Sabtu, 10 September 2016

Perjalanan Larantuka – Banten dengan Sepeda Motor.

Taman Mater Delarosa, Larantuka. Dari sini perjalanan itu dimulai (dok.Pribadi)
Tulisan perjalanan menggunakan sepeda motor, menjelajahi daratan paling Timur pulau Flores (Larantuka) hingga Ujung Barat Pulau Jawa, Malingping di Banten. Dimaksudkan sebagai prolog dari rangkaian tulisan yang segera menyusul secara mendetail setelah tulisan ini. Rangkaian tulisan, dimana lokasi kejadiannya berada antara Kota larantuka, diujung Timur Pulau Flores hingga ke Malingping, diujung barat Pulau Jawa.
Ada beberapa tema yang akan dibahas sesuai apa yang ditemui selama perjalanan yang menghabiskan waktu dua belas hari itu. Ada yang berupa Budaya dan Agama seperti yang terjadi di Larantuka. Bagaimana kota kecil yang indah itu, kental dengan upacara seremonial “Jalan Salib”.

Sebuah acara keagamaan yang kental nuansa Khatolik. Namun, penuh aroma budaya lokal. Sehingga, ketika upacara yang sama di-alih-kan lokasinya pada daerah lain, maka napas aromanya akan menjadi lain.
Teluk Maumere, sebuah Kapal Pesiar Sandar di Kejauhan, perlihatikan air laut yang jernih hingga dasar laut terlihat hingga jauh (dok.Pribadi)
Demikian juga dengan Suasana teluk Maumere, destinasi wisata yang khas Maumere, tak bisa dibandingkan dengan daerah lain, destinasi itu, hanya ada di Maumere, demikian juga dengan Pantai Koka, Pantai yang terletak  mendekati perbatasan dengan Kabupaten Ende. Pantai yang masih perawan, bagaimana akhirnya penulis harus bermalam di sana, padahal di Pantai Koka tak memiliki sarana penginapan untuk bermalam. Dan kisah yang tak kalah menariknya tentang pria setengah baya “Blasius” yang merawat Pantai Koka seperti dia merawat keluarganya sendiri.
Memasuki Kabupaten Ende, kita akan disuguhi bukan hanya alam yang indah seperti Danau Kelimutu dengan segala keunikannya, juga ada pantai Ende yang indah. Demikian juga Nilai sejarah yang dikandung Ende, juga tak kalah  menariknya, di Ende ada, rumah tempat pengasingan Soekarno yang kini sudah berubah fungsi sebagai museum. Juga ada kubur dimana mertua Soekarno (Ibu dari Ibu Inggit) dimakamkan, yang kondisinya kini, memprihatinkan. Di Ende juga saya bertemu dengan Bapak Yusuf Ibrahim, anak dari Bapak Ibrahim, pelaku Tonil ketika Soekarno mementaskan Tonilnya di Gedung Immaculata Ende. Dari Bapak Yusuf Ibrahim ini pula saya tahu, bagaimana perjuangan Bapak Ibrahim menyelamatkan naskah-naskah Tonil yang ditulis Soekarno ketika itu, hingga kini terselamatkan, sehingga menjadi saksi sejarah, bahwa Tonil itu benar-benar pernah “ada”.
Masih di Ende juga, saya bertemu dengan seorang Pastor yang bernama Pastor Hendrik Sara. Dari keterangan Pastor Hendrik Sara, jika keterangan beliau benar, maka, sudah seharusnya diadakan perubahan sejarah yang selama ini diyakini kebenarannya. Karena menurut Pastor Hendrik Sara, Gedung yang digunakan mementaskan pertunjukan Tonil Soekarno ketika itu, bukan seperti gedung dalam foto yang kita kenal selama ini. Melainkan Gedung Capelata Immaculata, yang kini sudah berubah menjadi toko buku “Nusa Indah” dan Percetakan “Arnoldus”. Keyakinan Pater Hendrik Sara, berdasarkan literatur yang beliau baca dan keterangan seorang Bruder yang bernama Christoporus Tange. Yang ketika itu, sang Bruder berusia belasan dan turut serta sebagai pemain Tonil. Sayang ketika, saya ingin bertemu dengan Bruder yang dimaksud, Pater Hendrik mengatakan bahwa sang Bruder sudah almarhum.
Pelabuhan Maropokot di Kabupaten Nagekeo (dok.Pribadi)
Kejutan lain, adanya tempat mandi-mandi Soekarno yang luput dari catatan sejarah, terletak di sebelah timor Ende dan sebelah barat Ende. Sisi sebelah timur bernama Ae Tua yang berada di sungai Ae Lengi, sedangkan pada sisi barat Ende terletak pada Sungai Nangaba.
Memasuki kabupaten Nagekeo, kita tersadarkan betapa Flores bukan hanya perbukitan nan tak berujung, di kabupaten Nagekeo didominasi dengan daratan yang rata, udaranya memang cukup panas dan menyengat. Namun di Nagekeo, ada sebuah bendung yang mampu mengairi sawah irigasi seluas 15 ribu hektar, ada lahan yang direncanakan untuk Bandara, dimana lokasinya bekas Bandara yang dulu dibuat oleh Jepang dan terakhir kali dipakai ketika Sutami mengunjungi daerah ini, guna meresmikan Bendung Sutami. Daerah itu, disebut sebagai Surabaya dua.
Di Kabupaten Nagekeo, juga terdapat pelabuhan laut yang refresentatif yang berada di daerah Maropokot, dan pelabuhannya sendiri, diberi nama sesuai dengan lokasi keberadaannya “Pebuhan maropokot”. Namun sayang, kapal penumpang PELNI yang menyinggahi daerah ini, hanya terjadi setiap dua minggu sekali.
Jika di Papua ada destinasi Raja Ampat, maka di Nagekeo ada destinasi yang menyerupai raja ampat di Papua dengan nama “Riung”. Di Riung kita dapat mengelilingi tujuh belas pulau dengan pulau kelelawar sebagai Materpiecenya, sementara air laut yang tersaji dibawahnya demikian jernihnya.
Kepala Suku Kampung Ruteng, Lambertus Dapur. Di Depan Rumah Tambor, perhatikan lambang Kepala Kerbau pada Atap rumahnya (dok. Pribadi) 
Melangkah ke barat, kita tiba di Kabupaten Ngada, dengan Ibu Kota Bajawa. Kota dingin dengan bentuk kontur seperti kuali, mirip kota Bandung di Jawa Barat. Di Bajawa kita akan bertemu dengan sekolah Seminari Mataloko dan Kampung Kuno Bena, dan yang membuat saya terkejut, disini garis keturunan di tentukan menurut garis keturunan Ibu, seperti halnya di Sumatera Barat. Garis keturunan Martiarchat itu, bukan hanya terjadi di Kampung Bena. Melainkan, hampir menyeluruh di daerah kabupaten Ngada, hingga ketika sesaat sebelum saya memasuki Kabupaten Manggarai Timur dengan ibu kotanya Borong, saya sempat berhenti di Pantai dan memesan ikan bakar di Kampung Nelayan tersebut, dalam obrolan dengan sang penjual, mereka masih mengakui jika menggunakan system Matriarchat.
Memasuki Ibu Kota Manggarai, Ruteng. Kota  yang berhawa sejuk, saya merasa belum sempurna jika tidak mengunjungi “Kampung Ruteng” Sebuah pemukiman dimana asal mula keberadaan orang Manggarai. Saya diterima langsung oleh Kepala Suku Kampung Ruteng, sore itu. Nama beliau, Lambertus Dapur. Pria yang mendekati usia senja dengan segala wibawa yang melekat padanya. Kepada saya, beliau berkisah, bahwa nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau. Hal demikian dapat dilihat dari rumah Asli suku kami, rumah Tambor dan Rumah Gendang, demikian pak Lambertus pada saya sambil kami berjalan menunujukkan atap rumah yang dimaksud.
Selfie sejenak di Depan Papan Nama Kuta Lombok, agar tidak disangka tulisan hoak (dok. Pribadi)
Sore itu, ketika saya makan di rumah makan “Takana Juo” di kota Ruteng, sang pemilik Rumah makan, membenarkan apa yang dikatakan oleh kepala suku Ruteng Puu (nama Suku Asli Manggarai) yang baru saya temui beberapa jam sebelumnya.
Esok harinya, pukul empat sore saya meninggalkan Labuhan Bajo, kota terakhir di Pulau Flores yang terletak di Manggarai Barat. Sekaligus sebagai Ibu Kota Manggarai Barat. Labuhan Bajo, juga terkenal dengan destinasinya, dari kota pelabuhan ini juga kita dapat mencapai Komodo. Dengan Kapal Cakalang II, saya meninggalkan Labuhan Bajo berlayar menuju pelabuhan Sape di Nusa Tenggara Barat. Selamat tinggal NTT.
Di Bima, ada rasa lega, tanjakan dan turunan kontur jalan sudah tidak se ekstreem seperti halnya Flores,  kota Bima termasuk kota hidup, hingga pukul sebelas malam masih saja ramai, di Bima pula ada cerita tentang kerajaan Bima, juga tentang mereka yang dipercaya sebagai pembawa masuknya agama Islam di Bima.
Demikian juga dengan Lombok. Kota dengan julukan Kota Seribu Mesjid ini, begitu kental dengan suasana Islami, apalagi di kecataman Pancor, tempat dimana perguruan Islam Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan berada. Perguruan ini mendominasi semua jenjang pendidikan mulai TK hingga Perguruan Tinggi. Inilah perguruan dimana Gubernur NTB sekarang berasal. Beliau anak dari Tuan Syeh Guru NW.
Di Lombok juga ada Pantai Senggigi nan eksotik, demikian juga Pantai Kuta Lombok, yang menurut saya pribadi, tak kalah cantiknya dengan Pantai Kuta yang berada di Bali, kisah untuk mengambil View Kuta Lombok dari ketinggian merupakan kisah tersendiri yang tak kalah serunya untuk diceritakan.
Perjalanan terhenti sejenak, karena ada iring-iringan upacara Ngaben (dok.Pribadi)


Malam itu, pukul sepuluh malam. Saya meninggalkan Pelabuhan Lembar di Lombok menuju Pelabuhan Padang Bay di Bali. Kapal mendarat di Padang Bay pada pukul dua dinihari. Tak ada pilihan, agar tidak terjebak macet pagi nanti, saya langsung tancap gas menuju Denpasar setibanya di Padang Bay dan pagi berikutnya sesaat menjelang tiba di Daerah Gilimanuk, lalu lintas sempat tertahan sejenak, dikarenakan adanya iring-iringan pawai yang membawa peti jenazah dalam upacara Ngaben atau bakar mayat.

Tulisan ini, seakan tak akan selesai, jika saya ceritakan apa saja yang terjadi di Bali hingga ke Banten, karena dua Pulau terakhir ini, umumnya pembaca sudak akrab dan tak asing lagi, maka, sebaiknya saya ceritakan langsung ditulisan nanti saja, sehingga dengan demikian, ikhtisar prolog perjalanan dari Larantuka hingga Malingping di Banten, dapat saya sudahi hingga di sini dahulu. 

1 komentar: