Rabu, 25 Januari 2017

Perjalanan Pulang Atok (cerpen)


Suara sepatu laras panjang itu, tak…tuk, tak…tuk. Mengejutkan Mbok Yus, sekaligus membuat jantungnya seakan-akan  putus. Hilir-mudik, hilir-mudik. Satu-satu teman gelandangannya dipanggil dan dibawa ke ruangan lain. Tepatnya diseret, bukan digiring.  Tak-tuk, tak…tuk,  jantung Mbok Yus semakin berdegub. Semakin kaget lagi, mendengar jeritan suara teman-teman dari ruang Interogasi. Apa yang terjadi dengan mereka di ruangan interogasi itu?  Demikian tanya bathin Mbok Yus.
 Ruang SatPol PP itu, memang bagian ruangan yang menakutkan bagi para gelandangan. Tak jarang mereka mendapat perlakuan kasar. Dihinakan, direndahkan, dikasari, bahkan bagi sebagian gelandangan muda wanita, ada yang dilecehkan.  Satu-satu dibawa ke dalam dan satu-satu jumlah yang berada di ruang tunggu berkurang.
Mbok Yus belum juga mendapat giliran. Hatinya, makin kecut saja,  membayangkan perlakuan yang bakal diterimanya. Lalu,  setelah melewati pemeriksaan panjang, Mbok Yus akan diantar  ke panti Rehabilitasi Sosial.
Membayangkan akan diantar ke Panti  Rehabilitasi Sosial, hati Mbok Yus semakin kecut saja. Mbok Yus tidak memikirkan dirinya sendiri saja.  Tetapi, bagaimana dengan Atok? Lelaki tua itu, kini sedang terbaring sakit di gubuknya. Gubuk Mbok Yus dan Atok. Di balik tumpukan sampah pada TPA* di kotanya. Kini saja, Mbok mulai gelisah memikirkan Atok dengan sakitnya. Bagaimana pula nanti, jika dia harus diantar ke panti Rehabilitasi Sosial?. Untuk lari dari ruangan itu, rasanya tidak mungkin. Pasti Mbok Yus akan tertangkap, tembok yang mengelilingi ruangan ini, begitu tinggi. Belum lagi, ruangan ini berada di tengah. Sebelum dia tiba dipintu gerbang.  Tentu, Mbok Yus sudah tertangkap.
Tak..tok, tak..tok, Sepatu laras panjang itu, berjalan mengarah pada mbok Yus. Mbok Yus makin pucat saja. Ya Allah…. Inilah akhir dari segalanya.  Mula-mula suara bentakan, dan mereka mencatat sesuatu, lalu dinaikkan mobil besar, dan akhirnya tiba di Panti Rehabilitasi Sosial. Disanalah Mbok Yus untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Tinggallah Atok sendiri, di gubuk mereka. Menahan sakit, lapar dan dahaga sendiri, bahkan mungkin, meregang nyawa sendiri pula.
“Mbok….. Bangun”. Suara petugas itu, demikian dekat di telinganya. Menyuruh Mbok Yus bangun. Sebenarnya, Mbok Yus tidak tidur, hanya menutup mata, tak kuat membayangkan apa yang akan terjadi pada Atok jika dia telat pulang. Apalagi, jika dia harus dibawa ke Panti Rehabilitasi Sosial.
“Iya… pak” jawab Mbok Yus. Membuka mata. Dia menggeser duduknya, menjauh dari petugas satpol PP itu.  Ada getar suara yang menandakan ketakutan Mbok Yus.
“Mbok… Jangan takut ya, Mbok akan saya bawa ke ruangan pimpinan, mari Mbok”. Kata petugas itu lagi. Perlakuannya sangat berbeda dengan yang dibayangkan Mbok Yus. Lembut dan penuh rasa hormat pada orang tua.  Mbok Yus berdiri, berjalan tertatih di belakang petugas. Arahnya, tak sama dengan teman-temannya. Tapi, berbelok ke kanan, kearah ruangan pimpinan satpol PP. ada apa ini? Mengapa aku dibedakan? Mungkinkah hukuman yang akan kuterima, akan jauh lebih berat, disbanding teman-teman. Demikian, Tanya Mbok Yus dalam hati.
*******  
“Silahkan duduk Mbok….” Kata pimpinan itu, ramah.  Dari sudut matanya, Mbok Yus dapat membaca, namanya Sumpeno.
“Saya di sini saja Pak” jawab Mbok Yus sembari duduk di lantai. Di sebelah kursi yang tersedia di ruang pimpinan Satpol PP itu. Rasanya, tak pantas dia duduk di situ. Bagaimana, jika kursi itu kotor terkena bajunya.
“Mari… Mbok” kata Peno lagi, menghampiri Mbok Yus, dan membimbingnya untuk duduk di kursi tamu. Mbok Yus berdiri, mengikuti kemana arah Peno mendudukannya di kursi pada ruang pimpinan,  yang sejuk ber AC itu.
Sementara Mbok Yus duduk, Peno kembali ke Mejanya. Dia mengeluarkan sebuah foto berukuran 10R, lalu berjalan ke tempat duduk, di ruang tamu dimana Mbok Yus duduk.
“Mbok kenal dengan lelaki di Foto ini?” Tanya Peno, sambil memperlihatkan foto yang tadi dikeluarkannya dari laci meja.  MasyaAllah… itu adalah foto dirinya dengan Atok. Dimana pak Peno dapat itu? Lalu, mengapa dia bertanya kenal atau tidak? Apa yang akan diperbuat pak Peno pada Atok? Tanya Mbok Yus dalam hati.
“Bagaimana mbok… Mbok kenalkan?” Tanya Peno lagi, suaranya lembut, tidak ada nada marah, tidak ada bentakan. Bagaimana aku bias berbohong, pura-pura tidak kenal, sementara wanita yang berada disebelah Atok adalah aku. Begitu bathin Mbok Yus.
“Iya.. pak. Saya kenal” jawab Mbok Yus singkat.  Gejolak dihatinya makin tidak karuan. Bagaimana ini selanjutnya.
“Alhamdulillah…. Mbok juga tahu tempat tinggalnya?” Tanya Peno lagi.  Duh… bencana apa lagi yang akan terjadi. Tapi, berbohong, juga bukan jalan terbaik. Dia dan Atok hidup bersama. Lalu, bagaimana mungkin, mengatakan kalau dia tidak tahu, tempat tinggal lelaki tua yang hidup bersamanya itu. Bhatin Mbok Yus lagi.
“Tetapi…”kata Mbok Yus lagi. Kalimatnya belum selesai. Dia ingin mengatakan, bahwa lelaki itu, kini sedang terbujur sakit di gubuk reyotnya.
“Begini saja Mbok, Mbok Makan dulu saja, mbok pasti belum makan kan? Setelah Mbok selesai makan, kita ke tempat laki-laki itu” kata Peno lagi. Lalu, Peno memanggil anak buahnya untuk membali nasi Rames, pada warung Padang yang ada dekat kantor satpol PP itu.
Sementara, Mbok Yus menunggu anak buah Peno membeli nasi Padang. Peno kembali ke mejanya, meneruskan pekerjaannya.
*****
Perjalanan Mbok Yus dan Peno sudah memasuki tapal batas kota. Mbok Yus menunjukan arah jalan, berbelok ke kiri. Itu artinya, menuju arah TPA, jarak untuk tiba di sana, kira-kira enam kilometer lagi.
Awalnya, Mbok Yus agak risih dan takut untuk duduk disebelah Peno. Risih karena kendaraan itu, sungguh terlihat mewah. Takut, kalau akan terjadi apa-apa terhadap Atok dengan kedatangan Peno. Tetapi, sikap Peno yang sopan, perlahan-lahan menghilangkan rasa takut itu.
“Sudah lama kenal dengan pak Atok Mbok?” Tanya Peno. Matanya, tetap menatap ke depan. Berusaha menjaga, agar mobil tidak masuk lubang, jalan yang dilalui mulai banyak yang berlubang di sana-sini.
“Sejak tahun 1992 pak” jawab Mbok Yus. Wah…. Mulai ngorek-ngorek nih. Bhatin Mbok Yus.
“Tinggal di tempak yang sekarang sudah lama, Mbok?” Tanya Peno lagi.
“Baru setahun pak” Jawab Mbok Yus lagi.
“Ooo.. pantesan” jawab Peno lirih. Hampir tak terdengar. Kalau saja Mbok Yus tidak sedang melihat Peno, tentunya Mbok Yus tidak akan mendengar.
“Maksudnya gimana pak” Tanya Mbok Yus, penasaran. Apa maksud Peno dengan kata pantesan yang barusan diucapkannya.
“Setahun lalu, saya pernah mencari pak Atok ditempatnya, sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh orang yang memberikan foto itu. Tetapi, waktu itu, beliau sudah tidak berada disitu lagi” jelas Peno pada mbok Yus.
“oooo… jadi Bapak dapat foto itu, dari Mas Ferry ya?”
“Bener Mbok. Dia wartawan yang  mewawancarai Mbok Yus waktu dulu” terang Peno. Jelaslah kini, darimana Peno memperoleh  foto Mbok Yus dan Atok. Tapi, siapakah Peno ini? Mengapa dia sangat berkepentingan dengan Atok? Apakah Atok pernah punya masalah dengan Peno? Pernah menipunya atau berhutang? Setahu Mbok Yus, Atok selalu bersamanya, sejak mereka meninggalkan Surabaya pada tahun 1992 dulu.
“Kalo Mbok gak keberatan dan percaya sama saya. Tolong ceritakan tentang Atok itu. Percayalah, saya tidak akan menyakiti Mbok, begitu juga dengan pak Atok”. Kata Peno lagi. Kalimat itu, begitu memelas, hingga meluluhkan hati Mbok Yus. Ada kejujuran pada suara itu. Rasa curiga pada Mbok Yus hilang, berganti Iba.


****
Mbok bukanlah wanita baik-baik pak. Waktu itu, Mbok bekerja di diskotik Mawar di daerah Jembatan Merah Surabaya. Mbok melayani semua lelaki yang datang. Salah satu pelanggan Mbok, Pak Atok itu. Orangnya sopan, perlente dan tidak kasar. Di diskotik itu, banyak ABG. Tapi, pak Atok selalu memilih Mbok.  Sadar usia Mbok sudah STW*, maka, satu-satunya modal yang dapat Mbok andalkan, pelayanan prima pada para tamu. Mbok melayani tamu, sesempurna yang dapat Mbok lakukan. Entah karena pelayanan itu, entah karena frekwensi pertemuan kami yang intens. Akhirnya, Pak Atok menyatakan cintanya pada Mbok.
Malam itu, Mbok masih ingat. Malam kamis. Pak Atok datang agak larut. Wajahnya tidak seperti biasa. Terlihat tegang dan serius. Pak Atok, memberitahukan pada Mbok, kalau dia serius ingin menghabiskan sisa usianya bersama Mbok. Mbok tidak diperkenankan lagi bekerja, khususnya di Diskotik. Pak Atok berencana membawa Mbok malam itu. Di Jakarta, kelak “kita akan menghabiskan sisa usia kita berdua” begitu kata pak Atok.
Wanita mana yang tak tersanjung lelaki Pak? Apalagi wanita STW seperti Mbok. Wanita yang berprofesi sebagai sampah masyarakat. Dengan sepenuh hati, mbok terima tawaran itu. Kami bersumpah, untuk saling setia, saling mendukung, hingga ajal kelak yang memisahkan. Meski, tanpa sumpah itupun, Mbok telah bertekad bulat, berbakti pada lelaku yang telah berjasa mengeluarkan Mbok dari jurang kenistaan.
Maka, ketika Diskotik Mawar tutup pada jam tiga pagi, kami berdua  keluar. Mengucapkan selamat tinggal pada dunia lama, bertekad sepenuhnya menyonsong dunia baru, dunia yang hanya setia pada satu pasangan.
Mobilpun hidup, perlahan-lahan bergerak, meninggalkan daerah Jembatan Merah, menuju arah luar kota, meninggalkan Surabaya. Meninggalkan masa lalu kelam untuk masuk pada masa depan yang lebih cerah. Meskipun Mbok tahu, apa yang akan kami perbuat, bukan suatu yang mudah. Tapi, berjalan bersama orang yang sangat mencintai kita, apa yang perlu dirisaukan, apa yang perlu ditakutkan.
Tapi, itulah perjalanan hidup. Tak selamanya indah. Dibalik kebaikan yang dimiliki pak Atok, ternyata pak Atok banyak pula kelemahannya. Beliau, peminum berat, bukan pekerja tangguh, dan yang lebih mengenaskan, mobil dan segala yang kami miliki. Ternyata, harta warisan yang mestinya dia berikan dan nikmati bersama anak dan isterinya di Malang.
Setelah dua puluh tahun usia pernikahan kami. Beginilah kenyataan yang kami hadapi. Kami hanyalah dua orang gelandangan tua. Tanpa keturunan. Tinggal di rumah kardus, pada tumpuhan sampah, di TPA. Dan yang miris lagi, kini pak tua Atok itu, sedang sakit parah di rumah kardus kami. Begitulah cerita Mbok Yus pada Peno. Jalan dimuka mobil mereka makin parah. Kini, bukan hanya lubang, tetapi sudah nyaris berbentuk kubangan. Mobil terguncang-guncang dengan hebatnya.
“Bolehkah  saya minta permohonan Mbok?” tiba-tiba Peno bicara, setelah sekian lama hanya diam mendengarkan Mbok Yus cerita.
“Tentu pak, apakah itu?” Tanya Mbok Yus.
“ijinkan saya memanggil Mbok dengan Ibu dan jangan panggil saya Bapak. Cukup dengan Peno saja Bu” ada getar suara melankolis pada nada suara Peno.
“Mengapa bisa begitu?” Tanya Mbok Yus, tak mengerti.
“Pak Atok itu, ayah saya Bu. Terima kasih Ibu sudah menjaganya selama 22 tahun ini”
“Okh… MasyaAllah. Ibu sudah berbuat jahat pada nak Peno. Merebut pak Atok dari Ibu nak Peno dan dari nak Peno sendiri” kata Mbok Yus lagi.
“Tidak bu, semuanya memang sudah seharusnya begitu. Ibu meninggal 5 tahun setelah Ayah pergi. Kini, yang tinggal, hanya Ibu Yus dan Ayah Atok” kata Peno lagi.  Getar suara dan raut wajah Peno menggambarkan suasana haru yang sangat.
Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Peno berhenti. Peno memandang Mbok Yus. Mbok Yus memandang Peno. Keduanya saling berpandangan. Denga  sekali rengkuh, keduanya sudah saling berpelukan. Ada tangis yang mengiringinya, ada air mata yang jatuh bersamanya.

Meski, yang terlihat diluar, jelas pelukan antara seorang wanita gelandangan tua dengan seorang kepala satpol PP. Tetapi, sesungguhnya yang terjadi, peluk bahagia antara seorang anak yang merindukan orang tua dan tangis orangtua yang merasa bersalah dengan segala perilaku masa lalunya.
*****
Suasana dalam ruangan ukuran 2 x 3 m itu, sangat krodit. Tumpukan kardus disana-sini, tinggi atap gubugnya hanya sekitar 1.5 meter, tak cukup untuk berdiri tegak orang dewasa. Pada sudut pojok sebelah utara, terbujur lelaki tua yang kurus kering, dimakan usia, digerogoti racun miras dan virus penyakit.
Peno sungguh tak menyangka, beginilah kondisi oarng yang dirindukannya selama ini. Orang yang telah berjasa membawanya kea lam dunia, sekaligus yang telah menyebabkan kehidupan Ibu dan dirinya sengsara. Meski begitu, semua marah dan dendam itu, seakan sirna terkalahkan dengan iba dan pertalian darah antara mereka. Sementara Mbok Yus mematung dibalik punggung Peno, menyaksikan kejadian yang tiba-tiba dan diluar perkiraannya.
“Ayah…” suara dan pelukan Peno, menghambur pada sosok tua lemah itu. Atok membuka mata, ada binar dimata itu, tak jelas artinya, apakah sedih, gembira, menyesal, malu atau apa? Atau kombinasi dari semua itu.
“ini Peno Ayah…. Ayah masih ingat kan?”.
Kembali Atok membuka mata, ada rengkuhan tangan agak kuat, terasa pada punggung Peno, untuk kemudian melemah dan mata tua itu kembali tertutup. Peno tahu, itulah rengkuhan terakhir Ayahnya. Bagai lampu minyak teplok, sebelum sinarnya padam, biasanya akan membesar sebentar, untuk selanjutnya padam untuk selamanya. Itulah yang terjadi pada Atok, ayah Peno
 *****
Jam telah menunjukkan pukul dua dinihari, sore tadi, jenazah Atok telah tiba di RSCM, dengan maksud untuk dilakukan visum dokter. Namun, dengan segala data dan jabatan yang disandang Peno. Jenazah Atok tak jadi di visum. Pihak RSCM telah membekali segala surat menyurat administrasi yang dibutuhkan untuk pemakaman Atok di Malang. Semua sudah komplit..plit.
Perlahan-lahan Ambulance meninggalkan halaman RSCM. Masuk jalan Diponegoro, untuk selanjutnya berbelok ke kanan, melewati depan RS Saint Carolus, lalu lurus menuju Cawang, untuk selanjutnya menuju Malang. Tempat dimana jenazah nan berada dalam ambulance itu berasal.
Inilah perjalanan pulang Atok, setelah 22 tahun meninggalkan Surabaya. Janjinya pada Mbok Yus telah dia penuhi, untuk menghabiskan sisa usia bersama, hingga kelak, hanya ajal yang memisahkan keduanya. Janji Yus pada Atok pun telah dia penuhi. Mengabdikan seluruh sisa hidupnya pada Atok.
Di Ambulance itu, Yus tetap setia menemani Atok, mengantarkan sang lelaki pujaan, hingga liang lahat. Tempat peristirahatannya yang terakhir. Sepahit apapun kehidupan yang mereka jalani bersama, Atok telah berjasa mengangkatnya dari lembah hina, memberinya kebahagiaan dan arti kesetiaan pada satu pasangan.

Keterangan:
TPA                  = Tempat Pembuangan sampah Akhir.

STW                 = Istilah untuk wanita paruh baya

Minggu, 22 Januari 2017

Sendiri, Antara Dua Kutub

Tak merasa sendiri di alam lembah anai (dok.Pribadi)
Sendiri, kata yang sederhana dan singkat. Aplikasinya, sangat menakutkan. Dapat dibayangkan jika manusia sendirian. Apa yang akan dapat dilakukannya? Tak satupun dapat dilakukan.
Manusia sesuai fitrahnya, selalu ingin bersosialisasi. Berkumpul bersama-sama. Guyub. Itulah sebabnya manusia disebut makhluk social. Kalau Aristoteles,  menyebutnya sebagai zoon politicon, yang berarti manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinter aksi satu dengan lainnya.
Sendiri bisa dalam arti kata fisik, artinya memang kita sendirian, pada lokasi tertentu, tanpa teman, tanpa manusia lain dan tak ada interaksi dengan makhluk lain. Atau bisa juga sendiri dalam arti pshykis.
Berada pada komunitas ramai, tetapi merasa sendirian, merasa kesepian. Apa bisa? Bisa saja. Mungkin kehadiran kita tidak diterima, atau kita memiliki masalah dengan salah satu anggota komunitas itu, bisa saja dengan atasan, dengan bawahan atau dengan temen, atau dengan pacar atau dengan orang tua, bisa juga dengan saudara sekandung kita. Bisa juga, memang lingkungan itu, kita menghendakinya.

Sabtu, 21 Januari 2017

Dari Lebak Untuk Indonesia

Keindahan Lebak yang terselimuti awan duka (dok.Pribadi)
157 tahun silam, tepatnya tahun 1860, untuk pertama kalinya buku Max Havelaar terbit. Sejak itulah gema Lebak, bukan hanya bergema di Eropah, khususnya Belanda. Tetapi, menggema ke seluruh dunia. Daerah yang dijelelahi oleh Lebak, seluas daerah dimana Max Havelaar diterjemahkan ke dalam bahasa daerah-daerah tersebut.  Dengan induk-induk bahasa seperti Perancis, Inggris, Portugis. Sebagai Negara-negara yang memiliki daerah jajahannya sendiri. Mengingat luasnya daerah jajahan Inggris, Perancis dan Portugis, dapat disimpulkan Max Havelaar dibaca dihampir ¾ luas permukaan bumi. Imagine!.
Belum lagi, belakangan, Max Havelaar menjadi bacaan wajib bagi para pelajar Eropah.
Akibatnya apa? Pemerintah Kolonial Belanda panik. Tekanan yang demikian keras pada pemerintah Kolonial Belanda, memaksa mereka, untuk merubah politik Tanam Paksa dan menggantikannya dengan menerapkan Politik Etis. Politik Balas Budi. Politik yang memberi izin pada kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan.
Terlepas, dari kontroversial, bahwa politik etis, pada akhirnya menguntungkan Kolonial Belanda, karena untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketrampilan dasar dapat diserahkan pada kaum bumi putera. Akibatnya, ongkos produksi dapat lebih ditekan dan sekaligus mendudukkan “Belanda” pada kelas yang lebih tinggi lagi. Karena, mereka lebih dapat fokus pada level pekerjaan yang lebih “tinggi” lagi.

Kamis, 19 Januari 2017

MAX HAVELAAR (Resensi Buku )

Cover Max Havelaar (dok.Pribadi)

Buku Max Havelaar yang ditulis oleh Multatuli, nama pena dari Eduard Doues Dekker, mantan Assisten Lebak pada Abad 19, menceritakan tentang seorang yang terlihat kumuh memakai syal, seterusnya disebut dengan sjaalman. Sjaalman bertemu dengan seorang makelar kopi  kaya di Amsterdam bernama Batavus Droogstoppel. Sesungguhnya, sjaalman yang terlihat kumuh, dan baru dating dari “negri timur” bukanlah orang yang benar-benar asing bagi Batavus Droogstoppel.  Dia adalah teman lama, semasa kecil yang dulu pernah menanamkan “budi” pada Batavus Droogstoppel.
Menemukan tulisan Sjaalman yang berbicara banyak tentang kopi, Batavus Droogstoppel bersedia untuk mempublikasikan tulisan-tulisan Sjaalman, dengan perhitungan bahwa pembahasan tentang kopi, tentu akan memberikan keuntungan yang tidak kecil bagi usaha yang sedang dijalankan.
Namun, dalam perkembangannya selanjutnya, dalam tumpukan artikel-artikel yang membahas tentang kopi, Batavus Droogstoppel menemukan cerita tentang “kekejaman”.
Kekejaman yang diakibatkan oleh penerapan system tanam paksa yang dilakukan oleh colonial belanda di tanah jajahannya. System tanam paksa  yang akhirnya menyebabkan ribuan penduduk pribumi dijerat kemiskinan, kelaparan dan menderita.
Cerita tentang kemiskinan, kelaparan dan penderitaan kaum pribumi di Max Havelaar, menyebabkan kegaduhan dan mengguncang hebat sendi-sendi Pemerintahan Hindia Belanda. Akibatnya, untuk menebus kesalahan itu, Belanda menerapkan Politik Etis. Politik Balas Budi. Dengan cara memperbolehkan kaum pribumi untuk memperoleh pendidikan. Yang awalnya, Belanda melakukan itu, dengan dua tujuan, tujuan yang nampak diluar adalah seolah-olah menembus kesalahan atas Politik Tanam Paksa yang dilakukan. Namun, dibalik itu, tujuan tersembunyinya, untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga administrasi tingkat rendah. yang idealnya tidak perlu dilakukan oleh “orang Belanda”. Namun, cukup dilakukan oleh tenaga pribumi yang telah “disekolahkan”.

Selasa, 17 Januari 2017

Puncak Kefasihan (Resensi Buku )

Cover “Najh al-Balagah” (dok.Pribadi)
Diantara keempat sahabat Rasulullah Sallalahu Alaihi was salaam nan bergelar Khulafa’ ar-Rasyidun, Abu Bakar Siddiq, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan dan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Maka hanya Ali Bin Abi Thalib lah yang meninggalkan buku untuk kita. Buku yang menjadi buah karya Ali Bin Abi Thalib, bukan hanya isinya yang bernas dengan berisi multi disiplin ilmu yang ditinggalkannya, seperti soal-soal individu, sosial dan hubungan antar manusia. Tetapi, bahasa yang digunakannya, dengan bahasa yang sangat mengagumkan. 
Demikian tingginya isi kitab warisan sayidina Ali Bin Abi Thalib, yang disusun oleh Sayid Syarif Radhi (ulama terkemuka di bidang sastra dan Fiqih abad 4 H), hingga dianggap sebagai warisan umat setelah Al-Qur’an dan Hadist nabi.
Dalam kitab Najh al-Balagah begitu komplet masalah dibahas secara tuntas. Mulai dari Tauhid, tentang sifat-sifat Tuhan, fiqih, tafsir, hadist, metafisika, profetologi, imamah, etika, filsafat, social, sejarah, politik, administrasi, hak dan kewajiban warga, sains, retorika, puisi, literature dll. Seluruhnya dipaparkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan susunan bahasa yang indah. Karenanya, Buku Najh al-Balagah pantas jika dinamakan sebagai buku Puncak Kefasihan.
Nahjul Balaghah merupakan kitab yang berisi khotbah, surat dan ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib yang penuh makna dan hikmat. Demikian tingginya, nilai khotbah yang disampaikan oleh Abi bin Abi Thalib, hingga satu abad kemudian setelah berpulangnya Sayidina Ali, khotbah-khotbah itu menjadi kajian yang tak habis-habisnya, disitir dalam banyak  khotbah, dipelajari dalam filsafat tauhid, dijadikan pembangkit watak mulia, mengarahkan pada arah takwa, pada kebenaran dan keadilan. Sebagai seni berretorika, seni berbahasa dan bahan kajian mendalam tentang nilai kandungan sastra yang dikandungnya. Bahkan, diyakini bahwa ilmu nahu syaraf dilahirkan dari buah karya Ali Bin Abi Thalib ini. Seluruh kandungan Najh al-Balagah terdiri dari 239 khotbah dan 79 surat.

Minggu, 15 Januari 2017

Ali Bin Abi Talib (Resensi Buku )

Cover Ali Bin Abi Talib (dok.Pribadi)

Judul                  : Ali Bin Abi Talib
Penulis               :  Ali Audah
Tanggal Terbit     :  Oktober 2003
Penerbit              :  Litera AntarNusa. Jakarta.
Tebal Halaman     :  X + 493 hlmh

Ali termasuk salah satu dari sepuluh sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang dijamin masuk Syurga. Kecerdasan Ali diakui oleh Nabi. Hanya dia diantara Khulafa’ ar-Rasyidun yang meninggalkan sebuah karya monumental, “Nahj al-Balagah’.
Sejarah membuktikan, bahwa Ali adalah tokoh muda pemberani masa itu. Sebagai tameng hidup nabi, pada saat nabi melakukan hijrah. Membuat ciut nyali musuh dalam beberapa peristiwa penting. Serta penakluk benteng Khaibar. Kontroversi tentang dirinya pun, tak kalah hebatnya, pengangkatan ke-khalifah-an setelah nabi, kematian Ustman bin Affan, pemberontakan dua kelompok  oposisi, Aisyah dan Mu’awiyah hingga terbunuhnya Ali di tangan Ibnu Muljam seorang Khawarij.
Biografi hidup Ali Bin Abi Talib, yang ditulis Ali Audah, sebagaimana yang digaransi oleh penulisnya, InsyaAllah bersih dari segala kepentingan dan tidak memihak salah satu kelompok manapun, karena ditulis berdasarkan sumber-sumber sejarah yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya bersifat deskriptif melainkan juga berdasarkan study analitis. Sejak kelahirannya hingga dewasa, sampai beliau tutup usia. Semuanya dikupas tuntas disertai analisa yang  tajam.
Ali adalah tokoh yang menarik untuk ditelaah, kedudukannya secara kekeluargaan yang dekat dengan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai sepupunya yang telah diasuh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sejak kecil, dibesarkan dalam didikannya bersama Khadijah, sehingga Ali memandang keduanya sebagai orang tuanya sendiri.

Senin, 09 Januari 2017

Tentang Kamu (Resensi Buku )

Cover “Tentang Kamu” (dok. Pribadi)

Judul                  : Tentang Kamu
Penulis               :  Tere Liye
Tanggal Terbit    :  Desember 2016
Penerbit             :  Republika. Jakarta.
Tebal Halaman   :  VI + 524 hlm

Sir Thompson menelpon Zaman Zulkarnaen, tentunya mustahil seorang Sir Thompson, akan menelpon langsung sepagi itu dan langsung pada zaman Zulkarnaen jika tidak ada “situasi khusus”. 
Setengah jam kemudian, telah berkumpul di ruang khusus Thompson & Co para lawyer utama, pertemuan itu, dipimpin langsung oleh Sir Thompson. Masalah yang dibahas sangat krusial.
Salah satu klien besar firma hukum telah meninggal enam jam lalu di Paris. Dengan nilai warisan yang harus dibagi sebesar satu milyard poundsterling. Itu setara dengan harga mata uang senilai 19 Trilyun Rupiah. Dengan warisan sebesar itu, dia lebih kaya dibanding ratu Inggris dan keluarganya. Demikian Sir Thompson memulai masuk pada pokok masalah, mengapa pagi sabtu itu, secara mendadak mereka “harus” berkumpul.
Alamat surat menyurat terakhir kali klien  tersebut adalah Panti Jompo di Paris. Juga telepon pemberitahuan yang diterima oleh Eric tadi pagi berasal dari alamat tersebut. Astaga!!! Seorang petugas Panti yang menelpon. Lanjut sir Thompson.          `1
Aku sudah menjadi pengacara spesialis penyelesaian warisan selama lima puluh tahun. Firma ini juga sudah menangani ratusan orang kaya di dunia. Ayahku sudah menyelesaikan begitu banyak kasus menarik sejak 1919, satu-dua dari kasus itu, seolah tidak bisa dipercaya, tapi yang satu ini, Crazy. Seseorang dengan harta senilai satu milyard pundsterling menghabiskan masa tuanya di Panti Jompo. Kamu pernah menemukan kasus seperti ini, Eric?

Senin, 02 Januari 2017

Mentertawai Diri Sendiri

Tertawalah.. sebelum dilarang
Umumnya, tertawa ekspresi gembira, meskipun menangis juga bisa disebabkan karena kegembiraan yang berlebihan. Tetapi yang jelas, gak ada ekspresi sedih dengan tertawa.
Banyak ekspresi tertawa, ada yang terbahak-bahak, ada tertawa terkekeh-kekeh, ada yang tertawa lepas, tertawa tanpa expresi, ada pula yang sampai sakit perut karena begitu ekspresifnya, ada yang dengan membuka mulut sekedarnya, ada pula yang hanya dengan tersenyum saja.
Zaman booming warkop DKI, yang sebelumnya bernama Prambors, ada anekdot yang sangat popular, tertawalah…. Sebelum tertawa itu dilarang. Bisa kita bayangkan jika tertawa dilarang, begitu seremnya dunia ini, dimana-mana kita ketemu manusia dengan wajah “manyun” lalu betapa sibuk para petugas untuk untuk mencari dan penangkap pesakitan yang terindikasi melanggar hukum karna pelanggaran “tertawa”. Antara petugas dan mereka yang diawasi, sama-sama manyun…. Hehehe.