Senin, 02 Januari 2017

Mentertawai Diri Sendiri

Tertawalah.. sebelum dilarang
Umumnya, tertawa ekspresi gembira, meskipun menangis juga bisa disebabkan karena kegembiraan yang berlebihan. Tetapi yang jelas, gak ada ekspresi sedih dengan tertawa.
Banyak ekspresi tertawa, ada yang terbahak-bahak, ada tertawa terkekeh-kekeh, ada yang tertawa lepas, tertawa tanpa expresi, ada pula yang sampai sakit perut karena begitu ekspresifnya, ada yang dengan membuka mulut sekedarnya, ada pula yang hanya dengan tersenyum saja.
Zaman booming warkop DKI, yang sebelumnya bernama Prambors, ada anekdot yang sangat popular, tertawalah…. Sebelum tertawa itu dilarang. Bisa kita bayangkan jika tertawa dilarang, begitu seremnya dunia ini, dimana-mana kita ketemu manusia dengan wajah “manyun” lalu betapa sibuk para petugas untuk untuk mencari dan penangkap pesakitan yang terindikasi melanggar hukum karna pelanggaran “tertawa”. Antara petugas dan mereka yang diawasi, sama-sama manyun…. Hehehe.


Tertawa yang selama ini kurang kita perhatikan, ternyata bukan hal bisaa, tetapi luar bisaa. Betapa banyaknya industry tertawa, yang membuat pelakunya menjadi selebrity dan mampu mengisi pundi-pundinya dengan bilangan rupiah yang tidak sedikti. Sebut saja Sri Mulat, siapa yang gak kenal dengan group ini, lalu ada Jayakarta Group, ada Warkop DKI, ada Bagito dan masih sejibun Group lawak yang lain. Belum nama-nama personilnya yang sudah tak asing lagi, ada Bagyo, Ateng, Edi Sud, Sol Soleh, Dono, Kasino dan Indro, serta Pelawak dengan aneka talenta seperti Bing Slamet dan Kris Biantoro.  Untuk yang lebih update, kini  ada yang disebut dengan  Stand Up Komedi.
Zaman berubah, kondisi industry tawa inipun mengalami transformasi. Kalau sebelum reformasi para pelawak ini hanya bergelut pada dunia seni, setelah reformasi, namanya mereka bukan lagi pelawak, tetapi pesohor tawa, dunia yang dimasukipun sudah mulai menjalar kedunia politik. Ada yang jadi anggota DPR, ada yang jadi wakil Bupati dan banyak lagi yang lain.
Ada juga peofesi atau institusi yang awalnya disegani, membuat orang berhenti tertawa ketika mendengar institusi itu. Tetapi, kini apa yang telah dipertontonkan mereka, menjadikan kita tertawa. Sebut saja, bagaimana berwibawanya seorang Gubernur, lalu dengan tanpa malu sedikitpun, masih melampaikan tangannya, sementara borgol melekat di tangan itu. Demikian juga, untuk contoh yang lain, ketua MK dipermalukan dengan tindakan korupsi yang dia lakukan. Sebuah tontonan yang lebih lucu dari Srimulat sekalipun.
Kejadian lain pada akhir 2016, tidak kalah lucunya. Kehadiran tenaga kerja asing asal China sudah demikian jelas terang benderang, terjadi disemua daerah, bukan hanya di kabarkan oleh media sosial, bahkan media meanstream yang belakangan lebih dekat pada penguasa daripada kebenaran informasi, turut juga mengabarkan kehadiran tenaga aseng. Namun, kepala Negara dengan sekuat tenaga menyangkal hal demikian. Bahkan pada sebuah kesempatan Kepala Negara, memerintahkan menangkap mereka yang memberitakan berita hoax tentang tenaga ilegal asing asal China. Di kesempatan lain Kepala Negara juga menyatakan bahwa kehadiran tenaga asing asal China, sebagai bentuk transfer ilmu pada masyarakat Indonesia. Pertanyaannya, transfer apa yang bisa mereka lakukan, jika mereka sendiri hanya buruh kasar. Sebuah pertunjukan dagelan yang sangat lucu, tela dipertontonkan oleh penguasa pada rakyatnya.
Tertawa, juga ternyata memiliki nilai manfaat yang tidak kecil, tertawa mampu meningkatkan sel pembentuk system kekebalan tubuh, itu sebabnya kenapa orang yag suka tertawa,umumnya sehat dan sukar terjangkiti penyakit. Tertawa juga menyehatkan jantung, memusnahkan rasa marah, benci, sakit hati dan energy-energi negative lain. Tertawa juga dapat membakar kalori, sehingga tertawa 15 menit akan membakar 50 kalori dalam tubuh dan yang sangat penting, tertawa dapat menular pada lingkungan sekitar, sehingga ketika kita tertawa orang sekitar dapat ikut tertawa atau minimal menerima rasa bahagia yang ditularkan dari rasa bahagia karena tertawa.
Lalu apa hubungan tertawa itu dengan kita? Ternyata,  tertawa  merupakan indikasi tingkat kemampuan intelektual kita. Kalau tidak percaya, Tanya pada mereka yang berprofesi sebagai pelawak, betapa sulitnya mereka membuat orang tertawa. Atau coba anda lakukan sendiri.
Puncak dari kecerdasan dan proteksi diri yang paling oke, adalah ketika kita mampu mentertawakan diri sendiri. Tertawakanlah diri kita sendiri, buat diri sendiri jadi bahan, yang bisa kita dijadikan olok-olok untuk diri sendiri.

Kegagalan mentertawakan diri sendiri, akibatnya fatal. Fungsi diri akan diambil alih oleh orang lain. Jadilah mereka mentertawakan diri kita, mengolok-olok diri kita. Akibatnya, sungguh absurd, miris dan memalukan. Karena, mereka mentertawakan tanpa batas jelas, tanpa nilai dan kemungkinan keluar konteks dari apa yang kita lakukan.

Jadilah manusia yang cerdas, yang mampu mentertawakan diri sendiri. Sebelum kita ditertawakan orang lain atau lingkungan, apalagi oleh seluruh rakyat 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar