Kamis, 30 Maret 2017

Ilmu Alamiah Dasar.

Pertemuan.1

BAB.I. Pendahuhuluan Ilmu Alamiah Dasar.

Manusia secara fisik memiliki banyak kelemahan, sepert;
Tidak dapat terbang seperti Burung, tidak dapat berenang seperti Buaya, Tidak memiliki belalai seperti Gajah, tidak dapat merubah warna kulit seperti Bunglon, tidak memiliki tanduk untuk melindungi diri dari serangan lawan  dlsbnya.
Namun, manusia memiliki akal budi dan kemauan. Sehingga keterbatasan fisik dapat diatasi dengan akal budi dan kemauan.


Rasa Ingin Tahu.
Dengan akal budi, manusia memiliki rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Apabila  satu soal atau masalah dapat dipecahkan, maka soal lain segera menyusul untuk dipecahkan.
Akal Budi manusia, tidak pernah puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Selalu timbul keinginan untuk menambah pengetahuan yang dimiliki. Rasa ingin tahu itu, mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai masalah yang muncul dalam pikirannya.
Kegiatan untuk mencari pemecahan dapat berupa:
a.    Penyelidikan langsung.
b.    Penggalian hasil-hasil penyelidikan yang sudah diperoleh orang lain.
c.    Kerja sama dengan penyelidik lain, yang juga memecahkan persoalan yang sama atau yang sejenis.
Setiap individu memiliki rasa ingin tahu atau minat yang berbeda. Seperti, ada yang berminat mengetahui sejarah masa lalu, berminat ingin mengetahui tentang kesehatan, tekhnologi, kesejahteraan dlsbnya.
Perpaduan antara rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan dengan berbedanya minat, mengakibatkan beragamnya bidang ilmu pengetahuan. Perbendaharaan jenis ilmu itu, pada akhirnya menempatkan posisi manusia sebagai makhluk yang lebih unggul dibandingkan makhluk lainnya. Manusia dapat menutupi kekurangan fisiknya dengan keunggulan ilmu yang dimiliki.
Manusia merupakan makhluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tertinggi, jika dibandingkan dengan hewan atau makhluk lainnya.

Rasa ingin tahu, menyebabkan alam pikiran manusia berkembang.
Perkambangan alam pikiran manusia, akan kita batasi hanya dari dua sisi;
a.    Perkembangan alam pikiran manusia, sejak zaman Purba hingga kini.
b.    Perkembangan alam pikiran manusia, sejak lahir hingga akhir hayat.

Ad.a. awalnya, manusia purba  dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang belum mereka ketahui jawabannya. Seperti. Terbit dan terbenamnya Matahari, perubahan bentuk bulan, pertumbuhan dan perkembang biakan makhluk hidup, mengapa angin bertiup, bagaimana terjadinya hujan, bagaimana terjadinya Pelangi.
Mulailah manusia Purba melakukan penyelidikan-penyelidikan untuk menjawab rasa ingin tahu pada mereka. Hasil dari penyelidikan itu, diwariskan pada generasi berikutnya. untuk selanjutnya, oleh generasi berikutnya,lalu diadakan perbaikan dan disempurnakan. Khasanah ilmu yang diwariskan dan selalu diperbaiki itulah yang kita kenal sebagai ilmu pengetahuan.

Ad.b. Bayi yang baru lahir, mengalami hal yang hamper serupa dengan manusia purba. Ketika kecil, timbul berbagai pertanyaan dalam pikirannya. Untuk menjawab pertanyaan itu, mereka bertanya pada Ayah, Ibu, saudara atau mereka yang ada disekitar sang anak. Dengan demikian, alam pikiran sang anak akan mengalami perkembangan. Selanjutnya, perkembangan pikiran sang anak akan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak yang sekolah, keluarga yang haus akan ilmu, lingkungan yang ilmiah. Tentu akan berbeda perkembangan pikirannya dengan anak yang tidak sekolah, keluarga yang juga tidak sekolah dan lingkungan yang tertutup akan informasi ilmu pengetahuan. 
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seseorang ditentukan oleh;
a.    Ilmu Dasar yang diperoleh ketika anak-anak dari orang tua dan lingkungan.
b.    Ilmu yang dipelajari dari Institusi pendidikan.
c.    Pengembangan ilmu yang dilakukan oleh sang Individu itu sendiri.

MITOS, PENALARAN dan PENGETAHUAN.
Mitos.
Menurut A Comte, sejarah perkembangan manusia, terdiri dari tiga tahap:
a.    Tahap Teologi atau tahap Metafisika.
b.    Tahap Filsafat.
c.    Tahap Positif atau Tahap Ilmu.
Dalam tahap teologi atau metafisika, manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita atau kenyataan, yaitu pengetahuan yang tidak obyektif, melaikan subyektif.
Dalam alam pikiran mitos, ratio atau penalaran belum terbentuk, yang bekerja hanya daya khayal, intuisi atau imajinasi.
Menurut C.A. Peursen, Mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita dapat diungkapkan secara lisan atau melalui pementasan seperti tari drama dlsbnya.

Penalaran Deduktif (Rasionalisme).
Dengan bertambahnya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara berpikir, maka manusia dapat menjawab banyak pikiran tanpa mengarang Mitos. Dengan demikian mitos makin berkurang perannya dan hanya dipakai untuk memberikan keterangan pada anak kecil.
Menurut C.A. Peursen, dalam bukunya mengatakan bahwa di dalam mitos manusia terikat, manusia menerima keadaan sebagai takdir yang harus diterima. Lama-lama manusia tidak mau terikat, maka manusia berusaha mencari penyelesaian dengan rasio. Dalam pemikiran ini, manusia sudah memisahkan dirinya, sehingga memandang alam dengan jarak terhadap dirinya. Manusia sebagai subyek menempatkan dirinya di luar alam yang dijadikan obyek.  

Penalaran  Induktif (Empirisme).
Penganut Empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus.
Misal, pada pengamatan pada pengamatan atas logam besi, tembaga aluminium dan sebagainya, jika dipanasi, ternyata bertambah panjang. Maka, disimpulkan secara umum, bahwa semua logam jika dipanasi, ternyata bertambah panjang.

Pendekatan Ilmiah
Agar himpunan pengetahuan itu, dapat disebut ilmu pengetahuan, harus digunakan perpaduan antara rasionalisme dan empirisme. Metode ini, dikenal sebagai metode keilmuan atau pendekatan Ilmiah.
Penelitian ilmiah ini, dilakukan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan data empiris. Kesimpulan dari penelitian ini, menghasilkan teori. Teori harus bersipat konsisten. Artinya, jika dilakukan percobaan serupa, maka hasil yang diperoleh akan tetap sama.
Metode keilmuan itu, bersifat obyektif, bebas dari keyakinan, perasaan dan prasangka pribadi serta bersifat terbuka. Artinya, dapat diuji ulang oleh siapapun. Dengan demikian kesimpulan yang diperoleh lebih dapat diandalkan dan hasilnya lebih mendekayi kebenaran.


Catatan kaki:
Cornelis Anthonie Van Peursen dilahirkan Tanggal 8 Juli 1920 di Belanda.
·         Tahun 1948 memperoleh gelar Doktor Filsafat
·         Tahun 1948-1950 menjabat wakil ketua Hubungan Internasional pada Kementrian Pendidikan Belanda.
·         Tahun 1950 - 1953 menjabat Lector Filsafat pada Universitas Negri di Utrcht.
·         Tahun 1953 - 1960 menjabat Guru Besar Filsafat pada Universitas Negri di Groningen
·         Tahun 1960  menjadi Guru Besar di Universitas Negri di Leiden.
·         Tahun 1963  menjabat Guru Besar Luar Biasa dalam Ilmu Epistemologi pada Universitas Kristen di Amsterdam.

Auguste Comte (Nama panjang: Isidore Marie Auguste Fran├žois Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798 – meninggal di Paris, Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun) adalah seorang filsuf Perancis yang dikenal karena memperkenalkan bidang ilmu sosiologi serta aliran positivisme. Melalui prinsip positivisme, Comte membangun dasar yang digunakan oleh akademisi saat ini yaitu pengaplikasian metode ilmiah dalam ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar