Sabtu, 03 Desember 2016

Fenomena Cinta, Apa itu?

Cinta yang fenomenal  (dok.Pribadi)
Ada rumah tangga yang dibangun tanpa cinta. Namun, awet hingga kakek nenek, model rumah tangga yang model begini, umum kita lihat pada rumah tangga tempo dulu. Mereka menikah karena dijodohkan orang tua. Pertemuan yang dilakukan sekali dua kali menjelang pernikahan. Lalu, dilanjutkan pada pernikahan. Aneh, ternyata rumah tangga yang mereka bina, sukses hingga usia kakek nenek. Rumah tangga yang dipenuhi oleh Toto tentrem kerto raharjo.
Namun, ada juga rumah tangga yang dibina dengan sepenuh cinta. Mereka pacaran hingga beberapa tahun, beberapa, bahkan hingga lebih sepuluh tahun. Tetapi, setelah menikah, usia pernikahan yang mereka bina, lebih singkat dari usia pacaran. Upacara pernikahan yang gegap gempita masih hangat dalam kenangan pada kerabat, tetapi, rumah tangga yang dibina pada kenangan itu sudah bubar jalan.
Lalu apa yang salah, dalam fenomena rumah tangga yang dibina dengan sepenuh cinta itu? Apakah benar, rumah tangga yang dibangun tanpa cinta akan lebih awet, lebih dapat mencapai Toto tentrem kerto raharjo? Apakah rumah tangga yang dimulali dengan pacaran panjang, tidak menjamin keberlangsungan dan kebahagiaan dalam rumah tangga?
Untuk menjawab pertanyaan itu. Maka, tulisan ini, saya buat.
Menurut saya, tak ada yang salah dengan cinta. Yang salah, ketika, kita salah dalam menilai cinta dan meletakkan posisi cinta pada posisi yang seharusnya diletakkan. Kejelian dalam menilai cinta dan memposisikan cinta, agaknya yang menjadi hal krusial dalam mencapai sukses tidaknya dalam rumah tangga.
Asumsi yang berlaku umum, ada banyak jenis cinta. Cinta Nusa Bangsa, Cinta pada orang tua, cinta pada lawan jenis, cinta orang tua pada anaknya, cinta anak pada orang tua dan cinta suami-istri serta, dan masih banyak cinta yang lain. 
Padahal, menurut saya. Cinta itu hanya satu. Cinta yang merupakan satu kesatuan utuh, Cinta yang melingkupi keseluruhan. Lalu, dari satu kesatuan itu, banyak cabang dan turunan yang mengikutinya. Ketika kita membicarakan banyak jenis cinta, maka dibutuhkan kejelian melihat, apakah cinta yang kini sedang kita lakukan itu, berada pada cabang yang benar, hingga ketika ditarik runutannya sampai pada cinta yang satu diatas, atau cabangnya akan terputus, bukan merupakan bagian dari satu kesatuan.
Masalahnya, bagaimana kita memposisikan cinta itu, sehingga sang cinta, berada pada posisi yang benar. Sesuai menurut urutan prioritas.
Cinta juga, ibarat sebuah suara. Akan terdengar gaungnya, jika berada pada frekwensi yang sama dan getar amplitudo sama. Jika di luar itu, maka, itu bukan cinta. Melainkan hanya nafsu semata.
Baiklah, bagaimana urutan-urutan cinta itu?
Urutan pertama, Cinta pada Allah.
Inilah pamungkas dari segala cinta. Semua kerja dan karya kita, hendaklah seluruhnya merupakan refleksi cinta pada Allah. Sehingga, ketika kita bekerja, maka bekerjalah dengan cinta. Karena Allah sesungguhnya cinta pada mereka yang bekerja. Ketika kita berkarya, maka karya yang dihasilkan merupakan refleksi cinta pada Allah. Karena Allah sesungguhnya cinta pada mereka yang berkarya. Jika Allah sang kreator besar, menciptakan hal-hal yang besar-besar yang rumit dan tak mampu manusia melakukannya. Maka, manusia diharapkan menjadi kreator kecil. Memiliki capaian-capaian kreasi kecil. Minimal, ketika karya kecil tidak mampu dihasilkan, maka jangan merusak apa yang telah diciptakan sang Maha. Paling tidak,  manusia dapat menciptakan kedamaian diatas permukaan Bumi.
Urutan kedua, Cinta pada orang tua.
Kenapa cinta orang tua? Karena, orang tua, adalah kreator kecil yang menciptakan kita. Meski sesungguhnya, kreator besar yang mencipta kita adalah Allah. Mencintai orang tua, karena refleksi cinta pada Allah, adalah versi cinta yang benar, versi cinta yang sesungguhnya. Getar frekwensi dan amplitudonya pas, inilah yang kadang juga disebut dengan naluri. Bagaimana mungkin, seorang bayi yang belum memiliki memori di kepalanya, tahu dan mengerti ketika sang Ibu menyodorkan puting susunya untuk diminum oleh sang bayi. Bagaimana mungkin, orang tua yang telah membesarkan kita dengan segala penuh cinta, cinta mereka tak mendapat balas dari orang yang dicintainya. Kita sang anak yang telah dibesarkan dan diberikan pendidikan dengan tulus.
Urutan ketiga, Cinta pada kreasi.
Allah sebagai sang maha kreator, mencintai mereka yang berkreator pula. Meski, kreasi kita tak dapat disebandingkan dengan kreasi yang sang Maha Segalanya itu. tetapi, melakukan hal yang sama pada “sosok” yang kita cintai, merupakan bukti cinta itu sendiri.
Bisa dibayangkan, hasil kreasi yang kita lakukan, jika niatan awalnya, proses pelaksanaan dan hasil akhir, semuanya berlandaskan cinta. Sungguh sempurna.
Urutan keempat, cinta pada yang dicintai orang tua.
Ketika kita menikah, maka itu bukan dilakukan hanya sebagai cinta kita pada sang kekasih semata. Tetapi, sebagai refleksi cinta kita pada orang tua dan sebaliknya, refleksi cinta orang tua pada kita. Apa maksudnya. Ketika kita menikah, orang tua, menghendaki kita bahagia dalam membina rumah tangga. Maka, untuk memenuhi keinginan orang tua, agar kita bahagia, kita harus mencintai isteri/suami kita. Ketika terjadi ketidak-sesuaian atau selisih paham, maka perlu dicari solusinya dengan dasar pemikiran cinta. Jika suami/isteri harus mengalah, itu dilakukan bukan atas dasar cinta kedua pihak an sich. Melainkan untuk menyenangkan pihak yang dicintai diatasnya, orang tua dan Allah. Karena, kedua cinta yang berada pada posisi diatasnya, menghendaki kita bahagia. Jika, semua yang kita lakukan terhadap pasangan kita, berdasarkan refleksi cinta diatasnya. Maka sudah dapat dipastikan, bahagia, sudah dalam genggaman.
Allah menghendaki kita sebagai kreator kecil, orang tua menghendaki kita memberikan mereka cucu. Maka pergaulilah isteri dan atau suami kita. Hubungan suami isteri yang dilakukan, bukan hanya sebagai “pelepasan” saja. Disana ada nilai sakralnya. Menunaikan perintah Allah agar menjadi sang kreator kecil dan memberikan cucu pada orang tua yang kita cintai.
Ketika hasil kreasi kita itu lahir, maka pemeliharaannya, tentu akan disesuaikan nilai-nilai yang diberikan oleh sang kreator besar dan orang tua yang kita cintai. Kita akan memberikan hal terbaik pada buah hati kita, sebagaimana Allah sudah memberikan yang terbaik untuk kita, demikian juga yang dilakukan orang tua pada kita. Dasar pemikiran lainnya, anak adalah titipan Allah. Ketika seorang Presiden, menitipkan sesuatu pada kita, tentu kita akan memelihara benda yang dititipkan Presiden itu pada kita. Dengan penuh hati-hati, jangan sampai rusak, jangan hilang dan tetap utuh. Lalu, bagaimana sikap dan prilaku kita jika yang menitipkan itu Allah?
Ketika suami tergoda dengan WIL demikian juga isteri dengan PIL. Maka nalar akan berkata, bahwa yang saya lakukan ini, tidak sesuai dengan keinginan Cinta Allah pada saya, juga cinta orang tua pada saya. Artinya, frekwensi dan amplitude getarnya tidak nyambung. Maka, segera akan  ada kesimpulan, bahwa itu bukan cinta, melainkan nafsu semata. Solusinya. Segera hentikan.
Saya masih akan meneruskan tentang cinta yang merupakan satu kesatuan. Tapi, berhubung topik kita hanya soal cinta dalam rumah tangga. Maka saya rasa cukup hingga disini saja.

Jika saja kita dapat meletakkan posisi cinta sesuai dengan kedudukannya. Maka, saya rasa, tak dibutuhkan lagi jawaban, apakah rumah tangga itu, harus dibangun dengan cinta atau tanpa cinta.  Wallahu A’laam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar