menantu itulah yang menjadi pemicu dituliskannya tulisan ini. Anak pak Puji, sebut saja Sri, adalah anak yang manis. Ketika saya sekolah dulu, masih anak-anak sekali. Sri sekolah di sekolah Missi khatolik dari mulai TK hingga tamat SMA. Lalu kuliah di Universitas Negri di Provinsi yang sama. 
Bertolak belakang dengan latar belakang kehidupan Sri masa lalu. Sri yang kini duduk di depan saya, adalah Sri yang memakai Jilbab Syar’i (ini untuk membedakan antara Jilbab Syar’i dengan Jilbob). Sementara suaminya, berkumis tipis dan berjenggot lebat. Seorang tokoh ulama.
Jujur saya kaget melihat penampilan anak dan menantu dari seorang tokoh Khatolik di daerah dimana saya menghabiskan masa pendidikan SLTP dulu itu.
Saya lihat pak Puji hapy-hapy saja, demikian juga dengan isteri beliau. Dari tatap mata mereka berempat saya lihat mereka semua bahagia. Tak tergambar adanya ganjalan karena perbedaan kepercayaan antara anak dan orang tua. Sayapun, berupaya untuk menghilangkan rasa kaget, untuk selanjutnya larut dalam kebahagiaan keluarga yang saya kunjungi itu.


Pulang dari Silaturahmi pada keluarga yang bahagia itu, adik yang menemani saya bertanya, bagaimanakah menjelaskan fenomena yang baru saja kami alami itu. Apa alasan logisnya, hingga mereka mampu bahagia dalam perbedaan beragama itu?.
………….
Inilah alasan logis yang saya berikan pada sang adik. Alasan yang belum tentu benar. Karena hanya berdasarkan logika sederhana dan dengan cara pendekatan-pendekatan analogi saya saja. Jika ada kekeliruan dalam penjelasan itu, saya berharap saudara-saudara saya pembaca semua, sudi kiranya memberikan koreksi dan masukan-masukan yang sifatnya membangun. Sehingga, akan mengembalikan saya pada pemikiran yang benar.
Ber-Tuhan adalah tujuan. Sedangkan beragama, adalah jalan.
Begini analoginya. Jika kita menempuh perjalanan antara Surabaya dan Jakarta. Maka Jakarta adalah tujuan. Sedangkan apa yang kita lihat, kita rasakan, serta metode yang dilakukan dalam menempuh perjalanan itu, disebut agama.
Tetapi, mengapa ada perbedaan antara agama-agama jika tujuannya sama? Jawabannya sederhana. Karena, mungkin perjalanan itu, dilakukan dengan waktu yang berbeda. Atau, perjalanan dilakukan dengan jalan menempuh jalan yang berlainan.
Kita ambil saja contoh A dan B. A melakukan perjalanan dari Surabaya ke Jakarta pada tahun 1980 sedangkan B melakukannya pada tahun 2017. Maka kesan yang dialami A akan berbeda dengan kesan yang dialami B. Demikian juga, dengan tantangan yang dialami A tentu berbeda dengan B. Jika A membuat mannual atau buku pedoman untuk menempuh perjalan ke Jakarta, maka Buku yang dibuat A tentu akan berbeda dengan buku yang dibuat B. 
Kemungkinan perbedaan lainnya, moda transportasi yang digunakan untuk melakukan perjalanan berbeda. A menggunakan Kereta Api sedangkan B menggunakan Pesawat Udara. Maka Jika A dan B membuat mannual perjalanan ke Jakarta akan berbeda.

Sedangkan tujuan A dan B sama. Yakni JAKARTA
Bukankah A dan B masing-masing mengklaim, bahwa mannual yang mereka buat adalah mannual yang paling benar? Jawabannya, tentu saja. Selama seluruh mannual yang dibuat oleh A atau B diikuti dengan menyeluruh dan totalitas. Yang tidak benar itu, jika kita memakai mannual itu setengah-setengah. Separo kita pakai mannual A sedangkan separo lagi, kita memakai mannual B. Bagaimana menjelaskannya, logika ber-Kereta Api kita gabungkan dengan logika ber-Pesawat Udara? Kacau kan?
Bukankah juga, A dan B masing, mengklaim, hanya dengan cara merekalah para pengikut akan masuk syurga? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya merasa takut untuk menjawabnya. Karena seakan mempertentangkan antara A dan B. Padahal, tujuan antara A dan B sama, yakni Jakarta. Lalu mengkriminalisasi salah satunya. Yang benar masuk Syurga dan yang salah masuk Neraka.
Untuk jawaban pertanyaan yang terakhir ini, saya tetap menggunakan analogi lagi. Rakyat boleh melakukan pelanggaran apa saja, hakim boleh menjatuhkan hukuman seberat apapun sesuai dengan yang tertera dalam pasal-pasal pada kitab undang-undang. Lalu diujung, hukuman yang diterima Pesakitan, akan ada pengampunan yang mungkin saja diperolehnya oleh kebaikan sang kepala Negara, dengan hak yang dimiliki Sang Kepala Negara yang disebut dengan hak Prerogatif. Pertanyaannya, jika kepala Negara, Presiden atau Raja yang sama-sama manusia saja, memiliki kuasa yang seakan diluar norma hukum yang berlaku. Lalu, Mengapa Tuhan yang memiliki segalanya tidak memiliki yang lebih dari itu? 
Jika, tingkat pemahaman kita, sudah sampai pada pengertian demikian, mengapa pula kita harus usil pada mereka yang tidak sama dengan kita, atau sebaliknya, mereka usil dengan yang kita miliki. Tokh tujuan akhirnya sama. Jika sang Tujuan saja tidak pernah marah dan usil, lalu, mengapa kita usil dan sok benar sendiri, tentang jalan atau alat untuk mencapai tujjuan.
Lakukan saja mannual yang kita miliki dengan sempurna, lakukan saja mannual yang saudara kita punya dengan sempurna. Karna logikanya, kecelakaan yang akan terjadi hanya jika Manual ber-Kereta Api dicampur adukkan dengan mennual ber-Pesawat Udara. Atau sebaliknya. 
Demikianlah, jawaban saya pada sang adik, semoga dia mengerti….. wallahu A’laam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar