Rabu, 07 Desember 2016

Ketika Abidin Protes Pada Allah.

Mesjid Jamik, Pancor, Lombok. (dok.Pribadi)
Abidin bukanlah nama seseorang. Melainkan alias atau gelar seseorang yang dilekatkan padanya karena perilaku kesehariannya. Kata Abidin berasal dari kata Abid yang berarti ibadah. Seseorang yang dikenal sangat rajin beribadah, maka layak disebut atau digelari dengan nama Abidin.
Alkisah, Abidin yang satu ini, demikian rajinnya beribadah, hingga demi kenyamanan diri dalam beribadah pada Allah dan demi agar terhindar dari segala godaan yang akan memalingkan kekhusu’an dirinya dalam beribadah pada Allah. Maka, sang Abidin mengasingkan diri dari keramaian masyarakatnya. Meninggalkan anak istrinya, kaum kerabat dan pergi jauh dari kampong halaman, menuju ke suatu daerah yang tak berpenghuni.
Dengan terhindarnya dari pertemuan dengan manusia, maka sang Abidin dengan leluasa siang malam dan setiap detik waktunya dia habiskan hanya untuk beribadah pada Allah. Tak ada waktu yang terlewatkan baginya, kecuali hanya beribadah. Tak ada yang lain.

Waktupun berlalu, tak satupun yang bernyawa yang akan hidup selamanya. Termasuk sang Abidin. Ajal menjemputnya. Tak seorangpun yang tahu, tak seorangpun yang memakamkan sang Abidin. Namun, semua itu tak mengurangi rasa bahagia yang dirasa sang Abidin. Bukankah seluruh waktu telah dia habiskan untuk beribadah pada Allah. Itu artinya, syurga yang dijanjikan telah dalam genggaman.
******
Namun, apa yang terjadi. Keputusan akhir sidang di Yaumil Akhir, sang Abidin harus masuk Neraka. Sang Abidin tidak terima. Abidin protes dan melakukan tindakan naik banding, tak tanggung-tanggung, langsung pada Allah. Lalu, terjadilah dialog antara Allah dan Abidin sbb:
“silahkan, ajukan keberatanmu Abidin” demikian Allah.
“Bukankah aku, telah menghabiskan seluruh waktuku hanya untukMu ya Allah” kata Abidin.
“Benar..”
“Bukankah, aku sudah meninggalkan semua kenikmatan duniawi hanya untuk dapat beribadah hanya padaMu ya Allah”
“Benar..”
“Bukankah itu, artinya, aku sangat mencintaiMu, sangat patuh padaMu ya Allah”
“Benar..”
“Lalu apa sebabnya, Engkau masukkan aku kedalam Neraka?” Tanya Abidin.
Disitulah masalahnya, Jawab Allah. Cinta yang kau persembahkan padaKu, adalah cinta yang kering, cinta yang tak berimbas pada Makhluk lain yang AKu cintai juga. Kebaktian yang kau persembahkan padaKu, kebaktian yang hanya Aku yang dapat merasakan, sementara makhlukKu yang lain, tak dapat merasakan.  Yang ada hanya kau dan Aku.
Padahal, kau kuciptakan sebagai manusia, sebagai khalifah, sebagai pemimpin di dalam masyarakatmu, di dalam keluargamu. Kau juga kuciptakan sebagai hamba, yang tugasnya menghamba padaKu, juga menghamba atau melayani pada makhluk-makhlukKu sebagai manifestasi hambamu padaKu.
Kemana dirimu, ketika keluargamu membutuhkan makanan minum? Apa yang kau lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka?
Kemana dirimu ketika anak istrimu sakit? Apa yang kau lakukan ketika itu pada mereka?
Kemana dirimu ketika kampungmu dimasuki maling? Apa yang kau lakukan untuk mereka?
Kemana dirimu, ketika agamamu dilecehkan orang, dihina orang? Apa yang kau lakukan untuk menegakkan marwah agamu itu?
Mengapa jenazahmu tak terkuburkan? Mengapa kau tutup kemungkinan masyarakat luas untuk menunaikan kewajiban mereka, menguburkan jasad dirimu..
Mengapa kau biarkan rindu yang menyiksa pada isterimu, pada anak-anakmu, pada orang tuamu, pada kakak-kakakmu, pada adik-adikmu, untuk bertemu dengan dirimu, untuk mengetahui tentang kesehatanmu, melihat senyummu, melihat binar bahagia atau sedih pada matamu…
Mengapa kau abaikan tanggung jawab sosialmu pada masyarakat sekitarmu? Mana peranmu sebagai warga masyarakat? Bukankah tugasmu bukan hanya mengabdi padaKu, tetapi juga  memakmurkan bumi, mencipatakan kedamaian di masyarakat, mengejawantahkan tentang Islam yang rahmatan lil alamien dalam perilaku hidupmu. Hingga konsep Islam rahmatin lil alamien itu, bukan sekedar konsep. Melainkan sebuah bentuk nyata yang kau lakukan dalam kehidupan sehari-harimu.
Sesungguhnya, Ibadah yang kau lakukan padaKu, sebesar apapun itu, tak cukup sebagai balas atas apa yang telah kau nikmati selama di dunia. Lalu, jika semua ibadahmu belum cukup untuk membayar semua nikmat yang kau terima. Masihkah kau menuntut sesuatu yang lain lagi. Apalagi yang kau lakukan padaKu, masih menyisakan utang tugasmu pada masyarakatmu, pada orang-orang yang Ku tugaskan padamu untuk berhikmat pada  mereka.
Allah….. masih terus memberikan argumenNya pada sang Abidin. Sang Abidin hanya mampu tertunduk. Sang Abidin melakukan suatu hal, semantara hal yang lain dia abaikan.


Catatan:
·         Mohon maaf jika cerita imaginer ini kurang berkenan, pada Allah saya mohon ampun
·         Cara kita berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan kualitas interaksi kita pada Allah.
·         Kewajiban manusia sesungguhnya vertical dan horizontal. Dua kewajiban itu, hendaknya dilakukan dengan kualitas yang sama baiknya.

1 komentar:

  1. Salam,

    Cerita ini sudah tidak asing bagi kita semua,namun selama proses membaca saya mendapati telah ditambahkan bumbu-bumbu baru sesuai selera.

    Bila niatnya adalah membuat masakan rasa pedas, walaupun bumbu-bumbu telah ditumbuk halus dan dirahasiakan, aroma dan rasanya tak bisa dibohongi, akan berasa tetep pedas. Kecuali bagi yang sudah "mati rasa".

    TQ,
    Salam

    BalasHapus