Selasa, 11 Oktober 2016

Si “Hitam Jahanam” di Maumere




Pulau Flores dan Pulau Lambata (dok.Pribadi)

 Sore baru saja beranjak menuju malam hari, masih pukul delapan Waktu Indonesia Tengah. Di teras sebuah penginapan murah, di jalan Kartini, kota Maumere, Flores, NTT. Duduklah tiga orang yang sudah tidak muda lagi, saya dan seorang Bapak dari Lambata dan seorang Bapak lain dari Larantuka, Flores Timur.
Bapak Yohanes dari Larantuka ke Maumere mengantarkan anaknya yang baru masuk kuliah di Universitas Nusa Nipa di Kota Maumere, beliau yang berprofesi sebagai tenaga Guru di Larantuka sengaja mencari penginapan murah, karena hanya untuk merebahkan tubuh semalam saja, besok akan kembali ke Larantuka. Begitu alasan BaPak Yohanes. Masuk akal juga.
Bapak  Ahmad yang dari Pulau Lambata, kabupaten Lambata sedang mengurus bisnis di Maumere. Saya sedang mengurus sedikit usaha di Maumere, bisa tiga hari atau bisa juga sepuluh hari di sini. Itu sebabnya, untuk soal bermalam, harus sedikit berhemat. Begitu alasan Pak Ahmad.
Sedangkan saya, hanya seorang yang sedang menyusuri daratan Pulau Flores dengan sepeda motor. Badan tua yang letih, hanya butuh tempat berbaring, sebelum akhirnya terlena disebabkan keletihan, agar esok hari dapat melanjutkan perjalanan dengan tubuh segar.

Maumere sebagai kota Pelabuhan yang ramai, sore itu masih menyisakan keramaian hingga tempat kami bertiga duduk. Suara sepeda motor, mobil yang lalu lalang serta mereka yang makan di warung Padang tempat kami menginap masih terlihat ramai.

Kami berbincang banyak hal, tentang perjalanan Larantuka-Maumere, dimana saja Bus akan berhenti untuk istirahat makan, lama perjalanan yang sekitar 4-5 jam, kondisi jalan yang meliuk-liuk mengikuti alur perbukitan yang melingkupinya serta anak Pak Yohanes yang baru saja tamat SMU, tersebab untuk sang anak inilah, maka malam  ini, dia harus bermalam di Maumere.
Sedangkan Pak Ahmad menceritakan bagaimana perjalanan dari Larantuka ke Pulau Lembata harus dilakukan dengan naik kapal laut. Pelabuhan di Larantuka untuk menyeberang ke Lambata bernama Waibalun, jika menumpang Kapal cepat, harga tiket yang harus dibayar sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah. Lama perjalanannya sekitar satu jam setengah. Dengan laut yang tenang tanpa ombak sama sekali, karena menyusuri sisi luar Pulau Adonara. Jika saja, uang cekak, tersedia kapal lambat dengan harga tiket tiga puluh ribu. Di seberang Pelabuhan Lambata yang bernama Lewoleba ada view gunung Ile Ape yang luar bisa indah.
Saya yang baru saja tiba siang tadi di Maumere, dan besok akan melanjutkan perjalanan ke Larantruka, terbersit juga niatan untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Lambata, kalau saja tidak ingat, bahwa fokus perjalanan ini, hanya menyusuri daratan Pulau Flores, tidak yang lain.
Lalu, perbincangan beralih pada Pilkada, obrolan politik yang sebenarnya bagi saya kurang menarik perhatian. Namun, tak ada salahnya saya ikuti. Rupanya pengetahuan Pak Ahmad dan Yohanes tentang calon Bupati Lambata cukup detail. Bagaimana mereka menganalisa kemungkinan menangnya Herman Loli Wutun, bagaimana pribadi Herman, sePak terjangnya selama ini, serta pesaing-pesaing yang kemungkinan saja akan menjadi batu sandungan bagi Herman Loli. Seperti Eliaser Yentji Sunur dan Tarsisia Hani Chandra. Ada kesan yang saya tangkap, pada Pak Yohanes dan Ahmad. Jika mereka berdua pengagum bakal calon Bupati Lambata berikutnya Herman Loli Wutun. Saya hanya sekedar mengangguk dan mengiyakan pembicaraan mereka yang tidak sepenuhnya saya mengerti.

Hitam Jahanam dari Pulau Lambata (dok.Pribadi)
Jam 22.20 Pak Yohanes  undur diri, beliau ingin segera beristirahat, karena besok pagi-pagi sekali akan kembali ke Larantuka. Sikap seorang pendidik tercermin kental pada pribadi Pak Yohanes, tidak merokok dan tidur tidak larut malam.
Kini, tinggal saya dan Pak Ahmad. Dua orang penggemar asap rokok dan kopi. Kami segera memesan kopi hitam. Kurang lengkap rasanya, obrolan yang sejak tadi dengan kepulan asap rokok tanpa dilengkapi dengan kopi hitam.
Kini obrolan bergeser pada soal kemiskinan. Pak Ahmad bercerita panjang lebar tentang kemiskinan di NTT khususnya Lambata. Tak heran, jika Pak Ahmad begitu menguasai masalah kemiskinan, ternyata beliau aktif juga pada program pengentasan kemiskinan yang kini sudah selesai eranya, sejak Joko Widodo diangkat menjadi Presiden RI. Saya yang kebetulan juga ikut pada program pengentasan kemiskinan sebelum era Jokowi merasa mendapat teman diskusi yang pas. Pembicaraan jadi hangat.
Obrolan lalu berpindah ke masalah batu akik. Sesuatu yang tidak saya sangka menjadi hal yang kelak, menghasilkan tulisan ini. Saya lihat Pak Ahmad memakai tiga batu akik di tangannya, sedangkan saya hanya satu buah saja.
Beliau menyuruh saya melepaskan akik yang saya pakai, lalu memperhatikan batu yang kini sudah berpindah ke tangannya dengan seksama. Sambil memperhatikan batu Pak Aahmad bertanya kemana sesungguhnya tujuan saya. Dengan polos saya jawab, bahwa saya besok akan ke Larantuka, untuk selanjutnya secara perlahan-lahan bergerak menuju arah ke Barat untuk akhirnya menghentikan perjalanan di daerah Banten, tempat tinggal saya. Sangat jauh ya Pak? Tanya Pak Ahmad. Perlu berhari-hari perjalanan hingga tiba di Banten. Lanjut beliau lagi.
Refleks Pak Ahmad, melepaskan cincin yang beliau Pakai, lalu diberikannya pada saya untuk dicoba dikenakan. Ternyata pas untuk ukuran tangan saya. 
Jangan dilepas lagi Pak, Bapak pakai saja. Batu akik cincin itu, bernama Hitam Jahanam. Jika Bapak pakai terus, makin lama kesehatan Bapak makin baik. Jika Bapak sakit perut atau ada masalah dengan pencernaan, batu itu direndam kira-kira setengah jam atau lebih, lalu airnya diminum, maka perut Bapak akan baik kembali. Begitu juga jika badan Bapak capek-capek, batu itu direndam seperti diatas, lalu airnya diminum. Dan, maaf  air rendaman batu itu juga, bermanfaat sebagai obat kejantanan. Demikian penjelasan Pak Ahmad.
Ketika saya tanyakan, berapa saya harus membayar batu akik “hitam Jahanam” itu? Pak Ahmad menjawab, bahwa itu dia berikan cuma-cuma. Mengapa? Tanya saya lagi. Karna Bapak akan melakukan perjalanan jauh. Sebagai kenangan-kenangan dari Orang Lambata, saya sendiri, masih punya empat Pak, di kampung. Demikian kata beliau. Saya terharu akan kebaikan Pak Ahmad. Sebagai gantinya, saya menyuruh beliau memakai cincin milik saya. Sebagai kenang-kenangan dari orang Banten. Begitu kata saya, menirukan ucapan Pak Ahmad.
Cerita tentang si Hitam Jahanam itu, seakan terlupakan, hingga ketika saya telah meninggalkan daratan Flores dari Labuhan Bajo dan mendarat di Pelabuhan Sape, Nusa Tenggara Barat.
Jam menunjukkan pukul satu dinihari,ketika itu. Sebelum ke Bima, saya mengisi perut terlebih dahulu di warung yang masih buka di Pelabuhan Sape. Sang pemilik warung ternyata seorang kolektor batu Akik. Beliau kaget dengan batu yang saya Pakai.  Saya tanyakan apa nama batu yang saya pakai. Dengan sepenuh yakin, sang pemilik warung mengatakan bahwa batu yang saya Pakai itu “Hitam Jahanam” seluruh keterangan yang beliau katakan, sama persis dengan yang dikatakan Pak Ahmad, ketika di Maumere tempo hari.
Belakangan, ketika saya geogling di Internet, semua yang disebutkan Pak Ahmad sama seperti yang saya temui di Google. Perbedaannya hanya pada daerah asal batu “Hitam Jahanam” ditemukan. Jika pada Google disebutkan hanya ditemukan di Daerah Loloda Almahera. Tetapi, batu Hitam Jahanam yang saya pakai itu berasal dari Lambata. Mengingat semua yang saya rasakan, sama dengan Hitam Jahanam dari Halmahera, apakah tidak tertutup kemungkinan, bahwa batu yang sama, juga ditemukan di Pulau Lambata? Hanya waktu dan para ahli akik lah kelak yang akan membuktikannya kebenarannya.
Tetapi yang jelas, selama 12 hari mengendarai kendaraan motor roda dua dari Larantuka hingga ke Malingping di pedalaman Banten, tak sekalipun saya masuk angin. Sebabnya, apakah karena adanya inframerah yang terpancar dari “Hitam Jahanam” atau karena saya yang terobsesi dengan khasiat Hitam Jahanam, saya sendiripun tak tahu.  

3 komentar: