Sabtu, 25 Februari 2017

Panca Sila Perekat Dalam Ke-Bhineka-an Kita

Patung Soekarno dibawah Pohon Sukun, pada Taman Perenungan Soekarno di Ende (dok. Pribadi)
Setelah larut dalam kesejukan Taman Perenungan Bung karno nan Rindang di tepian laut Teluk Sawu Ende. Saya mencoba menarik benang merah antara proses kelahiran ide Panca Sila ketika itu, dengan kondisi real Panca Sila pada saat kekinian. Apakah sesungguhnya yang terkandung dalam Panca Sila, dalam kaitan dengan tempat kelahiran Panca Sila yang bernama Ende? Sehingga, sebagai sebuah kenyataan, semua kita mendapatkan kenyataan Panca Sila, demikian sakti dan teruji dalam perjalanan kebangsaan Indonesia hingga saat kini.
Coba kita lihat kondisi saat itu, penduduk Ende yang hanya 5000 orang, dengan etnis suku yang beragam. Ada penduduk Asli Ende, ada pendatang dari beberapa suku di Indonesia, ada ada keturunan China, ada juga missionaris yang berkebangsaan Belanda, juga ada keturunan Arab. Demikian juga dengan agama yang dianut, ada Islam, ada Khatolik.
Namun, kehidupan keseharian yang terjalin, demikian guyub dan harmonis. Perbedaan suku dan agama tak menjadikan penghalang dalam kehidupan keseharian nan rukun. Apakah karna jumlah mereka yang sedikit? Apakah karena wilayah mereka begitu sempit? Mungkin saja, alasan itu benar. Tetapi, Soekarno, tidak hanya melihat pada kenyataan yang terlihat dipermukaan saja, dalam “semedi” perenungannya di Taman perenungan Soekarno, beliau melihat, sesungguhnya kenyataan yang terhampar didepan mata beliau, adalah buah dari perjalanan filosophi bangsa Indonesia yang berlangsung lama. Hanya saja, masyarakat tak menyadari arti dari kehadiran filosopi yang kini masyarakat nikmati. Soekarnolah yang menemukan mutiara terpendam itu. Soekarno, memberikan nama sebagai Persatuan.
Coba lihat, bagaimana semangat kebangsaan yang menyala-nyala di dada Soekarno, terasa mustahil untuk diucapkan secara verbal pada penduduk yang mayoritas masih buta huruf di Ende ketika itu. Apalagi untuk disampaikan dalam bentuk tulisan. Lalu, dengan terobosan yang juga seakan tidak mungkin dilakukan. Soekarno membentuk Tonil. Group sandiwara. Ternyata, sambutan masyarakat demikian antusias. Bukan hanya untuk menonton tonil, juga untuk menjadi pemain Tonil, demikian juga dukungan gereja untuk menyediakan tempat, kursi dan mencetak karcis masuk. 
Apa artinya itu? Semangat kebangsaan itu, ternyata berkobar juga pada masyarakat Ende. Hanya saja, dengan keterbatasan ilmu dan isolasi geografis, semangat itu tak bersuara, tak terdengar, tak bergaung. Hanya seorang cerdas yang mampu menangkap kesunyian yang sedang bergelora di dada masyarakat Ende. Soekarno berhasil menangkapnya. Dengan menggunakan frekwensi gelombang yang sama dengan frekwensi yang dimiliki masyarakat Ende, menggunakan media bernama Tonil Kelimutu. Akhirnya, gelora itu mampu diangkat kepermukaan. Soekarno memberikan mutiara yang terangkat keatas permukaan itu dengan nama Kebangsaan. Staat.  
Bentuk mini dalam staat, mungkin saja, kondisi Ende yang dihadapan Soekarno saat itu. Namun dalam perenungannya, yang dimaksud staat, adalah kesatuan Indonesia dari mulai ujung Sumatera yang bernama sabang hingga ujung Timur Papua yang bernama Mearuke. Demikian juga, staat yang dimaksudkan Soekarno, bukan Staat yang mengatas namakan satu agama tertentu saja. Melainkan, semua agama yang bersepakat membentuk pilar penyangga bernama Indonesia. Keberagaman agama, tempat, suku, adat istiadat itulah yang terjalin dalam pita besar yang menyatukan dan mengikat Indonesia. Bhineka Tunggal Ika.
Lihat, bagaimana Ende yang kecil ketika itu, dengan Kapela yang dipenuhi Umat Khatolik, Mushola dan Mesjid yang dipenuhi oleh Umat Islam. Namun, disaat yang sama pula, para pemeluk Agama Khatolik dan Islam, bersimbah peluh berlatih dalam persiapan pementasan Tonil kelimutu. Kekhusukan agama, berjalin kental berkelindan dalam aroma semangat Indonesia merdeka. Tangkapan dari kondisi yang terbentang dihadapan Soekarno, akhirnya terwakili dalam Panca Sila, dengan posisi urutan tertinggi yang benama keTuhanan Yang Maha Esa. Artinya, memang sejak awal konsep Rahmatan lil Alamin dalam Islam dan konsep kasih pada sesama dalam agama Khatolik. Sudah memberikan konstribusinya pada Indonesia, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia lahir.
Bersama Kompasianer asal Ende, Roman. Di Taman Perenunga Soekarno. (dpk.Pribadi)

 Kondisi kekinian.
Lalu bagaimana dengan Panca Sila, dalam hubungannya dengan kondisi kekinian? Kondisi yang oleh sebagian masyarakat, sedang memasuki era mencemaskan. Mampukah Panca Sila menjadi alat perekat bangsa, untuk bangsa, yang dilihat secara pesimis oleh sebagian masyarakat sebagai kondisi yang nyaris terbelah.
Menjawab pertanyaan diatas, menurut hemat saya, ada tiga hal yang perlu menjadi telaah kita bersama.
Satu, perlu dipertanyakan, apa sesungguhnya yang terjadi, sehingga sebagian masyarakat memandang kondisi kekinian dengan demikian pesimisnya, hingga sampai pada kesimpulan bahwa kondisi ini, membuat bangsa Indonesia nyaris terbelah. Hemat saya, mereka yang berpikiran demikian, hanya mereka yang berpikiran pesimis saja. Penyebabnya dapat beragam, bisa karena tipisnya rasa optimis dalam diri, bisa juga disebabkan kurangnya pengetahuan tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri. Khususnya Panca Sila.
Dua, perlu dikaji ulang, bahwa sejarah perjalanan bangsa ini menyimpulkan, bawa semua usaha untuk memecahkan bangsa, selalu gagal. Lihat pemberontakan pertama yang terjadi pada tahun 1948, hanya beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Pemberontakan yang terjadi pada bulan September 1948 akhirnya gagal. Padahal, mereka telah berhasil masuk pada kesatuan TNI dan mengadu domba, terutama mereka yang berada di kota Surakarta.
Demikian juga dengan peristiwa tahun 1965. Gerakan tiga puluh September yang dirancang matang oleh colonel untung, akhirnya gagal total. Padahal, tujuh pahlawan revolusi telah berhasil mereka eksekusi, kondisi yang terbina sudah begitu kondusif untuk keberhasilan sebuah pemberontakan. Tokh, semuanya berakhir pada kegagalan. Demikian juga yang terjadi pada DI/TII, PRRI dan sejibun lagi pemberontakan yang dilakukan dengan cara kontak fisik. Semuanya, tanpa kecuali gagal total.
Bagaimana dengan cara-cara yang dilakukan tanpa kontak fisik? Hasil yang sama juga terjadi. Gagal total. Coba perhatikan, ketika euphoria reformasi pada pasca 1998’an. Berbagai partai politik tumbuh dan bermunculan, bahkan dengan lebel-lebel agama, kedaerahan dan sektorian. Namun, apa yang terjadi? Semua berjalan biasa-biasa saja. singkat cerita, apakah perpecahan itu terjadi? Tidak. Indonesia masih utuh. Pelan tapi pasti, partai-partai yang berbasis sectarian, ditinggalkan konstuennya. Untuk akhirnya, perlahan mati. Indonesia masih utuh, Panca Sila masih sakti.
Lalu, bagaimana membaca fenomena kekinan yang terjadi pada masyarakat Indonesia? Menurut hemat saya, akar masalahnya terletak pada keadilan. Keadilan pada hokum yang ditegakkan oleh penguasa dan keadilan pada cara pandang kita melihat fenomena. Jika, saja penguasa mampu memberlakukan keadilan pada seluruh rakyat tanpa pengecualian, maka separuh masalah selesai. Jika saja kita mampu melakukan keadilan pada cara pandang, maka separuh kegaduhan tidak terjadi.
Fenomena yang terjadi, pada cara pandang kita, jika pihak sana tidak sama dengan pihak sini, maka pihak sana salah. Demikian sebaliknya. Padahal, perbedaan adalah keniscayaan. Hukum alam yang mesti terjadi. Bagaimana kita mampu mendiskripsikan malam, jika tanpa kehadiran siang. Perihal salah, percayakah kita, bahwa kita dipihak yang benar, jika tanpa ada tabayyun –klarifikasi- pada pihak sana. Kesalahan itu, bisa jadi bukan pada mereka, namun pada kita. sebabnya, karena ketidak mampuan kita menangkap essential fenomena yang terjadi, keterbatasan kemampuan pikir dan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Kesalahan itu, semakin diperparah dengan analisa atau tafsir yang salah pula, lalu dipubhlis pada mereka dengan kemampuan analisa yang sama atau lebih rendah lagi. Jadilah, kesalahan multi efek, kesalahan yang melahirkan kesalahan baru, makin jauh dari kebenaran. Sesat dan semakin menyesatkan. Sebuah efek domino. Semakin jauh dari kebenaran.
Tiga, kesaktian Panca Sila tak perlu diragukan lagi. Ujian terhadap Panca Sila sudah berulang kali dilakukan. Seperti yang tertulis diatas dan hasilnya selalu gagal total. Apa artinya semua ini. Itulah bukti tak terbantahkan bahwa Panca Sila, merupakan bagian hakiki dari batang tubuh Indonesia. Bagian integral yang tak mungkin terpisahkan. Bagian tubuh yang menjadi syarat tubuh itu hidup. Bagaimana manusia hidup tanpa jantung? Tanpa Ginjal? Demikian, analogi Panca Sila bagi Indonesia.
Mencoba mengganti Panca Sila dengan dasar lain, sama dengan menafikan fungsi jantung bagi tubuh, fungsi ginjal bagi tubuh.
Soekarno dalam masalah ini, telah berhasil “menyelami” lautan terdalam dalam khasanah “laut” Indonesia, lalu memperoleh “Mutiara” khas Indonesia yang bernama Panca Sila. Maka, jika disebutkan, kontribusi terbesar apa yang telah beliau sumbangkan untuk Indonesia? Dengan tidak menafikan jasa-jasa beliau dibanyak hal. Maka Jawaban yang pantas untuk pertanyaan itu, Panca Sila.

Dan itu, tak dipungkiri, idenya muncul ketika Soekarno duduk dibawah pohon Sukun bercabang lima, di Taman Perenungan Soekarno di Ende. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar