Jumat, 11 November 2016

Mengubah NTT, Nasib Tak Tentu

Gunung Batu sepanjang jalan, pandangan yang terjadi dibanyak tempat di Flores (dok.Pribadi)
Flores memang terletak di Nusa Tenggara Timur. Tetapi, Nusa Tenggara Timur bukan hanya Flores. Banyak pulau lainnya, sebut saja Timor, Lembata dan banyak lagi lainnya.
Namun, yang terekspos di media massa, NTT didominasi dengan tanah yang kering, tanah yang gersang dan air yang sulit didapatkan, dengan runutan berikutnya, adalah kemiskinan yang akut pada masyarakatnya. Sehingga, NTT sering dipelesetkan dengan Nasib Tak Tentu . Gambaran yang tidak sepenuhnya benar. Paling tidak, untuk pulau Flores.
Secara garis besar, kemiskinan memang ada di Flores. Indikasinya, bagaimana rumah-rumah di Flores didominasi dengan dinding yang terbuat dari Bambu. Di Flores disebut dengan Naja. Sehingga, jika malam tiba, angin dan nyamuk dengan leluasa masuk ke dalam rumah.
Indikasi lain, pemuda-pemuda Flores pada merantau, lihat saja, pada hampir setiap kota besar di Pulau Jawa, pemuda-pemuda Flores dapat kita jumpai, demikian juga kota yang memiliki Industri, sebuat saja Batam sebagai contoh, belum lagi di Malaysia, dengan mudah kita bertemu dengan pemuda-pemuda berasal dari Flores.
Sayangnya, para perantau dari Flores, memilih bidang kerja yang mengandalkan pada kekuatan fisik, seperti menjadi security, menjadi karyawan, dll. Sehingga, keberhasilan secara ekonomi, tidak signifikan mereka peroleh. Akibatnya, keberadaan mereka tidak menembus kelas menengah. Mereka tetap berada pada kelas pekerja.
Dengan demikian, kepindahan para pemuda itu, hanya memindahkan kemiskinan, dari daerah asal mereka ke daerah dimana mereka merantau. Meski, teori ini, tidak selalu berlaku pada perantau muda asal Flores. 
Pertanyaannya, apakah Flores tanah yang gersang? Sehingga kemiskinan menjadi akrab dengan penduduknya? Jawabannya, ternyata bukan terletak pada soal tanah Flores. Melainkan pada budaya dan kejelian membaca potensi.
Perhatikan Potensi Batu yang tersedia (dok.Pribadi)
Bagi mereka yang telah mengunjungi Flores, segera menyadari bahwa Flores memiliki banyak potensi yang menjanjikan. Alam Flores yang indah, menjanjikan wisata alam yang potensial untuk dikembangkan. Masalahnya, sejauh mana pemerintah daerah serius menangani keindahan alam ini? Modal dasar telah dimiliki Flores, berupa alam yang indah dan masyarakat yang damai. Flores dikenal dengan “keamanan” yang nyaris sempurna. Tak ada pencurian, tak ada tindakan kekerasan pada wisatawan. Tinggal kini, bagaimana menjual potensi itu, pada pasar. Bagaimana dengan kemudahan akses menuju daerah wisata, bagaimana menyediakan tenaga-tenaga guide yang professional, mengagendakan peristiwa-peristiwa  budaya menjadi sesuatu yang pasti, terutama tentang jadwal waktu dan tempatnya. Sebagai ilustrasi, bagaimana seorang Kadis Pariwisata di sebuah kabupaten, tidak mampu menjawab pasti, kapan tanggal persisnya arena tinju adat di daerahnya dilaksanakan. Sedangkan bagi wisatawan, kepastian jadwal sebuah event sangat krusial. Dengan kepastian tanggal sebuah event, wisatawan dapat merencanakan jadwal kunjungan.
Geliat wisata yang menjanjikan, akan membutuhkan banyak tenaga muda, kepindahan mereka keluar daerah dapat dicegah, mereka dengan sendirinya akan membangun Flores, pada giliran terakhirnya, akan memakmurkan Flores.

Masih soal alam. Potensi lain yang luput dilihat adalah soal batu dan pasir. Flores adalah pulau yang dominan dengan batu. Dihampir seluruh wilayahnya ada batu. Tak ada kabupaten yang tak memiliki gunung batu. Demikian juga dengan pasir. Untuk memperoleh pasir, masyarakat tidak perlu menggali tanah –dikenal dengan istilah pasir sedot- atau mencari di sungai. Flores menyediakan pasir dalam bentuk gunung pasir. Paling tidak saya mengenal tiga gunung pasir yang terdapat di Flores. Yakni; di Aimere ada Bukit Pasir Waelako, Desa Binawali, kecamatan Aimere. Kabupaten Ngada. Gunung Pasir Naru, Desa Naru, Kecamatan. Bajawa. Kabupaten Ngada. Serta Bukit pasir Aegela, Kecamatan. Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.
Batu yang sudah tersedia di tepi jalan, tinggal angkut (dok.Pribadi)
Apa artinya semua itu? Artinya, Flores sangat potensial untuk didirikan pabrik semen. Siapkah SDMnya? Mengapa tidak. Jika saja, pemda sudah bertekad untuk mendirikan pabrik Semen, maka pemuda-pemuda Flores dapat dititipkan pada pabrik-pabrik semen di Pulau Jawa atau Sumatera untuk magang selama 3-4  Tahun. Setelah itu, mereka akan pulang ke Flores sebagai pelaku. Mulai dari Management, HRD, teknisi, tenaga pemasaran dll. Mengapa harus pemuda Flores? Karena ada dua alasan, pertama agar mereka tidak merantau, kedua jika pemuda Flores yang mengerjakan, tentu tidak ada istilah karyawan ingin mutasi ke daerah lain, agar mendekati kampung halamannnya. Dengan demikian proses produksi akan terjamin keberlangsungannya. Bagaimana dengan pemasarannya, saya rasa, sangat menjanjikan, semen Flores dapat dipasarkan di Daerah NTT sendiri, daerah NTB dan Bali untuk daerah Barat, Pulau Timor dan Timor Leste untuk daerah Timur, juga sebagian Sulawesi.

Tentunya, pabrik semen yang akan dibangun di NTT tidak perlu sebesar Semen Gresik, Tiga Roda untuk Jabotabek atau Semen Padang untuk Sumatera. Namun, keberadaan pabrik semen NTT akan menyerap banyak tenaga. Memberikan berkah pada pemuda-pemuda Flores, yang pada giliran akhirnya, memakmurkan Flores. …. Semoga!!!!  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar