Rabu, 14 Desember 2016

Inilah Misteri Kalkulasi Tentang Rezeki

Jemput Rezeki, ketika Pagi menjelang (dok.Pribadi)
Beberapa hari lalu, saya kedatangan seorang teman. Ketika itu, saya sedang duduk di beranda rumah, tiba-tiba sang teman muncul dengan kendaraan roda dua. Bayangkan, dengan usia kepala enam, sang teman naik motor ke rumah saya, dengan jarak lebih 240 km dari rumahnya.
Malam hari kami ngobrol, saling bertanya kondisi teman-teman lama. Beberapa teman kami sudah tak ada lagi, beberapa lagi, masih ada. Namun, dengan kondisi kesehatan yang memprihatinkan.
Alhamdulillah… meski rezeki begini, badan selalu sehat, anak-anak sudah selesai semua Bang. Demikian kata sahabat saya ketika saya tanyakan kondisi sang teman.  Makjleeeb.. ada sesuatu yang menyadarkan saya dari jawaban sahabat saya itu.  Apa kesadaran itu? Bagaimana menjelaskannya, untuk itulah tulisan ini saya buat.
Kesadaran yang saya maksud adalah rezeki. Semua rezeki yang kita terima, sudah dijanjikan oleh Allah dengan jumlah yang tertentu, tidak tertukar dengan orang lain dan dapat pula, diambil oleh orang lain. 
Tetapi, mengapa ada orang yang dengan kecurangannya bisa cepat kaya, sedang mereka yang jujur, hanya hidup pas-pasan saja? Jawab dari pertanyaann inilah yang ingin saya jelaskan sebagai berikut;
Satu, Yakinlah bahwa Allah Maha Kaya. Sebagai hamba dari Yang Maha Kaya, tentunya sang Maha Kaya tidak akan mensia-siakan hambaNya. Tidak akan membuat hambaNya miskin, apalagi hingga mati kelaparan.
“…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya”  (Surah Hud, ayat 6).
Dua, Allah Maha Sempurna. Maka ketika Allah membagikan rezeki pada hambaNya, maka pembagian itu, dilakukan dengan sempurna. Artinya ada perbandingan yang paripurna pada rezeki yang diterima sang hamba, sehingga ketika sang hamba tidak merubah atau menkonversi perbandingan yang menjadi haknya, maka sang hamba akan memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.
Tiga, yakinkan pada diri sendiri, bahwa yang disebut rezeki bukan hanya berbentuk uang atau berbentuk materi. Melainkan seluruh apa-apa yang diterima dari Allah SWT. Seperti kesehatan, pendengaran, anak-anak, isteri atau suami, pendidikan anak, udara, lokasi tinggal serta waktu.
Empat, untuk jelasnya perbandingan itu, saya akan buat ilustrasi sebagai berikut; misalnya rezeki kesehatan nominalnya A, rezeki waktu nominalnya B, rezeki anak-anak C, suami atau isteri D, rezeki kebahagiaan E, rezeki pendidikan anak-anak F, rezeki uang dan materi lain G. Maka jika A+B+C+D+E+F+G = 20 Milyard (angka 20 M hanya misal). Artinya, total rezeki yang akan kita peroleh sebesar 20 M. Jika kita berusaha secara normal, tidak berbuat kecurangan apa-apa, bekerja dan berusaha sesuai aturan Tuhan, maka nominal yang akan kita peroleh sebesar G. Sebaliknya, jika melakukan kecurangan-kecurangan, misal korupsi. Secara kasat mata, jumlah nominal uang atau materi yang kita peroleh lebih besar dari G. Tetapi nominal keseluruhan yang akan kita terima  nilainya tetap. Sebesar 20 M. artinya, ketika kita melakukan kecurangan, sesungguhnya kita sedang melakukan konversi dari nominal-nominal selain G untuk ditambahkan pada point G.
Menambah jumlah besaran G, artinya, pada saat yang sama, akan mengurangi nilai-nilai yang lain selain G. Itu sebabnya, sering kita lihat, pada seorang koruptor, sering sakit,  atau anggota keluarga sakit, lalu untuk menyembuhkan penyakitnya, koruptor  dipaksa untuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit.  Penjelasan dari fenomena ini, uang yang berhasil dia kumpulkan, sesungguhnya hanya konversi dari rezeki sehat yang dia miliki. Dan ketika dia ingin mengembalikan kesehatan yang telah dia konversikan dalam bentuk uang atau materi lain, maka sang koruptor harus menebusnya dengan uang yang telah dia konversikan dengan paksa terhadap pengurangan kesehatan yang sesungguhnya memang sudah jadi miliknya.  
Kondisi sakit itu, sesungguhnya adalah upaya  “rezeki” guna mencapai titik equibilirum (keseimbangan) sebagaimana awal peruntukan perbandingan rezeki. Menerima kondisi penyakit yang diderita dengan ikhlas, dalam pandangan Islam dapat mengurangi dosa atau pengampunan. Tetapi, menisbikan kondisi demikian akan menimbulkan dosa-dosa baru. Karena, kondisi yang dialami sekarang, sesungguhnya, akibat dari perbuatan kita sendiri.
Contoh lain, ketika terjadi kecurangan, rezeki seakan bertambah, pada saat yang sama, terjadi musibah anak yang bandel, memalukan keluarga. Apa artinya? Ternyata kita telah menkonversikan rezeki yang berbentuk ketenangan hidup yang memang menjadi milik kita dengan segepok uang korupsi.
Kunjungan sahabat yang menginspirasi tulisan ini (dok.Pribadi)
Bagaimana dengan  mereka yang menjadi korban dari segala macam kecurangan? Apakah rezeki mereka berkurang? Atau bagaimana?
Pada mereka yang terdzalimi, seakan rezeki mereka berkurang. Tetapi sesungguhnya tidak. Mengapa? Karena yang berkurang adalah rezeki yang berbentuk materi. Tetapi, pada rezeki dalam bentuk lain, bertambah. Betapa banyak kita lihat  mereka yang karena kesalahan sistem menjadi miskin (katakan saja tukang Beca). Tetapi, anak-anak mereka sukses menjadi sarjana. Apa artinya, kemiskinan karena kecurangan sistem, dikonversikan dengan bertambahnya rezeki dalam bentuk pendidikan anak-anak. Untuk menjadi sarjana, anak-anak mereka mendapat bea siswa, sehingga orang tua tak membutuhkan banyak biaya untuk menjadikan anaknya sarjana.
Sungguh, ketika kita diminta untuk bekerja jujur artinya kita diminta untuk tidak melakukan konversi pada rezeki kita, hingga kita memperoleh rezeki dalam bentuk keseimbangan penuh. Hingga, ketenangan dan kebahagiaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri.
Sungguh, ketika kita diminta untuk bekerja tekun, sesungguhnya, ada pesan agar rezeki yang akan kita peroleh berada pada kondisi  yang sempurna. Dengan demikian, bahagia dan ketenangan merupakan bagian dari kita, hadir dalam bentuk sempurna.

Masih tergoda untuk berbuat curang atau merugikan orang lain? Masih kecewa dengan kecurangan orang lan pada diri kita? Jawabannya, ada pada anda ……………… wallahu A’laam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar