Minggu, 15 Januari 2017

Ali Bin Abi Talib (Resensi Buku )

Cover Ali Bin Abi Talib (dok.Pribadi)

Judul                  : Ali Bin Abi Talib
Penulis               :  Ali Audah
Tanggal Terbit     :  Oktober 2003
Penerbit              :  Litera AntarNusa. Jakarta.
Tebal Halaman     :  X + 493 hlmh

Ali termasuk salah satu dari sepuluh sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang dijamin masuk Syurga. Kecerdasan Ali diakui oleh Nabi. Hanya dia diantara Khulafa’ ar-Rasyidun yang meninggalkan sebuah karya monumental, “Nahj al-Balagah’.
Sejarah membuktikan, bahwa Ali adalah tokoh muda pemberani masa itu. Sebagai tameng hidup nabi, pada saat nabi melakukan hijrah. Membuat ciut nyali musuh dalam beberapa peristiwa penting. Serta penakluk benteng Khaibar. Kontroversi tentang dirinya pun, tak kalah hebatnya, pengangkatan ke-khalifah-an setelah nabi, kematian Ustman bin Affan, pemberontakan dua kelompok  oposisi, Aisyah dan Mu’awiyah hingga terbunuhnya Ali di tangan Ibnu Muljam seorang Khawarij.
Biografi hidup Ali Bin Abi Talib, yang ditulis Ali Audah, sebagaimana yang digaransi oleh penulisnya, InsyaAllah bersih dari segala kepentingan dan tidak memihak salah satu kelompok manapun, karena ditulis berdasarkan sumber-sumber sejarah yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya bersifat deskriptif melainkan juga berdasarkan study analitis. Sejak kelahirannya hingga dewasa, sampai beliau tutup usia. Semuanya dikupas tuntas disertai analisa yang  tajam.
Ali adalah tokoh yang menarik untuk ditelaah, kedudukannya secara kekeluargaan yang dekat dengan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai sepupunya yang telah diasuh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sejak kecil, dibesarkan dalam didikannya bersama Khadijah, sehingga Ali memandang keduanya sebagai orang tuanya sendiri.
Ali Bin Abi Talib juga, dikenal sebagai seorang sahabat besar, berakhlak mulia, zahid yang dijadikan teladan, bersikap lemah lembut terhadap siapapun dengan kecenderungan pada keadilan dan kebenaran yang sangat kuat. Ali dikenal juga sebagai intelektual, cerdas dan pemberani. Watak dan sifat-sifatnya yang terpuji telah dibuktikan oleh sejarah, diakui secara umum. Dia disegani dan menjadi tempat bertanya para sahabat. Beberapa kali Umar menyebutkan “untung ada Ali diantara kita” ketika Ali mampu menyelesaikan dengan tepat perkara-perkara pelik, seperti perhitungan harta warisan yang syarat dengan perhitungan angka-angka dan penjelasan masalah qada dan qodar. 
Satu hal yang juga tidak lazim pada Ali Bin Talib, tentang pemberian nama. Umumnya, pada keluarga Qurais ketika itu, nama seorang anak diberikan oleh sang Ayah. Namun pada Ali, yang memberikan nama adalah Ibunya. Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu-Manaf. Dengan nama “Haidar” yang berarti Singa.
Sedangkan Ali adalah nama panggilan yang berarti Agung. Panggilan yang kelak terbukti sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Ali.
Pernikahan  Abu Talib dengan Fatimah memperoleh empat orang anak laki-laki, Talib yang pertama, menyusul Aqil dan Ja’far dan akhirnya si Bungsu Ali. Sejak kecil, Ali tinggal bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Ali juga yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak.
Setelah dewasa, penulis-penulis Biografi dan Sejarah tentang Ali, melukiskan Ali sebagai pemuda yang memiliki fisik yang kuat. Ali tahan terhadap udara yang panas dan tahan pada udara dingin. Konon, masa musim dingin yang luar biasa, sampai membuat orang lain menggigil kedinginan, Ali tahan tidak menggunakan baju dingin. Tenaganya begitu kuat diatas tenaga orang rata-rata. Ali dapat membanting penunggang Kuda berikut Kudanya sekaligus. Menganggkat daun Pintu Gerbang seorang diri.
Pada anak nomer empat dari pasangan Abu Talib dan Fatimah inilah, buku Ali Bin Abi Talib dibahas secara tuntas oleh Ali Audah. Dengan menggunakan metode modern. Tidak memihak, menggunakan data sejarah yang valid dan analisa mendalam tentang hal-hal yang bersifat controversial. 
Sebagai pribadi, Ali memiliki kepribadian yang lengkap, Singa di medan tempur, lemah lembut dipergaulan kesehariannya. Akhlak Ali digambarkan sebagai apa yang diriwayatkan dalam sebuah hadist, “Ali maukah jika aku (Rasul) mengajarkan kepadamu perangai yang berlaku dahulu dan sekarang?” “Tentu” Jawab Ali.
“Berilah orang yang tidak pernah member padamu, maafkanlah orang yang telah merugikanmu, dan bersilaturahmilah pada orang yang telah memutuskan hubungan denganmu”
Demikian seksama Ali mematuhi semua itu, sudah berapa banyak orang berbuat zalim padanya, Ali maafkan. Ia mengadakan Silaturahmi dengan orang-orang yang memutuskan hubungan, betapa sering ia menahan marah.
Ada cerita menarik lain tentang Akhlak Ali bin Abi Talib. Suatu ketika Ali membeli seorang budak, lalu oleh Ali, sang budak diberi pelajaran agama hingga  benar-benar paham, setelah itu sang budak di-merdeka-kan. Tetapi, bekas budak itu, tak mau pergi meninggalkannya. Ketika Raja Najasyi, Raja Abisina meninggal dunia dunia dan terjadi kegelisahan politik di negri itu, kalangan terkemuka Abisina baru tahu bahwa budak itu adalah putra Raja Najasyi. Yang waktu kecil dulu diculik seorang pedagang budak dan kemudian dijual di Mekkah.  Mereka kemudian datang ke Mekkah dan menawarkan tahta kerajaan Abisina padanya, menggantikan mendiang Raja ayahnya. Ternyata, tawaran kerajaan itu ditolaknya dan ia tetap dalam Islam bersama Ali. Sebuah gambaran, bagaimana kuatnya pesona kharisma Ali pada orang-orang yang mengenalnya secara dekat.
Akhirnya, buku yang ditulis Ali Audah ini patut dan perlu untuk dibaca. Ali Audah juga dikenal sebagai sastrawan dan budayawan yang telah mengantarkan empat seri tokoh sejarah Islam (best seller) karya Muhammad Husain Haekal. Yakni Sejarah Hidup Muhammad, Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattan dan Usman bin Affan.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar