Minggu, 25 September 2016

Ruteng Pu’u Manggarai, Flores. Satu Nenek Dengan Saya




Kepala Suku Ruteng Pu’u, Lambertus Dapur di depan Rumah Tambor.  Perhatikan Kepala Kerbau pada ujung atap rumah (dok.Pribadi)

 Memasuki Kota Ruteng ada rasa lega. Untuk sementara, perjalanan yang penuh dengan medan berat, naik turun dan berliku-liku berakhir sudah. Jam menunjukkan pukul 15.30, masih siang. Kota Ruteng terasa sejuk. Kemana saya akan pergi?
Saya putuskan untuk  mengunjungi  Ruteng Pu’u. Sebuah kampung yang terletak sekitar lima kilometer dari pusat kota Ruteng. Tepatnya, lokasi yang ingin saya tuju itu, berada di kelurahan Golo Dukal. Kecamatan Langke Rembong. Manggarai, NTT.
Mengapa Ruteng Pu’u? untuk mengetahui, budaya suatu daerah, idealnya, ketahui dulu, akarnya budayanya. Ruteng Pu’u adalah cikal bakal budaya Ruteng. Itulah alasan kuat, mengapa saya perlukan datang ke Ruteng Pu’u.

Untuk tiba di kampung Ruteng Pu’u tidak sulit, disamping jaraknya yang dipinggir kota, dengan jarak sekitar 5 km, asces jalan menuju Ruteng Pu’u, juga sangat baik. Dari jalan utama, masuk sekitar 1 km. Pada jalan masuk inipun, kondisinya mulus. 
 

Rumah Gendang, sedang ada acara latihan paduan suara, untuk persiapan menyambut acara adat. (dok.Pribadi)
Setelah meng’abadi’kan beberapa view di sekitar kampung Ruteng Pu’u, saya mengetuk pintu yang terbuka. Maksudnya, ingin bertanya, sedikit banyak tentang Ruteng Pu’u. Sang pemilik rumah, dengan sangat antusias menyuruh saya masuk. Mempersilahkan saya duduk di atas tikar yang dibentangkan, bersandar ke dinding rumah, sedang tuan rumah bersandar pada tiang utama rumah.  Belakangan saya tahu, bahwa apa yang saya alami itu, bagian dari cara menyambut tamu yang dihormati. Padahal, awak ini apalah, hanya seorang pengembara yang menyusuri pulau Flores dengan sepeda motor.
Tak dinyana, saya telah masuk pada rumah kepala suku Ruteng Pu’u. dan oleh beliau, Bapak Lambertus Dapur, saya diperlakukan sangat baik, bak tamu terhormat. Sungguh, sebuah kesan pertama yang mengesankan, bagaimana tingginya,  budaya masyarakat Ruteng.
Setelah saya memperkenalkan diri, Bapak  Lambertus Dapur memperkenalkan diri pula, beliau mengatakan bahwa beliau kepala suku Ruteng Pu’u. –saya terkejut mendengarnya- lalu, beliau juga, mengatakan bahwa suku Ruteng Pu’u, yang merupakan cikal bakal suku Manggarai dengan ibu kota Ruteng itu, nenek moyangnya berasal dari Minangkabau. –sekarang saya bukan hanya terkejut, tetapi terkejut pakai tambahan bingiiit-

Compang yang berbentuk oval ini, dipercaya sebagai tempat dikuburnya pada leluhur, perhatikan pada  ujung Compang, ada pohon Haju Kalo -pohon Dadap- (dok. Pribadi)
 Percayakah saya dengan penuturan Lambertus Dapur, tentang asal nenek moyang mereka? Belum sepenuhnya percaya.  Saya melihat beliau memakai lilitan kepala kebesaran suku Ruteng Pu’u, saya tanyakan, bahwa topi yang beliau pakai sungguh indah.  Mendengar pujian saya, Bapak Lambertus Dapur mengkoreksi saya, bahwa yang beliau pakai, bukan topi, melainkan Destar. Mendengar teguran Bapak Lambertus Dapur. Saya percaya, bahwa memang Ruteng Pu’u, nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau. Karena, istilah Destar itu, adalah bahasa Minangkabau kuno,  yang bahkan, orang Minangkabau sekalipun, tidak semuanya mengetahu tentang istilah itu.
Masih menurut Bapak Lambertus Dapur,  nenek moyang mereka nan dari Minangkabau itu, masuk melalui Goa, Sulawesi selatan, lalu menyusur melewati NTB dan akhirnya mendarat di Manggarai Barat.
Di Manggarai Barat, perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki, dengan dipandu oleh Binatang Landak. –itulah sebabnya, kami tidak makan Landak, demikian Lambertus Dapur- perjalanan yang menyusuri punggung pegunungan itu, akhirnya berhenti di daerah yang disebut Ndosor.

Di Depan Rumah Tambor dan diujung Compang, ada pohon Haju Kalo. (dok.Pribadi)
 Ditempat yang disebut Ndosor itu, rombongan beristirahat cukup lama. Mereka menangkap Babi hutan dan membakar hasil tangkapan mereka. Melihat asap yang mengepul, maka suku asli Manggarai  yang berada di bawah. Datang menemui mereka. Rombongan yang datang dari bawah, dijamu oleh kepala suku Nggoang. –Nggoang nama nenek moyang suku Ruteng-  
Suku yang datang dari bawah ini, sungguh terkesan. Hidangan yang mereka makan, sungguh terasa nikmat. Rahasianya? Karena, masakan itu di bakar. Sesuatu yang belum pernah mereka rasakan selama ini.
Sepeninggalnya  suku dari bawah, nenek moyang orang Ruteng  –Nggoang-  keceewa, karena api yang mereka gunakan selama ini, dicuri oleh mereka yang datang dari bawah. Lalu, mereka menuntut apa yang telah dilakukan oleh suku dari bawah. Akhirnya, dibuatlah kesepakatan bersama sebagai penebusan dosa terhadap apa yang telah dilakukan suku dari bawah itu. Suku yang dibawah menyerahkan Tanah yang kini menjadi Kampung Ruteng Pu’u. Demikianlah penuturan Bapak Lambertus Pu’u.  
Setelah saya kemukakan, bahwa saya juga orang Minangkabau, maka komunikasi diantara kami, semakin cair. Istri Pak Lambertus Dapur, anak perempuan beliau dan anak lelaki lain, semakin  terbuka dan akrab.

Batu Ndotuk, pada jalan like, dimaksudkan untuk mengikatkan Kuda atau Kerbau. (dok.Pribadi)
 Di Ruteng Pu’u ini, pernikahan dilakukan antar sesama warga Ruteng Pu’u, dan garis keturunan masih didasarkan pada Wanita, demikian juga, pengantin lelaki yang datang ke rumah wanita, bukan wanita yang mengikut ke rumah pengantin lelaki, demikian Lambertus Dapur. Penjelasan yang semakin meyakinkan saya, bahwa nenek moyang mereka  berasal dari Minangkabau.
Coba lihat pada ujung bangunan rumah kami, diatas itu, masih terdapat Tanduk Kerbau, Khas bangunan Minangkabau. Jelas Bapak Lambertus Dapur, ketika saya dan beliau berjalan di luar rumah.
Pada Kampung Ruteng Pu’u, rumah tradisionil yang dihuni oleh Lambertus Dapur dinamakan Rumah Tambor.  Sedangkan rumah yang berdiri sebelah rumah beliau bernama Rumah Gendang. Di Rumah Gendang, semua masalah kemasyarakatan di musyawarahkan di sana. Acara-acara yang menyangkut masyarakat, juga dilakukan di Rumah Gendang.
Sore itu, di rumah Gendang, sedang dilakukan latihan paduan suara, sebagai persiapan menyambut acara adat yang akan dilakukan Kampung Ruteng Pu’u.  Sore itu juga, datang rombongan Pastur dan Suster dari Kota Ruteng untuk melihat sampai mana persiapan paduan suara.
Pastor yang datang sore itu, juga membenarkan apa yang dikatakan Bapak Lambertus Dapur, hanya saja, Pastor  Herman, menyayangkan kurangnya data tahun kejadian yang diceritakan Bapak Lambertus.

Lambertus Dapur, isteri Lambertus Dapur, Dua suster dari Katedral Ruteng, Putri Lambertus Dapur dan Pastor Herman, di depan Rumah Tambur. (dok.Pribadi)
 Kampung Ruteng Pu’u, berbentuk lingkaran oval, ada halaman lebar yang berada di tengahnya, di depan rumah itu, ada jalan yang terbuat dari susunan batuan, yang disebut dengan Like. Jika kita masuk melewati tengah halaman, maka kita harus naik ke jalan Like, baru masuk ke rumah. Pada tepian jalan Like, ada batuan yang menonjol lebih tinggi dari jalan like yang berbentuk kapak dan berada pada setiap rumah, batuan tinggi berbentuk kapak ini, disebut Ndotuk, dimaksudkan untuk mengikatkan Kuda atau Kerbau.
Pada halaman tengah, ada tumpukan batuan yang disebut compang.  Compang yang berbentuk oval ini, dipercaya sebagai tempat dikuburnya pada leluhur dan tetua adat yang sudah meninggal. Untuk setiap kali penguburan, dilakukan upacara adat. Caranya, pihak keluarga harus memotong  dua ekor Kerbau. Satu Kerbau dikorbankan saat penggalian lahat, satu Kerbau lagi dipotong pada saat upacara Kenduri.
Di muka rumah Tambor, diujung Compang ada Pohon Haju Kalo (pohon Dadap) yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para arwah leluhur dan sebagai cikal bakal tanah tumpah darah suku Ruteng Pu’u.  
Tak terasa, waktu Maghrib  telah tiba, gelap mulai menyelimuti kampung Ruteng Pu’u, tak ingin mengganggu kenyamanan kediaman Bapak Lambertus Dapur, sayapun pamitan untuk menuju Kota Ruteng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar