Senin, 19 September 2016

Kisah Penyelamatan Naskah Soekarno, Tonil Kelimutu


Penulis Bersama Yusuf Ibrahim di Beranda Rumah Beliau di Ende (dok.Pribadi)

Tengah hari di Ende, udara cukup menyengat, sementara  itu, saya masih mencari rumah Pak Yusuf Ibrahim. Di depan rumah besar itu, pak. Begitu jawaban terakhir yang saya terima. Ketika tiba di Jalan Nusantara IV. Rukun Lima. Ende. Sebelum memasuki rumah yang dimaksud, suara adzan dzuhur terdengar dari Mesjid terdekat.
Sebelum saya mengetuk pintu, seorang lelaki dengan usia mendekati senja keluar dari dalam rumah. Setelah bertegur-sapa, beliau berpesan agar saya menunggu saja di rumah, beliau akan Sholat dzuhur dulu di Mesjid. Lelaki yang berpesan itu, Yusuf Ibrahim, sosok yang saya cari.
Untuk  pembaca ketahui, Yusuf Ibrahim adalah putra dari Ibrahim Haji Umarsyah. Pemain Tonil Kelimutu sekaligus teman dekat Soekarno, ketika masa pembuangan Soekarno  di Ende.
Naskah asli yang ditulis tangan oleh Soekarno, sesungguhnya tidak pernah ditemukan. Yang ingin kita bahas disini, adalah naskah yang diketik oleh Ibrahim Haji Umarsyah yang dipercaya sebagai salinan dari naskah asli yang ditulis Soekarno.

Selama Soekarno dibuang di Ende, Putra Fajar, telah menulis naskah sandiwara sebanyak dua belas naskah, yakni; Dr. Syaitan, Indonesia 1945, Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, Kut Kutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Amuk, Sanghai Rumba, dan Gera Ende. Dari dua belas naskah yang  beliau tulis itu, hanya delapan naskah yang berhasil diselamatkan dan kini tersimpan di situs Bung Karno. Yakni, Rahasia Kelimutu, Rendo, Jula Gubi, KutKutbi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit dan Dr. Syaitan.
Setelah pak Yusuf Ibrahim kembali dari Mesjid menunaikan Sholat Dzuhur. Inilah kisah yang beliau ceritakan pada saya, tentang penyelamatan Naskah Tonil Kelimutu yang ditulis Soekarno semasa beliau dibuang ke Ende. Yang dimaksud Penyelamatan Naskah Tonil adalah naskah yang diketik oleh Ayah saya. Demikian Yusuf Ibrahim.
Beliau (Ibrahim H Umarsyah) menjadi pemain di semua judul cerita yang ditulis Bung Karno, naskah yang asli ditulis tangan oleh Bung Karno, dan Ayah saya mengetik kembali naskah-naskah itu. Demikian Yusuf Ibrahim.
Selanjutnya, cerita Yusuf Ibrahim, sbb;
Sore itu, sekitar jam 15.00 WITA, hari dan tanggalnya Yusuf Ibrahim (selanjutnya, Yusuf saja) lupa. Tetapi tahunnya pada tahun 1961 atau 1962 gitu.  Datang ke rumah dua orang tentara. Seorang berpakaian Preman dan seorang lagi berpakaian dinas. Yang berpakaian dinas bernama Serma Madjid dari Kodim Ende. Yusuf yang ketika itu, duduk dibangku SMP mengatakan bahwa Ayahnya, Ibrahim H. Umar sedang tidak berada di rumah. Sedang pergi menonton Bola di Stadion Ende.  -Saya lupa menanyakan nama stadionnya pada pak Yusuf. Stadion yang sekarang bernama Marilonga-.
Kedua Tamu Pak Ibrahim menunggu hingga pak Ibrahim pulang dari menonton Bola. Yusuf muda ingat betul, bagaimana dia menghidupkan lampu Patromak sore itu. Dan mereka berdua,  pulang larut malam setelah bertemu dengan Pak Ibrahim.
Awalnya, pembicaraan antara Bapak (Ibrahim) dengan kedua tamu berjalan ramah, lalu, timbul ketegangan. Hingga tamu yang berpakaian preman, memukul meja dengan keras. Melihat itu, membuat saya jadi kuatir. Kekuatiran saya, saya sampaikan pada Ibu. Namun, Ibu dengan tenang, mencoba menenangkan saya. Semuanya akan berjalan dengan baik. Gak perlu risau, demikian Ibu menenangkan saya. Cerita pak Yusuf.
Sepulangnya kedua tamu, setelah larut malam itu. Bapak menyuruh saya untuk membuka laci meja, yang selama ini saya gunakan untuk belajar. Memang laci meja itu, selama ini, kuncinya di pegang oleh Bapak. Sehingga saya tidak tahu persis apa yang tersimpan di dalam meja itu.
Malam itu, saya tahu, bahwa di dalam meja yang selama ini saya gunakan untuk belajar, tersimpan rahasia besar. Di laci meja itu, tersimpan naskah-naskah tulisan drama Tonil Kelimutu yang diketik Bapak, baju-baju pakaian yang dipakai pada drama Tonil kelimutu dan spanduk-spanduk Drama Kelimutu. Bapak berkata, bahwa benda-benda bersejarah itu, sudah tidak aman lagi. Mereka yang datang tadi, menghendaki barang-barang bersejarah itu, untuk diberikan pada mereka. Demikian kata Pak Ibrahim pada Yusuf.
Yusuf Ibrahim bersama Putra beliau Ismail Yusuf (dok.Pribadi)
Guna menyelamatkan benda-benda bersejarah itu. Pak Ibrahim akhirnya mengambil keputusan untuk menyerahkannya pada Bunhg Karno sebagai pemilik syah dari benda-benda yang selama ini disimpan dan dijaga oleh Pak Ibrahim.
Akhirnya, pada bulan Mei 1963 Pak Ibrahim bersama seorang rekannya, Bapak Molonggoro berlayar ke Jakarta dengan menumpang Kapal Laut “Stella Maris”. Maksudnya jelas. Menyelamatkan benda bersejarah yang selama ini diamanatkan padanya, dengan cara mengembalikan benda-benda itu, pada pemilik syahnya, Bung Karno.
Namun, kenyataan yang dihadapi Pak Ibrahim dan Molonggoro tidak semudah yang mereka bayangkan.  Bung Karno, tidak mudah untuk mereka temui. Beberapa orang yang dianggap dekat dengan Bung Karno, seperti Frans Seda dan Ir. Soeratman telah mereka hubungi. Namun, upaya untuk bertemu dengan Bung Karno, masih menemui jalan buntu. Selama penantian antara 1963 – 1965. Pak Ibrahim dan Molonggoro tinggal di Rawa Badak. Tanjung Priok. Jakarta Utara.
Pada Akhir Maret 1965 di Jakarta, diadakan hari jadi Partai Nasional Indonesia, yang ditandai dengan kongress PNI. Berbagai utusan datang ke Ibu kota. Suasana “Politik”  di Jakarta ketika itu, sedang panas. Beberapa Partai mengadakan demo di lapangan Monas. Melihat kondisi ini, Pak Ibrahim dan kawan-kawan ikut berdemo. Berbeda dengan para demonstran lain, pak Ibrahim dan kawan-kawan tidak membentangkan tuntutan. Melainkan mengibarkan Spanduk-spanduk pertunjukan Tonil Kelimutu yang mereka bawa dari Ende.
Ketika oleh pihak yang berwajib, para demonstran diminta untuk mengakhiri demo, mereka segera membubarkan diri, kecuali Pak Ibrahim dan Kawan-kawan. Hingga akhirnya pasukan Cakrabirawa menemui pak Ibrahim. Pak Ibrahim hanya mau membubarkan diri, jika spanduk-spanduk Tonil Kelimutu sudah lapuk dimakan usia. Selama spanduk-spanduk masih berkibar, mereka akan tetap bertahan.
Rupanya, peristiwa itu, diketahui oleh Bung Karno. Akhirnya, dijanjikan bahwa pak Ibrahim akan ditemui oleh BK. Untuk sementara, mereka diminta untuk mendaftarkan diri sebagai peserta kongress PNI. Kebetulan pak Ibrahim dkk masih menyimpan kartu anggota PNI. Jadilah pak Ibrahim dkk menjadi anggota kehormatan congress. Untuk menghormati Pak Ibrahim dkk, mereka ditempatkan di Hotel Indonesia dengan segala fasilitasnya, sementara menunggu tersedianya  waktu BK untuk menemui mereka.
Pada tanggal 2 April 1965 pak Ibrahim dkk diterima Bung Karno di Istana Negara. Pada kesempatan itu, Bung Karno menyatakan dengan tegas, bahwa semua benda bersejarah yang dibawa oleh pak Ibrahim dkk adalah milik masyarakat Ende. Oleh karenanya, benda-benda bersejarah itu, harus dibawa kembali ke Ende.
Beberapa tahun berselang, ketika pak Ibrahim telah wafat. Bupati Ende ketika itu. Drs. Hy Gadijo berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh benda-benda bersejarah yang ada kaitannya dengan Bung Karno. Termasuk naskah-naskah Tonil Kelimutu berserta kelengkapannya.
Maka dikumpulkanlah seluruh sisa-sisa pasukan Tonil Kelimutu yang masih hidup  di Rumah bapak Ibrahim Roja. (Ibrahim Roja, berbeda dengan Ibrahim H. Umarsyah). Pada seluruh mereka yang hadir diminta untuk bercerita tentang Soekarno semasa di Ende.
Seluruh peserta yang hadir, bersaksi bahwa naskah dengan segala atributnya, masih utuh dan disimpan di rumah Bapak Yusuf Ibrahim, sebagai anak lelaki dari Bapak Ibrahim.H. Umarsyah.
Namun, Yusuf Ibrahim membantah semua persaksian itu. Pak Yusuf mengatakan tidak tahu keberadaan benda-benda itu. Mengapa? Karna pak Yusuf Ibrahim, ingat wasiat ayahnya, bahwa hanya keturunan sah Soekarno yang boleh menerima benda bersejarah yang berada dalam penjagaan keluarga Ibrahim.H.Umar. Yusuf Ibrahim, tak ingin melanggar wasiat almarhum ayahnya.
Stadion Marilonga Kondisinya Kurang Terawat (dok. Pribadi)
Merasa terpojok dengan situasi yang serba sulit. Akhirnya, Yusuf Ibrahim, berkirim surat pada Guntur  Soekarno Putra sebagai putra sulung Soekarno. Karena Yusuf  tidak mengetahui alamat Guntur, maka surat yang dilayangkan menggunakan alamat Guruh Soekarnoputra, Jalan Sriwijaya Jakarta Selatan. Surat yang dikirim Yusuf Ibrahim tak mendapat tanggapan, hingga akhirnya, pada Januari 1981, surat balasanpun datang. Isinya, keluarga Bung Karno bersedia menerima benda-benda bersejarah yang akan diserahkan.
Pada Maret 1982, keluarga Bung Karno yang diwakili oleh Rahmawati datang ke Ende. acaranya  jelas, ingin menerima naskah kelimutu berserta benda-benda lain yang ada kaitannya dengan Tonil Kelimutu. Yusuf Ibrahim dkk berserta Muspida Ende menunggu di Bandara H. Hasan Aroeboesman. Ende.
Detik kedatanganpun tiba, pada acara penyambutan berlangsung, rupanya Yusuf Ibrahim dkk tidak mendapat porsi yang diharapkan, acara didominasi oleh Pemda. Sehingga Yusuf Ibrahim dkk meninggalkan acara dan pulang ke rumah masing-masing.
Sepulang dari Mesjid setelah menunaikan sholat Dzuhur, Ibu Dewi, salah seorang pemain Tonil memberitahukan pada Yusuf bahwa romobongan  Rahmawati sedang menziarahi makam Ibu Amsi. Sontak Yusuf menghubungi teman-teman, mereka ingin mencegat rombongan dan memaksa mereka untuk singgah di rumah Yusuf Ibrahim. Sehingga benda-benda bersejarah itu, dapat diserah-terimakan di rumah Yusuf Ibrahim. Jika tidak sekarang, kapan lagi.
Sepulangnya, rombongan menziarahi makam Ibu Amsi. Yusuf Ibrahim berdiri ditengah jalan yang dilalui rombongan Rahmawati. Terjadi sedikit kegaduhan dengan pasukan pengawal rombongan. Namun, setelah dijelaskan, Rahmawati dan rombongan bersedia untuk datang ke rumah Yusuf Ibrahim. Yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari Makam ibu Amsi.
Memasuki rumah Yusuf Ibrahim, yang pada dinding dalam rumahnya sudah dibentangkan spanduk-spanduk pertunjukan Tonil Kelimutu. Rahmawati tak mampu menahan haru biru rasa hatinya. Dia sempat menitikan air mata. Demikian kata Yusuf Ibrahim.
Penyerahan naskah Tonil Kelimutu beserta seluruh atribut yang mengiringinya, disepakati bersama tidak dilakukan di rumah Yusuf Ibrahim. Tetapi besok malam di kantor Bupati Ende.
Demikianlah, pada 27 Maret  1982 seluruh naskah Tonil Kelimutu berserta seluruh atributnya yang selama ini disimpan keluarga Yusuf Ibrahim, diserahkan pada keluarga Bung Karno.
Tapi, saya dengar, ada empat naskah yang hilang pak Yusuf? Hingga yang tertinggal hanya delapan naskah. Tanya saya.
Bukan hilang, yang kami serahkan memang hanya delapan naskah. Delapan naskah itulah yang selama ini, saya terima dari Ayah saya. Demikian jawaban Pak Yusuf Ibrahim.
Sayup-sayup dari Mesjid di kampung Rukun Lima terdengar adzan Ashar, itu artinya pak Yusuf Ibrahim, akan segera kembali ke Mesjid guna melaksanakan Sholat Ashar. Sayapun tak ingin mengganggu beliau. Untuk itu saya mohon diri.
Biarlah para pakar sejarah mencari empat naskah lain, yang belum ditemukan. Keluarga Ibrahim.H.Umarsyah telah melakukan hal terbaik yang mampu mereka lakukan. Untuk itu, saya rasa, Pemerintah Daerah perlu mengapresiasi apa yang telah dilakukan keluarga Ibrahim.H.Umarsyah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar