Rabu, 30 November 2016

Maltus dan Kondisi kekinian Indonesia

An Essay on the Principle of Population ,
Karya MalThus
Malthus (1776-1824)  pada tahun 1798 mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk sesuai deret ukur (2, 4, 8, 16, 32,64), sedangkan pertumbuhan ekonomi sesuai deret hitung(1,2,3,4,5,6). Artinya, ketersiadaan akan bahan pangan, semakin hari, akan semakin berkurang. Sehingga suatu hari akan habis. Sesaat, sebelum bahan pangan habis, maka manusia akan saling bunuh untuk memperoleh sesuap bahan makanan. Kondisi yang sangat menakutkan akan terjadi. Dan Malthus memperkirakan semuanya akan terjadi pada abad ke 19.
Semua tergambar jelas dalam bukunya “An Essay on the Principle of Population.” Dan pada era akhir 79’an ada sebuah film yang menggambarkan kondisi yang digambarkan Malthus. Kondisi yang menghebohkan. Banyak keluarga yang pesimis menghadapi masa depan. Tahun-tahun menjelang sisa abad ke 19 akan segera menjelang, itu artinya, ramalan Malthus akan segera terjadi.
Namun, hingga kini, abad 21 kita masih aman-aman saja. Apa yang terjadi?


Premis Malthus ternyata tidak seluruhnya benar. Malthus hanya menganggap pertumbuhan ekonomi hanya dari sector pertanian. Pertumbuhan ekonomi berdasarkan sector industry luput dari perhatian Malthus, demikian juga dari sector intelektual. Hingga, kini semua kita lihat, kita masih aman dari apa yang dulu diramalkan Malthus.
Apa konteksnya dengan Indonesia kekinian?
Dalam acara ILC yang membahas aksi setelah peristiwa 4 November 2016, Pangab Gatot Nurmantyo menggambarkan ancaman yang dihadapi Indonesia, sebagai akibat dari krisis energy dan sumber nabati serta hewani. Indikasinya, kapal-kapal ikan yang ditangkap TNI-AL selalu dikawal “Kostrad Tiongkok”, klaim 12 Juli 2016 dimana Tiongkok tidak mau diatur dalam zona Lautan, serta serbuan narkotika yang gencar kini terjadi di Indonesia, mengingatkan pada perang candu. Demikian juga soal kapal-kapal perang asing yang telah siap siaga di perbatasan bagian timur Indonesia.
Semua yang digambarkan sebagai ancaman oleh Pangab Gatot Nurmantyo, akan benar adanya jika kebutuhan  manusia masih bergantung pada komoditas yang digunakan sekarang. Bagaimana jika tidak? Akankah ramalan pangab akan bernasib sama, seperti yang diramalkan Malthus? Saya hanya berharap demikian.
Namun, mengingat waktu yang semakin dekat, sementara bahan pengganti untuk sumber energy konvensional belum ditemukan, rasanya gambaran yang dipaparkan Pangab Gatot Nurmantyo akan segera menjadi kenyataan.
Ketika masa itu terjadi, masihkah Indonesia menjadi sebuah Negara yang utuh? Atau sudah menjadi Negara-negara kecil yang dikangkangi oleh kekuatan asing. Saya tak tahu jawabnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar