Rabu, 25 Januari 2017

Perjalanan Pulang Atok (cerpen)


Suara sepatu laras panjang itu, tak…tuk, tak…tuk. Mengejutkan Mbok Yus, sekaligus membuat jantungnya seakan-akan  putus. Hilir-mudik, hilir-mudik. Satu-satu teman gelandangannya dipanggil dan dibawa ke ruangan lain. Tepatnya diseret, bukan digiring.  Tak-tuk, tak…tuk,  jantung Mbok Yus semakin berdegub. Semakin kaget lagi, mendengar jeritan suara teman-teman dari ruang Interogasi. Apa yang terjadi dengan mereka di ruangan interogasi itu?  Demikian tanya bathin Mbok Yus.
 Ruang SatPol PP itu, memang bagian ruangan yang menakutkan bagi para gelandangan. Tak jarang mereka mendapat perlakuan kasar. Dihinakan, direndahkan, dikasari, bahkan bagi sebagian gelandangan muda wanita, ada yang dilecehkan.  Satu-satu dibawa ke dalam dan satu-satu jumlah yang berada di ruang tunggu berkurang.
Mbok Yus belum juga mendapat giliran. Hatinya, makin kecut saja,  membayangkan perlakuan yang bakal diterimanya. Lalu,  setelah melewati pemeriksaan panjang, Mbok Yus akan diantar  ke panti Rehabilitasi Sosial.
Membayangkan akan diantar ke Panti  Rehabilitasi Sosial, hati Mbok Yus semakin kecut saja. Mbok Yus tidak memikirkan dirinya sendiri saja.  Tetapi, bagaimana dengan Atok? Lelaki tua itu, kini sedang terbaring sakit di gubuknya. Gubuk Mbok Yus dan Atok. Di balik tumpukan sampah pada TPA* di kotanya. Kini saja, Mbok mulai gelisah memikirkan Atok dengan sakitnya. Bagaimana pula nanti, jika dia harus diantar ke panti Rehabilitasi Sosial?. Untuk lari dari ruangan itu, rasanya tidak mungkin. Pasti Mbok Yus akan tertangkap, tembok yang mengelilingi ruangan ini, begitu tinggi. Belum lagi, ruangan ini berada di tengah. Sebelum dia tiba dipintu gerbang.  Tentu, Mbok Yus sudah tertangkap.
Tak..tok, tak..tok, Sepatu laras panjang itu, berjalan mengarah pada mbok Yus. Mbok Yus makin pucat saja. Ya Allah…. Inilah akhir dari segalanya.  Mula-mula suara bentakan, dan mereka mencatat sesuatu, lalu dinaikkan mobil besar, dan akhirnya tiba di Panti Rehabilitasi Sosial. Disanalah Mbok Yus untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Tinggallah Atok sendiri, di gubuk mereka. Menahan sakit, lapar dan dahaga sendiri, bahkan mungkin, meregang nyawa sendiri pula.
“Mbok….. Bangun”. Suara petugas itu, demikian dekat di telinganya. Menyuruh Mbok Yus bangun. Sebenarnya, Mbok Yus tidak tidur, hanya menutup mata, tak kuat membayangkan apa yang akan terjadi pada Atok jika dia telat pulang. Apalagi, jika dia harus dibawa ke Panti Rehabilitasi Sosial.
“Iya… pak” jawab Mbok Yus. Membuka mata. Dia menggeser duduknya, menjauh dari petugas satpol PP itu.  Ada getar suara yang menandakan ketakutan Mbok Yus.
“Mbok… Jangan takut ya, Mbok akan saya bawa ke ruangan pimpinan, mari Mbok”. Kata petugas itu lagi. Perlakuannya sangat berbeda dengan yang dibayangkan Mbok Yus. Lembut dan penuh rasa hormat pada orang tua.  Mbok Yus berdiri, berjalan tertatih di belakang petugas. Arahnya, tak sama dengan teman-temannya. Tapi, berbelok ke kanan, kearah ruangan pimpinan satpol PP. ada apa ini? Mengapa aku dibedakan? Mungkinkah hukuman yang akan kuterima, akan jauh lebih berat, disbanding teman-teman. Demikian, Tanya Mbok Yus dalam hati.
*******  
“Silahkan duduk Mbok….” Kata pimpinan itu, ramah.  Dari sudut matanya, Mbok Yus dapat membaca, namanya Sumpeno.
“Saya di sini saja Pak” jawab Mbok Yus sembari duduk di lantai. Di sebelah kursi yang tersedia di ruang pimpinan Satpol PP itu. Rasanya, tak pantas dia duduk di situ. Bagaimana, jika kursi itu kotor terkena bajunya.
“Mari… Mbok” kata Peno lagi, menghampiri Mbok Yus, dan membimbingnya untuk duduk di kursi tamu. Mbok Yus berdiri, mengikuti kemana arah Peno mendudukannya di kursi pada ruang pimpinan,  yang sejuk ber AC itu.
Sementara Mbok Yus duduk, Peno kembali ke Mejanya. Dia mengeluarkan sebuah foto berukuran 10R, lalu berjalan ke tempat duduk, di ruang tamu dimana Mbok Yus duduk.
“Mbok kenal dengan lelaki di Foto ini?” Tanya Peno, sambil memperlihatkan foto yang tadi dikeluarkannya dari laci meja.  MasyaAllah… itu adalah foto dirinya dengan Atok. Dimana pak Peno dapat itu? Lalu, mengapa dia bertanya kenal atau tidak? Apa yang akan diperbuat pak Peno pada Atok? Tanya Mbok Yus dalam hati.
“Bagaimana mbok… Mbok kenalkan?” Tanya Peno lagi, suaranya lembut, tidak ada nada marah, tidak ada bentakan. Bagaimana aku bias berbohong, pura-pura tidak kenal, sementara wanita yang berada disebelah Atok adalah aku. Begitu bathin Mbok Yus.
“Iya.. pak. Saya kenal” jawab Mbok Yus singkat.  Gejolak dihatinya makin tidak karuan. Bagaimana ini selanjutnya.
“Alhamdulillah…. Mbok juga tahu tempat tinggalnya?” Tanya Peno lagi.  Duh… bencana apa lagi yang akan terjadi. Tapi, berbohong, juga bukan jalan terbaik. Dia dan Atok hidup bersama. Lalu, bagaimana mungkin, mengatakan kalau dia tidak tahu, tempat tinggal lelaki tua yang hidup bersamanya itu. Bhatin Mbok Yus lagi.
“Tetapi…”kata Mbok Yus lagi. Kalimatnya belum selesai. Dia ingin mengatakan, bahwa lelaki itu, kini sedang terbujur sakit di gubuk reyotnya.
“Begini saja Mbok, Mbok Makan dulu saja, mbok pasti belum makan kan? Setelah Mbok selesai makan, kita ke tempat laki-laki itu” kata Peno lagi. Lalu, Peno memanggil anak buahnya untuk membali nasi Rames, pada warung Padang yang ada dekat kantor satpol PP itu.
Sementara, Mbok Yus menunggu anak buah Peno membeli nasi Padang. Peno kembali ke mejanya, meneruskan pekerjaannya.
*****
Perjalanan Mbok Yus dan Peno sudah memasuki tapal batas kota. Mbok Yus menunjukan arah jalan, berbelok ke kiri. Itu artinya, menuju arah TPA, jarak untuk tiba di sana, kira-kira enam kilometer lagi.
Awalnya, Mbok Yus agak risih dan takut untuk duduk disebelah Peno. Risih karena kendaraan itu, sungguh terlihat mewah. Takut, kalau akan terjadi apa-apa terhadap Atok dengan kedatangan Peno. Tetapi, sikap Peno yang sopan, perlahan-lahan menghilangkan rasa takut itu.
“Sudah lama kenal dengan pak Atok Mbok?” Tanya Peno. Matanya, tetap menatap ke depan. Berusaha menjaga, agar mobil tidak masuk lubang, jalan yang dilalui mulai banyak yang berlubang di sana-sini.
“Sejak tahun 1992 pak” jawab Mbok Yus. Wah…. Mulai ngorek-ngorek nih. Bhatin Mbok Yus.
“Tinggal di tempak yang sekarang sudah lama, Mbok?” Tanya Peno lagi.
“Baru setahun pak” Jawab Mbok Yus lagi.
“Ooo.. pantesan” jawab Peno lirih. Hampir tak terdengar. Kalau saja Mbok Yus tidak sedang melihat Peno, tentunya Mbok Yus tidak akan mendengar.
“Maksudnya gimana pak” Tanya Mbok Yus, penasaran. Apa maksud Peno dengan kata pantesan yang barusan diucapkannya.
“Setahun lalu, saya pernah mencari pak Atok ditempatnya, sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh orang yang memberikan foto itu. Tetapi, waktu itu, beliau sudah tidak berada disitu lagi” jelas Peno pada mbok Yus.
“oooo… jadi Bapak dapat foto itu, dari Mas Ferry ya?”
“Bener Mbok. Dia wartawan yang  mewawancarai Mbok Yus waktu dulu” terang Peno. Jelaslah kini, darimana Peno memperoleh  foto Mbok Yus dan Atok. Tapi, siapakah Peno ini? Mengapa dia sangat berkepentingan dengan Atok? Apakah Atok pernah punya masalah dengan Peno? Pernah menipunya atau berhutang? Setahu Mbok Yus, Atok selalu bersamanya, sejak mereka meninggalkan Surabaya pada tahun 1992 dulu.
“Kalo Mbok gak keberatan dan percaya sama saya. Tolong ceritakan tentang Atok itu. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbok, begitu juga dengan pak Atok”. Kata Peno lagi. Kalimat itu, begitu memelas, hingga meluluhkan hati Mbok Yus. Ada kejujuran pada suara itu. Rasa curiga pada Mbok Yus hilang, berganti Iba.


****
Mbok bukanlah wanita baik-baik pak. Waktu itu, Mbok bekerja di diskotik Mawar di daerah Jembatan Merah Surabaya. Mbok melayani semua lelaki yang datang. Salah satu pelanggan Mbok, Pak Atok itu. Orangnya sopan, perlente dan tidak kasar. Di diskotik itu, banyak ABG. Tapi, pak Atok selalu memilih Mbok.  Sadar usia Mbok sudah STW*, maka, satu-satunya modal yang dapat Mbok andalkan, pelayanan prima pada para tamu. Mbok melayani tamu, sesempurna yang dapat Mbok lakukan. Entah karena pelayanan itu, entah karena frekwensi pertemuan kami yang intens. Akhirnya, Pak Atok menyatakan cintanya pada Mbok.
Malam itu, Mbok masih ingat. Malam kamis. Pak Atok datang agak larut. Wajahnya tidak seperti biasa. Terlihat tegang dan serius. Pak Atok, memberitahukan pada Mbok, kalau dia serius ingin menghabiskan sisa usianya bersama Mbok. Mbok tidak diperkenankan lagi bekerja, khususnya di Diskotik. Pak Atok berencana membawa Mbok malam itu. Di Jakarta, kelak “kita akan menghabiskan sisa usia kita berdua” begitu kata pak Atok.
Wanita mana yang tak tersanjung lelaki Pak? Apalagi wanita STW seperti Mbok. Wanita yang berprofesi sebagai sampah masyarakat. Dengan sepenuh hati, mbok terima tawaran itu. Kami bersumpah, untuk saling setia, saling mendukung, hingga ajal kelak yang memisahkan. Meski, tanpa sumpah itupun, Mbok telah bertekad bulat, berbakti pada lelaku yang telah berjasa mengeluarkan Mbok dari jurang kenistaan.
Maka, ketika Diskotik Mawar tutup pada jam tiga pagi, kami berdua  keluar. Mengucapkan selamat tinggal pada dunia lama, bertekad sepenuhnya menyonsong dunia baru, dunia yang hanya setia pada satu pasangan.
Mobilpun hidup, perlahan-lahan bergerak, meninggalkan daerah Jembatan Merah, menuju arah luar kota, meninggalkan Surabaya. Meninggalkan masa lalu kelam untuk masuk pada masa depan yang lebih cerah. Meskipun Mbok tahu, apa yang akan kami perbuat, bukan suatu yang mudah. Tapi, berjalan bersama orang yang sangat mencintai kita, apa yang perlu dirisaukan, apa yang perlu ditakutkan.
Tapi, itulah perjalanan hidup. Tak selamanya indah. Dibalik kebaikan yang dimiliki pak Atok, ternyata pak Atok banyak pula kelemahannya. Beliau, peminum berat, bukan pekerja tangguh, dan yang lebih mengenaskan, mobil dan segala yang kami miliki. Ternyata, harta warisan yang mestinya dia berikan dan nikmati bersama anak dan isterinya di Malang.
Setelah dua puluh tahun usia pernikahan kami. Beginilah kenyataan yang kami hadapi. Kami hanyalah dua orang gelandangan tua. Tanpa keturunan. Tinggal di rumah kardus, pada tumpuhan sampah, di TPA. Dan yang miris lagi, kini pak tua Atok itu, sedang sakit parah di rumah kardus kami. Begitulah cerita Mbok Yus pada Peno. Jalan dimuka mobil mereka makin parah. Kini, bukan hanya lubang, tetapi sudah nyaris berbentuk kubangan. Mobil terguncang-guncang dengan hebatnya.
“Bolehkah  saya minta permohonan Mbok?” tiba-tiba Peno bicara, setelah sekian lama hanya diam mendengarkan Mbok Yus cerita.
“Tentu pak, apakah itu?” Tanya Mbok Yus.
“ijinkan saya memanggil Mbok dengan Ibu dan jangan panggil saya Bapak. Cukup dengan Peno saja Bu” ada getar suara melankolis pada nada suara Peno.
“Mengapa bisa begitu?” Tanya Mbok Yus, tak mengerti.
“Pak Atok itu, ayah saya Bu. Terima kasih Ibu sudah menjaganya selama 22 tahun ini”
“Okh… MasyaAllah. Ibu sudah berbuat jahat pada nak Peno. Merebut pak Atok dari Ibu nak Peno dan dari nak Peno sendiri” kata Mbok Yus lagi.
“Tidak bu, semuanya memang sudah seharusnya begitu. Ibu meninggal 5 tahun setelah Ayah pergi. Kini, yang tinggal, hanya Ibu Yus dan Ayah Atok” kata Peno lagi.  Getar suara dan raut wajah Peno menggambarkan suasana haru yang sangat.
Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Peno berhenti. Peno memandang Mbok Yus. Mbok Yus memandang Peno. Keduanya saling berpandangan. Denga  sekali rengkuh, keduanya sudah saling berpelukan. Ada tangis yang mengiringinya, ada air mata yang jatuh bersamanya.

Meski, yang terlihat diluar, jelas pelukan antara seorang wanita gelandangan tua dengan seorang kepala satpol PP. Tetapi, sesungguhnya yang terjadi, peluk bahagia antara seorang anak yang merindukan orang tua dan tangis orangtua yang merasa bersalah dengan segala perilaku masa lalunya.
*****
Suasana dalam ruangan ukuran 2 x 3 m itu, sangat krodit. Tumpukan kardus disana-sini, tinggi atap gubugnya hanya sekitar 1.5 meter, tak cukup untuk berdiri tegak orang dewasa. Pada sudut pojok sebelah utara, terbujur lelaki tua yang kurus kering, dimakan usia, digerogoti racun miras dan virus penyakit.
Peno sungguh tak menyangka, beginilah kondisi oarng yang dirindukannya selama ini. Orang yang telah berjasa membawanya kea lam dunia, sekaligus yang telah menyebabkan kehidupan Ibu dan dirinya sengsara. Meski begitu, semua marah dan dendam itu, seakan sirna terkalahkan dengan iba dan pertalian darah antara mereka. Sementara Mbok Yus mematung dibalik punggung Peno, menyaksikan kejadian yang tiba-tiba dan diluar perkiraannya.
“Ayah…” suara dan pelukan Peno, menghambur pada sosok tua lemah itu. Atok membuka mata, ada binar dimata itu, tak jelas artinya, apakah sedih, gembira, menyesal, malu atau apa? Atau kombinasi dari semua itu.
“ini Peno Ayah…. Ayah masih ingat kan?”.
Kembali Atok membuka mata, ada rengkuhan tangan agak kuat, terasa pada punggung Peno, untuk kemudian melemah dan mata tua itu kembali tertutup. Peno tahu, itulah rengkuhan terakhir Ayahnya. Bagai lampu minyak teplok, sebelum sinarnya padam, biasanya akan membesar sebentar, untuk selanjutnya padam untuk selamanya. Itulah yang terjadi pada Atok, ayah Peno
 *****
Jam telah menunjukkan pukul dua dinihari, sore tadi, jenazah Atok telah tiba di RSCM, dengan maksud untuk dilakukan visum dokter. Namun, dengan segala data dan jabatan yang disandang Peno. Jenazah Atok tak jadi di visum. Pihak RSCM telah membekali segala surat menyurat administrasi yang dibutuhkan untuk pemakaman Atok di Malang. Semua sudah komplit..plit.
Perlahan-lahan Ambulance meninggalkan halaman RSCM. Masuk jalan Diponegoro, untuk selanjutnya berbelok ke kanan, melewati depan RS Saint Carolus, lalu lurus menuju Cawang, untuk selanjutnya menuju Malang. Tempat dimana jenazah nan berada dalam ambulance itu berasal.
Inilah perjalanan pulang Atok, setelah 22 tahun meninggalkan Surabaya. Janjinya pada Mbok Yus telah dia penuhi, untuk menghabiskan sisa usia bersama, hingga kelak, hanya ajal yang memisahkan keduanya. Janji Yus pada Atok pun telah dia penuhi. Mengabdikan seluruh sisa hidupnya pada Atok.
Di Ambulance itu, Yus tetap setia menemani Atok, mengantarkan sang lelaki pujaan, hingga liang lahat. Tempat peristirahatannya yang terakhir. Sepahit apapun kehidupan yang mereka jalani bersama, Atok telah berjasa mengangkatnya dari lembah hina, memberinya kebahagiaan dan arti kesetiaan pada satu pasangan.

Keterangan:
TPA                  = Tempat Pembuangan sampah Akhir.

STW                 = Istilah untuk wanita paruh baya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar