Minggu, 05 Februari 2017

Sudut Pandang Yang Lain Dari Sebuah Tulisan

Cara kita memandang, menentukan hasil yang diperoleh (dok.Pribadi)
Saya, jika sudah duduk di depan lap top, suka lupa diri. Berjam-jam, tak kenal waktu. Bahkan, tak jarang hingga larut malam. Tulisan yang ingin dihasilkan, memang terwujud. Namun, esoknya sholat subuh terlewatkan. Padahal, menurut pengetahuan saya, nilai sholat subuh, senilai seluruh kekayaan barang berharga dipermukaan bumi. Artinya, nilai nominalnya tak terhingga. Bayangkan, betapa masgulnya saya, ketika subuh terlewatkan, hanya karena sebuah tulisan. Betapa, amat sangat mahal nilai sebuah tulisan. Demikian, keluhan seorang sahabat, sore itu.
Benarkah, nilai sebuah tulisan, senilai seluruh kekayaan yang ada dipermukaan bumi ini? Gak juga lah ya. Dalam kasus diatas. Sahabat saya, hanya karena tidak mampu memanage waktu, lalu menyalahkan tulisan. Membarter sesuatu dengan analogi yang salah.
Ada lagi, sahabat yang menargetkan setiap hari satu tulisan. Tak ada waktu yang terlewatkan seharipun tanpa tulisan yang dia pubhlis. Beberapa teman yang lain, memandang sahabat saya dengan mata kagum. Kok bisa ya? Setiap hari menghasilkan satu tulisan. Kenapa tidak? Tokh, ada manusia yang memang memiliki referensi yang begitu bejibun di kepalanya. Masalahnya, hanya soal waktu menuangkannya dalam tulisan. Logiskan. 
Setelah beberapa waktu berlalu, sahabat saya terlihat lelah. Tulisan yang dihasilkan mulai datar-datar saja. Tak ada yang menggigit lagi. Mengapa?
Dua kasus diatas, agaknya perlu kita lihat secara jernih. Sehingga, menulis dan tulisan, dapat diletakkan pada porsi yang sesungguhnya. Secara adil kita posisikan tulisan dan menulis dalam koridor yang benar.
Secara garis besarnya, tinjauan itu kita bagi menjadi;
Satu, kita adalah Manusia.
Manusia adalah kompleksitas dari segala hal. Manusia adalah hamba dari Tuhan, pemimpin bagi lingkungannya, minimal dalam keluarga, isteri dari suami, suami dari isteri, anak dari orang tua dan orang tua dari anak-anaknya, pemelihara dan pelestari alam semesta. Penuhi semua fungsi diatas, jangan abaikan satu hal untuk memenuhi hal yang lain. Demikian banyak hal yang harus kita lakukan, maka menulis hanya satu bagian dari banyak hal, dan tulisan salah satu karya dari banyak jenis karya kita yang lain.
Ketika menulis dan hasil tulisan menisbikan kewajiban sholat subuh, mengindikasikan jika kita melakukan satu hal dengan meniadakan hal yang lain. Itu sebuah kekeliruan. Dimana letak kekeliruannya? Dalam memanage tulisan. Idealnya, sebelum menulis, beberapa data yang akan ditulis sudah dipersiapkan sebelumnya. Kerangka tulisan sudah dibuatkan framenya. Sehingga, proses menulis tidak membutuhkan waktu lama. Hasilnya, hak mata untuk tidur terpenuhi, kewajiban untuk sholat subuh terlaksanakan.
Dua. Tentukan Tujuan Menulis.
Menulis tiap hari emang kenapa? Gak ada yang salah dalam hal itu. Tetapi, apa tujuannya? Hanya untuk menulis setiap hari, dengan target menghasilkan satu tulisan setiap hari. Jika itu, yang menjadi tujuan. Siiiip’s…. lanjut. Urusan selesai. Tetapi, jika tujuannya ingin berbagi, ingin memberikan sesuatu yang berkualitas. Maka menulis dengan target satu hari satu tulisan perlu dipertanyakan.
Ibarat sebuah pohon dengan buah sangat rindang, jika setiap hari dipetik, maka tunggu saatnya, buah akan habis terpetik. Ketika buah telah habis terpetik, tinggal buah yang belum masak, atau buah yang masaknya tak sempurna. Demikianlah, tulisan yang dihasilkan tiap hari, bagai buah yang dipetik tiap hari. Dibutuhkan pupuk agar buah tetap ada. Itulah membaca. Mampukah kita membaca, minimal sebanyak apa yang kita tulis setiap hari. Jika tidak mampu, maka tunggu kualitas tulisan akan menurun.
Dibutuhkan managemen waktu yang baik dan tekad dan disiplin yang prima, agar mampu menghasilkan tulisan tiap hari. Karena, sebagai manusia sosial, akan banyak kegiatan selain menulis yang menghadang setiap hari. Dari mulai pekerjaan, perjalanan yang membutuhkan waktu lama, menghadiri undangan atau upacara-upacara, jatuh sakit dlsbnya. Padahal adagiumnya, menulis adalah salah satu bagian dari banyak bagian kegiatan kita yang lain. Tulisan adalah salah satu karya diantara sekian banyak karya kita yang lain.

Idealnya, dalam menulis kita bersikap adil, ada pembagian yang proporsional antara mendengar (radio), melihat (TV), membaca (internert, portal berita, surat kabar) menyimak (ketika duduk-duduk di warung kopi atau kongkow dengan komunitas kita) serta membuat agenda berupa catatan-catatan kecil. Muara dari kegiatan itu, timbul pertanyaan, apa yang akan saya tulis hari ini. Lalu, meluncurlah tulisan yang semuanya telah dipersiapkan matang. Tak dibutuhkan waktu berlama-lama. Karena, diluar kegiatan menulis, kita masih memiliki sejibun kegiatan lain, sebagai manifestasi dari fungsi kita sebagai hamba Allah yang memiliki kewajiban membawa kebahagian untuk sesama manusia dan alam semesta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar