Sabtu, 22 Oktober 2016

Kali Bersih, Marwah Yang Terabaikan

Postingan yang membuat saya meradang (dok.Pribadi)

Ini kisah lama di Stasiun Gambir. Ketika Gambir masih di tanah, belum dibuat megah seperti  sekarang. Sehingga Kereta Api berada dilantai dua.
Sambil menunggu KA datang yang akan membawa saya ke Bandung. Seorang teman yang searah dalam perjalanan ke Bandung, pria usia senja yang baru saya kenal di Stasiun Gambir siang itu, dengan menggebu-gebu menceritakan tertibnya lalu lintas Jakarta pada Era Belanda, Jernihnya sungai Ciliwung pada Era Belanda. Bahkan Noni-noni Belanda tak jarang, mandi di sungai yang berada di depan Bina Graha.
Lelah dengan segala celoteh kehebatan Jakarta pada Era Belanda, dengan sedikit berkelakar saya berkata;”Bagaimana kalau kita undang kembali Belanda ke Indonesia, untuk membenahi Jakarta?”. Mendengar kelakar saya, sang Bapak terkejut dan menyatakan tak mungkin hal itu dilakukan. Karna masalahnya bukan hanya sekedar pada lalu lintas yang lancar dan sungai yang bersih. Melainkan juga pada Arogannya sang Belanda pada masyarakat kecil.

Mengapa saya menuliskan nostalgia di Stasiun Gambir tempo dulu?
Karna, seorang teman saya, yang dulu saya kenal sangat militan berpihak pada “rakyat kecil” memposting status gambar sungai ciliwung yang bersih, beberapa anak kecil mandi disana dengan disertai kalimat  “Siapa Gubernur yang bisa seperti ... Ahok !”.
Reaksi saya membaca status sahabat saya itu, secara reflex saya tertawa, lalu saya menulis pada komen statusnya, kalo cuma hasilnya kali bersih,.... Gubernur Belanda di Jakarta saat itu, jauh lebih hebat dari Ahok. Lalu… reaksi terakhir, ya menceritakan nostalgia di Stasiun Gambir tempo dulu itu. Bagi saya, iktibar tempo dulu di Stasiun Gambir itu, masih relevan dengan kondisi kekinian… terutama pada jawaban sang Bapak mengapa keberatan untuk mengundang kembali sang Belanda membenahi Jakarta.

Apa yang dapat dipetik dari cerita diatas? Ternyata, kepemimpinan  memiliki  banyak dimensi. Soal hasil kerja hanya salah satu dari dimensi itu. Keteladanan, bagian yang lain lagi. Dapat dibayangkan, bagaimana seorang guru yang mendidik anak asuhnya dalam soal sopan santun, tiba-tiba harus kecewa berat karena sang pemimpin mengeluarkan kata-kata kasar dan kalimat t**k.  lalu, apakah salah ketika anak didik mengeluarkan kata-kata  yang sama. Semuanya jadi rancu bukan?
Demikian juga soal adab dan sopan santun.  Bagaimana teman saya yang orang Minang dan Islam taat –itu yang saya ketahui sewaktu  kami sama-sama  kuliah dulu- begitu mengidolakan tokoh Ahok.  Bagaimana nalarnya sang teman menerima seseorang menjadi pilihan untuk jadi pemimpin, ketika di Balai Kota dengan suara lantang, penuh kemarahan meneriakkan seorang ibu dengan kata “Maling”.
Bukankah Islam –agama sang teman- memposisikan wanita begitu mulia. Begitu dihormati, sehingga ketika sang anak harus memuliakan orang tuanya, maka Ibu akan memperoleh jatah tiga kali yang pertama, setelah itu, baru pada kali yang ke empat bagian Bapak.
Bukankah pria Minang –asal keturunan sang teman-  senakal-nakalnya sang pria, sebajingan-bajingannya, seberani-beraninya, bahkan Pemerintah dan Rajapun sudah tidak lagi dia takuti. Tetapi, terhadap Ibunya, sang pria Minang masih berprilaku halus dan takut.
Lalu, bagaimana mengklasifikasikan masuk jenis manusia apakah, pria yang memaki seorang Ibu ditengah keramaian orang dengan kata-kata “maling”. Jika mengkasifikasikan masuk jenis manusia apa, saya saja sudah bingung, apatah lagi menjelaskan bagaimana nalarnya hingga layak dipilih jadi pemimpin.
Tulisan ini, semakin panjang saja ulasannya, jika sudah menyangkut pada Marwah. Harga Diri. Di sadari, bahwa tidak semua orang Islam taat melakukan sholat lima waktu, berpuasa di bulan ramadhan atau ketika memiliki harta yang cukup akan melaksanakan ibadah haji. Tetapi, semua umat Islam akan tersinggung Marwahnya, harga dirinya, ketika Islam dilecehkan. Pelecehan yang membangkitkan harga diri, bukan ketika disebutkan tidak sholat, tidak puasa atau tidak berhaji. Melainkan ketika sang Nabi dilecehkan, sang al-Qur’an dilecehkan. Maka ketika Al-Ma’idah 51 dikatakan bohong tidak membawa apa-apa pada sang teman, pada umat Islam lain, maka ke-Islam-annya perluu dipertanyakan.
Ini bukan soal politik bung. Tapi soal, seorang yang telah melecehkan Islam. Soal marwah yang terabaikan. Soal Harga diri. Masalahnya, kebetulan sang oknum adalah calon gubernur dalam pilkada DKI, itu soal lain. Bahkan, jika oknum yang melecehkan itu, seorang Presiden atau Raja sekalipun. Seorang muslim akan bereaksi sama.
Tanya diri, tanya akal, tanya kemampuan pikir kita, tanya Iman, tanya Marwah diri, masihkah semua itu kita miliki, atau semuanya itu sudah tergadaikan hanya untuk harga  yang murah.


Jayalah NKRI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar