Sabtu, 21 Januari 2017

Dari Lebak Untuk Indonesia

Keindahan Lebak yang terselimuti awan duka (dok.Pribadi)
157 tahun silam, tepatnya tahun 1860, untuk pertama kalinya buku Max Havelaar terbit. Sejak itulah gema Lebak, bukan hanya bergema di Eropah, khususnya Belanda. Tetapi, menggema ke seluruh dunia. Daerah yang dijelelahi oleh Lebak, seluas daerah dimana Max Havelaar diterjemahkan ke dalam bahasa daerah-daerah tersebut.  Dengan induk-induk bahasa seperti Perancis, Inggris, Portugis. Sebagai Negara-negara yang memiliki daerah jajahannya sendiri. Mengingat luasnya daerah jajahan Inggris, Perancis dan Portugis, dapat disimpulkan Max Havelaar dibaca dihampir ¾ luas permukaan bumi. Imagine!.
Belum lagi, belakangan, Max Havelaar menjadi bacaan wajib bagi para pelajar Eropah.
Akibatnya apa? Pemerintah Kolonial Belanda panik. Tekanan yang demikian keras pada pemerintah Kolonial Belanda, memaksa mereka, untuk merubah politik Tanam Paksa dan menggantikannya dengan menerapkan Politik Etis. Politik Balas Budi. Politik yang memberi izin pada kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan.
Terlepas, dari kontroversial, bahwa politik etis, pada akhirnya menguntungkan Kolonial Belanda, karena untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketrampilan dasar dapat diserahkan pada kaum bumi putera. Akibatnya, ongkos produksi dapat lebih ditekan dan sekaligus mendudukkan “Belanda” pada kelas yang lebih tinggi lagi. Karena, mereka lebih dapat fokus pada level pekerjaan yang lebih “tinggi” lagi.
Namun, roda itu telah bergulir, dan Kolonial Belanda tak mampu untuk menghentikannya. Di generasi pertama, mungkin teori itu benar. Tetapi, Belanda tanpa disadarinya telah menciptakan kelas baru pada kaum pribumi. Kelas baru itu, kemudian, selalu saja, menyekolahkan anak-anak mereka. Pada generasi kedua, ketiga dan seterusnya inilah yang kelak menjadi “generasi terpelajar” dari kaum Bumi Putera. Generasi terpelajar yang menyadari akan harkat diri mereka sebagai bangsa terjajah dan sekaligus mencita-citakan Indonesia Merdeka.
Jadi, Max Havelaar sebagai pemicu perubahan arah politik Kolonial Belanda, realita yang tak terbantahkan. Kejadian yang diceritakan oleh Max Havelaar, berlokasi di Lebak, juga tak terbantahkan. Bahkan, Multatuli dalam banyak kesempatan “menantang” pemerintah Kolonial untuk membuktikan bahwa data-data yang dia ceritakan dalam Max Havelaar adalah data bohong, data tidak valid. Tantangan yang hingga hari ini, tidak pernah berani dibuktikan oleh Kolonial Belanda.
Inilah sumbangan Lebak untuk Indonesia. Penderitaan yang dialaminya, menginspirasi untuk Indonesia merdeka. Bukan main.
Syahdan, seorang anak lelaki kecil di daerah Lebak bernama Saijah kecil yang menyayangi kerbau miliknya seperti sahabat sendiri. Namun, Sayangnya kebahagiaan itu tak bertahan lama. Berkali-kali kerbau milik Saijah diambil paksa oleh orang-orang suruhan Bupati Lebak dan Demang Parungkujang, yang masih terhitung kemenakan dari sang Bupati. Tak ada rakyat yang berani melawan.
Pemerasan ini terjadi terus dan terus. Hingga akhirnya Ayah Saijah tidak memiliki apa-apa lagi. Semua harta kekayaannya habis diperas oleh Bupati Lebak dan Demang Parangkujang. Ibu Saijah terpukul atas perlakuan semena-mena yang menimpa anaknya. Dia sakit, hingga akhirnya meninggal.
Sepeninggalan istrinya, ayah Saijah stres. Dan meninggalkan kampung halamannya. Sebabnya, Ayah Saijah tidak dapat membayangkan bagaimana kemarahan sang Demang jika dirinya tidak mampu membayar pajak. Ayah Saijah pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Dalam kesedihan, Saijah tumbuh menjadi seorang pemuda. Lalu, pemuda tanggung itu, menjalin kasih dengan Adinda, sahabat yang dikenalnya sejak kecil. 
Saijah lalu pergi ke Batavia, menjadi pelayan pada seorang Belanda dengan memelihara kuda sang Tuan. Dengan satu tujuan, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, agar kelak dapat melamar Adinda, dengan uang yang dikumpulkannya.
Tahun-tahunpun berlalu, tibalah saatnya Saijah kembali ke kampungnya. Namun bukan cinta yang didapatnya, tetapi kekecewaan yang menunggunya. Saijah mendapati Adinda dan ayahnya sudah tak ada di kampung itu. Adinda dan Ayahnya, terlah melarikan diri dari kampung. Karena, tak bisa membayar pajak dari penguasa.
Saijah memperoleh kabar, jika Adinda dan ayahnya bergabung untuk melawan tentara Belanda di Lampung. Saijah mencoba pun menapaki jejak mereka. Diseberanginya lautan. Namun, ternyata pencarian ternyata berbuah pahit. 
Dalam sebuah pertempuran Saijah menemukan Adinda sudah meninggal. Tubuhnya penuh luka dan diperkosa tentara Belanda. Melihat itu, Saijah mengamuk. Pemuda putus asa ini berlari ke arah sekumpulan tentara Belanda yang menghunus bayonet. Dia menghujamkan tubuhnya pada bayonet serdadu yang tajam. Adinda dan Saijah tewas.
Saijah dan Adinda, adalah potret korban kolonialisme bangsa asing dan keserakahan pejabat dari bangsanya.

Sumbangsih Lebak yang lain.
Bukan hanya keringat dan air mata Saijah dan Adinda yang diberikan Lebak pada Indonesia. Tambang Emas tertua di Indonesia, Cikotok adalah sumbangsih lain Lebak pada NKRI, tak terhitung jumlah tonnage emas yang berhasil diexploitasi dari Lebak. Sejak 1939 tambang Emas tertua ini, mulai diexploitasi oleh perusahan Tambang Belanda NV. Mijnbouw Maatschappy Zuid Bantan (NV. MMZB).
Belum lagi Batu Bara yang dihasilkan Lebak, tepatnya di pesisir selatan lebak, daerah Bayah dan sekitarnya. Pada awal-awal abad ke Sembilan belas, pulau Jawa pernah tergantung pada energy batu bara yang berasal dari Lebak. Demikian besar ketergantungan itu. Hingga ketika terjadi peralihan pemerintahan penjajah dari Belanda ke Jepang. Jepang merasa perlu memastikan bahwa pasokan batu bara Bayah selamat sampai tiba di Jakarta. Mengingat kondisi keamanan laut yang mengkhawatirkan saat itu, maka Jepang perlu membuat Jalur KA Saketi–Bayah dengan cara kerja paksa, yang kelak kita kenal sebagai system  kerja Rhomusa.   
Lalu apa yang diperoleh Lebak dengan segala sumbangsihnya untuk Indonesia itu? Nyaris tidak ada. Hingga kini, daerah yang hanya sepelemparan dari Jakarta itu, masih masuk daerah kabupaten tertinggal di Indonesia. Bahkan, ketika di daerah Lebak didirikan Industri Semen Merah Putih, yang diklaim sebagai pabrik Semen terbesar di Indonesia, masyarakat tak memperoleh keuntungan apa-apa, selain sarana transportasi di daerah ini yang semakin hancur dan memprihatinkan.

Agaknya, pola para Penguasa yang hanya memperalat masyarakat Lebak sebagai obyek, belum juga berubah, sejak kisah Saijah dan Adinda terjadi 157 tahun lalu… Wallahu A’laam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar