Selasa, 27 Desember 2016

Kiat Bersama Rasulullah di Syurga

 Jalan menuju syurga nan penuh liku (dok.Pribadi)
Beberapa diantara kita, begitu bangga dan bahagia jika dapat bertemu dengan sang idola, dapat berjabat tangan dan foto bersama. Ada pula yang bahagia dan bangga jika dapat bertemu dengan pejabat tinggi. Bahkan, jika mungkin, dapat berjabat tangan dan berfoto dengan orang nomer satu dinegri ini. Padahal, pertemuan dengan sang Idola atau dengan pejabat tinggi, hanya bersifat sementara, hanya dalam hitungan jam dan setelah itu, sang pejabat atau sang idola kembali dengan kesibukannya dan kita kembali dengan dunia kita. Waktu dalam kebersamaan sangat singkat, hanya dalam hitungan jam.
Ada juga yang mengidam-idamkan, jika saja dapat menikah dan berumah tangga  dengan orang yang dicintainya, maka bahagia yang akan diperolehnya luar biasa. Jasmani rohani. Benarkah? Jika juga benar, maka sifatnya, juga sementara, selama kita hidup di dunia, selama pasangan kita hidup. Lalu, kita berpisah dengan batas umur yang kita miliki, apakah pasangan kita yang mendahului, atau kita yang meninggalkannya.

Lalu, apa reaksi kita, jika Allah memberikan penawaran yang sungguh komplit. Kita akan bersama orang yang kita idolakan, orang yang jabatannya nomer satu, bukan hanya pada satu Negara, melainkan meliputi seluruh manusia, juga orang yang sangat kita cintai. Waktunya? Tidak dalam hitungan jam, melainkan kekal selamanya. Dialah Muhammad SAW. Rasulullah yang menjadi kekasih Allah. Pada kekasih Allah ini, Allah menawarkan opsi, jika manusia ingin selalu berdekatan dengan beliau di syurga kelak.
Untuk mereka yang berminat dengan tawaran Allah itu, berikut ini, beberapa kiat, yang dapat menyampaikan kita pada pencapaian yang memenuhi syarat untuk menerima tawaran yang diberikan Allah SWT tersebut.
Kiat-kiat itu, adalah sebagai berikut:
Satu, Taat pada Allah dan Rasulnya.
Taat pada Allah dan Rasulnya, seperti kita kembali pada awal berIslam. “aku bersaksi bahwa Tiada Illah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adaalah Utusan Allah” . itu artinya, tiada kecenderungan (Illah), apakah hati, pikiran atau tindakan, kecuali hanya pada Allah. tiada yang menjadi panutan, tiada contoh, tiada idola, kecuali hanya Muhammad SAW. Inilah, tafsiran sahadat yang hendaknya kita pahami untuk taat pada Allah dan rasulNya. Sebagaimana FirmanNya;
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-Nisa’: 69)

Dua, Mencintai Rasul.
Bicara cinta, bicara soal hati, lalu pertanyaannya, siapa yang bias menilai hati? Kecuali orang yang kita cintai. Perwujudan dari rasa cinta itu, ada perhatian yang lebih dari yang mencintai pada yang dicintai. Kini, pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk orang yang kita cintai?  Apakah perilaku hidup kita, sudah sesuai dengan perilaku yang dicontohkan dengan orang yang kita cintai, apakah sudah kita lakukan pernyataan cinta itu melalui lisan dan hati (shalawat nabi), apakah sudah kita cintai mereka-mereka yang dicintai oleh orang yang kita cintai. Jika belum, kinilah saatnya untuk memulai semua yang belum kita lakukan itu.
Jika sudah kita lakukan, maka kontinyulah (istiqomah) untuk terus melakukan dan percayalah janji rasul, sebagaimana hadistnya dibawah ini;
Anas bin Malik berkata: “Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).”
Kemudian Anas berkata: “Sungguh saya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhari)

Tiga, Memperbanyak shalat Sunnah.
Logika berpikirnya, jika shalat itu kewajiban, maka ketika kewajiban telah dilaksanakan maka utang sudah dibayarkan. Apakah kita akan hanya sibuk dengan bayar utang saja? Apakah tidak terpikirkan untuk memperoleh bonus tambahan, memiliki tabungan yang akan memakmurkan kita, memiliki sesuatu yang lebih? Jawab dari semua itu, maka lakukan tambahan-tambahan usaha. Tambahan usaha dalam sholat, itulah yang disebut dengan sholat sunnah. Perbanyak sholat sunnah, hingga dia akan sesuai dengan apa yang dimaksud dengan hadist;
“Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim).

Empat, Berakhlak Mulia.
Untuk mengetahui akhlak mulia itu tidak sulit, lihat apa yang sudah dilakukan Rasul, baca yang sudah diterimanya dari Allah. Pertanyaannya, apakah yang sudah kita ketahui dan kit abaca itu, sudah kita lakukan. Maka jika jawabannya sudah kita lakukan maka kita sudah berakhlak mulia, jika belum kita lakukan. Maka, teguhkan pendirian dan bulatkan tekad untuk segera melakukannya. Itulah yang dimaksudkan dengan hadist nabi dibawah ini;
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wasallam bersabda:
 “Sesungguhnya orang yang paling saya cintai dan paling dekat majelisnya denganku di antara kalian hari kiamat kelak (di surga) adalah yang paling baik akhlaknya…”. (HR. Al-Tirmidzi dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Lima, memperbanyak Shalawat.
Shalawat adalah kalimat yang bukan hanya sebagai pernyataan cinta pada Rasul, dia juga berisi pujian, do’a dan pengharapan. Demikian komplet kandungan arti kalimat shalawat ini, hingga Allah menyuruh kita untuk memperbanyak shalawat, membacanya dalam shalat. Hingga sangat wajar mereka yang selalu bershalawat, akan memperoleh tempat yang sangat terhormat. Mereka akan bersama denga Rasul kelak di syurga. Kalimat shalawat, kalimat yang ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Manusia yang paling utama (dekat) denganku hari kiamat kelak adalah yang paling banyak bershalawat atasku.” (HR. Al-Tirmidzi, dan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Enam, Merawat dan menyantuni anak Yatim.
Percayalah Allah itu Maha Kaya, Maha Kasih, Maha Sayang. Lalu, apa perlunya juga Allah memisahkan anak dengan orang tuanya, menjadikan seorang fakir sementara yang lain kaya. Semuanya tak lain, hanya untuk menjadikan ujian bagi manusia. Untuk anak-anak yang dipisahkan Allah, adakah manusia lain, bersedia untuk menginfakkan dirinya untuk menggantikan fungsi orang tua yang telah meninggalkan sang anak, memberikan cinta, apa yang mestinya diberikan sang orang tua yang telah meninggalkan sang anak itu. Untuk mereka yang mau dan bersedia menginfakkan diri sebagai pengganti orang tua yang telah meninggal itu, Allah menjanjikan tawaran seperti yang sudah dituliskan di awal tulisan ini. Sesuai pula dengan hadist nabi dibawah ini;    
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,  “Saya dan orang yang merawat anak yatim di surga kelak seperti ini,” seraya beliau mengisyaratkan jari tengah dan telunjuknya lalu merenggangkan keduanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Tujuh, Mendidik anak-anak Wanita menjadi Shalihah.
Jika ada amanah yang paling tepat untuk dilaksanakan, maka amanah itu, bagaimana agar bumi ini menjadikan aman dan damai. Itu artinya, ada manusia yang mewujudkan keamanan dan kedamaian dengan landasan iman dan takwa. Untuk mewujudkan itu, maka dibutuhkan sang guru yang mengajarkannya, maka guru yang paling berkesan bagi seorang anak adalah sang Ibu. Jadi, sangat logis, jika fokus bagi mereka yang cerdas, mempersiapkan calon-calon ibu dengan perilaku shalihah. Jika saja, para Ibu-Ibu yang mendidik anaknya adalah ibu-ibu Shalihah, maka separuh dari masalah kerumitan akan pendidikan dan akhlak generasi penerus sudah selesai. Itulah sebabnya, mendidik anak-anak wanita menjadi wanita shalihah, menjadikan pekerjaan sentral dan ganjaran untuk pekerjaan itu, syurga. Dan, Syurga yang paling VVIP adalah syurga yang ditempati Rasulullah.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang memelihara (mendidik) dua wanita sampai mereka dewasa, maka saya akan masuk surga bersamanya di surga kelak seperti ini”,  beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar