Kamis, 09 Februari 2017

Lebak, Derita Tiada Akhir

Kondisi Jalan Negara di Desa Cilangkahan Lebak 
Syahdan, seorang anak lelaki kecil di daerah Lebak bernama Saijah kecil yang menyayangi kerbau miliknya seperti sahabat sendiri. Namun, Sayangnya kebahagiaan itu tak bertahan lama. Berkali-kali kerbau milik Saijah diambil paksa oleh orang-orang suruhan Bupati Lebak dan Demang Parungkujang, yang masih terhitung kemenakan dari sang Bupati. Tak ada rakyat yang berani melawan.
Pemerasan ini terjadi terus dan terus. Hingga akhirnya Ayah Saijah tidak memiliki apa-apa lagi. Semua harta kekayaannya habis diperas oleh Bupati Lebak dan Demang Parangkujang. Ibu Saijah terpukul atas perlakuan semena-mena yang menimpa anaknya. Dia sakit, hingga akhirnya meninggal.
Sepeninggalan istrinya, ayah Saijah stres. Dan meninggalkan kampung halamannya. Sebabnya, Ayah Saijah tidak dapat membayangkan bagaimana kemarahan sang Demang jika dirinya tidak mampu membayar pajak. Ayah Saijah pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Dalam kesedihan, Saijah tumbuh menjadi seorang pemuda. Lalu, pemuda tanggung itu, menjalin kasih dengan Adinda, sahabat yang dikenalnya sejak kecil. 
Saijah lalu pergi ke Batavia, menjadi pelayan pada seorang Belanda dengan memelihara kuda sang Tuan. Dengan satu tujuan, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, agar kelak dapat melamar Adinda, dengan uang yang dikumpulkannya.
Kondisi Jalan Negara di Desa Cilangkahan Lebak 
Tahun-tahunpun berlalu, tibalah saatnya Saijah kembali ke kampungnya. Namun, bukan cinta yang didapatnya, tetapi kekecewaan yang menunggunya. Saijah mendapati Adinda dan ayahnya sudah tak ada di kampung itu. Adinda dan Ayahnya, terlah melarikan diri dari kampung. Karena, tak bisa membayar pajak dari penguasa.
Saijah memperoleh kabar, jika Adinda dan ayahnya bergabung untuk melawan tentara Belanda di Lampung. Saijah mencoba pun menapaki jejak mereka. Diseberanginya lautan untuk menemui adinda, sang pujaan hati. Namun, ternyata pencarian ternyata berbuah pahit. 
Dalam sebuah pertempuran Saijah menemukan Adinda sudah meninggal. Tubuhnya penuh luka dan diperkosa tentara Belanda. Melihat itu, Saijah mengamuk. Pemuda putus asa ini berlari ke arah sekumpulan tentara Belanda yang menghunus bayonet. Dia menghujamkan tubuhnya pada bayonet serdadu yang tajam. Adinda dan Saijah tewas.
Saijah dan Adinda, adalah potret korban kolonialisme bangsa asing dan keserakahan pejabat dari bangsanya.
Demikianlah tokoh dari Novel Max Havelaar yang dikarang oleh Multatuli. Nama Saijah dan Adinda, mungkin saja nama fiktif. Namun, kekejaman Belanda dan para Penguasa pribumi yang dilakukan pada Rakyat Lebak bukanlah fiktif. Dalam banyak kesempatan Multatuli menantang pemerintahan Belanda untuk membuktikan jika data yang dikemukakannya dalam Buku Max Havelaar adalah fiktif. Sebuah tantangan yang hingga kini, tidak mampu dibuktikan oleh Belanda. Dengan kata lain, data yang dikemukakan Multatuli valid dan tak terbantahkan hingga kini.

Konteks kekinian.
Buku Max Havelaar yang telah dibaca oleh manusia di hamper 2/3 permukaan bumi itu, dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1860. Itu artinya, jika perhitungan waktu kekejaman yang dialami masyarakat Lebak dihitung sejak terbitnya Max Havelaar sudah berlangsung selama 157 tahun. Padahal, akal kita mengatakan, kejadiannya jauh hari sebelum buku itu dicetak. Karena, isi buku Max Havelaar berkisah tentang kekejaman yang dialami masyarakat Lebak. Jadi, paling tidak peristiwa itu sudah berlangsung 170 tahun yang lalu.
Kesimpulannya, seratus tahun sebelum Indonesia Merdeka, masyarakat Lebak sudah menderita. Sementara, saudara-sudara masyarakat Lebak di daerah sudah menikmati hasil kemerdekaan, masyarakat Lebak, masih meneruskan penderitaannya. Indikasinya sangat jelas dapat terlihat dengan mata telanjang. Daerah Lebak, masih masuk dalam kategori Kabupaten miskin dan tertinggal. Infrastruktur jalan di daerah Lebak, masih sangat memprihatinkan. Kondisi jalan Negara di daerah Desa Cilangkahan demikian memprihatinkan, bagai kubangan, genangan air menutupi hamper seluruh ruas jalan. Sementara kondisi Jalan Kabupaten di kecamatan Cigemblong kondisinya sulit untuk digambarkan, tak tersisa bekas aspalt sedikitpun.
Sementara penguasa silih berganti baik Gubernur di Provinsi maupun Bupati Lebak. Kemakmuran kehidupan pribadi mereka, begitu kontras dengan kondisi daerah yang mereka pimpin. Padahal Lebak, bukanlah daerah yang gersang. Kontribusi daerah ini, pada Pendapatan Asli Daerah demikian besar.  Cikotok sebagai daerah penghasil emas, semua orang tahu. Sejak 1936 daerah ini menghasilkan emas untuk NKRI, sementara Bayah sebagai daerah penghasil batu bara, pernah menjadikan NKRI bergantung pada pasokan Batu Bara dari Bayah untuk menggerak Kereta Api di Pulau Jawa, menghidupkan PLTU dan mesin-mesin penggilingan Tebu di Pulau Jawa.
Kondisi Jalan Kabupaten di Kec Cigemblong  Lebak 
Namun, semua kontribusi itu, tidak menjadikan Lebak menjadi makmur. Daerah ini tetap sebagai daerah tertinggal. Seorang teman yang asli putra Lebak tidak terima ketika disebutkan bahwa daerah Lebak sebagai daerah terkutuk. Meski, saya sendiri tidak tahu, apakah dengan demikian, itu berarti, sang teman akan “menerima” jika disebutkan bahwa para penguasa daerah inilah yang “patut disebut terkutuk”, sehingga daerah yang kaya ini, hingga kini masih menjadi daerah menyandang kategori tertinggal. Lebak yang memiliki nasib “derita tiada tiada akhir”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar