Jumat, 09 Desember 2016

Yang Tengah: Yang Nikmat

Harmoninya alam, pada alam sore itu di Pantai Senggigi (dok.Pribadi)
Ketika sudah duduk di depan laptop, saya acapkali suka lupa. Berjam-jam melihat tulisan yang ditayangkan pada blog beberapa sahabat, makin dilihat makin asyik. Selalu saja ada hal-hal yang baru, selalu ada ilmu yang manfaat, apalagi jika membaca tulisan mereka yang sudah jadi. Beberapa blogger menulis dengan sangat serius, bahasa yang digunakan tegas, lugas, bernas dan tuntas…tas..tas.
Lupa waktu, lupa pada kewajiban. Hingga ketika adzan tiba, saya masih duduk di depan laptop, masih “melototi” tulisan-tulisan yang bernas pada blog mereka. Lalu….istri saya sengaja sengaja memakaikan sarung yang rapi, pada anak semata wayang saya, kemudian, disuruhnya sang untuk mendekat pada Bapaknya. Sayapun, refleks berdiri meninggalkan laptop untuk berwudhu dan mengimami sholat.
Musim hujan begini, kendaraan yang saya gunakan selalu saja kotor. Saya yang biasanya suka mengelus dan membelai kepala sang buah hati, kini sibuk membelai dan mengelus kendaraan yang kotor, berjam-jam, lupa waktu dan lupa segalanya. Rasanya, ada kenikmatan tersendiri, ketika satu-satu kotoran itu gugur dari kulit kendaraan, lalu tuntas tak bersisa. Kelihatan  kinclong, terlihat wujud aslinya, tanpa asesories tanah dan lumpur. Istri yang sejak tadi hanya melihat, lalu datang membawa handuk, ada pesan terselubung, kini giliran yang membersihkan kendaraan untuk dibersihkan.

Ketika menulis sesuatu, kita cenderung menulis tidak berimbang, sering hanya sesuai pesan sponsor hati. Jika ingin mengkritik, maka tulisan didominasi tentang sesuatu yang jelek, tidak sempurna dan tetek bengek kekurangan dari obyek yang kita tulis, padahal sisi baik selalu ada pada obyek yang kita tulis. Mengapa tidak kita tulis sama banyak, berimbang antara yang baik dan buruk, biarlah kelak pembaca yang akan menyimpulkannya sendiri.
Mestinya, dalam semua hal, kita mestinya berimbang, ada waktunya membaca ada pula waktunya untuk menulis, ada waktu belajar ada pula waktu mengajar. Ada waktu untuk mencari nafkah, ada waktu bercengkrama pada siapa kita carikan nafkah. Ada waktu untuk peduli pada sesama manusia, ada waktu untuk memohon pada yang menciptakan manusia. Inilah harmoni itu.
Hampir semua penyebab bencana, karena tiadanya harmoni. Hutan ditebang namun tidak  pernah ditanami kembali. Sampah-sampah dibuang ke kali tanpa upaya untuk melarang dan membersihkannya, suami istri yang menghabiskan waktu diluar rumah tanpa pernah memikirkan anak-anak dirumah membutuhkan waktu dari mereka. Pemimpin yang minta dilayani tanpa pernah mampu untuk melayani mereka yang dipimpinnya.
Ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan, bagaimana Seorang Ibu Theresa yang sudah melegenda itu dilahirkan oleh tanah yang bernama Albania. Pada Saat yang sama Albania juga melahirkan seorang seorang Muhaddist agung abad ini, bernama Muhammad Nashiruddin Al-Bani. Ada keseimbangan yang diberikan Albania pada kualitas manusia yang dilahirkan tanah Albania.
Jika alam saja mampu memberikan sesuatu yang berimbang untuk terciptanya harmoni, lalu mengapa kita tidak mampu melakukannya, paling tidak berusaha untuk itu?.
Sikap berimbang, itulah ajaran pokok agama, istilahnya Tawazzun, jangan berat ke kiri atau ke kanan, itu juga yang disebut dengan Wasshatan, atau wasit, menilai dan melakukan sesuatunya dengan sikap dan prilaku yang adil, berimbang, tidak berat sebelah. Sehingga akan terjadi harmoni diatas muka bumi.
Saya masih ingat ketika pada pemilu tahun 1982, ketika itu, kami guru-guru diundang ke Balaikota DKI, setelah dijamu dalam acara ramah tamah oleh Pemda DKI yang telah mengundang kami, disela-sela sambutannya, ada pesan sponsor dari tuan rumah. Demikian kalimatnya;”jika ibu bangun tengah malam, maka jangan lupa katakan pada suaminya, pa.. lupa coblos yang tengah dong”. Beberapa diantara kami yang hadir, sempat tertawa, sementara beberapa yang lain, senyum simpul dengan segala tafsir yang ada pada pikiran mereka. Padahal, konteksnya pada waktu itu, adalah Golkar.
Maka, jika kita semua ingin tahu rasanya nikmat. Jangan lupa yang ditengah…..semuanya ada pada pertengahan, pada harmonisasi. Wallahu A’laam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar