Selasa, 28 Maret 2017

Transformasi

sumber gambar disini

“Jangan nangis dong Bonar” bisik Hani di telinga Bonar.
Tak ada jawaban, hanya linangan air mata yang mengalir di pipi Roman tak kunjung reda. Setiap disebutkan nama Bonar, rasa dalam dada Roman, semakin terkoyak. Tidak kah kau tahu Hani, aku ini bukan Bonar, tapi Roman. Sudahilah penyebutan nama Bonar. Dalam hari-hari penuh lara ini, paling tidak aku ingin kau memanggil  diriku sebagai Roman. Sebagai diriku sendiri. Begitu jerit hati Roman pada Hani. Roman yang kini terkena stroke, tak mampu untuk bicara, tak mampu mengutarakannya pada Hani.
Hanya air mata yang mewakili rasa kecewa hati Roman.
*****

Tiga puluh delapan tahun lalu.
Roman, Hani dan Bonar. Tiga sahabat yang runtan-runtun kemana-mana bersama, bukan hanya di ruang kelas, di sekolah, juga pulang dan pergi sekolah. Tetapi dibanyak waktu dan banyak tempat. Hacking ke Goa Pakar, ke Maribaya dan kebanyak tempat.
Apalagi  setelah setahun berikutnya, mereka sama-sama naik kelas dua, sama-sama jurusan IPA. Persahabat ketiga sahabat itu semakin kental saja. Tak terpisahkan.
Bonar yang agresif dan Hani yang tomboy, tak jarang terjadi perselisihan kecil. Tapi ada Roman yang kalem, cool habis. Menjadi jembatan bagi kedua mereka yang berantem. Roman yang menjadi perekat mereka bertiga, Bonar yang biang kerok, yang selalu menjadi warna dalam persahabatan itu dan Hani yang tomboy, yang membuatnya semuanya menjadi hidup.
“Man, kalau aja gak ada kamu… Mungkin kita sudah bubar” kata Hani suatu saat, ketika mereka hacking ke Maribaya. Saat itu, Bonar sedang buang air kecil ke bawah. Hani dan Bonar, baru saja berdamai.
“Akh… Tapi kalau gak ada Bonar, gak rame Han” jawab Roman.
“Tapi dia biang kerok” kata Hani lagi.
“Tapi, kalau gak ada Hani, pertemanan ini jadi hambar” jawab Roman.
Percakapan itu segera terhenti. Bonar sudah hadir diantara mereka. Perjalanan ke Maribaya mereka teruskan, sudah tanggung. Paling sepuluh menit lagi, tiba.
Begitulah, persahabatan mereka diteruskan hingga mereka kuliah dijurusan yang sama, dan ditempat yang sama, di Jalan Ganesha sepuluh Bandung. Dengan cita-cita yang sama, jadi tukang bangunan.
Semua tetap sama, tak ada yang berubah. Kecuali, Roman melihat ada kecenderungan pada Bonar yang Falling in love dengan Hani. Samar terlihat, tapi untuk Roman yang sejak kelas 1 SMA selalu bersama, bisa merasakan itu. Alasannya sederhana, karna Roman memiliki rasa yang sama pada Hani yang tomboy.
Tapi, Bonar yang lebih terbuka, biang kerok itu, lebih agresif menunjukkan rasanya, sementara Roman, tak begitu terbuka.
Hingga, suatu hari. Mereka rencana pulang bersama, Roman sebagaimana Hani dan Bonar sudah lulus mata kuliah Baja II. Tapi, karena Roman ingin memperbaiki IPnya, mengambil mata kuliah itu, harapannya, jika bisa lulus dengan nilai A, makanya IP Roman akan lebih baik lagi.
Mereka, janjian ketemu di tempat parkiran motor jam Sembilan malam, selesainya mata kuliah Baja II yang diikuti Roman. Sedangkan Bonar dan Hani sudah bebas.
Jam delapan, Roman sudah sampai di tempat parkiran, karena dosen yang memberi materi gak masuk. Tapi kemana Hani dan Bonar?. Roman mencarinya kesana kemari.
Busyet, dibalik pohon diujung parkiran, dia melihat Hani dan Bonar sedang berpelukan. Refleks Roman, memutar badan dan pergi. Di saat yang sama, Bonar melihat kehadiran Roman, reflex juga Bonar mengejar Roman.
“Man…. tunggu!” teriak Bonar.
Roman menghentikan langkah, sesaat Bonar sudah tiba di dekatnya, disusul Hani juga sudah didekat Roman dan Bonar.
“Jangan salah sangka Man..” kata Bonar.
“Gpp….” Jawab Roman singkat.
“Tapi, semuanya harus jelas Man, jangan ada salah pengertian diantara” lanjut Bonar.
“Tiga bulan lalu, kami jadian Man” Hani ikutan ngejelasin.
“Yess…Gpp” jawab Roman lagi, pendek.
“Aku harap, persahabatan kita, tetap gak berubah Man” lanjut Hani lagi.
“Akan tetap seperti dulu Man” Kata Bonar lagi.
“Yess..” jawab Roman singkat.
Bonar, Hani serempak memeluk Roman. Selesai. Mereka sepakat tak ada yang berubah. Tetap seperti dulu. Semuanya klear.
Hari-hari berikutnya, mereka masih seperti biasa, masuk di ruangan yang sama, menerima mata kuliah yang sama, mengerjakan tugas bersama-sama. Hanya ketika, waktu pulang tiba, Roman lebih suka pulang sendiri. Memberiikan kesempatan pada kedua sahabatnya untuk menyelesaikan urusan “pribadi” mereka.
Tak terasa, semua mata kuliah selesai, semua tugas selesai, praktek kerja selesai, TA atau tugas akhir sebagai syarat ujian sidang S1 juga selesai dan ketiga sobat itu, lulus dengan nilai memuaskan.
Untuk merayakan kelulusan, mereka sepakat untuk naik Gunung Gede. Ada tantangan tersendiri, setelah menaklukan semua urusan perkuliahan di Bandung, kini saatnya menaklukan ketinggian di Gunung Gede. Selain mereka, ada tiga sahabat lain yang juga ikut. Hamid, Togar dan Dody.
Singkat  cerita, puncak Gunung Gede sudah mereka taklukan, tenda mereka sudah berdiri kokoh selama satu malam di Puncak Gunung Gede. Kini saatnya, mengemasi semuanya, lalu turun dan menuju Bogor untuk selanjutnya kembali ke Bandung.
Pada saat turun itulah terjadi hal yang diluar dugaan semuanya. Bonar tergelincir dan akhirnya jatuh bebas dengan ketinggian empat meter, semuanya panik, lalu dengan bantuan penduduk setempat, Bonar berhasil di evakuasi ke Rumah Sakit PMI Bogor.
Di RS PMI Bogor, nyawa Bonar tak tertolong, Bonar kembali keharibaanNya dengan meninggalkan kepiluan mendalam di dada Hani.
*****
Dua puluh empat tahun yang lalu.
Empat tahun setelah kejadian di Gunung Gede, Roman mengunjungi Jogya, dia ingin melanjutkan S2nya, karena ada tawaran untuk jadi dosen tetap jika dia menyelesaikan pendidika S2nya. Untuk meneruskan S2 di Bandung, rasanya mustahil. Terlalu banyak kenangan yang tertinggal di sana. Kenangan pada Bonar, terutama, kenangan pada Hani yang agaknya akan mengganggu Roman selama pendidikan S2nya.
Siang itu, di tempat pendaftaran Roman duduk tenang, tinggal menunggu dua orang lagi, maka sampailah pada gilirannya untuk mendaftar berikut penyerahan seluruh berkas-berkas yang dibutuhkan.
Tiba-tiba ada yang memukul pundaknya. Refleks Roman menoleh. MasyaAllah… seakan tak percaya, Hani telah berdiri sambil nyengir. Dua sahabat itu berpelukan.
Sore itu, diberanda rumah kos Hani,
“Begitulah Man, sejak peristiwa itu, aku pergi meninggalkan Bandung”
“iya… aku tahu Han, aku juga pergi menjauh dari Bandung”
“Aku pergi meninggalkan Bandung, karena Bonar Man, kalau kamu?” kata Hani sendu
“Karena kamu Han” jawab Roman singkat.
“Kenapa karna aku Man”
“Karena… kamu cinta mati aku Han”
“Tapi, Man. Bonar Cinta mati aku” jawab Hani.
“iya… aku tahu” jawab Roman.
“Jadi, untuk apa Man? kita tidak bertemu di satu titik, untuk melangkah bersama”
“aku tahu itu, tapi untuk Han, apa yang gak, semua mungkin bagiku”
“ooo ya..!??”
“Iya..!” jawab Roman sepenuh yakin.
“Bagaimana caranya?”
“Aku akan operasi plastik Han, kalo perlu ke Perancis sekalian. Secara fisik aku akan berubah menjadi Bonar. Kau akan dapat, tetap mencintai Bonar yang baru itu, sementara aku akan memiliki Hani yang menjadi cinta matiku”.
“Kau gila Man”
“Untukmu apa yang gak?”
“Lalu kita menikah Man?”
“Iya.. dengan segala konsekwensinya”
“Apa itu?”
“Keinginannkua untuk sekolah S2 harus kukubur dalam-dalam, tawaran dosen tetap itu, akan kutolak”
“Segitunya Man?”
“iya… untukmu Han, apa yang gak”
Dua orang dewasa itu, entah siapa yang memulai, sudah berpelukan erat. Pelukan dua orang dewasa, dua orang sahabat, tanpa nafsu. Hanya sebagai perwujudan dari rasa hormat, bagaimana pihak yang satu telah memberikan pengorbanan yang tak kecil untuk pihak lain. Pelukan untuk rasa syukur, bagaimana impian-impian masa remaja mereka kan mampu kelak wujudkan, meski ada “modifikasi” didalamnya.
*****
 Dua puluh tahun lalu.
Rumah tangga antara Hani dan Roman, sudah berjalan selama dua tahun. Kebahagiaan yang menjadi impian mereka, sesungguhnya nyaris sudah mereka raih. Jika saja, tanpa ganjalan-ganjalan yang sebenarnya, mereka ketahui sebelum pernikahan itu dilaksanakan.
Bagi Hani, ganjalan itu, ketika Bonar suaminya berbicara, suara yang keluar dari mulut itu, suara Roman. Agak menakutkan memang. Benarkah ini Bonar? Kalau bukan Bonar, siapa? Hasil operasi plastik yang dilakukan Roman demikian sempurna. Tak meninggalkan jejak sedikitpun yang tersisa. Tapi suara itu? Suara Roman, bukan suara Bonar. Semua itu, membingungkan Hani, lambat laun membawa kelelahan psykis bagi Hani.
Bagi Roman, nyaris sempurna semuanya. Jika saja, dalam desahan-desahan Hani dipuncak kenikmatan pergumulan cinta mereka, Hani selalu saja meneriakkan nama Bonar. Mestinya, teriakan itu, menyebur nama Roman.
Dalam pesan-pesan singkatnya, ketika Roman keluar kota untuk melaksanakan urusan bisnisnya, hampir selalu, yang tertulis disana Bonar. Akh…. Secara fisik, aku memang Bonar, Han. Tapi jiwa ini, tidak bisa dioperasi plastik Han, aku masih Roman, yang selalu memujamu sepanjang hidupku, demikian jeritan bathin Roman.

*****
Kini, sudah dua tahun lamanya Roman terkena stroke, terbaring tanpa daya, tanpa mampu berbicara. Semua lumpuh. Kecuali mata dan pendengaran serta pikirannya.
Setiap kali Hani memasuki kamar mereka, Roman sadar. Ada rasa senang tak terkira, ketika sang wanita cinta matinya itu datang, ketika Hani mengelus mukanya, juga menyentuh tangannya.
Namun, disaat yang sama, sayatan pisau yang dibawa Hani, segera mencabik hatinya. Sudahilah Hani, menyebut nama Bonar itu. Sayangilah aku, cintailah aku sebagai Roman.


Sumber gambar disini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar