Sabtu, 24 Desember 2016

Refleksi Akhir Tahun 2016. Harapan untuk 2017

Sumber gambar; Suara Merdeka.com.17/12/2016

Tak terasa, kembali kita sampai pada penghujung tahun 2016. InsyaAllah tahun baru, hanya tinggal menghitung hari. Setelah itu, kita akan katakan pada tahun 2016, selamat tinggal dan selamat datang tahun 2017  .
Berbagai capaian telah kita torehkan pada tahun 2016, meski jujur, tentu ada juga pencapaian yang gagal untuk kita capai.  Untuk selanjutnya, pada tahun 2017. Kita berharap akan lebih banyak lagi perolehan yang akan kita capai pada tahun 2017, baik secara kualitas maupun kuantitas dengan seminimal mungkin, akan menemui kegagalan yang akan menyertainya, seperti yang kita alami selama tahun lalu.
Untuk merayakan pencapaian ditahun sebelumnya, serta harapan yang lebih baik lagi ditahun berikutnya. Maka, kita biasaanya merayakan penyambutan tahun baru. Caranya bermacam ragam, ada yang keluar kota, ada yang dengan pesta pora ada pula yang merenung. Mengkalkulasi apa sebenarnya yang telah terjadi serta yang akan terjadi?
Fenomenanya? Lihat kemacetan yang mengular di jalan Toll  Cikampek, kemacetan di jalan toll Jagorawi, kemacetan di jalan Toll Tomang hingga Merak. Habis tandasnya semua tiket KA semua jurusan di Pulau Jawa. serta melambungnya harga tiket pesawat Udara. 
Belum cukup semua fenomena itu? Coba lihat status facebook, mereka memajang semua kegiatan liburannya di sana. Dari mulai dari yang tidak liburan, hanya merayakan bersama keluarga di rumah, liburan lokal, ada juga liburan ke Negara tetangga seperti Malaysia, singapura, hingga ke Eropah dan Amerika.
Apakah semua itu salah?  Tentu, tidak salah,  selama kita memiliki dana untuk itu. Jika tidak salah dan punya dana, lalu, apa masalahnya?
Coba lihat bencana yang kita alami selama tahun 2016. Bencana banjir terjadi sebanyak 173 kali, jumlah korban meninggal 140 orang, jumlah pengungsi 2.555.750. kebakaran hutan 178 kali, letusan gunung berapi 7 kali, longsor 552 kali, belum lagi jika dlihat bencana alam yang terjadi sporadic dan bentuknya yang sama sekali lain, dari yang biasa terjadi. Lihat Banjir Bandang di Bandung, sungguh aneh, daerah yang memiliki ketinggian seperti Pasteur dan geger kalong terjadi Banjir, yang terbaru gempa Aceh dengan frekuensi gempa berulang-ulang. Jatuhnya pesawat dari kesatuan TNI yang juga terjadi berulang dalam waktu terakhir ini. Hiruk pikuk kegaduhan tentang krisis kerukunan umat beragama, penistaan agama yang dilakukan Ahok dengan segala implikasinya yang membuat kegaduhan secara nasional, membludaknya tenaga kerja dari China yang menggeser kesempatan kerja warga akar rumput serta sejibun masalah social lainnya.
untuk semua masalah itukah kita merayakan kemenangan dan menjemput asa? Dengan segala dana yang tidak sedikit kita habiskan di jalan raya dan ditempat-tempat wisata, hingga di hotel-hotel mewah.
Masihkah kita menyebut, bahwa semua kegiatan yang kita lakukan itu, tiada yang salah, karena uang yang kita belanjakan, milik kita sendiri.
Tidakkah kita berpikir, jika jumlah nominal uang yang habiskan dijalan raya, tempat destinasy serta hotel-hotel itu, kita alihkan untuk saudara-saudara kita yang mengalami musibah di tahun 2016 kemarin? Sehingga kita dapat dengan legawa mengharapkan asa pencapaian positif yang lebih besar untuk tahun berikutnya, disebabkan kita telah melengkapi asa saudara-saudara kita lainnnya terlebih dahulu, ditahun sebelumnya?.
Bukankah lebih baik, kita melakukan perenungan akan apa yang telah kita capai untuk menyelesaikan masalah bangsa selama 2016, bagaimana kualitas pencapaian itu, bagaimana memperbaiki kualitas yang belum baik untuk lebih baik lagi, serta mengkaji dengan lebih kritis  tentang apa yang belum dapat kita lakukan pada agenda yang kita agendakan untuk dilakukan pada 2016. Mengapa tak dilakukan, apa sebabnya, apa pula solusinya, agar agenda yang direncanakan pada 2017 tidak berulang kembali seperti yang terjadi pada 2016.
Tantangan di tahun 2017, selain bencana alam yang masih akan mengancam, kejadian pilkada serempak, juga mengindikasikan kondisi rawan social serius, jika saja, kita tidak mampu mengelolanya dengan cerdas.
Tak ada langkah ke seratus, ketika tidak dimulai dengan langkah pertama dan kedua dstnya, tak ada asa yang lebih besar jika tak dimulai dengan memenuhi asa yang lebih kecil dari saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Tak ada penerimaan yang lebih besar, jika kita tidak mempersiapkan diri untuk menyediakan tempat bagi penerimaan lebih besar itu. Penyediaan tempat untuk datangnya penerimaan yang lebih besar itu, antara lain, menahan sedikit keinginan untuk pencapaian yang lebih besar. Memberi sedikit untuk memperoleh dua dikit.
Jika, memasuki tahun baru nanti, perilaku kita masih sama dengan tahun sebelumnya, maka kita hanyalah mereka yang pandai bicara, pandai berwacana. Semuanya menjadi nothing, jika dibandingkan dengan satu saja aksi, sekecil apapun itu. Satu wacana yang dilakukan lebih memiliki arti dibandingkan seribu wacana yang tetap tinggal sebagai wacana.
Selamat tahun baru 2017, selamat memasuki tahun yang penuh tantangan dan harapan. Semoga tahun 2017 akan lebih baik lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar