Sabtu, 09 Desember 2017

Playboy Bodrek

Selalu saja ada kata tidak sepakat diantara kita dalam menilai suatu hal, apapun itu, bagi sebagian orang aneh. Namun, untuk sebagian yang lain, justru kondisi begitu, kondisi yang ideal. Memang seharusnya begitu.  Tak aneh.
Misalnya keanehan tentang soal cinta. Bagaimana Hendra yang sudah berumah tangga mendekati seperempat abad itu, selalu saja disibukkan dengan cinta, cinta pada orang yang sama, cinta yang menyita hari-harinya untuk berbuat yang terbaik untuk orang yang dicintai. Cinta itu, pada istrinya,  Ratih.
Meski, tentunya ada cinta-cinta yang lain. Namun, semua itu, tak sebesar cinta pada Ratih. Cinta pada pekerjaan, pada karya-karya seni yang dia geluti serta cinta para fans pada beberapa even pameran yang Hendra gelar.

Selasa, 05 Desember 2017

Untuk Edo, Kapan Mak Tak Siap?

Hari belum sepenuhnya malam, baru menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sejak siang tadi Jakarta diguyur hujan, sudah dua hari ini Jakarta diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Proyek tempat Edo kerja sudah berubah menjadi kolam besar, semua permukaan tergenangi air. Tak ada aktifitas yang dapat dilakukan, kecuali menyedot air keluar area proyek. Pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mekanik. Dan itu artinya, tak ada pekerjaan yang dapat Edo kerjakan.
Jam dua, hampir seluruh karyawan pulang, termasuk Edo, kecuali mekanik dan satpam. Mekanik mengeluarkan air keluar areal proyek dan satpam mengamankan areal proyek.
Namun, pulang cepat bukan berarti Edo segera tiba di rumah. Macet disebabkan spot-spot banjir dibeberapa tempat, membuat segalanya berubah. Kemacetan mengular kemana-mana, hingga perjalanan pulang yang biasanya hanya butuh satu setengah jam, malam itu butuh waktu tujuh jam, hingga Edo tiba di rumah jam Sembilan lewat. Luluh lantak rasanya badan Edo, lelah secara fisik karena macet dan lelah pshykis akibat terjebak dalam antrean panjang hingga tiba rumah.

Senin, 04 Desember 2017

Pesantren At-Thoyyibah Indonesia (Kasus Berbisnis Dengan Allah)

Pondok Ath-Thoyyibah (dok.Pribadi)
Siang ini saya menerima kabar, jika ada masalah pada fisik Pesantren At-Thoyyibah Indonesia, Pinang Lombang. Rantau Prapat. Aula yang sedang dikerjakan, mengalami kendala penyelesaian karena kekurangan dana. Kondisi yang memprihatinkan.
Mengapa? Karena saya tahu, alumnus pesantren ini, sudah jadi orang-orang sukses. Pengetahuan yang saya yakini, sebagai sebuah kebenaran yang tak diragukan lagi –haqul yakin-. Sebabnya, beberapa diantara mereka, saya kenal, bahkan sejak mereka jadi santri dulu. Diantaranya ada yang jadi anggota dewan yang terhormat, jadi ketua satpol PP, jadi pengusaha sukses dan tak sedikit sudah S2 bahkan ada yang S3.
Lalu, apa hubungan antara alumni yang sukses dengan kondisi pondok pesantren yang memprihatinkan? Tempat mereka dulu menimba ilmu. Untuk itulah tulisan ini saya buat.
Untuk bicara pada alumnus yang nota bene, kini  memiliki ilmu pengetahuan luas, cara berpikir yang sudah maju, dan kemampuan analisa yang mumpuni. Saya tidak ingin mengkajinya dengan menafsirkan ayat dan hadist. Untuk kasus ini, para alumnus lebih mumpuni dari ilmu yang saya miliki.

Jumat, 01 Desember 2017

Management Jamaah Sholat Jum’at

Ilustrasi posisi Jamaah (dok.Pribadi)

Siang tadi, saya melaksanakan sholat Jum’at di Mesjid besar di lokasi tempat tinggal saya. Jamaah yang mengikuti sholat Jum’at begitu membludak. Ketika khatib naik mimbar, saya melihat, banyak Jamaah yang duduk diluar Mesjid, ada yang berdiri si beranda Mesjid, ada yang ngobrol sesama mereka. Sebuah kondisi yang sungguh sangat memprihatinkan.
Saya berpikir, begitu banyak dosa yang dipikul oleh pengurus Mesjid –Marbot-. Ingat, sekali dosa yang dipikul oleh pengurus Mesjid. Mengapa? Karena, tak ada amal sholat Jum’at bagi mereka yang ngobrol sesama Jamaah ketika khatib naik mimbar.
Mengapa Jamaah yang ngobrol sesama mereka, kok pengurus Mesjid yang berdosa? Ingat, kesalahan bukan hanya pada pelaku, melainkan juga, karena kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya kejahatan itu. Dalam kasus ini, pengurus Mesjid tidak menyediakan ruangan yang cukup hingga Jamaah tumpah keluar Mesjid.

Kamis, 30 November 2017

Aku Tak Seperti yang Kau Lihat

Diawal tahun 2000’an sahabat-sahabat saya sering aneh melihat perilaku saya. Apapun yang menimpa saya selalu saya katakan dengan awalan kalimat Alhamdulillah.
Ketika itu, perusahaan tempat kami mengerjakan konstruksi mengalami kerugian besar, sehingga PHK dilakukan besar-besaran, saya termasuk di dalamnya. Semuanya sahabat mengkhawatirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Saya, ketika ditanyakan apa yang akan saya lakukan, dengan reflex saya jawab :”Alhamdulillah saya sudah di PHK.”
Sahabat saya merasa aneh? Apa sesungguhnya maksud jawaban saya dari pertanyaan mereka? Itu artinya, saya diberikan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik lagi dengan cara diberi bekal sebulan gaji untuk berleha-leha terlebih dahulu dengan keluarga. Demikian jawaban saya.
Pada tahun 2015 saya memiliki cukup banyak uang. Ketika itu, beberapa sahabat dapat jatah cuti, termasuk saya. Untuk transportasi ke rumah dari Medan, tempat lokasi proyek kami, sahabat-sahabat saya menggunakan menggunakan Pesawat. Sedang saya menggunakan kapal laut, KM Kelud. Mereka heran? Mengapa menggunakan Kapal Laut, bukan pesawat?. Kasihan amat, mungkin menghemat ongkos, demikian mungkin yang terlintas dalam pikiran mereka.

Senin, 27 November 2017

Program Padat Karya, Satu lagi Program Jebakan Batman

sumber gambar; Antaranews.com

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo meminta kepada seluruh kepala desa di Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah untuk menggunakan dana desa secara swakelola atau padat karya.
"Semua proyek pembangunan yang menggunakan dana desa tidak boleh menggunakan jasa kontraktor. Kalau kalian pakai kontraktor nanti akan berurusan dengan penegak hukum," ujar Eko Putro Sandjojo dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Katingan, 
Kalimantan Tengah, Minggu (19/11/2017).
Masih menurut Eko Putro Sandjojo, penggunaan dana desa yang dilakukan secara swakelola tersebut akan mengurangi jumlah penggangguran dan kemiskinan di daerah perdesaan karena warga desa bisa mendapat upah dari pekerjaan secara swakelola.

Jumat, 24 November 2017

Kenapa Miskin dan Galau


Silaturahmi mendatangkan rezeki, begitu yang kita tahu. Hal ini, tak salah dan berlaku umum.
Dalam kunjungan beberapa waktu lalu ke Sumatera Bagian Selatan, ada diskusi yang menggelitik hati untuk dituliskan. Sumbernya, berasal dari pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan pertama; saya sudah melakukan sholat lima waktu, saya telah melakukan sholat tahajud dan bersedekah. Namun, hingga kini, permintaan belum juga terkabul, saya masih tetap miskin. Pertanyaan kedua, datang dari anak muda; saya sudah coba lupakan dia kenapa justru makin ingat terus? dia yang dimaksud, pujaan hati sang penanya dan terakhir soal rumah tangga. Saya sudah maafkan dia, kenapa dia makin menjadi? dia yang dimaksud adalah suami dari penanya.

Selasa, 14 November 2017

Romansa Blazer Yuli


Perjalanan bulan madu itu, akhirnya tiba juga pada sisi pulau Flores bagian paling timur. Larantuka. Dari larantuka jika menggunakan kapal laut Umsini, maka hanya memerlukan waktu dua belas jam untuk tiba di Kupang, setelah sebelumnya singgah di Lewolebak.
Namun, Edo tak ingin ke Kupang. Larantukan sudah mewakili segalanya bagi Edo, kota Larantuka memiliki kenangan tersendiri baginya, kenangan yang akan segera dia tambah lagi dengan peristiwanya bersama dengan Yuli, yang akan dibawanya hingga kakek dan nenek kelak.

Senin, 13 November 2017

Sabar yang Sering Disalah Artikan.


Pada saat Rasulullah menyuapi seorang Yahudi tua nan buta, ketika itu, sang Yahudi dengan sumpah serapahnya memaki Nabi Muhammad dengan kata-kata yang tak patut ditulis disini. Namun, Nabi dengan sabarnya setiap hari melakukan hal yang sama pada Yahudi tua itu. Ketika hal itu diketahui Abu Bakar, Abu Bakarpun melakukan hal yang sama pada sang Yahudi tua sepeninggal Rasulullah. Namun, Yahudi Tua itu menolak, karena sentuhan kelembutan yang diterimanya berbeda.
Setelah diberi tahu siapa yang menyuapi beliau selama ini, maka Yahudi tua itupun bersyahadat,  masuk Islam.
Dalam Kasus di atas, kita semua sepakat, jika yang dilakukan Nabi mencerminkan perilaku sabar.

Sabtu, 04 November 2017

Sesat Pikir Pelatihan Kader Tekhnis (Kasus Banten)


Bulan November 2017, ada rencana mengadakan pelatihan untuk Kader Tekhnis Desa. Dasar pemikirannya, karena tugas membuat Desain, Perencanaa dan Anggaran Biaya menjadi tugas dan tanggung jawab kader Tekhnis Desa. Maka, dianggap sangat mendesak untuk memberikan bekal tambahan ilmu pada Kader Tekhnik Desa, agar tugas yang diemban mereka dapat dilaksanakan secara benar.
Sebuah dasar pemikiran yang sepintas logis dan benar.

Jumat, 27 Oktober 2017

Inilah Sumber Kebocoran Dana Desa (1)

Lambang kemendesa

Kebocoran Dana Desa menjadi prima dalam sorotan Nasional, segala upaya segera diusahakan, banyak pengawas dana desa dibentuk untuk mencegah kebocoran dana Desa. Namun, sudah tepatkah langkah yang ditempuh? Jangan-jangan dana bocor bukan karena kurangnya pengawasan. Melainkan, kesalahan dalam kebijakan dan aplikasi yang dilakukan oleh kemendes sendiri. Jika demikian halnya. Maka, kebijakan yang salah dan aplikasi praktek yang belum sempurna, mendesak untuk segera dilakukan perbaikan, sebelum mendatangkan segala macam pengawas dana Desa.
Ilustrasinya, ketika ada Kucing mencuri ikan di rumah, jangan buru-buru memanggil Polisi untuk menangkap sang Kucing. Bisa saja, kesalahan bukan pada Kucing. Melainkan, pada pemilik rumah, karena meletakkan Ikan di Meja makan. Mengapa tidak menyimpannya pada Lemari makan. Jika perlu, lemari makan dikunci, kemudian kunci lemari makan dikantongi oleh pemilik rumah.

Rabu, 25 Oktober 2017

Penyakit MC yang Melelahkan Semuanya.

Cantik dan terbebas dari MC
Pernahkah terbayang oleh sobat semua, bagaimana Televisi dapat menjadi obyek yang dicemburui oleh seorang Isteri pada sang suami? Pasti diantara sobat, menyangka saya hanya mengada-ada. Mustahil diterima akal. Saya sendiri, jika tak mengalaminya sendiri, tentu tak akan percaya.
Begini kejadiannya.
Sore itu, saya mengunjungi seorang sahabat zaman lajang dulu. Dia yang dikenal handsome, tapi memperoleh jodoh no urut terakhir, dan (maaf) Isterinya jauh dari gambaran saya. Sangat biasa, kalo tak dapat dikatakan jelek. Namun, sobat saya itu, sangat sayang pada pasangannya. Terlihat dari bagaimana cara sobat saya memandang dan memperlakukan isterinya.
Tengah kami ngobrol, muncul iklan susu yang sangat terkenal pada waktu itu, dengan wanita cantik matang manggis, meliuk-liuk dengan kalimat “pas ****nya”. Saya mengomentari iklan susu itu, lalu sobat saya menimpali lagi.
Lalu, terjadilah musibah itu. Praaaang!!! Bunyi piring dipecahkan dan teriakan.. terruuuus!!! Kejadiannya, dari arah ruang tengah, dan suara itu, suara isteri sahabat saya. Penyebabnya, jelas. Sang isteri cemburu pada sang suami, karena membahas wanita yang tayang sebagai bintang iklan susu di Televisi.
Apa gejala ini? Apa penyebabnya? Bagaimana solusinya? Untuk itulah tulisan ini, saya maksudkan.

Penyakit itu bernama MC.
Belakangan saya tahu, penyakit yang dialami isteri sobat saya itu, bernama MC. Miderheidt complex. Atau penyakit minder akut.
Penyakit yang menyita energy bukan hanya pada penderitanya, juga pada orang sekelilingnya, terutama mereka yang menjadi obyek dari cemburunya sang penderita.
Diantara, penyebabnya dan cara mengatasinya, antara lain.

Satu, Pengaruh lingkungan.
Pada lingkungan yang salah ini, sang penderita sering dilecehkan, diremehkan, tidak dipercaya. Akibatnya penderita kehilangan idenditas diri, secara tak sadar, semua pasokan informasi yang diterima, akan masuk pada alam bawah sadarnya. Maka, ketika sang penderita, mengeluarkan pendapat atau penilaian tentang orang lain, maka yang keluar, adalah memori yang telah mengendap lama di bawah sadarnya itu. Dia akan melecehkan, meremehkan dan memiliki kecenderungan kuat untuk tidak percaya orang lain.
Solusi dari masalah ini, tentunya, tinggalkan lingkungan atau suasana tak sehat itu, menuju lokasi atau lingkungan yang sehat.

Dua, Merasa Tidak Cantik dan Tak Sempurna.
Perasaan tidak cantik dan tidak sempurna, diakibatkan banyak sebab, mungkin saja, dari orang tua yang suka membandingkan fisik anak dengan saudaranya yang lain, atau dari teman yang acap mengucapkan hal-hal yang menyangkut fisicaly dengan kata-kata yang melecehkan, seperti kurus kerempeng, hitam, mata sipit, rambut tipis, bibir dower dlsbnya.
Dan perlahan-lahan semua informasi yang diterima, menjadi keyakinan di bawah sadar dan diyakini sebagai sebuah kebenaran (up bringing).  Maka, ketika menginjak usia dewasa, ketika sang wanita dipuja kekasihnya dengan kata-kata cantik, akan timbul reaksi yang mencengangkan, berupa penolakan keras atas pujaan sang kekasih, konyolnya pernyataan itu, dianggap kebohongan dari sang kekasih (gombal) dan memiliki kecenderungan melecehkan dan mengolok-olok.
Solusi dari masalah ini, marilah kita mulai menilai sesama kita dengan bijak. Prisinsipnya semua manusia pintar, semua manusia memiliki kelebihan, semua wanita cantik. Dengan keyakinan, bahwa pintar, kelebihan dan cantik itu, untuk setiap manusia memiliki kekhasannya masing-masing.

Tiga, Orang Tua yang Penuh Larangan.
Orang tua, ingin anaknya sempurna, sehingga mendidik anak dengan sangat ketat. Segala tidak boleh, segala dilarang. Yang diizinkan hanya belajar segala aktifitas yang berhubungan dengan belajar. Kondisinya semakin rumit, ketika orang tua hanya mampu melarang dan memarahi sang anak, tanpa pandai memuji ketika sang anak melakukan hal yang baik atau prestasi dari yang diharapkan orang tua.
Akibatnya, anak cenderung penakut, kurang berani mengambil inisiatif. Hilang kreatifitas. Padahal, dalam kondisi kekinian, kreatifitas sangat dibutuhkan. Betapa banyak kerja-kerja kreatif sangat memiliki arti besar dan pengaruh luas, daripada kerja yang dilakukan oleh para alumnus perguruan tinggi,  dengan predikat cum laude sekalipun.
Solusi dari kondisi ini, hargai anak kita dengan segala kelebihannya (bukan kekurangannya), karena prinsipnya semua anak pintar dan cerdas. Tugas kitalah sebagai orang tua, menemukan dalam hal apa dan bidang apa, kelebihan yang dimiliki anak kita.

Empat, Trauma karna Kegagalan yang Pernah dialami.
Banyak diantara mereka yang memiliki penyakit MC karena kegagalan yang dialami. Padahal, dengan kegagalan, banyak hal positif yang dapat diambil hikmahnya. Mengapa gagal? Bagaimana merubah strategi sehingga tidak gagal lagi, melainkan sukses. Kegagalan memang menyakitkan. Karena menyakitkan, maka jangan lupakan. Mengapa jangan dilupakan? Karena dengan ingat point dimana kita gagal. Maka, point itu tak akan diulangi lagi. Dengan berbekal pahit, buatlah tekad untuk tidak pernah mengalami rasa sakit yang sama.
Solusi dari masalah ini, rubah mainsite kita, kegagalan hanya kesuksesan yang tertunda. Ada sesuatu yang perlu diperbaiki, sehingga kita tiba pada sukses yang dituju.

Lima, Trauma Karena Kejadian Buruk Masa Lalu.
Atas kejadian-kejadian masa lalu, apakah orang tua, sahabat, teman seprofesi atau teman bisinis dimana, karena ulah mereka semua kita menjadi manusia gagal. Maka, bangkitlah. Maafkan mereka semua. Rubah dendam menjadi maaf. Dengan kerja mereka semua itu, yakinkan pada diri kita, kita telah bertransformasi menjadi manusia kuat, oleh karenanya, sangat logis, manusia yang kuat memaafkan manusia lemah.

Akhirnya. Mari kita bertekad menjadi sehat. Sehat dari penyakit MC. Kita bukanlah mereka yang terbelenggu dengan masa lalunya. Melainkan, kita yang menatap masa depan dengan sekali-kali  menoleh pada masa lalu, agar tak melakukan kesalahan yang sama. … Wallahu A’laam

Minggu, 22 Oktober 2017

Pengawasan dan Penanganan Dana Desa oleh Polri, kebijakan yang kebablasan.


Pada Jum’at 20/10/2017 telah dicapai kesepakatan antara Kapolri Jendral Tito Karnavian, Kementrian Desa Eko Sandjojo, Kementrian Dalam Negeri Tjahjo Kumulo, berlangsung di gedung Rupatama Mabes Polri, Jalan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.
Dalam Nota kesepahaman itu, disebutkan Kapolsek dan bahbinkamtibmas diberikan tugas tunggal untuk pengawasan dana. 
Demikian berita yang seakan memberikan angin sejuk pada para pelaku di desa, khususnya mereka yang terlibat dalam penggunaan dana desa.
Namun, benarkah demikian? Apa bukan sebaliknya. Justru keterlibatan Kapolsek dan Bahbinkamtibmas menjadi kontra produktif bagi penggunaan dana desa itu sendiri. Untuk menganalisa masalah itulah, tulisan ini dimaksudkan.
   
Untuk Jadi Pendekar, Belajarlah Silat.
Ada pepatah di tanah Melayu, mengatakan untuk menjadi pendekar belajarlah silat. artinya, kemampuan diri sendiri, sangat dibutuhkan untuk menunaikan kewajiban yang diemban. Ketika ada tantangan dan gangguan, maka kemampuan diri sendiri menjadi tolak ukur, apakah kita mampu mengatasinya. Jangan, belum apa-apa kita sudah minta bantuan pada sanak saudara. Baru mendapat lawan lebih besar, sudah minta bantuan pada saudara lebih tua untuk mengeroyok sang pengganggu. Lalu, kapan mau besar? Kapan mau jadi pendekar?
Kondisi yang digambarkan diatas itulah yang kini terjadi di kemendesa, khususnya yang berhubungan dengan penanganan dana desa.  
Kemendesa belum berbuat banyak, terutama dalam regulasi dan aturan yang mereka buat, tiba-tiba ketika ada kebocoran dana desa atau dibeberapa daerah baru sampai pada tahap prediksi, kemendesa sudah meminta bantuan pada saudara tuanya, Kemendagri dan Kepolisian.
Kondisi yang saya cengeng itu, makin diperlihatkan oleh kemendesa ketika masalah dana desa ini, masuk dalam pembahasan terbatas di Istana Presiden Bogor, dengan hasilnya sbb:
Rapat Terbatas optimali Dana Desa, Istana Presiden Bogor , Rabu (18/10)
1.    Harus dipastikan 20 % dari Dana Desa benar-benar dipakai kegunaannya  untuk rakyat dan dilakukan dengan swa kelola
2.    Tidak boleh menggunakan kontraktor, harus dikerjakan oleh masyarakat.
3.    Untuk mengawasi dana  Desa telah dibentuk satgas baru, bekerja sama dengan Kementrian Dalam Negri, Kepolisian, Kejaksaan, yang akan melakukan Random audit Dana Desa.
4.    Model Produk Unggulan Kawasan Perdesaan  (Prukades), juga melibatkan Kementrian terkait, dunia usaha, Perbankan, dan Bupati untuk duduk bersama-sama melakukan produk Unggulannya.
5.    Jika ada penyelewengan, lapor satgas dana desa ke 1500040. Dalam waktu 3 x 24 jam akan dikirim pengawas.

Apa yang seharusnya dilakukan.
Lalu, jika tidak boleh melibatkan kepolisian sebagai agen tunggal dalam penanganan dana desa, apa yang harus dilakukan oleh Kemendesa?
Prinsipnya, kebocoran dana desa, secara garis besarnya, disebabkan oleh kebijakan yang tidak tepat dalam pembuatannya dan aplikasinya serta perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam penggunaan dana desa.
Nah, pada sebab pertama itulah domain kemendesa berperan besar terjadinya penyalah-gunaan dana desa. Antara lain, sebab-sebab itu;

Satu. Target Schedule yang ngawur.
Masih ingat tentang schedule terbentuknya BUMDES dan EMBUNG? Mentri Eko dalam banyak kunjungannya selalu  menyatakan bahwa pada tahun 2016 seluruh desa di Indonesia telah memiliki Bumdes dan Embung. Sebuah pernyataan yang sangat ngawur. Mengapa ngawur? Karena untuk membentuk Bumdes banyak syarat-syarat yang mesti dipenuhi, ada filosofi tentang Bumdes yang harus di sosialisasikan, ada masa peralihan cara berpikir masyarakat yang murni agraris atau nelayan menjadi masyarakat yang memiliki jiwa enterpreuner, ada kemampuan membaca pada aparatur desa mana lahan yang dapat dijadikan bidang garapan Bumdes dan bidang garapan yang dapat dikerjakan oleh masyarakat, dan pada akhirnya seluruh syarat-syarat tadi harus di sosialisasikan pada masyarakat desa, khususnya pada aparatur desa.
Tetapi, bagaimana akan di sosialisasikan, jika mereka-mereka yang menjadi TA (Tenaga Ahli) dalam hal Bumdes tidak memiliki kemampuan dan kapabilitas tentang seluruh syarat-syarat yang ditentukan diatas. Maka, akhirnya, ketika dilakukan sosialisasi, isinya hanya berkutat pada administrasi, pada soal bagaimana cara membuat laporan keuangan, bagaimana cara mengisi format dan hal-hal yang sangat bersifat tekhnis. Maka, jangan aneh jika Bumdes yang terbentuk tidak sesuai dengan yang diidealkan, melainkan hanya untuk memenuhi syarat waktu yang ditentukan, sehingga ketika Bumdes beroperasi hanya menunggu saat kematiannya plus kerugian yang mengiringinya.
Hal yang sama terjadi pada Embung. Tidak tuntasnya pengertian tentang Embung, bagaimana memanage embung hingga menjadi lahan yang tidak hanya menampung air, melainkan juga produktif menghasilkan nominal uang selain fungsinya sebagai penampung air di waktu hujan dan sumber air pertanian ketika kemarau.

Dua, Perencanaan yang Premature.
Dalam sebuah perencanaan yang benar, hendaknya dilakukan kajian-kajian secara komprehensif, apa saja perangkat yang dibutuhkan agar perencanaan layak dikerjakan dengan kualitas yang diinginkan serta waktu yang ditentukan. Dalam banyak hal perencanaan yang dilakukan kemendes bersifat premature. Dalam hal konsep baik. Namun, karena tidak dibarengi dengan perangkat penunjang untuk tercapai perencanaan. Maka, dalam banyak hal gagal dalam pelaksanaan. Sebagai contoh, dalam pembentukan Bumdes, tenaga sosialisasi yang paham tentang Bumdes sangat minim, dalam hal Embung, tenaga sosialisasi yang mengerti tentang Embung sangat minim, tenaga tekhnis yang mengerti tentang syarat tekhnis embung serta hubungannya dengan ekonomi dan ekologi, hampir dapat dikatakan tidak ada. Dalam pengerjaan Infrastrukture desa tenaga Pendamping Desa Tekhnik Infrastrukture (PDTI) sangat minim. Bahkan, di salah satu Provinsi di Pulau Jawa dengan jumlah Kecamatan 110 kecamatan, tenaga PDTI hanya 15 orang. Dengan kondisi demikian, jika terjadi penyalah gunaan dana desa, siapa yang patut pertama disalahkan? Tentunya pihak Kemendesa.

Tiga, Tidak adanya integritasi dalam laporan antara Kemendesa dan Kemendagri.
Dalam pembuatan laporan, pihak aparatur desa yang tadinya sangat awan tentang laporan, kini dipaksa untuk membuat laporan. Mereka dididik dalam waktu singkat untuk mampu melakukan itu. Jika saja mampu, sungguh prestasi luar biasa. Kondisinya semakin berat, ketika untuk pelaporan kegiatan yang sama, bentuk format yang dimiliki Kemendesa berbeda dengan format yang dimiliki Kemendagri. Sebuah dilemma yang dialami oleh para aparatur desa.
Masalahnya, semakin krusial, ketika ada pemeriksaan oleh Inspektorat. Pihak inspektorat tak dapat menentukan versi mana yang benar. Akibatnya, untuk kegiatan yang sama, laporan yang dikerjakan dibuat dalam dua versi. Maka, terbuka peluang seakan terjadi penyelewengan dana. Padahal, kejadian sesungguhnya, berada pada kesalahan pembuatan laporan kegiatan.

Empat, keterlibatan Polisi hanya membebani dana Desa.
Masih kurang cukupkah pemborosan-pemborosan yang dilakukan Kemendesa dalam setiap pelatihan yang dilakukannya? Dari mulai pemborosan dalam pelatihan pra jabatan Pendamping Lokal Desa, Pendamping Desa Pemberdayaan, Pendamping Desa Tekhnik Infra struktur, Tenaga Akhli dan Team Leader. Tentang modus pemborosan ini, saya tulis secara detail ditulisan yang lain. Kini, untuk melibatkan pihak kepolisian, tentunya diperlukan latihan-latihan yang serupa, yang akibatnya, semakin membebani dana Desa. Belum lagi, jika diingat, prestasi Polisi dalam mengungkapkan tindakan korupsi dalam skala besar, tidak begitu membesarkan hati.
Akhirnya, sebuah filosofi pemikiran yang umum berlaku di dalam dunia konstruksi, untuk sukses sebuah pekerjaan konstruksi, bukan bergantung pada  berapa banyaknya tenaga mandor, melainkan berapa banyak tenaga kerja yang terlibat dan berkontribusi dalam pekerjaan itu, serta bagaimana kejelasan tentang pekerjaan yang dilakukan, seperti aturan mainnya, kapan diselesaikan serta bagaimana system pelaporan. Sedangkan untuk tenaga mandor atau pengawas cukup satu orang.


Jumat, 01 September 2017

Do’a Sebagai Obat.

Pada dunia maya, sering kita jumpai status yang mewakili keluarga. Apakah itu Ibu, Bapak, Paman, Tante atau keponakan yang sedang dirawat di RS. Diharapkan para pembaca untuk ikut mendo’akan agar mereka yang dirawat segera sehat. Atau pada pasien yang sedang akan menjalankan operasi, sukses pada pelaksanaan operasi dan segera sehat.
Apakah demikian krusial peranan do’a dalam penyembuhan penyakit? Sehingga dibutuhkan banyak orang untuk membantu penyembuhan mereka yang menderita sakit.
Larry Dossey seorang ahli bedah batalyon tentara Amerika ketika terjadi perang di Vietnam, memperhatikan bahwa tentara yang dibedahnya, memiliki dua kecenderungan. Untuk mereka yang dibedah setelah melakukan do’a, hasilnya akan lebih baik daripada mereka yang tidak dido’akan.
Lalu, untuk menganalisa fenomena ini, Larry Dossey memisahkan para pasiennya menjadi dua kelompok. Satu kelompok dido’akan dengan cara mengirimkan nama-nama pasien tersebut pada rumah ibadah untuk dido’akan. Antara pasien dan yang mendo’akan tidak saling kenal. Sementara kelompok yang lain, tidak dido’akan. Apa yang terjadi? Ternyata kelompok yang dido’akan lebih sukses dalam operasi dan lebih cepat sembuh, sementara yang tak dido’akan, hasilnya sebaliknya.
Pada kesempatan muncul di acara oprah Winfrey pada tahun 1993 Larry Dossey menyebutkan bahwa apa yang terjadi pada pasiennya menunjukan kekuatan do’a.
Larry Dossey menjelaskan semua teori kekuatan do’a pada pengobatan dalam bukunya yang fenomenal yang berjudul 'Reinventing Medicine'
Jika Larry Dossey doctor lulusan dari University of Texas di Austin yang atheis itu, percaya akan kekuatan do’a, mengapa kita tidak?
Dr. Dhiyak Al-Haj Husen, pakar kesehatan Rematik di Inggris, membuktikan hal yang sama tentang kekuatan do’a dalam penyembuhan sakit punggung para pasiennya. Penelitian yang dilakukan, membuktikan mereka yang diobati dengan tambahan do’a memiliki tingkat penyembuhan yang lebih baik, dibandingkan tanpa do’a.
Pertanyaannya sekarang, mengapa do’a berperan dalam kesembuhan? Karena dalam do’a ada dialog yang menyebabkan mereka yang berdo’a memiliki penyerahan total pada sang segala Maha. Ada permohonan yang tulus pada sang Pemilik Segala Ketulusan. Kombinasi antara penyerahan total dan harap yang total itulah, membentuk energy penyembuhan yang luar biasa, seperti halnya rantai tangga tali pada jaringan DNA. Dengan pertimbangan, bahwa kebanyakan penyakit disebabkan oleh pikiran manusia, maka logis, ketika kondisi pikiran itu yang disembuhkan dulu. Caranya dengan berdo’a. menyatukan dan mempertemukan simpul antara penyerahan total dan harap total pada sang pemberi Kesembuhan.
Sugesti yang ditimbulkan saja, sudah membantu pasien untuk secara phsykis merasa sehat. Karena, simpul gelombang dan energi yang terpancar memberikan efek luar biasa pada pasien, belum lagi hasil dari do’a yang dipanjatkan.
Henri Bergson, peneliti medis terkemuka menyimpulkan, pikiran tidak memerlukan medium untuk pergi kemanapun. Mekanismenya mirip seperti radio dan gelombang radio. Pada dasarnya, radio tidak menghasilkan gelombang namun hanya mendeteksi, mengirimkan, dan menyortir.

Bahkan, do’a bukan hanya bermanfaat pada penyembuhan penyakit. Namun, berperan pula pada pencegahan. Fenomenanya, dapat dilihat pada acara selamatan tujuh bulanan ibu hamil, selamatan ketika hendak melakukan perjalanan jauh dll. 

Kamis, 31 Agustus 2017

Gelombang Cinta Itu

Riak Gelombang Itu (dok.Pribadi)

Gelombang manusia yang melakukan tawaf itu, bagaikan gelombang laut yang kecil saja, hanya bagaikan riak gelombang, tak lebih. Namun, keteraturan yang terlihat, kekhusu’an mereka serta arah yang sama yang ditempuh, membuat rasa pada kalbu Idham begitu menyentuh.
Bismillahi, walhamdulillahi wa laillaha ila, hu wa Allahu akbar
Bacaan yang dibaca sebagian mereka yang tawaf, mengingatkan Idham pada pujian-pujian kerabatnya di Indonesia.
Hari ini, diantara mereka yang hanyut dalam gelombang tawaf, turut serta Idham di dalamnya. Peristiwa yang sebenarnya, untuk pribadi Idham bukan murni diniatkan untuk Ibadah mendekatkan dirinya pada sang Khaliq. Melainkan, terbersit didalamnya untuk sesuatu yang lain. Untuk Sarah.
Idham tahu dengan pasti, di saat tawaf ini, dia akan bertemu dengan Sarah. Sebabnya jelas,  Idham yang terbang dengan kloter 21 dan sarah dengan Kloter 22, hampir dapat dipastikan, kegiatan ibadah yang mereka lakukan, akan selalu berbarengan. Tak terkecuali saat tawaf seperti ini.
Semua persiapan untuk bertemu sarah sudah matang dipersiapkan oleh Idham. Cincin berlian imut yang selalu berada dalam tas pingganggnya, akan dia persembahkan pada Sarah, juga bagaimana Idham akan berlutut kelak, ketika dia bertemu Sarah, Idham sambil berlutut akan berkata :”Sudikah Sarah menjadi istriku?”
*****  
“Ham..sudah siap semua?” tanya Hamid, tepatnya memperingatkan Idham.
“Oke, siap… ayo berangkat” jawab Idham singkat.
Jam dua malam itu, mereka meninggalkan kemah, menuju Masjidil Haram. Mengejar sholat subuh berjamaah di Mesjidil Haram, sekaligus tawaf. Untuk Allah hanya ada satu kata. Tuntaskan semuanya hanya untukNya.
Tak ada Taksi, tak ada Bus. Sudah dua hari ini, semua kendaraan dilarang beroperasi. Lautan manusia memenuhi semua sisi ruas jalan. Termasuk Idham dan Hamid didalamnya. Dengan berjalan kaki, dua anak muda itu, bersama menuju Mesjidil Haram.
“Tahu kau Ham, Allah itu pencemburu” kata Hamid disela-sela manusia yang menyemut menuju Masjidil Haram pagi itu.
“Maksudmu..?” Tanya Idham.
“Dia hanya mau, hambaNya datang untuk diriNya sendiri. Tidak untuk yang lain”
“Segitunya Mid?”
“Iya… Bahkan untuk yang terbersit dalam hatipun, Dia tak mau diduakan” Jawab Hamid lagi.
Makjleeeb. Terguncang hebat Idham. Guncangan yang menembus langsung ke pusat jantungnya. Lalu, bagaimana dengan niatnya ingin  bertemu Sarah, bagaimana dengan nasib cincian berlian yang berada di tas pinggangnya ini? Bagaimana dengan rencana dirinya yang ingin berlutut dihadapan Sarah, sekaligus meminangnya, bersedia untuk menjadi isterinya?
*****
Lautan manusia yang mengelilingi Ka’bah dalam ibadah yang disebut Tawaf itu, makin menyemut saja. Masing-masing mereka larut dalam talbiyah yang mereka baca, larut dalam hati yang tertuju hanya padaNya.
Di putaran ke lima, Idham sempat melihat Sarah. Idham menggeser kakinya, masuk ke dalam lautan manusia lain, sarah segera hilang dari pandangannya. Idham sudah bulat memutuskan, Cintanya saat ini, tak ingin dia bagi. Idham hanya ingin mempersembahkan semuanya hanya pada Allah. Tidak ada kecuali untuk yang lain.
Di akhir putaran ke tujuh, cincin berlian yang selalu setia di tas pingganggnya, dia serahkan pada wanita tua yang sedang khusuq berdo’a bermunajat padaNya. wanita pertama yang dijumpai Idham ketika usai melaksanakan Tawaf..
Biarlah cinta yang dia jalani saat ini, hanya tertuju padaNya, pada Allah, bukan untuk yang lain. Bukan untuk Sarah.

Tokh, masih tersisa banyak waktu, banyak kesempatan untuk menuntaskan Cintanya dengan Sarah.

Sabtu, 24 Juni 2017

Romansa Pendamping


Dari Jauh Terlihat Desa Dampingan (dok.Pribadi)

 Adzan Magrib selesai dikumandangkan, buka terakhir selesai sudah tertunaikan, di langit di atas sana gelap belum sepenuhnya sempurna. Tak ada lagi taraweh malam  ini, yang ada sehabis magrib tadi, gema takbir berkumandang memenuhi angkasa raya.
Tanda berakhir sudah bulan puasa dan esok, adalah hari kemenangan bagi yang umat Islam, setelah berpuasa selama sebulan penuh. Diujung gang tempat Surya dan Eneng terdengar suara letusan kembang api menyertai kegembiraan berakhirnya ramadhan. Suasana yang sangat meriah.
Tapi, tidak demikian halnya bagi Surya. Ia termenung seorang diri di teras rumah kontrakan  yang sangat sederhana. Kesendirian yang begitu mencekam Surya. Setelah Eneng pergi, ada yang mengaduk-aduk hatinya, membuat gundah Surya. Masih tergiang perkataan Eneng sebelum pergi.

Jumat, 23 Juni 2017

Menan yang Menemani Mandeh


Sumber gambar. Satujam.com

 Menan perlahan menapak anak tangga turun menuju daratan, tak bergegas dia, tak ada yang perlu dikejar, perlahan saja. Menan membiarkan penumpang lain turun dulu, penumpang yang bergegas agar segera tiba di rumah. Sedangkan Menan, apa yang dia kejar? Tak ada.
Satu-satu anak tangga turun dia tapaki, dia nikmati sepenuhnya, sesekali matanya dia arahkan ke sekeliling Dermaga Muara. Setiap detail dari Muara ini, Menan hapal betul. Tempat yang dulu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Menan. Di sanalah, pada tiap detail Dermaga ini, Menan habiskan masa anak-anaknya.  
Itu salah satu sebab, mengapa Menan masih menggunakan Kapal laut untuk pulang. Ada keterikatan emosi pada Menan tentang Dermaga ini, tentang laut, tentang kapal dan jarak ke rumah dan Mandeh.
Meski, semuanya sudah berubah. Namun, masih tersisa harapan pada Menan untuk menelusuri jejak itu, mengais sisa dari masa lalunya, sekecil apapun sisa yang yang masih dapat dia raih.
*****

Sabtu, 17 Juni 2017

Saung, Kearifan Lokal yang Tergusur Peradaban




Saung ditengah sawah (dok.Pribadi)

Mengapa, pada luas lahan sawah yang sama di Krawang dan di Banten, panen padi yang dihasilkannya berbeda. Padi yang dihasilkan, pada lahan persawahan di Krawang lebih banyak dibandingkan dengan Banten.
Salah satu pendapat, mengatakan. Bahwa salah satu penyebabnya karena saung.
Kenapa dengan saung?.
Karena saung di areal persawahan daerah Banten, jumlahnya lebih banyak, dibandingkan jumlah saung di daerah Krawang. Artinya, semakin banyak saung, akan semakin banyak petani sawah yang beristirahat di saung.  Akibatnya, jumlah jam kerja yang digunakan untuk aktivitas bertani di sawah akan semakin sedikit. Dengan  sendirinya, panen yang dihasilkan akan berkurang. Demikian salah satu kesimpulan yang diperoleh.
Kesimpulan yang sangat logis. Namun, benarkah demikian? Sesederhana itukah? Tulisan ini, mencoba melihat sisi lain dari sebuah saung.  

Kamis, 15 Juni 2017

Kau


Kau….. (dok.Pribadi)


Kau...
yang datang pada saat terakhir
menyalip pada yang lain
menafikan  yang dulu ada
meninggalkan semuanya yang tersedia
membawa sesuatu yang baru
membuat usang semua yang terdahulu
mentransformasi yang telah ada
merubah segalanya
pada senja berkabut awan,
kau singkirkan sengkala
membuat saat sun set  jadi sempurna
ke peraduan yang indah
diakhir kita berdua
ada sisa senyum yang tak terucap
untuk  saat-saat
kau pernah ada