Rabu, 07 Desember 2016

Akulah Batu, Kaulah Debu

Akulah batu, kaulah debu (foto. Pribadi)
Menikah adalah menggabungkan dua keluarga besar, antara keluarga besar isteri dan keluarga besar suami. Bukan hanya antara dua manusia, suami dan isteri, an sich. Menggabungkan antara suami dengan keluarga isteri dan isteri dengan keluarga suami. Terlebih antara suami dengan kedua Mertua demikian juga Isteri dengan kedua Mertuanya. Prinsipnya, sangat sederhana, kedua Mertua itu, kedudukannya sama dengan orang tua sendiri. Kedua Mertua itu, telah melahirkan dan membesarkan pasangan kita dengan sepenuh cinta. Cinta yang kadang kadarnya lebih besar dari cinta yang mampu diberikan oleh sang Suami ataupun Sang istri.
Jika kedua Mertua telah tiada, maka idealnya, hubungan inten pada saudara-saudara Isteri dan saudara-saudara Suami tetap harus dijaga sebagaimana sebelum kedua Mertua masih ada. Bukankah mereka, anak-anak Mertua juga, anak-anak yang Mertua telah memberikan cintanya, sama dalam kualitas dan kuantitasnya dengan pasangan kita.

Hubungan yang seyogyanyanya tidak didasarkan pada kedudukan mereka di masyarakat, status sosial dan kepemilikan terhadap materi yang mereka miliki. Tetapi, hubungan yang berdasarkan dengan rasa kasih sayang, sebagaimana kita mengasihi dan menyayangi sang pasangan kita. Kegagalan dalam menjalin hubungan dalam keluarga besar, dari anak-anak mertua, bisa jadi, akan mempengaruhi keharmonisan keluarga inti. Paling tidak, inilah yang terjadi pada keluarga di Indonesia, dimana kita, masih hidup dalam suasana yang guyub.
Dalam tulisan ini, saya akan memberikan sebuah contoh keluarga yang gagal dalam menjalin hubungan dengan saudara-saudara sang suami, semoga ada manfaat untuk kita semua. Sebut saja antara A dan B, suami kita sebut dengan A dan sang Isteri kita sebut dengan B. Contoh sebuah keluarga yang terlihat dari luar, sebagai keluarga idaman.
Ketika Mertua masih hidup, mereka sukses menjalin hubungan dengan Mertua dan anak-anak Mertuanya. Ketika itu, mereka belum jadi apa-apa, masih menjadi staff di tempat mereka kerja. Berjalannya waktu, Mertua pun meninggal, sementara karier suami terus melejit, hingga menjadi pejabat yang cukup disegani di daerah tempat tinggalnya. Si Ibu pejabat, entah karena kesibukan mendampingi tugas suami, atau entah karena apa, tak pernah lagi bersilaturahmi pada Kakak perempuan sang suami. Padahal, mereka tinggal satu kota yang sama, dan letak rumah Kakak perempuan suami adalah rumah peninggalan Mertua, yang selama Mertua hidup sering dikunjunginya, bahkan acap bermalam di sana.
Tinggallah kakak perempuan suami, mengelus dada seorang diri, melihat perubahan yang dialaminya terhadap perlakuan sang isteri pejabat. Tak ada kata protes, tak ada kata kasar yang dilontarkan oleh sang kakak perempuan suami terhadap ibu pejabat. Kakak ipar sang Ibu pejabat, yang kebetulan berprofesi sebagai ustadzah itu, hanya melihat segala ihwal perubahan itu dengan rasa prihatin.
Tak ada yang terlihat berubah pada pandangan masyarakat sekitar. A dan B menapaki kesuksesannya, sementara kakak perempuan suami tetap pada kegiatannya, mengisi taklim pada ibu-ibu di masyarakat sekitarnya. Semua berjalan sama, hanya keluarga inti yang mengetahui perubahan yang terjadi pada Ibu pejabat pada kakak Iparnya.
Akhirnya, peristiwa itupun terjadi. Sang kakak perempuan suami, mengadakan walimatus syafar (syukuran atau selamatan yang dilakukan oleh mereka yang akan menunaikan ibadah haji). Perjamuan ini, dihadiri oleh ibu-ibu majelis taklim, tokoh masyarakat serta tokoh agama. Entah karena dihadiri oleh banyak tokoh atau entah karena apa, singkat cerita, sang Ibu pejabat, hadir juga disana. Selesai acara walimatus syafar, sang Ibu pejabat, menemui kakak perempuan suaminya.
Maksudnya, disamping mengucapkan selamat, semoga selamat pergi-pulang menunaikan ibadah haji, juga sang Ibu Pejabat menyampaikan curhat. Bagaimana perilaku suaminya, belakangan ini, sedang tergoda dengan WIL nya. Sang Ibu pejabat, meminta uluran tangan sang kakak perempuan suami, agar dapat menasehati adiknya, untuk segera sadar serta kembali lagi dalam pelukan keluarga. Karena, demikian kata Ibu Pejabat, hanya kakak Iparnya itu, yang kata-katanya dapat didengar dan dipatuhi oleh suaminya.
Mendengar permintaan ibu pejabat itu, sang kakak perempuan suami, merasa, kinilah saatnya yang tepat untuk menasehati adik iparnya dari segala keteledoran dan khilaf yang selama ini dibuatnya. Demikanlah yang dikatakan sang kakak perempuan suami dari ibu pejabat itu. Kemana saja adik selama ini? Bukankah selama ini, kakak telah adik lupakan? Bukankah adik setiap hari tetap lewat di jalan di depan rumah ini, tetapi adik tidak pernah sekalipun tergerak untuk singgah. Kakak yang melihat perilaku adik itu, hanya mengelus dada. Tak ada umpat, tak ada keluh yang keluar dari mulut kakak. Semua kakak telan dengan diam, kakak hanya berharap, adik dapat meraih bahagia dengan suami adik.
Meskipun, sebenarnya, posisi adik adalah bak debu diatas batu. Angin kencang, dapat kapan saja dapat bertiup diatas batu itu, lalu membawa sang debu terbang  entah kemana. Sedangkan kakak adalah batunya. Apapun perilaku suami adik, dia tetap adik bagi kakak, tak tergoyahkan dan tergantikan. Tak ada istilah bekas adik atau mantan adik, terhadap suamimu.
Jadi, mestinya pada kakak, adik tidak boleh bersikap, seakan-akan tidak kenal, kalau sudah begini keadaannya, apa jawab adik, jika kakak katakan bahwa kakak tidak kenal dengan adik? Peristiwa yang terjadi pada adik, kakak perihatin, tetapi hikmah dibalik itu, agaknya Allah menegur adik, akan sikap adik selama ini. Kakak akan menegur suamimu, dan men-garansi bahwa dia akan kembali ke rumah dengan utuh tanpa kurang suatu apa, dengan satu permintaan kakak, rubah perilakumu. Sesungguhnya, pernikahan itu, menyatukan keluarga besar, terlepas apapun status sosial anggota keluarga itu dalam masyarakat.

Ketika kakak perempuan suami itu pulang dari Tanah Suci, sepasang pejabat itu terlihat menjemput sang kakak perempuan di Bandara. Mereka kini hidup rukun damai. Hubungan silaturahmi yang selama ini pernah terputus pada sang kakak, Alhamdulillah telah pulih kembali. 


#Sebagaimana yang diceritakan oleh kakak perempuan sang suami pada penulis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar