Senin, 24 Oktober 2016

Mengapa Motivator Tumbang?

Motivator sejati yang tetap berdiri kokoh ditengah lautan (dok.Pribadi)

Membicarakan motivator yang tumbang, sebenarnya bukanlah membicarakan sang motivator an sich. Melainkan, membicarakan kita semua. Membicarakan kompasianer secara keseluruhan. Mengapa? Karena, kerja kita –kompasianer- mirip dengan apa yang dilakukan sang  motivator. Memberikan pencerahan pada masyarakat –baca pembaca, yang menyimak tulisan kita- 
Berangkat dari kejatuhan sang motivator dan rasa “sayang” pada kompasianer, tulisan ini dimaksudkan.
Tak ada makan siang yang gratis, tak ada kejadian yang tak dapat diambil hikmahnya, begitu juga dengan kejatuhan sang motivator. Untuk itu, marilah kita lihat, mmengapa sang motivator bias jatuh? Hal yang sama mungkin saja terjadi pada kita semua. Diantara sebab-sebabnya, antara lain.

Satu, tidak runutnya peristiwa.
Seorang motivator atau penulis, idealnya melakukan kerjanya dengan runutan peristiwa yang benar. Awalnya, dimulai dengan belajar –di sekolah atau belajar pada mereka yang lebih tahu atau membaca-  dari pengetahuan yang peroleh, lalu dipraktekan dalam praktek keseharian kita, setelah itu, barulah apa yang kita ketahui layak untuk dimotivasikan pada orang lain. Pada peristiwa kedua –mempraktekan apa yang kita ketahui, jika gagal kita lakukan, maka akan sangat tidak layak untuk kita motivasikan pada khalayak-. Pertimbangannya, saya aja gagal, lalu, apakah saya akan mengajak khalayak lain untuk gagal juga. Ada empati yang mengiringinya, ketika kita putuskan untuk tidak menuliskannya
Dua, satu kata dengan perbuatan.
Berusahalah untuk jujur, menyatukan antara kata dan perbuatan. Point pertama diatas, jika konsekwensi dilakukan, maka otomatis akan terjadi “satu kata dengan perbuatan”. Apa yang kita katakan –tulis- memang sudah kita lakukan. Apa yang kita suruh kerjakan, sudah kita perbuat. Sehingga, ketika audience bertanya, apakah ada contoh tokoh sukses, seperti yang kita katakana –tulis- dengan enteng kita dapat mengatakan. Saya. Lakukan saja apa yang sudah saya katakan atau lakukan, maka kamu akan sampai pada posisi saya sekarang. Ketika pertanyaan audience demikian sulitnya, jujurlah menjawab. Bahwa yang saya perbuat –tulis- tentu tidak sempurna, meski saya sudah berusaha untuk mengarah ke   arah sana. Kesempurnaan, hanya milik Allah. Saya berdo’a, semoga anda mampu melakukannya, lebih sempurna dari apa yang telah saya usaha lakukan.
Tiga, teruslah belajar.
Tak ada kata selesai dalam belajar, dalam menulis atau memotivasi, kita perlu selalu harus belajar. Belajar dari kesalahan yang telah dilakukan, belajar dari hal-hal yang belum diketahui, mencoba dari hal-hal yang diketahui, namun belum dilakukan. Learn from the cradle, into the grave,  Utlubul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi, belajarlah sejak dari buayan hingga ke liang lahat.
Teruslah membaca, menambah ilmu. Ketika penulis –motivator- berhenti belajar, maka tunggu saja kematiannya. Motivasi –tulisan- yang disajikan akan “kering”, out of date. Sehingga tak menarik lagi untuk audience –pembaca-.

Kegagalan untuk terus belajar, merupakan sinyal, sesungguhnya kita bukanlah seorang motivator –penulis-. Melainkan, justrus seorang yang perlu dimotivasi. Benarkah? Pembaca yang lebih tahu, jawabannya. 

3 komentar:

  1. Selamat siang Mas..

    Terkait kerjasama yang kami tawarkan apakah artikel kami sudah dipublish?
    Mohon untuk mempublish artikel kami karena kami akan closing dan kami akan melakukan pembayaran langsung setelah artikel terpublish..

    Terimakasih

    Regards

    Rain

    BalasHapus
  2. Apa yang dialami sang motivator hanyalah buah dari sebuah benih (action) yg ditanam sebelum sekarang. Sementara pengetahuan yang diajarkan melalui sebuah program GW tentu pun akan membuahkan buah yang baik, terlihat atau tidak, diakui atau disangkal, diekspos oleh media atau tidak. Saya yakin banyak yg mendapat manfaat dari acara beliau, walaupun saya nyaris tidak pernah menonton. Pasti ada bagian penonton yang mengalami perubahan perilaku/sikap, ada perbedaan antara sebelum dan sesudah (rajin) menonton GW.

    Masalahnya adalah kita terbiasa menggantungkan kebahagiaan/ketenangan/kenyamanan hati kepada profesi orang lain/kata-kata orang lain/pendapat orang lain dan orang lain itu sendiri, sehingga kala sesuatu yg buruk terjadi pd mereka, kitapun menjadi seketika berubah menjadi jahat. Padahal sebelumnya sudah mengalami perbaikan, sontak turun lg ke titik nol.

    Sorry mas Is...kepanjangan hehe..., semoga terus senantiasa dalam lindungan Tuhan dan terus berkarya.

    BalasHapus