Sabtu, 17 September 2016

Makam Mertua Soekarno (Ibu Amsi) nan Merana

Makam Ibu Amsi di Ende, Pak Usman.H.Harun berdiri disebelahnya, Perhatikan, tak ada nisan di sana, hanya tumpukan batu (dok.Pribadi)
Ini adalah kunjungan keempat saya ke Ende. Selalu saja, ingatan ini terpaut pada sosok Soekarno dengan segala warna yang mengiringinya, jika mengingat kata Ende.
Pagi menjelang siang, selepas melewati medan jalan yang “menantang” antara Maumere–Ende, Motor yang saya kendarai memasuki kota Ende, tepat jam 10.10 Pagi WITA.
Tujuan saya jelas, ingin menziarahi makam Mertua Soekarno. Ibu Amsi. Tapi dimana? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya segera menuju rumah pengasingan Soekarno. Tentu akan  ada jawaban yang saya peroleh di sana, ketika saya tanyakan dimana poisi makam yang akan saya Ziarahi. Dan benar, “penjaga” rumah pengasingan Soekarno memberi saya alamat yang dimaksud. Saya menawarkan jika, ada jasa ojek, saya lebih baik diantar ojek saja. Sang “penjaga” menjawab tidak perlu. Karna alamat yang akan saya tuju, sudah diketahui oleh masyarakat sekitar. Sehingga, sangat kecil kemungkinan, saya tidak akan menemukan alamat yang dimaksud.
“Dari Taman Perenungan Soekarno, bapak jalan lurus saja. Bapak hitung Mesjid yang bapak lalui. Pada Mesjid ketiga, yang posisinya di kanan jalan. Di sana Bapak tanya, dimana letak kuburnya Ibu Amsi, Mertua Bung Karno. Semua penduduk di sana pasti tahu..” demikian penjelasan “penjaga” rumah Soekarno.
Eng ing eng…. Dan benar, alamat yang cari dengan mudah saya temui. Lorong Lingkungan Karara, Rt 01/01. Kelurahan Rukun Lima. Kode Pos. 86514. Ende.
Papan Nama Alamat menuju Makam Ibu Amsi. Lorong Lingkungan Karara, Rt 01/01. Kelurahan Rukun Lima. Kode Pos. 86514. Ende. Tertempel di Dinding Rumah Penduduk (dok. Pribadi)
Kesulitan kedua segera menyusul. Yang mana persis kuburan Ibu Amsi? Karna ternyata Ibu Amsi dikubur pada pemakaman umum. lalu, jika pun saya menemukan makam yang saya cari, saya masih butuh orang yang mau menceritakan sedikit tentang makam Ibu Amsi?
Dengan sedikit usaha, akhirnya saya bertemu dengan Bapak Usman.H.Harun. Seorang lelaki paruh baya yang bekerja di sebuah Koperasi dan bertempat tinggal di seberang jalan komplek pemakaman Umum dimana Ibu Amsi dimakamkan.  Beliau banyak tahu tentang makam Ibu Amsi. Dengan beliaulah saya mengunjungi makam Ibu Amsi.
Sebagai anak bangsa, saya trenyuh menyaksikan makam mertua Proklamator Indonesia Soekarno yang kondisinya sungguh memprihatinkan.
Bagaimana tidak? Makam Ibu Amsi, tak memiliki batu nisan, sehingga orang awam tidak mengetahui siapa yang di makamkan disitu. Tanggal berapa meninggalnya, tanggal berapa lahirnya. Apalagi jika harus ditambahkan siapa yang dimakamkan disitu, apa peranan almarhum dalam perjuangan bangsa Indonesia.
Sudah ada atap, tanpa pagar pembatas dan tanpa penerangan (dok.Pribadi)
Perbandingannya, bagaikan langit dan bumi, jika dibandingkan dengan makam Soekarno yang berada di Blitar. Sesuatu yang seharusnya tidak mesti terjadi, jika mengingat peran almarhum dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Khususnya, peran almarhum pada Soekarno.
Dari rahim almarhum yang wafat pada 12 Oktober  1935 itu, lahir wanita (Ibu Inggit) yang kelak menjadi pendamping hidup Soekarno. Bukan hanya, merelakan putrinya disunting Soekarno untuk dijadikan pendamping hidup, almarhum juga rela mendampingi putri dan menantunya dibuang ke tanah interniran yang letaknya, ketika itu, bagaikan diujung bumi yang lain. Meninggalkan kenyamanan hidup di kota Bandung untuk hidup di tanah “nun jauh disana” dan tak tahu kapan akan kembali ke Bandung. Di tanah interniran itu pula akhirnya, wanita yang mulia itu, menghembuskan napas terakhirnya setelah lima hari terserang demam malaria.
Wanita mulia ini pula, yang acapkali mengingatkan Inggit, agar meninggalkan kesibukannya sejenak, untuk mendampingi Soekarno, menghibur Soekarno, manakala dilihatnya Soekarno sedang gundah. Wanita yang acapkali mengingatkan Inggit agar memasak masakan kegemaran Soekarno. Mertua bijaksana yang mengerti bahwa dalam “rasa” selera masakan, ada “rasa” yang terhubung dengan masa lalu, dengan tanah kelahiran dan dengan komunitas Soekarno di Jawa yang tercerabut paksa karena pengasingan itu.
Wanita yang memberikan kata putus, ketika Soekarno akan diberangkatkan ke tanah pengasingan Ende, apakah akan berangkat sendiri, ataukah membawa turut serta Inggit sebagai belahan jiwa, yang jika dibawa tentu akan membawa kesengsaraan untuk Inggt. Ditengah kegalauan Soekarno, Ibu Amsi menyatakan akan mendampingi Soekarno ke tanah interniran, itu artinya, Inggit juga akan ikut serta. Akhirnya keluarga besar itu (Soekarno, Inggit, Ibu Amsi dan Ratna Djuami) berangkat bersama, diikuti dua orang  pembantu (Muhasan dan Karmini).  
Wanita yang ketika meninggal, menyebabkan Soekarno terpukul hebat. Dengan tangannya sendiri Soekarno ikut mengangkat jenazah mertuanya ke tanah peristirahatan terakhir, yang ketika itu, masih berupa hutan di luar kota Ende. Soekarno pula, yang ikut turun ke liang lahat, lalu dengan tangannya sendiri, turut meletakkan jenazah sang mertua, di liang lahat.
Soekarno pula, yang memahat batu karang nan terdapat di bukit sekitar pemakaman, lalu, menjadikan batu nisan untuk mertuanya. Dengan tulisan Iboe Amsi.
Lalu, dimana semua jejak sejarah itu? Tak ada yang berbekas. Saya tertegun, apakah karna makam ini telah mengalami renovasi yang tidak selesai, hingga akhirnya, menghilangkan jejak sejarah itu. Tak ada nisan, tak ada keterangan sedikitpun.
Pada saya, pak Usman mengeluhkan makam yang tidak berpagar. Sehingga ketika malam hari, banyak anjing yang duduk-duduk di atas makam beliau. Sedangkan pada siang hari, banyak anak SMA yang menjadikan makam itu sebagai tempat pacaran.
Sudah ada atap, tanpa pagar pembatas dan tanpa penerangan (dok.Pribadi)
Pada dinding, bangunan makam, saya lihat ada meteran listrik PLN. Namun, karena tidak ada yang mengurus, meteran itu seakan tak tak berpungsi. Lampu yang tersedia, juga, sudah tidak menyala. Kondisi yang sungguh memperihatinkan. Hilangnya, benda-benda yang memiliki nilai sejarah, tidak adanya batu nisan, tidak ada pagar, tidak ada penerangan dan dijadikan peristirahatan hewan di waktu malam serta ajang pacaran di waktu siang.
Pada saya, pak Usman.H.Harun, berjanji, akan membuatkan pagar besi dengan tangannya sendiri, jika ada mereka yang menyumbangkan dana untuk itu. Karena, beliau memiliki keahlian sebagai tukang las, juga, beliau akan mengunci pagar yang telah dibuat, serta menyalakan dan mematikan lampu makam. Beliau memberikan alamat lengkap beserta no hp untuk dihubungi.
Pada perjalanan pulang dari menziarahi makam Ibu Amsi, saya hanya bergumam, bangsa ini, memang belum patut menjadi bangsa besar, selama belum bisa menghargai para pahlawannya dengan layak.
Penulis di depan makam Ibu Amsi (dok.Pribadi)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar