Minggu, 22 Januari 2017

Sendiri, Antara Dua Kutub

Tak merasa sendiri di alam lembah anai (dok.Pribadi)
Sendiri, kata yang sederhana dan singkat. Aplikasinya, sangat menakutkan. Dapat dibayangkan jika manusia sendirian. Apa yang akan dapat dilakukannya? Tak satupun dapat dilakukan.
Manusia sesuai fitrahnya, selalu ingin bersosialisasi. Berkumpul bersama-sama. Guyub. Itulah sebabnya manusia disebut makhluk social. Kalau Aristoteles,  menyebutnya sebagai zoon politicon, yang berarti manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinter aksi satu dengan lainnya.
Sendiri bisa dalam arti kata fisik, artinya memang kita sendirian, pada lokasi tertentu, tanpa teman, tanpa manusia lain dan tak ada interaksi dengan makhluk lain. Atau bisa juga sendiri dalam arti pshykis.
Berada pada komunitas ramai, tetapi merasa sendirian, merasa kesepian. Apa bisa? Bisa saja. Mungkin kehadiran kita tidak diterima, atau kita memiliki masalah dengan salah satu anggota komunitas itu, bisa saja dengan atasan, dengan bawahan atau dengan temen, atau dengan pacar atau dengan orang tua, bisa juga dengan saudara sekandung kita. Bisa juga, memang lingkungan itu, kita menghendakinya.

Untuk dua kondisi sendiri itu, apakah dalam arti fisik atau pshykis, dua-duanya sangat menyakitkan. Perlu tindakan segera untuk mengakhiri kesendirian itu.
Jika dalam arti fisik, segera keluar dari lokasi sendiri itu, segera berpindah pada lokasi yang banyak orang, pada dunia terbuka. Berpindah dari keterpencilan menuju dunia ramai.
Jika kondisi pshykis, segera lakukan perubahan sikap, segera berdamai dengan anggota komunitas itu. Apakah dengan berdamai dengan atasan, dengan rekan kerja atau dengan siapa saja yang menyebabkan keterasingan kita.
Bisa juga segera pindah ke lingkungan, yang sesuai dengan kondisi  ideal yang kita inginkan. Lalu bagaimana jika berada pada kondisi antara keduanya, tidak sepenuhnya sendiri, tetapi tidak sepenuhnya pula berada pada komunitas?
Jika kita berada kondisi yang demikian, maka ada baiknya, kita dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
Satu, cari kesibukan yang kita suka, seperti membaca, menulis, mengarang lagu atau bahkan menyanyi. Kesendirian yang diisi dengan hal yang menyenangkan merupakan berkah yang luar biasa. Berapa banyak diantara kita, tidak memiliki waktu sendiri untuk membaca, untuk merenung, untuk menulis. Sebagai ilustrasi, Barbara Cartland, seorang pengarang sekaligus Bangsawan Inggris itu, membutuhkan waktu lima jam setiap harinya untuk sendiri, yang digunakan untuk menulis novel. Maka jangan heran, hingga usia delapan puluh empat tahun, dia masih produktif menghasilkan novel. Coba bayangkan, bagaimana ketika dia masih muda. Bagaimana pula yang terjadi, jika kita dapat melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Barbara Cartland? Jadi kesendirian, tak selamanya menakutkan. Jika saja kita mampu memanfaatkannya, sesuai dengan hobby dan kesenangan kita.
Dua, dalam kesendirian, cobalah lakukan perenungan, apa saja hal-hal yang sudah kita capai. Coba buka buku catatan harian, diary dan album kegiatan kita, apa saja yang sudah kita lakukan selama ini, apakah sudah sesuai dengan rencana yang akan kita raih? Jika belum sesuai, lakukan evaluasi, apa sebabnya hal itu bisa terjadi, lalu tanyakan solusi apa yang mesti dilakukan agar pencapaian itu sesuai dengan rencana yang telah direncanakan. Lakukan evaluasi ini sekritis mungkin, tak perlu malu dan gengsi, tokh semua itu dilakukan ketika sendiri, tak ada yang menyaksikan. Jujur dengan pencapaian yang telah diraih, jujur untuk mencari sebab pencapaian yang gagal diraih dan jujur membuat rencana perbaikan, akan segala hal yang gagal diraih. Setelah semua itu dilakukan dengan secermat dan sedetail mungkin, maka langkah berikutnya. Buat rencana ke depan. Rencana yang dibuat usahakan dirinci sedetail mungkin, apa saja hal yang harus diraih dalam waktu tertentu, lalu lakukan rincian, apa saja langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan rencana itu. Bila perlu rincian itu di breakdown hingga waktu mingguan, harian dan kalau perlu jam. Buat kisi-kisinya dalam bentuk table excel, lalu temple di dinding atau di buku diary. Lakukan pengecekan setiap hari, jika tak terpenuhi, segera tanyakan mengapa, lalu lakukan langkah percepatan untuk mengejar ketertinggalan itu.
Tiga, sadari diri bahwa kita bukan siapa-siapa, kita membutuhkan zat yang Maha Kuat, Zat yang akan mengabulkan seluruh keinginan kita, Zat yang Maha Mencintai kita. Lalu tanamkan keyakinan itu benar-benar menghunjam dalam hati. Jika sudah menghunjam kuat dalam hati dan percaya penuh dalam hati. Lalu curhat padaNya, mintalah  padaNya, tentu Dia akan memberi, karena Dia zat yang Maha Memberi, keluhkan semua kesulitan yang kita hadapi, Dia akan mendengarkan, karena Dia yang Maha Mencintai kita. Last but not least, karena Dia Maha Memberi, Maha Mencintai kita, buatlah cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan. Mulailah mencintaiNya, mulailah tidak mengecewakan zat yang kita cintai itu, mulailah berterima kasih atas seluruh apa yang telah diberikannya pada kita. Caranya? Lakukan apa yang diperintahNya, tinggalkan apa yang dilarangNya, Cintai apa yang dicintaiNya.

Ternyata, sendiri tidak selalu menakutkan, melainkan suatu berkah tersendiri, yang dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar. Sendiri adalah waktu rehat sejenak yang kita butuhkan, untuk kita dapat melakukan lompatan jauh ke depan, jika saja kita mau mengelola kesendirian itu dengan benar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar