Jumat, 25 November 2016

Cerita Sekitar Guru

Kondisi salah satu sekolah di Malingping, Banten (dok.Pribadi)
Jum’at, 25 November 2016  ini, kita memperingati hari guru. Idealnya, kita seluruhnya memberi apresiasi pada guru, karena merekalah, kini, kita dapat menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Tanpa mereka, kita bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Nothing.

Lebih baik lagi, jika kita seluruhnya, mampu memberi sumbangsih pada para guru, apakah berupa buah pikiran untuk lebih baiknya kualitas pendidikan, atau memberikan perhatian untuk berubahnya sarana pendidikan, dari yang yang kurang memadai menjadi memadai atau bisa juga sebuah solusi dari ketertinggalan kesejahteraan social beberapa guru yang berdomisili pada daerah terpencil.

Saya sendiri bingung, pada hari ini, apa yang dapat saya berikan pada para Guru? Mereka yang dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda Jasa itu. Karena, tidak tahu, apa yang mesti saya lakukan, maka saya putuskan untuk sedikit bercerita tentang diri saya sendiri yang berkaitan dengan guru, sebuah persinggungan yang pernah saya alami pada suatu waktu, dalam perjalanan hidup saya.

Awal tahun delapan puluhan saya, saya ketika itu, masih muda, pada masa itu, di Ibu kota  Negara kita, kekurangan guru eksakta pada beberapa sekolah, sehingga berbekal dengan status Mahasiswa Tekhnik, saya berhasil untuk menjadi guru untuk beberapa SLTP dan SLTA di beberapa sekolah swasta, yang berlokasi di Jakarta Pusat. Tentu saja, bidang study yang saya ajarkan adalah bidang study eksakta. Uang yang saya peroleh sangat minim, tetapi jiwa muda saya terpuaskan, karena ada rasa dibutuhkan oleh masyarakat, ada rasa memberi sedikit solusi pada kebutuhan masyarakat,  ada lahan untuk menerapkan sedikit ilmu yang saya miliki untuk masyarakat banyak.



Pada Perkembangan selanjutnya, pada pertengahan era delapan puluhan, saya ketika itu, sedang mengerjakan sebuah gedung Bank Swasta Nasional di kota Medan. Pada  suatu kesempatan, saya berbicara panjang lebar dengan pimpinan Pondok Pesantren di daerah pedalam Sumatera Utara, jarak dari Medan ke lokasi Pesantren yang dimaksud, memerlukan tujuh hingga delapan jam perjalanan darat. Hasil perbincangan panjang kami, saya putuskan untuk keluar dari tempat kerja saya, sebuah kontraktor swasta Nasional yang besar untuk selanjutnya, mengabdi pada Pesantren itu. Bidang study yang saya ajarkan tetap pada bidang eksakta. Pada tahun kedua, kami putuskan untuk membuka Jurusan IPA pada Pesantren itu, segala macam kendala sudah menjadi menu sehari-hari, mulai dari alat peraga, kurangnya literature untuk pelajaran IPA hingga merubah mainseat yang ada ketika itu, dari Pesantren yang hanya memiliki Jurusan IPS, dan Bahasa menjadi jurusan baru IPA.

Berbekal pengalaman ketika mengajar pada beberapa sekolah di Ibu kota, perlahan-lahan semua kendala mulai dapat teratasi, hingga Pesantren kami, menjadi salah satu sekolah yang diperhitungkan dalam setiap lomba ilmu-ilmu eksakta di kabupaten kami, dan nama sekolah kami itu, kelak dikenal hingga ke Medan, Ibu kota Provinsi Sumatera Utara.

Waktupun berjalan, tahun 2009, saya tersesat di daerah pedalaman Banten, karena urusan mencari nafkah, kejadian serupa yang saya alami, kembali terjadi lagi disini, bahkan kondisinya lebih parah, mengingat, domisili saya hanya sepelemparan batu saja dari Jakarta, Ibu kota Negara. Kondisi sekolah yang saya temu sungguh membuat  rasa prihatin pada diri ini. Betapa tidak, kondisi fisiknya, jauh dari kondisi ideal sebuah sekolah. Saya menyebutnya sekolah berpintu lebar, karena siswa dapat keluar masuk lokal kelas, dari mana saja melalui dinding sekolah yang bolong-bolong dan itu terjadi di zaman reformasi ini, zaman yang katanya alokasi pendidikan 20% dari Anggaran Belanja Negara. Belum lagi jika ditanyakan, berapa honor guru yang mereka terima setiap bulannya, yang rata-rata 125 ribu hingga 150 ribu.

Lalu dari bangunan sekolah yang memprihatinkan dan besarnya nominal honor guru yang mereka terima, apakah masih patut kita berharap banyak pada kualitas keilmuan anak didik yang mereka hasilkan? Ternyata, dihari guru ini, masih banyak PR yang harus kita selesaikan, masih banyak hal-hal yang segera perlu penanganan, terutama pada daerah-daerah yang luput dari perhatian kita semua, daerah yang masuk pada criteria daerah tertinggal, yang jaraknya tidak selalu identik dengan pusat pemerintahan baik Pusat maupun Daerah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar