Minggu, 05 Maret 2017

Jangan Minta Buku Gratisan!

Buku Mandeh Aku Pulang, Karya Penulis (dok. Pribadi)
Bagi mereka yang pernah menerbitkan  buku, tentu pernah mengalami, buku yang diterbitkan diminta gratis oleh teman-temannya. Bahasa yang digunakan, bisa bermacam–macam. Namun, isinya, minta diberi buku yang telah terbit, alias gratis.
Lempar kemari satu dong,
Dari bukti terbit yang beberapa exp, bisa dong dikirim satu ke mari,
Bisa dong, untuk temen ini, hadiahin satu.
Bagi satu dong, gratis ya?
……………
Saya sebenarnya, tak ingin menuliskan masalah diatas, maklum, saya bagian dari yang mengalami hal demikian. Jadi, seakan curhat. Kalau saja, tidak ada kejadian, pagi tadi, ada seorang yang baru saja saya kenal, lalu tahu kalau saya menerbitkan buku, dengan enteng minta buku gratis. Malam sebelumnya, seorang teman yang menerbitkan buku, juga curhat tentang bagaimana dia “dikeroyok” teman-temannya untuk memberikan buku yang baru saja diterbitkan. Dari dua kejadian diatas, agaknya patut jika saya membuat tulisan ini.

Mengapa jangan minta gratis?
Meminta gratis buku pada temen yang menerbitkan buku, seakan tak ada yang salah disitu. Namun, jika diperhatikan dengan seksama. Maka, kita akan kaget sendiri, melihat akibat yang ditimbulkannya. Seperti.
Satu, Memang, bagi penulis yang menerbiutkan bukunya pada penerbitan Mayor, akan menerima bukti, jika bukunya telah terbit. Berupa buku yang diterbitkan dengan jumlah bervariasi antara 4 exp hingga 10 exp. Tetapi, seorang sahabat yang saya kenal baik,  menceritakan bahwa sebagai bukti terbit, dia hanya menerima satu exp. Masalahnya, jika setiap teman yang minta gratis, harus diberi. Maka jumlahnya berapa? Tidakkah terpikir pada yang meminta, hal itu akan menyulitkan teman yang menerbitkan buku.
Diluar bukti terbitnya buku, sang penulis “terpaksa” akan membeli bukunya sendiri, lalu memberikannya pada temen-temen yang meminta. Terbalik kan logikanya?
Buku Jabal Rahmah, Karya Penulis (dok. Pribadi)
Dua,  Semua yang pernah menerbitkan buku, tahu bagaimana sulitnya menerbitkan buku. Bagaimana waktu yang dihabiskan untuk meriset isi buku yang akan ditulis, terlepas apakah buku itu, karya fiksi atau karya ilmiah dll. Karena, untuk buku yang bermutu, seorang penulis memerlukan riset, duduk berlama-lama di perpustakaan, membeli buku yang berkaitan yang buku yang akan ditulisnya, lalu mulai menuliskannya. Semuanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit.
Belum lagi, bagaimana sibuknya membawa tulisan yang sudah jadi ke Penerbit Mayor, lalu menunggu proses edit. Tambah rumit lagi, jika penerbit meminta perbaikan disana-sini. Jika, diterbitkan secara indie, maka sang penulis diharuskan merogoh koceknya sendiri untuk biaya penerbitan, kemudian, disibukkan memasarkan bukunya sendiri.
Dengan proses panjang dan berliku itu, sangat tidak wajar, jika seseorang, meminta buku secara gratis, hanya dengan alasan pertemanan.
Bukankah logikanya bisa dibalik. Jika kita memang menganggap sang penulis adalah teman, maka kita  perlu membeli bukunya. Logikanya, menghargai karya teman, berharap teman tidak rugi, sehingga dia berkeinginan untuk menerbitkan kembali buku-bukunya yang lain, dan kita berbangga bahwa teman kita telah mampu menerbitkan buku, dengan harapan, bahwa karya teman itu, sebagai motivasi bagi kita untuk dapat juga menerbitkan buku.
Bagaimana jika saya tidak berminat membaca dan tidak berminat jadi penulis? Begitu alasan teman yang minta buku gratis. Alasan demikian, juga bukan menjadikan, meminta buku gratis dapat dibenarkan.  Dengan alasan teman, baiknya kita tetap membeli buku yang diterbitkan sang teman, lalu memasukkan dalam lemari, sebagai bukti kita telah mendukung karya sang teman. Pada kesempatan tertentu, buku itu dapat dikeluarkan dari lemari buku untuk ditunjukkan pada tamu, bahwa teman anda sudah menulis buku. Artinya, anda telah turut mempromosikan karya teman anda pada yang lain.
Memang untuk membeli buku teman, diperlukan uang. Tapi berapa besar sih? Harga  sebuah buku + ongkos kirim, tidak sampai seratus ribu. Itu artinya, jika setahun 360 hari, maka harga buku itu hanya 275 rupiah saja perhari. Dan belum tentu juga, sang teman menerbitkan bukunya setiap tahun.
Buku PNPM-MPd, Karya Penulis (dok. Pribadi)
Tiga, Jika untuk karya lagu, atau film yang nota bene sang penulis, penyanyi ataupun produsernya, kita tak kenal saja, kita tak mau membeli karya bajakan. Maka, untuk karya teman, yang anda sudah demikian akrab, malah minta gratis. Logikanya tidak ketemu.
Tapi, sebagai teman, saya tahu kapasitasnya, karya yang dia tulis tentu tidak sesuai dengan kualitas yang saya inginkan. Begitu alasan anda.
Maka, saran saya, jangan minta bukunya secara gratis, jangan pula membelinya. Silahkan anda sendiri yang menerbitkan buku, anda sendiri sebagai 

4 komentar:

  1. Sabar Mas .... sabaar .... (pengen ketawa sendiri) jadiin shodaqoh hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... coba berteori aja pak Didik, kenyataannya memang shodaqoh buku..

      Hapus
  2. itu sudah biasa qo bang d negeri kita ini, udah merupakan budaya nkaliii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.... budaya masyarakat Guyub Dora...

      Hapus