Minggu, 25 Desember 2016

Baca Buku Kala Cekak Uang

Sumber gambar : Kaskus
Tahun-tahun dipenghujung 1960-an, daerah tempat tinggal saya. Kondisinya, amat berbeda dengan sekarang. Ketika itu, di sudut pasar kota kami, hanya ada satu tempat persewaan buku. Masih segar dalam ingatan saya, nama persewaan buku itu, “Toko Buku Aneka”. Di toko yang berukuran 2 x 3 meter dijual segala macam Koran, majalah dan buku bacaan. Khusus buku bacaan, ada yang dijual, ada juga yang disewakan. Buku-buku yang disewakan itu, ada yang bisa dibawa pulang dengan waktu tertentu, biasanya 3 hari, ada juga yang dibaca di tempat.  
Harga sewa buku yang dibaca ditempat persewaan, seharga Rp 2,5/buku. Orang daerah saya menyebut nominal angka Rp 2,5 itu, sebagai seringgit. Jadi, jika kita memiliki duit Rp 5, maka kita dapat membaca dua buku buah ditempat persewaan.
Ketika itu, saya masih SD, pergi pulang sekolah selalu dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 1,5 km sekali jalan, jadi pergi pulang sejauh 3 km. suatu yang sangat biasa ketika itu. Dan yang sangat kebetulan, dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah saya selalu melewati toko buku Aneka. Entah, karena kota kecil atau selalu lewat toko Aneka, sang pemilik toko Aneka kenal dengan saya. Jangan tanya siapa nama pemiliknya, karena tidak lumrah di daerah kami ketika itu, menyebut nama orang tua dengan namanya, seperti pak A… atau pak B.. saya menyebut dan memanggil beliau dengan sebutan pak Tuo.

Seperti anak-anak yang lain, ketika sekolah, selalu saja, ibu saya memberi uang jajan. Besarnya uang yang saya terima Rp 10,- Dengan uang sebesar itu, saya dapat membeli Opak (krupuk yang dibuat dari singkong dengan lebar sebesar piring) sebanyak 2 buah atau membeli roti goreng sejumlah dua buah. Jika dikonversikan dengan nominal uang sekarang setara dengan Rp 2000,- karena dengan uang Rp. 2000,- dapat untuk membeli krupuk dua buah atau roti kampung dua buah.
Setiap kali melewati toko Aneka selalu ada keinginan untuk membaca buku, keinginan yang semakin hari semakin besar, tak terbendung. Akhirnya, sayapun mampir juga ke toko buku itu. Saya lihat pada rak buku untuk persewaan, terpajang berbagai macam jenis buku bacaan.  Ada roman, ada novel, ada buku silat, ada dongeng. Di daerah saya ketika itu, ada perbedaan antara buku roman dengan novel. Roman adalah buku yang ditulis oleh para pujangga seperti Hamka, Sutan Takdir Ali Syahbana dll, sementara Novel adalah buku yang ditulis penulis setelah angkatan pujangga itu, seperti Motinggo Busye dll.
Singkat cerita, saya memilih buku dongeng, buku dongeng di toko buku Aneka, hampir seluruhnya dikarang oleh HC.Anderson. saat itu, saya masih awal-awal duduk di kelas 3 SD. Jadilah siang itu saya membaca dua buku karya HC Handerson dengan membayar sewa sebesar Rp. 5,- itu artinya, setengah uang jajan saya hari itu, saya habiskan untuk membaca dongeng karya HC Anderson.  
Demikianlah sejak hari itu, hampir setiap pulang sekolah, saya selalu mampir di toko buku Aneka untuk menghabiskan setengah dari uang jajan saya dengan membaca dua buku karya HC Anderson. Ada rasa bahagia yang tak terkatakan,  setelah saya selesai membaca buku HC Anderson. Ada keinginan kuat untuk melanjutkan membaca lagi dan lagi. Tetapi itu artinya, uang jajan akan tuntas habis untuk sewa baca buku.
Sementara temen-temen di sekolah mulai curiga, mengapa saya belakangn ini, saya hanya jajan dengan nilai nominal yang tak biasanya. Pada teman akrab, yang saya juga tahu “suka” membaca saya ceritakan sebabnya saya membatasi diri untuk jajan. Saya juga ceritakan bagaimana rasanya ketika selesai membaca dongeng HC Anderson, “bahagia yang tak terkatan”.
Mulai hari itu, saya berdua teman, hampir setiap hari, selalu mampir di toko buku Aneka untuk membaca buku HC Anderson. Awalnya, kami membaca masing-masing dua buku, selesai membaca, lalu membayar Rp 5,- pada pemilik toko buku. Tapi, ada sesuatu yang kurang, rasanya, kok terlalu mahal biaya yang kami keluarkan setiap membaca buku harus mengeluarkan Rp 5,- bagaimana caranya membaca dengan harga yang lebih murah lagi. Timbullah ide nakal. Bagaimana jika saya saja yang menyewa buku langsung dua buku, lalu kami mencari tempat yang dipojok, lalu kami bagi dua buku, masing-masing kami membaca buku satu, selesai membaca, lalu buku yang telah saya baca saya berikan pada teman saya, lalu teman saya, juga melakukan hal yang sama yang sama pada saya. Setelah kedua buku selesai dibaca kami pulang. Siang itu, kami berdua membaca dua buku dengan harga Rp 5,- dan saya yang bayar. Besoknya kami baca dua buku dengan harga Rp 5,- dan teman saya yang bayar. Begitulah terus kami lakukan setelah hari itu
Naik kelas 4 SD ternyata, jatah dua buku dirasa kurang, akhirnya, kami sepakat untuk masing-masing menyewa dua buku, selesai saya membaca dua buku yang sewa, lalu saya serahkan pada teman saya, demikian yang dilakukannya. Menyerahkan dua buku yang telah selesai dia baca. Akhirnya, kami dapat membaca 4 buku dengan harga Rp 5,-.
Selama kami melakukan “kecurangan” itu, pemilik toko buku, sepertinya tak tahu yang kami lakukan. Semuanya aman-aman saja. Sesuatu yang bagi kami, seakan sebuah “prestasi”. Namun sesungguhnya bukan. Karena, ketika delapan tahun setelah peristiwa itu, setamat saya SMA, ketika saya main ke toko langganan saya, sang pemilik toko menceritakan pada saya apa yang saya lakukan. “Pak Tuo lakukan itu, karena Pak Tuo  tahu, kalian anak-anak baik yang suka baca, hanya karena gak punya uang saja” begitu kata pemilik toko buku langganan saya.
Naik kelas lima, jenis bacaan yang saya baca sudah mulai bervariasi, ada buku-buku silat karya Ganes TH, serial si Buta dari Goa Hantu, Bukek Siansu karya Kho Phing Hoo. Si Jampang Karya Zaidin Wahab, buku-buku cerita rakyat dari berbagai daerah seperti Malin kundang, legenda Tangkuba Perahu dll.
Hingga tamat SD saya belum membaca novel, kenapa? Karena ada ibu yang selalu tahu apa yang saya baca. Karena dipertengahan kelas lima, saya dan teman saya merubah cara membaca buku. Masing-masing kami menyewa 2 judul buku untuk dibawa pulang, selesai baca, kami saling tukar buku yang kami pinjam. Itu sebabnya, ibu selalu tahu jenis buku yang saya baca.

Selanjutnya, buku yang dibaca era SMP…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar