Senin, 24 Oktober 2016

Mengapa Motivator Tumbang?

Motivator sejati yang tetap berdiri kokoh ditengah lautan (dok.Pribadi)

Membicarakan motivator yang tumbang, sebenarnya bukanlah membicarakan sang motivator an sich. Melainkan, membicarakan kita semua. Membicarakan kompasianer secara keseluruhan. Mengapa? Karena, kerja kita –kompasianer- mirip dengan apa yang dilakukan sang  motivator. Memberikan pencerahan pada masyarakat –baca pembaca, yang menyimak tulisan kita- 
Berangkat dari kejatuhan sang motivator dan rasa “sayang” pada kompasianer, tulisan ini dimaksudkan.
Tak ada makan siang yang gratis, tak ada kejadian yang tak dapat diambil hikmahnya, begitu juga dengan kejatuhan sang motivator. Untuk itu, marilah kita lihat, mmengapa sang motivator bias jatuh? Hal yang sama mungkin saja terjadi pada kita semua. Diantara sebab-sebabnya, antara lain.

Minggu, 23 Oktober 2016

Rencana Pembangunan Wilayah

Cover buku “Perencanaan Pembangunan Wilayah” oleh Prof. Drs. Robinson Tarigan. M.S.P (dok.Pribadi) 
Coba bayangkan apa jadinya hasil Pembangunan di suatu wilayah, jika Pembangunan yang dilakukan tidak melalui Perencanaan. Tentu, akan mengecewakan banyak pihak. Mulai dari masyarakat yang akan menikmati hasil Pembangunan, Pemerintah sebagai institusi yang mempertanggung-jawabkan Pembangunan serta stakeholder yang ikut terlibat dalam Pembangunan. 
Bukan hanya pada hasilnya yang mengecewakan, melainkan mulai dari Perencanaan, pelaksanaan dan hasil Pembangunan. Tentu akan mengecewakan. Apa yang akan diraih dari Pembangunan itu, tak sepenuhnya dimengerti, bagaimana melaksanakannya juga tak sepenuhnya jelas, demikian juga pasca pelaksanaan. Berapa besaran anggaran sesungguhnya, bagaimana mengauditnya, nilai manfaat apa yang akan dicapai serta parameter manfaat dari hasil Pembangunan itu, semuanya sulit untuk dikalkulasi dan dinilai berdasarkan angka-angka dan nilai yang disepakati dalam milleu dimana wilayah Pembangunan dilakukan.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kali Bersih, Marwah Yang Terabaikan

Postingan yang membuat saya meradang (dok.Pribadi)

Ini kisah lama di Stasiun Gambir. Ketika Gambir masih di tanah, belum dibuat megah seperti  sekarang. Sehingga Kereta Api berada dilantai dua.
Sambil menunggu KA datang yang akan membawa saya ke Bandung. Seorang teman yang searah dalam perjalanan ke Bandung, pria usia senja yang baru saya kenal di Stasiun Gambir siang itu, dengan menggebu-gebu menceritakan tertibnya lalu lintas Jakarta pada Era Belanda, Jernihnya sungai Ciliwung pada Era Belanda. Bahkan Noni-noni Belanda tak jarang, mandi di sungai yang berada di depan Bina Graha.
Lelah dengan segala celoteh kehebatan Jakarta pada Era Belanda, dengan sedikit berkelakar saya berkata;”Bagaimana kalau kita undang kembali Belanda ke Indonesia, untuk membenahi Jakarta?”. Mendengar kelakar saya, sang Bapak terkejut dan menyatakan tak mungkin hal itu dilakukan. Karna masalahnya bukan hanya sekedar pada lalu lintas yang lancar dan sungai yang bersih. Melainkan juga pada Arogannya sang Belanda pada masyarakat kecil.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Setelah Demo, Lalu Apa?

Suasana demo, menuntut agar Ahok diproses. 14 oktober 2016. (dok.Pribadi)

Hari Jum’at kemarin, terjadi demo besar-besaran di Ibu Kota, peristiwa yang sama, juga terjadi di Bandung dan Palembang. Penyebabnya jelas, Ahok diduga “melecehkan” Agama Islam. Terkait dengan ucapan Ahok di Pulau Seribu, tentang surat Al Ma’idah ayat 51. Akibatnya, umat Islam berdemo, menuntut marwah, karena agama Islam dilecehkan. Salahkah? Tentu tidak salah. Hal yang serupa, juga akan timbul reaksi yang sama pada pemeluk agama lain. Jika, agama mereka dilecehkan.     
Pertanyaannya, apa selanjutnya setelah demo berlangsung?

Kamis, 13 Oktober 2016

Pantai Maropokot, Nan Eksotis Di Nagekeo. Flores.

Pantai Maropokot, Kecamatan Aesesa (dok.Pribadi)
Flores secara keseluruhan kaya akan destinasi. Apakah itu destinasi laut, Gunung, budaya dan benda peninggalan sejarah. Saya yang berada di Pulau ini, lebih dari satu bulan lamanya, berkesimpulan, bahwa destinasi wisata di Flores terdapat pada kesembilan kabupaten yang ada di Flores.
Demikian juga dengan di Kabupaten Nagekeo, kabupaten yang merupakan pecahan dari Kabupaten Ngada dengan Ibu Kota Mbay, memiliki banyak tujuan destinasi, yang berada dihampir seluruh wilayah kecamatannya, yang terdiri dari, kecamatan Aesea, kecamatan Aesesa Selatan, kecamatan Boawae,  kecamatan Keo Tengah, kecamatan Mauponggo, kecamatan Nangaroro dan kecamatan Wolowae. Untuk Kecamatan Aesesa, salah satunya, Pantai Maropokot.

Rabu, 12 Oktober 2016

HBD, Nusron Wahid, Bah!

Sumber: TV One
Nusron Wahid, bintang mencorong pada ILC kemarin, tanggal 11 Oktober 2016. Begitu sebagian orang mengatakannya. Sekaligus membuat pria yang hari ini genap berusia 42 tahun itu, semakin top… Markotop. Namun begitukah sejatinya? Jika hanya sekedar  soal top saja. Sesungguhnya Nusron masih kalah Top dibanding dengan Jessica.
Mana  mungkin membandingkan Nusron dengan Jessica, karena Nusron adalah tokoh muda yang akan memimpin bangsa ini ke depan kelak, atau setidaknya akan jadi tokoh penting. Pemikiran demikian, juga sangat jauh panggang dari api. Lalu dimana meletakkan posisi Nusron? Untuk itulah, tulisan ini dibuat.
Saya memiliki beberapa catatan pada laki-laki yang lahir di Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 12 Oktober 1973 silam itu.

Selasa, 11 Oktober 2016

Si “Hitam Jahanam” di Maumere




Pulau Flores dan Pulau Lambata (dok.Pribadi)

 Sore baru saja beranjak menuju malam hari, masih pukul delapan Waktu Indonesia Tengah. Di teras sebuah penginapan murah, di jalan Kartini, kota Maumere, Flores, NTT. Duduklah tiga orang yang sudah tidak muda lagi, saya dan seorang Bapak dari Lambata dan seorang Bapak lain dari Larantuka, Flores Timur.
Bapak Yohanes dari Larantuka ke Maumere mengantarkan anaknya yang baru masuk kuliah di Universitas Nusa Nipa di Kota Maumere, beliau yang berprofesi sebagai tenaga Guru di Larantuka sengaja mencari penginapan murah, karena hanya untuk merebahkan tubuh semalam saja, besok akan kembali ke Larantuka. Begitu alasan BaPak Yohanes. Masuk akal juga.
Bapak  Ahmad yang dari Pulau Lambata, kabupaten Lambata sedang mengurus bisnis di Maumere. Saya sedang mengurus sedikit usaha di Maumere, bisa tiga hari atau bisa juga sepuluh hari di sini. Itu sebabnya, untuk soal bermalam, harus sedikit berhemat. Begitu alasan Pak Ahmad.
Sedangkan saya, hanya seorang yang sedang menyusuri daratan Pulau Flores dengan sepeda motor. Badan tua yang letih, hanya butuh tempat berbaring, sebelum akhirnya terlena disebabkan keletihan, agar esok hari dapat melanjutkan perjalanan dengan tubuh segar.

Senin, 10 Oktober 2016

Adoh Ko Watu, Cerak Ko Ratu


Manusia memiliki kebebasan memilih area, apakah Area Batu atau Ratu (dok.Pribadi)


Kata-kata diatas adalah pribahasa Jawa lama. Artinya, jauh dari batu, dekat pada Ratu. Lengkapnya pribahasa itu adalah,.. Adoh ko Watu, cerak ko Ratu. Adoh ko Ratu, cerak ko watu. Artinya, jika kita menjauh dari batu, maka kita akan mendekat pada Ratu. Demikian pula sebaliknya, jika menjauh dari Ratu, maka otomatis akan mendekat pada Batu.
Ratu dan Batu diposisikan pada dua kutub yang berseberangan. Utara-Selatan atau Timur-Barat. Diantara dua kutub yang berseberangan itu, manusia berada. Manusia, memiliki kebebasan mutlak untuk memilih apakah akan mendekat pada kutub Ratu atau kutub Batu. Jika, pilihannya mendekat pada kutub Ratu, maka akibat logisnya, akan menjauhi dari  kutub Batu. Demikian juga sebaliknya. Ketika pilihan mendekat pada kutub Batu, maka akibatnya, akan menjauhi kutub Ratu. Tidak bisa memilih kedua kutub untuk didekati dalam waktu bersamaan. Pilihan hanya satu diantara dua kutub. Ratu atau Batu.
Ratu dilambangkan sebagai symbol kebaikan dan Watu dilambangkan sebagai symbol keburukan. Manusia berada diantara kedua kondisi itu, dengan kebebasan untuk memilih ke symbol mana mau mendekat.